
Ana pun berjalan menjauh juga karena dia mulai risih akan perbuatan Jimmy terhadap dirinya.
Jimmy pun mengikuti Ana dari belakang.
Saat ini mereka berdua berada di balkon dan tak orang lain selain mereka berdua.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ana.
"Apa maksudmu?" ucap Jimmy berpura-pura tidak tahu.
"Aku hanya menemanimu, bukan menjadi seorang tunanganmu." ucap Ana marah .
"Berakting saja, anggap kita seorang pemain film, apakah tak mau?" tanya Jimmy dengan ringannya.
"Dasaaar kau ini !!!" ucap Ana marah.
Saat akan memukul Jimmy, Ana di kejutkan dengan lampu yang tiba-tiba padam.
Semua tidak terlihat dan gelap gulita, hanya dalam kurun 5 detik saja, namun saat lampu menyala ternyata ada teriakkan dari ruangan.
"Arghhhh, ada Maaaaaa..yaaat!!!!!" teriakan begitu keras sehingga banyak tamu yang hadir, tertuju pada suara teriakkan itu.
Mereka semua berkerumun untuk melihatnya, ternyata memang ada seorang pria mati, di dekat tempat makanan berada, dia sepertinya bunuh diri dan melilitkan senar biola di leher sehingga banyak darah terciprat di lantai .
Mayatnya terlihat mengerikan, bukan hanya banyak darah akan tetapi karena baju yang ia kenakkan adalah warna putih maka darahnya berbau amis, serta warna merahnya pekat .
Terlihat amat mencolok, kedua bola matanya melotot seakan keluar. Ana melihanya berdiri mematung karena baru kali ini dia melihatnya
Yaitu mayat seorang pria yang bunuh diri, Ana diam mematung dan juga menahan nafasnya.
"Ana, apa kau baik-baik saja?" tanya Jimmy dan mengamati Ana yang mematung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, apakah kau yakin ini adalah kasus bunuh diri Jim, bukan pembunuhan??" tanya Ana lalu ia pun mengamati dengan seksama.
Saat Ana akan mengambil gambar, ternyata ada seorang polisi dan menepis tangan Ana, sehingga ponselnya jatuh.
"Dengar, aku tidak tahu siapa namamu?, tapi saya mohon jangan mengambil gambar apa pun dari sini." ucap Polisi itu.
"Perhatian semua para tamu undangan, tidak ada yang boleh keluar dari ballroom ini untuk sementara !!!, dan sekali lagi mohon maaf ya atas ketidak nyamanannya ." ucapnya dengan lantang sehingga para tamu saling berbisik- bisik.
Setelah Ana mengambil ponsel miliknya, dia berjalan,menjauh ,mereka duduk di sebuah bangku, dan membicarakan kasus ini.
"Apakah menurutmu ada yang janggal Ana?" tanya Jimmy, ia melihat ekspresi Ana yang sangat serius dan juga terlihat sedang berfikir
"Tentu saja Jim, kenapa sangat pas waktunya saat lampu padam?, aku sempat menghitung berapa detik lampu padam tadi. Hanya dalam kurun waktu 5 detik saja Jim, aku kira adalah pembunuhan." ucap Ana dengan serius.
"Kenapa berfikir seperti itu?, bisa saja lampu padam hanya kebetulan ." ucap Jimmy sambil mengernyitkan kedua alisnya.
"Tentu saja, menurutku di dunia ini tida ada yang kebetulan Jim, semua pasti ada sebab akibat, serta ada alasan kenapa lampu padam bertepatan dengan pria itu mati?, dan hanya 5 detik saja Jim." ucap Ana dan serius menatap Jimmy.
"Aku tidak bercanda, aku sering membaca berita tentang pembunuhan, tapi baru kali ini aku melihat mayat yang baru saja mati, aku sangat shock, dan mual rasanya isi dalam perutku akan keluar." Keluh Ana, karena dia mulai mual.
"Ini minumlah, akan sedikit menenangkan dirimu." sambil memberikan secangkir teh hangat.
"Terimakasih." ucap Ana.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Disisi lain saat ini semua para tamu di dalam ruangan nampak gaduh, dan banyak polisi yang sedang menyelidiki kasus kematian pria yang bunuh diri menggunakan senar biola .
Lalu ada seorang pria berjas putih, mendekat nampak ia berbicara dengan salah satu polisi.
"Sampai kapan ini membuat kami para tamu undangan disini tak bisa keluar?, aku masih ada beberapa urusan yang penting harus aku selesaikan !!" gerutunya, dan sambil menatap tajam pak polisi itu .
__ADS_1
"Maaf Tuan, ini sudah prosedur, jadi semua harus mematuhinya tanpa terkecuali." jawab Pak Polisi tersebut, dan ia amat tegas tanpa basa-basi.
"Sudah jelas-jelas pria itu mati bunuh diri, kenapa kami masih di tahan di ruangan ini?!" serunya sambil melepas dasinya , dan dia menatap tajam ke arah Pak polisi tersebut.
"Sekali lagi maaf Tuan." jawab Pak polisi itu lagi .
"Aku benar-benar muak, jika sudah selesai maka aku akan segera keluar dari ruangan ini, kau tidak tahu berurusan dengan siapa diriku ini??" ucapnya sambil melirik ke arah salah satu pengawalnya.
Lalu salah satu pengawalnya pun mendekat, dan berbisik ke telinga polisi itu.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Untuk beberapa saat ahli forensik datang, dan mereka siap untuk menyelidiki kasus bunuh diri ini. Ana dan Jimmy melihat dari kejauhan.
"Sampai kapan kita akan terjebak disini??" tanya Ana.
"Tenang saja, jika ini adalah kasus bunuh diri maka kita semua akan segera keluar, tetapi jika ini kasus pembunuhan, semua yang saat ini hadir adalah tersangkanya." ucap Jimmy.
"Haaaa, aku kira kita akan lama berada di tempat ini." gerutu Ana dan melepas sepatu high heels nya, dan ia meringis menahan kaki nya yang kesemutan.
Ana mengeluh karena kakinya sudah lama memakai sepatu yang sama sekali tak pernah ia pakai. Ana hanya terbiasa memakai sepatu cat, atau sepatu casual.
"Bertahanlah Ana sebentar lagi, aku harap ini adalah sebuah kasus bunuh diri, agar bisa cepat keluar ." ujar Jimmy meyakinkan Ana.
"Apakah tujuan kita saat berangkat ke pesta masih dalam pelaksanaan??" tanya Ana, lalu ia menatap Jimmy serius.
"Diamlah, nanti aku akan menceritakannya padamu tapi tidak disini Ana." ucap Jimmy dengan lirih.
Ana hanya mengangguk saja, karena ia tahu kalau kedua bola mata Jimmy saat ini sedang mengamati seseorang dari kejauhan.
Bersambung...
__ADS_1