
Saat ini Jimmy tengah duduk sambil menatap laptop miliknya , dan di temani oleh tumpukan berkas , juga secangkir kopi buatan sekertaris yang masih bertahan bekerja dengannya .
Di ruang kerjanya tercium aroma pengharum ruangan seperti lemon, sirih , dan daun mint berpadu sehingga siapa saja yang masuk ke dalam ruangan akan merasa rileks , karena aroma ini membuat indra penciuman saling berstimulasi , dengan demikian aroma harum yang khas ini membuat Jimmy betah dalam ruangannya.
Setelah dia menyeruput kopi buatan Rena, ia pun melihat arloji di tangannya . Jam kini pun menunjukkan pukul 10.00 wib.
"Haa , aku belum sarapan bukankah ini waktu yang pas untuk makan ..." gumam Jimmy dan ia menutup laptopnya.
Namun bertepatan dengan itu , Rena masuk ke dalam ruangan Jimmy.
"Pak , kali ini Anda harus benar-benar bertemu dengan Pak Orlando , jangan menghindarinya terus , aku tak bisa terus-menerus memberi pengertian padanya." ucap Rena sedikit tegas tidak biasanya gadis itu berkata demikian .
"Aku kan sudah bilang , aku tak mau bertemu dengannya , dia saja yang tak paham dengan kata-kataku." gerutu Jimmy, menaikkan satu alisnya tanda ia sedikit marah.
"Bukan begitu , Anda sendiri yang menerima sebagai ..." sebelum Rena melanjutkan kata- katanya Jimmy berdiri.
"Ayolah Rena , kau hanya tinggal bilang pada dia , bahwa aku menolak dengan kemauanku sendiri, untuk tidak menjadi pengacaranya." ucap Jimmy dengan nada tinggi .
"Baiklah Pak , aku akan bilang padanya."
Lalu pintu pun terbuka ternyata Pak Orlando sudah masuk kedalam ruangan Jimmy , dan mendengarkan semua perbincangan Rena dengan Jimmy.
"Kenapa kau berani masuk ke dalam ruangan tanpa seizin pemiliknya ?" Jimmy mengernyit dan menatapnya tajam.
"Ckk, aku sudah beberapa kali datang kemari kau mengabaikanku ..." sembari merapikan dasinya yang bewarna navy itu .
Pak Orlando adalah pria yang berumur sekitar 52 tahun dia berkumis tipis , berambut lurus dengan mengenakan jas warna abu-abu.
Dengan wajah yang tampan , namun karena ia sudah tak mudah lagi , beberapa kerutan di wajahnya terlihat . Tidak itu saja Pak Orlando kini tampak marah karena ulah Jimmy pada nya.
"Aku sudah bilang dengan jelas menolakmu , carilah pengacara lainnya ." ucap Jimmy dia pun membuang muka nya.
"Dasar bocah ingusan , kau benar-benar tidak punya sopan santun terlihat wajahmu selalu meremehkanku." jawab Pak Orlando semakin geram .
"Hemmm , apakah tidak ada lagi yang akan kau katakan kepadaku ?, jika tidak aku akan makan , atau jangan-jangan kau malah mau ikut makan denganku ," gerutu Jimmy .
"Jim aku tahu sampai kapan pun juga kau membenci aku , tapi kenapa kau menolak tawaranku menjadi pengacara perusahaan milikku? " tanya Pak Orlando dan ekspresi wajahnya semakin serius.
"Aku sedang sibuk , " jawab Jimmy dengan kesal.
__ADS_1
"Mohon maaf Tuan Orlando , apakah Anda mau minum teh hangat ?" tanya Rena dia bermaksud untuk sedikit menenangkannya.
"Tak usah !" jawab Pak Orlando dengan kesal
"Baguslah, Kau tahu kan pintu keluar berada dimana ?" ucap Jimmy sedikit mengusirnya.
"Awas saja kau Jim, pasti aku akan membalas semua hinaan , dan aku tidak terima dengan perlakuanmu hari ini." batin Pak Orlando dan dia berjalan ke arah pintu keluar .
"Bagus , dengan begini aku tak akan bertemu dengan si tua bangka itu." ujar Jimmy setelah kepergian Pak Orlando.
Jimmy pun pergi keluar dari kantornya.
"Aduh, sampai kapan Pak Jimmy seperti ini?" gerutu Rena menatap punggung tuannya itu.
Sambil menggelengkan kepalanya , karena sudah beberapa kali Jimmy sering menolak klien dengan alasan yang tak masuk akal.
Mungkin ada sesuatu yang terjadi di antara mereka yang tidak di ketahui orang lain.
"Apanya? , aroma parfum ini sama sekali tak berfungsi ." gerutu Rena dan keluar ruangan.
Jimmy berhenti di sebuah restoran , mobilnya di parkir dengan rapi . Kini dia berjalan masuk setelahnya dia duduk dan memanggil pelayan
"Ehm, aku mau makan wafle dengan sirup madu , dan minumnya ini saja." ucap Jimmy dan menunjuk ke arah buku menu .
"Baik, mohon di tunggu." ucap pelayan kini ia berjalan meninggalkan Jimmy .
Sembari menunggu pesanannya tiba , Jimmy membuka ponselnya, ia melihat ada beberapa pesan masuk.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Ana pagi ini sudah berada di tokonya, kali ini Ana sedang menata , dan merapikan semua bunga yang hendak ia kirim . Namun sebelum ia melanjutkan pintu toko bunga terbuka dan ada seorang pria masuk ke dalamnya.
"Selamat pagi , bolehkah aku memesan buket bunga untuk nanti sore , karena ada kerabat yang meninggal tapi aku tak bisa hadir pagi ini , bisakah kau mengirimnya sore hari saja." ucap pria itu dan duduk di sebelah Ana.
"Baik, Tuan."
Lalu disusul dengan sang pemilik toko yaitu
Ralin pun masuk kedalam tokonya , dan dia menatap lekat pria yang duduk di samping Ana kali ini.
__ADS_1
"Wahh , kau rupanya sudah lama kita tidak bertemu ya ..." ucap Ralin sambil menjabat tangannya.
"Ralin , " dia pun menjabat dan memeluknya.
"Kebetulan sekali , kau datang ke tokoku." sambil melepas pelukannya.
"Berarti gadis ini pegawaimu , bukankah dia terlalu manis dan cantik untuk penjual bunga Ralin, " goda pria itu dan menatap ke arah Ana
"Benarkah, aku sudah menganggapnya adikku sendiri , kau jangan macam-macam." sambil melirik ke arah pria tampan itu dengan sedikit memberi peringatan kepadanya.
"Hai, siapa namamu gadis manis?" tanya pria itu , dan mengulurkan tangannya ke arah Ana
"Ana."
"Jangan lupa ya Ana nanti sore kau sendirian saja yang mengantar buket bunganya."
"Kenapa harus sendiri saja apa aku tak boleh ikut Rian..??" jawab Ralin dan menyilang kan kedua lengan tangannya.
"Kalau mau ikut juga boleh, tapi ini kan untuk orang meninggal dunia , "
"Memangnya kenapa ?, aku sering menemani Ana ," jawab Ralin.
Rian pun mengangguk , dan dia tertarik pada Ana. Karena wajah Ana yang polos serta dia adalah gadis anggun yang tak banyak tingkah tak itu saja Ana yang pendiam hanya bicara seperlunya saja. Membuat sifatnya semakin di sukai banyak kaum pria.
Terlihat Rian yang kini memperhatikan setiap gerak-gerik Ana , walau saat ini pria tampan itu sedang berbincang dengan Ralin.
"Kau tak berubah , kau sedang sibuk apa?" tanya Ralin.
"Aku sedang sibuk bekerja , nanti sore baru aku bisa bersantai , tadi kebetulan lewat sini ternyata ini tokomu Ralin ," tersenyum .
"Apakah kau tertarik dengan Ana?" bisik Ralin
"Betul, untuk pertama kalinya ini aku melihat wajah Ana teduh , walau aku lihat dia seperti sedikit tertekan." ucap Rian.
"Sssttt, jangan keras-keras..." Menempelkan jari telunjuk ke arah bibirnya.
"Memang kenapa Ralin?" alis Rian seketika mengernyit, dan terlihat ia serius saat Ralin berkata demikian.
Bersambung...
__ADS_1