
"Sudahlah Ana, ayo kita cepat pulang setelah mengantar buket bunga, apa kau yakin buket itu tak terlambat datang kepada pemiliknya?" tanya Jimmy, sambil menatap Ana ,melihat raut wajah Ana yang ketakutan dan merasa kebingungan.
"Aku rasa pasti terlambat Jim." ujar Ana agak kecewa.
"Ayo kita bicarakan di dalam mobil saja, biar motormu aku yang urus." ucap Jimmy .
Mereka berdua kini masuk kedalam mobil, dan menuju ke rumah sang penerima buket bunga. Karena memang ada acara perayaan anniversary, karena keadaan Ana yang tidak bisa masuk, maka Jimmy lah yang mengantar buket itu masuk kedalam.
Saat ia masuk ke dalam rumah itu di kejutkan oleh sosok wanita, yang sangat ia kenal.
"Jimmy." ucapnya.
"Sudah lama kita tak bertemu, apakah kau sudah menikah?" tanya perempuan itu lalu Jimmy menatapnya malu-malu, dan sambil memberikan bucket bunga itu.
"Sebenarnya belum, maaf jika bucketnya agak terlambat ada masalah kecil tadi di jalanan." ucap Jimmy, sambil tersenyum sedikit lega.
"Ehm, kata suamiku yang mengantar seorang gadis Jim, kenapa kau yang memberikannya padaku?" tanya wanita itu sambil celingukkan
"Iya, dia ada di mobil, sedang tak enak badan." ucap Jimmy dia berbohong, karena tak mau memperumit obrolannya.
"Oew, kau mengenal gadis penjual bunga itu." ucap dari wanita itu.
"Tentu saja, sangat mengenalnya." jawab Jimmy dengan melingkarkan lengannya di bahu wanita itu, dengan akrab, manariknya ke arah tempat makanan yang sudah terhidang.
"Kalau begitu makanlah dulu, ajaklah gadis itu kemari kenalkan padaku." ujar dari wanita itu.
"Haaa, kapan-kapan saja biarkan dia istirahat dulu, aku rasa ada baiknya jika ia beristirahat." jawab dari Jimmy dan mengambil beberapa makanan di piringnya.
Lalu dengan lahap mengunyah makanannya, dan ia mengamati beberapa tamu yang hadir, kali ini tak ada yang aneh, suasana nampak sangat hangat, karena hanya beberapa dari kerabat dekat yang datang.
"Kau ini Jimmy, lihatlah Andrew sudah punya anak 3 kapan kau menyusul?" tanya wanita itu, lalu mengamati wajah Jimmy.
Seperti seorang ibu ia terlihat amat sayang kepada Jimmy. Mengamati gerak-geriknya.
__ADS_1
Jimmy adalah pria yang tampan ,bibirnya tipis, rambutnya ikal, agak bergelombang, tingginya sekitar 185 cm, dengan jas yang ia kenakkan hari ini dia amat keren tak itu saja, pria yang berprofesi sebagai pengacara ini berjiwa sosial sangat tinggi. Walaupun Jimmy terkesan amat cuek pada orang di sekitarnya namun ia sangat peduli, bahkan diam-diam Jimmy sering membantu orang kesusahan.
Jimmy melahap makanan itu, lalu ia masih sama mengamati keadaan sekitarnya.
Akan tetapi, wanita itu pun menepuk pundak Jimmy amat keras karena merasa terabaikan.
"Jimmy..."
"Iya, maafkan aku ,"
"Apa yang kau lihat kenapa kau terlihat amat serius?, dan kenapa kau tak mau menjawab pertanyaanku?, kapan kau menikah??" tanya dari wanita itu menatap wajah Jimmy yang sedang bingung.
Karena dari kesekian ribu pertanyaan,Jimmy paling tidak suka menjawab pertanyaan itu.
Mungkin kalau dalam sekolahan pertanyaan itu adalah soal Kimia, dan mungkin juga soal Matematika, manakah yang sulit itulah yang membuat Jimmy, memilih menjadi seorang pengacara. Sama seperti saat ini ia mendapat pertanyaan yang paling tak bisa ia jawab.
"Haaaaa, kenapa kau tanya begitu?, bukan kah Andrew tidak sama dengan aku." ucap Jimmy dan mencibirkan bibirnya terlihat sebal.
"Usiamu berapa?" tanya wanita itu dan ia pun menatap tajam Jimmy lalu dengan sabar ia menunggu jawaban Jimmy.
"Ayolah Jimmy, kau sudah sangat tua, jangan bermain-main dengan perasaan gadis ??" ucap wanita itu dan menjewernya namun tak sakit.
"Iya, aku tidak bermain tapi merekalah yang selalu menempel kepadaku." jawab Jimmy menaruh piringnya karena makanan yang ada di tangannya sudah habis.
"Maka dari itu pilihlah satu gadis , dan segera menikah. Aku ingin melihatmu bahagia, kita tidak akan tahu berapa umurku yang masih tersisa..." ucapnya kepada Jimmy sembari tersenyum.
"Apa yang Anda katakan?, kau akan berumur panjang, " Lalu Jimmy memeluk wanita itu.
"Apa Andrew tak pernah pulang kemari?"
"Habis ini pulang masih dalam perjalanan." ucap dari wanita itu.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
__ADS_1
Saat ini hujan, jatuhnya air bersama-sama itu semakin bergemuruh. Membuat suasana hari kian dingin menggigit tulang, sukma dan raga, kabut yang tebal beriringan bersama, makin membuat semua orang kebingungan.
Semua para manusia berbondong masuk dan karena air hujan membuat mereka dingin, dan bisa terkena flu mereka menutup semua pintu dan jendela rumah secara bersamaan.
Ada juga yang di jalan raya segera memakai jas hujan, karena mereka takut basah kuyub.
Hal itu wajar sekali karena hujan membuat semua makhluk hidup harus cepat berlindung agar tidak kedinginan.
Namun ada seorang gadis yang bermain air, di dekat sungai tepatnya di sisi kiri jalan raya ada sungai kecil, bersih . Dia asyik bermain walau dingin mencekat kulit dan tulang, serta kabut yang di sebabkan derasnya hujan, kini membuat banyak pengendara di jalanan ini kebingungan.
Berbeda dengan gadis ini yang sedang asyik menikmati hujan deras kali ini , sama sekali tak menyurutkan nyalinya, bermain layaknya seorang anak-anak. Mengenakan rok bewarna putih, rambutnya terurai, kakinya yang bersih.
Terdengar suara nyanyian khas, nadanya tak sumbang agak merdu namun sangat ganjil.
"Na...na...na..." sambil menyanyi dengan riang ia duduk di tepi sungai itu, basah kuyub dia tetap menikmati derasnya air hujan yang kini semakin lebat saja.
Lalu di tangannya ada sebilah pisau tajam, sambil melihat ikan yang sedang berenang di sungai, menyeringai, menatap makhluk air itu
Menatapnya fokus, lalu perlahan nyanyian di bibirnya mulai terhenti. Setelah terhenti gadis itu menghujamkan sebilah pisau kepada ikan yang berenang di sungai. Dan ternyata sangat pas ikan itu mati seketika , air berubah merah akibat darah ikan mulai menyebar dengan cepatnya.
"Ha, kenapa kau lemah sekali?, tidak seru apakah kau tahu ikan seharusnya kau tidak berada di dekatku." sambil menyeringai, lalu ia berdiri dan mengambil kapak besar dan mulai menyeretnya di jalan raya.
"Sreeeeekkkkkk....." suara deritan kapak itu terdengar dan menggemma, namun suaranya teredam deras air hujan sehingga tidak ada yang mendengar.
"Ha...ha...ha.." terbahak-bahak dan menyusuri jalan seperti orang gila.
"Tiiiiinnnnnn...." suara bel mobil terdengar.
"Hei, kenapa berjalan di tengah jalanan?, apa kau ingin mati?, ini jalan raya !!!" ucap dari sopir itu , dan melajukan mobilnya lagi.
Gadis itu menatapnya dalam, dan dingin dia sudah mengamati tiap inci wajahnya, serta ia sudah melihat nomer plat mobilnya.
Tidak itu saja ia tersenyum ke arah pria yang sudah berteriak ke arahnya. Namun dia sudah berlalu dengan cepatnya, melajukan mobilnya yang merah itu ke arah berlawanan.
__ADS_1
Sambil tersenyum miring membawa kapak di tangannya. Berjalan ke arah lainnya, seolah ia tak mengabaikan perkataan pria itu. Entahlah apa yang sedang di fikirkan oleh gadis itu.
Bersambung...