
"Ya Tuhan, kenapa tak ada orang sama sekali disini?, aku sudah putus asa ...."
Dia merintih kesakitan karena luka di tangan dan kakinya masih basah seharusnya segera mendapat perawatan jika tidak wanita paruh baya itu akan segera terinfeksi. Lukanya akan membusuk , nanah bercampur darah masih banyak ditepian lukanya yang menganga itu tentu terasa perih , panas , gatal , dan sakit bercampur tanah kotoran sisa-sisa semalam.
Membuat para lalat terbang mengerumuni bekas lukanya. Mereka sangatlah menikmati luka itu bagaikan emas yang tidak terhingga bagi kawanan lalat di hutan itu.
Berkerumun dan berbincang sambil bersenda gurau menikmati luka wanita paruh baya itu.
"Toloooong....! Toloooooong....Toloooong!" pekik wanita itu beberapa kali agar ada yang mau datang menolongnya .
Dia mengulangi beberapa kali berharap ada seseorang yang datang , namun sama sekali tak ada orang yang mendengar teriakkannya.
Namun setelah beberapa kali berteriak bukan ada orang yang datang menolongnya , malah sekarang tenggorokkannya terasa kering dan haus , dia kebingungan karena kakinya yang masih utuh terbelenggu oleh rantai.
"Siaaaal, kenapa harus seperti ini?, apa yang terjadi padaku ?" meratapi nasibnya yang tak mujur sama sekali.
Kini di temani oleh ribuan belatung di sekitar tempatnya, dan lalat juga yang hinggap pada lukanya , wanita itu makin tidak tahan untuk bertahan, berharap bisa mengakhiri hidupnya.
"Seharusnya aku tadi malam memohon pada gadis gila itu untuk membunuhku saja."
"Tapi kenapa mulutku tak bisa berkata-kata?"
"Argggghhh.., Argghhhhh...." pekik wanita paruh baya itu yang sudah tak tahan dengan semua penderitaan yang ia alami saat ini .
Wanita itu terlihat kacau , karena kehausan dia bingung harus berbuat apa kakinya yang tak bisa lepas dari rantai yang membelenggu
"Ha perutku lapar sekali, aku juga kehausan dasar gadis kurang ajaaaar!!, berani nya dia menyiksa dan mempermainkanku !!!" pekik wanita itu .
Namun tak ada gunanya sama sekali hanya angin dan pohon pinus yang tak bisa bicara menemaninya kini.
Siang yang semakin terik menyombongkan dirinya kini, seakan ikut menertawai kesialan yang terjadi pada wanita paruh baya itu.
Mereka mengabaikan kejadian ini seolah tak ada hal yang terjadi di hutan ini, ya merekalah saksi bisu atas pembunuhan banyak manusia di hutan pinus saat malam hari tiba.
__ADS_1
Pepohonan yang berdiri kokoh itu berjajar rapi namun mereka tak bisa berbicara, seandainya saja mereka bisa berkata saat di tanya maka pepohonan pastilah akan bercerita panjang lebar tentang sang gadis predator paling suka mengoleksi kepala manusia.
Mulai dari pria, wanita, anak-anak, hingga ada kepala remaja , masih tak diketahui apa motif di balik pembunuhan yang gadis itu lakukan.
Sebelum menebas kepalanya ,ia pasti akan menyiksanya terlebih hingga para korbannya memohon untuk di bunuh saja.
Jika masih tetap bertahan untuk hidup maka ia akan membiarkan sampai dia mati dengan sendirinya , setelah itu para hewan peliharaan nya tinggal memakan bangkainya saja.
Namun gadis itu tetap akan meninggalkan satu bagian saja yaitu kepala mereka, gadis itu mengoleksi bagaikan para wanita yang sangat suka dengan barang mewahnya .
Wanita paruh baya itu bergidik ngeri karena melihat tumpukan kepala yang berada tidak jauh darinya saat ini. Matanya tetap melihat walaupun di takut, seolah kepalanya yang kini berada di tumpukkan paling atas. Bulu roma nya berdiri menyaksikan semua yang ada di depan matanya.
"Astaga, apa dia benar-benar manusia ?, ada berapa banyak manusia itu yang berhasil di bunuhnya?" gumamnya ketakutan,dan kedua bola matanya tidak lepas dari pandangan ke arah tumpukan kepala manusia dan ia masih mengingat kejadian semalam hampir saja kepalanya adalah salah satu dari tumpukan tersebut .
Beberapa kepala itu sudah membusuk tinggal tulang dan rambutnya saja, beberapa juga ada yang masih baru dan terlihat banyak belatung menempel bergerombol, ada bercak darah di sekitaran tempat itu yang mulai berubah jadi warna coklat mengering dan berbau busuk.
Terlihat saat ini banyak sekali kapak dengan beraneka ukuran berserakkan. Lalu ada pisau juga yang sudah usang tidak terpakai terlihat berkarat. Mungkin karena terkena darah dari para korban sebelum wanita paruh baya ini.
Dan sudah lama tak di pakai, maka pisau itu pun sekarang berkarat.
Semua tubuh korbannya di berikan sebagai santapan para hewan, dan sedangkan kepala di tumpuk begitu saja, seperti menjadikannya sebagai bahan souvenir pengingat kejadian saat ia membunuh semua para korbannya.
Menjadikannya sebagai acuan berapa banyak nyawa yang berhasil ia ambil dengan tangan nya sendiri.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Hai kenapa kau diam saja?, siapa namamu?" tanya Jimmy dan menatap lekat Rian yang masih bengong dan tak bicara sepatah kata pun.
"Rian..." jawab Rian dan sadar.
"Sialaaan..." batin Rian.
Ralin hanya tertegun melihat Rian karena dia baru sadar jika pria yang di depannya kali ini tak sepadan dengannya.
__ADS_1
"Oh, kalian sudah lama mengobrol , ini aku bawakan makanan ringan.." ucap Jimmy dan dia berjalan meninggalkan mereka berdua .
Dia mendekati Ana dan berbisik sesuatu .
"Ada apa?" tanya Ana dan bergeser menjauhi Jimmy.
"Kenapa kau menjauh dariku?" tanya Jimmy.
"Hanya saja aku ingin bertanya terlebih dulu kepadamu, kenapa kau berbohong padaku?" alis Ana mengernyit , sambil menatap ke arah Jimmy dengan pandangan yang serius kali ini
"Tanya apa An?, bukankah aku tak berbohong sama sekali kepadamu..."
"Saat pertama kali kau bertemu denganku, aku rasa kau berbohong Jim, aku tak pernah membeli nasi goreng di pinggir jalan, dan kau tidak suka makanan yang berminyak, lalu apa lagi kalau kau tidak berbohong kepadaku?" telisik Ana kini curiga atas apa yang sudah di katakan Jimmy padanya adalah kebohongan.
"Ehm, memang benar aku tak suka makanan berminyak, aku juga tidak suka nasi goreng tapi aku tidak berbohong kalau aku bertemu saat malam hari, aku berhutang kepadamu."
"Kau bohong , pergilah kau dari hadapanku!" usir Ana, dan suaranya yang keras terdengar oleh Ralin dan juga Rian.
Rian pun dalam hatinya sangat bersuka cita, melihat keadaan seperti itu berarti Ana tidak mempunyai perasaan pada Jimmy.
Dia menatap ke arah mereka yang sedang bersitegang, seolah menikmatinya.
"Ada apa An?" tanya Ralin dan ia pun berjalan mendekati Ana.
"Tidak Nona, aku hanya akan menyelesaikan tugasku saja." jawab Ana nadanya lirih tidak seperti saat berbincang dengan Jimmy .
"Dengarkan aku dulu, aku tak berbohong."
"Pergilah, aku tak mau melihat wajahmu !!" usir Ana.
Jimmy yang malu karena baru kali ini di usir seorang gadis, dia pun berjalan ke arah pintu dan keluar dengan kepala tertunduk, merasa kalau harga dirinya sedikit terendahkan.
"Sialan, apa salahku ?" gerutu Jimmy.
__ADS_1
Rian tersenyum karena keadaan sekarang berada di pihaknya. Masih ada celah untuk mendekati Ana.
Bersambung...