
Terlihat Rian yang kini memperhatikan setiap gerak-gerik Ana , walau saat ini pria tampan itu sedang berbincang dengan Ralin.
"Kau tak berubah , kau sedang sibuk apa?" tanya Ralin.
"Aku sedang sibuk bekerja , nanti sore baru aku bisa bersantai , tadi kebetulan lewat sini ternyata ini tokomu Ralin ," tersenyum .
"Apakah kau tertarik dengan Ana?" bisik Ralin
"Betul, untuk pertama kalinya ini aku melihat wajah Ana teduh , walau aku lihat dia seperti sedikit tertekan." ucap Rian.
"Sssttt, jangan keras-keras..." Menempelkan jari telunjuk ke arah bibirnya.
"Memang kenapa Ralin?" alis Rian seketika mengernyit, dan terlihat ia serius saat Ralin berkata demikian.
"Orang tua Ana sudah meninggal dunia Rian , namun mereka terbunuh sampai sekarang tak di ketahui pembunuhnya siapa ?" suara Ralin lirih maka Ana tak mendengarnya.
"Benarkah ?, pantas saja raut wajahnya yang cantik itu , terlihat muram dan tertekan." ucap Rian dan iba kepada Ana.
"Makanya kau jangan bilang begitu, pura-pura lah kau tak mengetahuinya , akan lebih baik jika kau tak bertanya padanya." saran Ralin .
"Apakah dia gadis yang pendiam sejak dulu?"
"Tidak, dahulu dia adalah gadis periang tapi sejak kejadian itu ia berubah drastis menjadi pendiam , dan menghindari orang di sekitar nya Rian. Bagaimana kau masih tertarik pada Ana ?" telisik Ralin pada Rian menatapnya.
"Sebenarnya baru kali ini aku melihat wajah Ana yang cantik dan teduh , walaupun tidak aku sangkal aku menyukainya , kau sudah lama mengenalnya Ralin?" tanya Rian lagi.
"Sudah cukup lama , ehm btw aku rasa kau harus mundur, Ana punya seorang pria yang dekat dengannya dia amat tampan satu kali aku bertemu dengannya ." ucap Ralin dan ia tersenyum miring ke arah Rian.
"Sayang sekali ya, akan tapi aku rasa dengan kepribadian Ana itu tak mungkin menerima perasaan seseorang dengan mudah." ucap Rian percaya diri.
"Pasti pria itu yang tergila-gila kepadanya." ucap Rian kepada Ralin dan memiringkan sedikit kepalanya.
"Terserah kau saja, nanti jika kau tahu pria itu akan kemari, pasti kau akan patah hati Rian." sambil mencibirkan bibirnya ke arah Rian.
"Hemm, setampan apa pria itu ?, pasti lebih tampan aku, tak mungkin Ana menyukainya." Rian membanggakan dirinya sendiri dengan percaya diri tingkat dewa.
__ADS_1
"Kau tak percaya , aku saja lebih memilih dia daripada kau..." ujar Ralin semakin membuat Rian penasaran dengan wajah pria yang dia bicarakan.
"Tunggu saja Rian, biasanya kalau senggang pasti dia akan menghampiri Ana." ucap Ralin.
"Benarkah?, maka aku akan menunggu nya."
"Kau bilang kau sedang sibuk, apa kau benar punya waktu luang ?"
"Kalau untuk beberapa menit aku punya Ralin tenang saja, aku akan memastikan dengan kedua mataku kalau pria yang kau bicarakan masih tampan diriku." ujar Rian dengan sinis.
"Terserah kau sajalah, jangan salahkan aku kalau kau semakin kecewa." ucap Ralin yang jujur pada Rian.
Setelah beberapa menit berlalu ternyata pria yang mereka berdua bicarakan muncul dan mulai membuka pintu toko , berjalan dengan perlahan ke arah Ralin.
Suara derap langkahnya saja terasa kalau yang datang adalah pria gagah, tampan, dan rupawan. Rian dari kejauhan melihat Jimmy yang semakin dekat ke arahnya.
"Haiii, ada temanmu Ralin?, kenalkan saya Jimmy ." sapa Jimmy sambil mengulurkan tangannya ke arah Rian.
Tersihir akan senyuman dan juga suara khas milik Jimmy yang serak itu . Senyumannya meninggalkan lesung pipi di kedua pipinya.
Jimmy pun menepuk beberapa kali pundak Rian, karena dia terlihat melamun , setelah itu barulah ia sadar kalau Jimmy sudah berada di depan matanya.
"Hai kenapa kau diam saja?, siapa namamu?" tanya Jimmy dan menatap lekat Rian yang masih bengong dan tak bicara sepatah kata pun.
"Rian..." jawab Rian dan sadar.
"Sialaaan..." batin Rian.
Ralin hanya tertegun melihat Rian karena dia baru sadar jika pria yang di depannya kali ini tak sepadan dengannya.
"Oh, kalian sudah lama mengobrol , ini aku bawakan makanan ringan.." ucap Jimmy dan dia berjalan meninggalkan mereka berdua .
Dia mendekati Ana dan berbisik sesuatu .
__ADS_1
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Mentari pun mulai naik ke atas dan sengatan sinarnya memanas terasa di permukaan kulit cahaya nya menerobos dari balik hutan pinus. Terlihat terang dan bisa melihat semua yang ada, wanita paruh baya yang kini hanya punya satu kaki dan tangan saja mulai tersadar.
Kabut tebal pecah seketika berhasil di usir oleh sinar mentari makin terik hampir saja berada tepat di atas kepala.
Bangun dari pingsannya, ia pun menatap ke arah datangnya sinar itu. Sekitar hutan pinus tak ada jejak predator yang tadi malam bebas menyiksanya. Wanita itu bisa sedikit bernafas lega . Namun kakinya yang sebelah di rantai sehingga dia tidak bisa pergi kemana-mana.
"Astaga, apa yang dia perbuat kepadaku?, tangan dan kakiku sudah tak utuh namun dia masih merantai kakiku yang sebelah ini ..."
"Ya Tuhan, kenapa tak ada orang sama sekali disini?, aku sudah putus asa ...."
Dia merintih kesakitan karena luka di tangan dan kakinya masih basah seharusnya segera mendapat perawatan jika tidak wanita paruh baya itu akan segera terinfeksi. Lukanya akan membusuk , nanah bercampur darah masih banyak ditepian lukanya yang menganga itu tentu terasa perih , panas , gatal , dan sakit bercampur tanah kotoran sisa-sisa semalam.
Membuat para lalat terbang mengerumuni bekas lukanya. Mereka sangatlah menikmati luka itu bagaikan emas yang tidak terhingga bagi kawanan lalat di hutan itu.
Berkerumun dan berbincang sambil bersenda gurau menikmati luka wanita paruh baya itu.
"Toloooong....! Toloooooong....Toloooong!" pekik wanita itu beberapa kali agar ada yang mau datang menolongnya .
Dia mengulangi beberapa kali berharap ada seseorang yang datang , namun sama sekali tak ada orang yang mendengar teriakkannya.
Namun setelah beberapa kali berteriak bukan ada orang yang datang menolongnya , malah sekarang tenggorokkannya terasa kering dan haus , dia kebingungan karena kakinya yang masih utuh terbelenggu oleh rantai.
"Siaaaal, kenapa harus seperti ini?, apa yang terjadi padaku ?" meratapi nasibnya yang tak mujur sama sekali.
Kini di temani oleh ribuan belatung di sekitar tempatnya, dan lalat juga yang hinggap pada lukanya , wanita itu makin tidak tahan untuk bertahan, berharap bisa mengakhiri hidupnya.
"Seharusnya aku tadi malam memohon pada gadis gila itu untuk membunuhku saja."
"Tapi kenapa mulutku tak bisa berkata-kata?"
"Argggghhh.., Argghhhhh...." pekik wanita paruh baya itu yang sudah tak tahan dengan semua penderitaan yang ia alami saat ini .
Bersambung...
__ADS_1