Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 35 "Fire"


__ADS_3

Saat ini Alan pun sudah berada di dekat pintu rumah Jimmy, tembakan pun beberapa kali melesat hampir mengenai tubuhnya.


Alan pun berjalan menjauh dari pintu rumah Jimmy.


"Dia tahu kalau aku dan kau berada disini, pasti dia menggunakan alat pelacak suhu tubuh Ana," ujar Alan dengan mengamati sekitar .


"Bagaimana kau tahu Alan?," tanya Ana baru pertama kali ia mendengar alat tersebut.


"Tentu saja, aku seorang polisi yang tangguh, cerdas dan berwibawa, aku ini salah satu dari mereka yang bisa menangkap musuh dengan mudah." ucap Alan dengan percaya diri tinggi tingkat dewa.


"Lalu ini, untuk apa mengajak wanita kemari Alan? , jika kau bisa menangkapnya dengan mudahnya." ledek Ana, karena tahu jika Alan hanya membual saja tak benar-benar serius.


Terlihat Alan bingung harus menjawab apa atas pertanyaan Ana, yang di lontarkan saat ini. Bahkan ia mengingat akan mengajaknya untuk menangkap pembunuh pada Jimmy beberapa hari yang lalu. Karena ingin sekali memanfaatkan kepintaran Ana.


"Ehm itu bukankah dua lebih baik dari hanya satu orang An.." kilah Alan pada gadis itu tak mau terlihat bodoh di mata Ana.


"Kau hanya beralasan saja." jawab Ana lalu ia mencibirkan bibirnya pada Alan.


"Lalu, apa kau punya ide untuk menyelamat kan Jimmy kali ini?" tanya Alan dan menatap wajah Ana dengan serius.


"Tentu saja punya, dengar tidak ada suara tembakan dari arah manapun..." ucap Ana.


Alan dengan seksama mendengarkan ucapan Ana kali ini, dia memasang telinganya dengan baik memang tak ada suara berisik tembakan


"Iya kau benar tak ada suara tembakan An." ucap Alan sambil melihat keadaan sekeliling.


"Hanya ada tiga kemungkinan, yang pertama dia kehabisan amunisinya , dan yang kedua sedang mengisinya, dan yang ketiga dia kini kehilangan jejak Jimmy." ucap Ana mencoba membaca keadaan.

__ADS_1


"Wah, lalu dari ketiga kemungkinan manakah yang paling benar saat ini?" tanya Alan pada Ana, dan dengan beberapa kali menggerakan kelopak matanya .


"Tentu saja ketiganya, butuh waktu untuk ia mengisi amunisinya, dan juga untuk mencari keberadaan Jimmy yang hilang."


"Lalu aku harus apa, kau punya ide?" tanya Alan, dia berusaha membaca ekspresi Ana.


"Tentu saja kau cukup alihkan perhatiannya, berlarilah secepat mungkin, kau kan seorang polisi jadi larimu pasti kencang iya kan?, dan satu lagi kau harus menghindari tembakkan sebisanya." usul Ana, seketika membuat Alan menelan ludahnya dengan kasar. Terlihat dia ketakutan walau hanya mendengar ide dari Ana saat ini.


"Jadi maksudmu aku jadi umpannya..." ucap Alan terlihat alisnya mengernyit seketika tak percaya dia adalah umpannya kali ini. Terasa akan mati konyol jika ia terkena tembakan.


"Benar, kau tak mau Alan? Jangan bilang kau lemah dalam hal berlari, bukankah kau tadi bertanya ide padaku." ledek Ana, ia membuat Alan sedikit merasa rendah di mata seorang gadis.


"Ha, yang benar saja An." gerutu Alan karena ia tak mau menjadi korban tembak dan mati konyol saat menyelamatkan temannya.


"Jangan bilang akulah yang harus berlari dan mencoba mengalihkan perhatian penembak itu??" ucap Ana, dan ia tersenyum miring ke arah Alan.


Sekarang Jimmy berhasil melarikan diri, dan ia berada di bawah, karena saat penembak itu sedang mengarahkan pistol laras panjangnya ke arah Ana dan Alan, waktu di manfaatkan untuk melarikan diri.


"Kenapa hari ini aku sial sekali?, mereka enak sekali melakukannya di tempat sembarangan, sedangkan aku harus menghindar dari orang yang sedang memburuku." rutuk Jimmy pada nasib sialnya hari ini.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Wanita paruh baya itu terlihat lemas dengan bibir pucat, matanya juga sayu benar lukanya telah infeksi , tubuhnya demam terasa panas dingin. Belenggu kakinya masih belum bisa terlepas. Sesekali dia menatap tangannya


"Apakah Tuhan itu ada?, jika Dia ada aku mau seseorang menyelamatkanku, aku sudah tak tahan lagi...." lirihnya merasa putus asa sudah tidak tahan karena luka yang saat ini infeksi, juga menghadapi nasib sialnya di ambang kematian.


"Tolonglah ...aku..." dengan tubuh yang lemas dan suaranya juga lirih merintih, tapi tak ada yang mendengarnya sama sekali.

__ADS_1


Angin berhembus dengan kencang membuat daun pohon pinus yang kering dan rontok itu mulai berserakkan kemana-mana tak itu saja biji pohon pinus kering berjatuhan .


Tenggorokannya yang kering membuatnya tak bisa sama sekali berteriak minta tolong.


Beberapa buah pinus yang kering berjatuhan, karena biji pohon pinus yang kering sangatlah mudah terbakar, tak jarang semua penduduk akan menggunakkannya sebagai bahan bakar


Terdengar suara derap langkah dari sisi yang berlainnan. Semakin dekat ke arahnya lalu ia menyeringai menatap wanita paruh baya itu.


"Bagaimana kau mau mati hari ini?" tanyanya ia nampak dari kejauhan mengambil sebuah kapak.


Sreeeggggh suara deritan kapak yang di bawa gadis sang pembawa kematian itu. Dan gadis itu menyeringai ke arah wanita paruh baya itu yang sedang menahan rasa sakitnya saat ini.


"Aku sudah tak kuat lagi, badanku panas dan juga dingin, kau boleh membunuhku , tetapi aku mau bertanya padamu , apakah alasan kau berbuat seperti ini kepadaku?, aku masih belum mengerti...." ucap wanita paruh baya itu semakin lirih dan tak bertenaga.


"Ha..ha..ha..ha, kau benar-benar sangat ingin mengetahuinya??" ucapnya sambil menyeret kapak besar kesayangannya itu, semakin dan semakin mendekatinya


"Kau tahu, semua manusia akan mati, walau aku tak membunuh mereka. Untuk kau masih belum tahu alasannya kau hanya berpura-pura manusia sampah..Aku hanya mempermudah pekerjaan malaikat maut, jika kau lebih lama hidup di dunia ini semakin banyak kerusakan yang akan terjadi..." ucapnya dan menarik ke atas kapak yang ia bawa.


"Lalu apa hakmu?, kau juga manusia biasa seenaknya mengambil nyawa manusia lain." potongnya masih tak terima dengan tindakan biadabnya pada wanita paruh baya itu.


Dia pun tak jadi menebas leher wanita paruh baya itu, kemudian berbalik arah mengambil pisau yang tajam, dengan cepat menarik dagu wanita itu menekannya dengan paksa setelah itu memotong lidah wanita paruh baya .


Seketika darah menyembur kemana-mana. Bak air dari kran yang keluar seketika , wanita itu tak bisa lagi berkata-kata. Walaupun hanya bilang kalau ia sedang kesakitan.


"Kau masih berani berkilah rupanya...Dasar sampah bahkan peliharaanku tak akan sudi makan bangkai dari tubuhmu yang busuk itu, he..he...he..." terkekeh melihat mulut wanita itu penuh dengan darah segar, bau anyirnya yang khas tercium membuatnya bergairah.


Sedangkan wanita itu saat ini kebingungan karena tiga bagian tubuhnya hilang dengan cara mengenaskan.Gadis itu pun mengambil korek api apakah yang akan di lakukanya kali ini.

__ADS_1


Lidahnya di buang begitu saja di atas tanah.


Bersambung....


__ADS_2