
Malam ini seperti biasanya predator sedang mempermainkan mangsanya . Terlihat kali ini adalah seorang wanita paruh baya kesakitan memegangi tangannya yang tinggal sebelah.
"He...he..he..." terkekeh tidak normal.
"A..apa yang...ka..kauu...mau?" tebata-bata dengan menatapnya ketakutan , karena yang ada di depannya adalah seorang pembunuh sadis .
"Kita bermain, kau pintar memilih tanganmu yang di potong terlebih dahulu , kali ini kau boleh berlari semampumu , dan semakin jauh itu lebih baik..." ucap sang predator menatap dengan tatapan senang juga tak normal.
"Ba...baiklah..." dengan nafas terengah-engah ia pun berlari karena kakinya yang masih utuh wanita itu bisa berlari dengan kencang .
"Baguuuuussssss , lari.... Larilaaaaah... Ha.. Ha... Ha.."
"Dasar gadis gila sialan !! , tanganku satunya hilang..." batinnya, sambil memegangi lengan nya yang sudah di potong terlihat tulang dan otot-otot mencuat dari balik bekas potongan, penuh darah yang masih menetes , ia berlari sekencang-kencangnya tetap berusaha tidak tertangkap gadis gila itu.
Namun karena tetesan darah memberikan jejak pada wanita itu maka gadis itu mulai menyusuri bekas darah yang menempel di bawah.
Dengan derap langkah kaki yang membuat jantung wanita paruh baya itu, yang semakin berdentum-dentum, beberapa kali juga ia pun menyeka wajahnya penuh dengan peluh .
"Ya Tuhan aku mohon , selamatkanlah aku , dari gadis gila ini..." ia pun berdoa di dalam hati kecilnya agar bisa lolos dari maut yang sedang menghampirinya saat ini.
"Dimana kauu ?, tunggu aku disitu , jika kau tertangkap boleh aku meminta satu kakimu saja. He...he...he.. " terkekeh sambil berjalan ke arah wanita paruh baya tersebut .
Padahal wanita itu sudah berusaha keras agar tak tertangkap , berlari cukup jauh agar ia bisa selamat dari gadis ini. Dengan nafas yang semakin tidak beraturan , tubuhnya di penuhi keringat dingin , dentuman jantungnya yang membuatnya semakin kebingungan .
Namun usahanya masih sia-sia , karena gadis itu berhasil menyusuri jejak tetesan darahnya.
"Ha... Kau tertangkap..." ucapnya, lalu dia kini mengayunkan satu tebasan kapak di kakinya.
"Daaaaaggggghhh..." suara kapak.
"Aaarrrrgghhh!!!!!" pekik wanita itu kesakitan kakinya yang sebelah lepas , dan darahnya kini berhamburan .
"Aku tak kuat , kau sudah gila !!!" pekik wanita itu sembari memegangi kakinya yang lepas.
"Bunuhlah saja aku, jangan menyiksa seperti ini ," wanita itu pun memohon pada predator agar mengakhiri hidupnya saat ini juga .
__ADS_1
"Tidak, kita bermain sekali lagi, kaulah yang memilih permainannya kali ini he..he..he.. ." ucap predator itu sambil terkekeh.
"Lihatlah kakiku tinggal sebelah , apa yang bisa di harapkan? , aku sudah tak bisa berlari lagi , bunuh saja aku ,.. ." sambil memohon kepadanya karena benar-benar menderita .
Beberapa orang mengira kematian yang akan tiba kepadanya hanyalah sebuah isapan jari belaka , dan ada juga yang mempersiapkan namun kematiannya tak kunjung tiba .
Saat ini wanita itu memohon untuk mati saja , agar tidak merasakan sakitnya kehilangan satu tangan dan kakinya , setelah beberapa kali berusaha untuk keluar , naas dia tak bisa keluar dari tempat ini.
Aroma tempat ini hampir mirip dengan hutan pinus , tampak gelap dan sunyi karena tidak ada penghuni selain mereka berdua saat ini .
Tempatnya lembab , dan aroma anyir darah serta banyak sisa bangkai yang berceceran.
Kali ini tak ada hewan piaraan yang di bawa predator , karena hutan sangat luas , tanpa adanya lampu penerangan tentu sangat sulit untuk melihat dengan jelas wajah mereka .
Sinar rembulan yang menerobos dari balik dedaunan pohon pinus , temaramnya agak memberi efek terang .
Namun tetap tak bisa memperlihatkan wajah gadis sang predator ini.
Setelah beberapa saat sang predator pun kini mengambil satu kantung plastik hitam, lalu ia lempar ke arah wanita paruh baya itu.
"Aaaargghhh..." teriakkan itu menerbangkan beberapa burung hantu yang bertengger di dekat dahan pohon pinus .
"Kau sudah gila , kepala si...siapaaaaa ini ?" ketakutan karena kedua bola mata kepala yang menggelinding padanya melotot .
Terlihat wanita paruh bay itu sangat terkejut.
"He...he...he..." terkekeh senang menikmati ketakutannya.
"Bukankah kau memintaku untuk mengakhiri hidupmu , lihatlah itu kepala orang yang mati aku bunuh , masih banyak di dalam mau aku perlihatkan kepadamu!" lalu ia pun menyeret dengan menjambak rambutnya , sampai ia kini berada di sebuah gundukan besar .
Banyak sekali kepala yang berhasil ia tebas , wanita paruh baya ini pun kini merasa kalau sedang bermimpi buruk yang panjang dan tak kunjung terbangun .
Dia semakin bergetar dengan semua peluh di wajahnya serta di sekujur tubuhnya, karena ia makin ketakutan, dia kencing di celananya .
"Lihat bagaimana banyak sekali koleksiku."
__ADS_1
"Semua orang takut kepadaku , mereka pada akhirnya selalu saja memohon dengan satu permohonan yang sama yaitu untuk segera mengakhiri hidupnya, bagaimana dengan kau apakah kau yakin?"
Wanita itu hanya diam tak berkutik karena ia benar-benar bertemu dengan gadis yang tak waras, mengoleksi kepala manusia, beberapa diantaranya di penuhi belatung yang berjoged serta bau busuknya menyengat khas bangkai.
"Kenapa kau hanya diam saja ?, dan sekarang mohonlah sekali lagi aku pasti akan menebas lehermu sama seperti mereka sebelum kau."
Sambil menunjuk ke arah gundukan yang di penuhi dengan potongan kepala.
Bibir wanita paruh baya itu terkunci rapat, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun , kini diam adalah pilihannya , karena ketakutanlah yang membuatnya ingin bertahan hidup , tapi ia juga sangat lelah karena merasakan sakit pada kaki tangannya yang tinggal sebelah .
Perih bercampur nyeri hebat , tak terbayang sama sekali dalam hidupnya akan bertemu seorang gadis yang membuatnya merasakan ketakutan, kesakitan, dan di endus oleh sang kematian.
Lalu ia pun menatap bayangan sang predator dengan tatapan kosong , seolah kini ia tidak lagi bisa merasakan nafasnya , dan denyut jantungnya semakin melemah , hanya tubuh nya saja yang ada , namun jiwanya serasa melayang ke udara.
Wanita paruh baya itu seolah pasrah dengan keadaan yang terjadi pada dirinya , entah dia akan mati atau hidup dia pasrah namun tetap tak membuka mulutnya .
"Baguslah, ha..ha..ha..itu tandanya kau masih ingin hidup di dunia ini, tak mau lepas dengan semua keindahan yang hanya sesaat ." ucap dari sang predator menyeringai dan menatap wanita paruh baya itu dengan senang .
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Ana pagi ini sudah berada di tokonya, kali ini Ana sedang menata , dan merapikan semua bunga yang hendak ia kirim . Namun sebelum ia melanjutkan pintu toko bunga terbuka dan ada seorang pria masuk ke dalamnya.
"Selamat pagi , bolehkah aku memesan buket bunga untuk nanti sore , karena ada kerabat yang meninggal tapi aku tak bisa hadir pagi ini , bisakah kau mengirimnya sore hari saja." ucap pria itu dan duduk di sebelah Ana.
"Baik, Tuan."
Lalu disusul dengan sang pemilik toko yaitu
Ralin pun masuk kedalam tokonya , dan dia menatap lekat pria yang duduk di samping Ana kali ini.
"Wahh , kau rupanya sudah lama kita tidak bertemu ya ..." ucap Ralin sambil menjabat tangannya.
"Ralin , " dia pun menjabat dan memeluknya.
Bersambung...
__ADS_1