
"Hei, bocah ingusan." pekik Jimmy dan ia berkacak pinggang di samping mereka.
"Dengar, aku lihat para anak sekarang itu tak punya tata krama ya, sekarang aku pasti akan memberimu pelajaran tata krama agar kau itu paham jika bertemu, mulutmu tak seenaknya sendiri." ujar Jimmy.
"Hei, dasar Pak Tua, ikut campur saja masalah orang lain pergi sana, kalau tidak kami pasti akan mengeroyokmu."
"Apa..?"
Lalu Jimmy pun mengambil sapu ,dia mulai memukul beberapa siswa yang nakal dan bandel itu, tidak itu saja juga bisa menghindar serangan beberapa siswa .
Setelah beberapa menit pergulatan terjadi maka, mereka kalah, dan Jimmy memberi hukuman push up 50 kali. Dengan nafasnya yang tersengal-sengal mereka babak belur.
Ferdy pun menganggumi sosok pengacara yang bernama Jimmy.
"Wah kereen sekali baru kali ini, ada pria yang superhero sepertimu."
"Apa , superhero gadungan?" ucap lirih Ana mencibirkan bibirkan dan melirik Jimmy.
Pria itu hanya tersenyum akan pujian yang di layangkan Ferdy untuknya.
"Kau senang?, superhero gadungan..." ucap Ana pada Jimmy.
"Ckk, biarkanlah aku merasa senang atas pujian yang diberikan bocah ini." ucap Jimmy dan tersenyum ke arah Ana.
Ana tak membalas senyuman padanya hanya mengerucutkan bibirnya lalu, Ferdy mendekat pada Jimmy.
"Paman, bolehkah aku belajar darimu?" ucap Ferdy, menatap penuh arti pada Jimmy.
"Hemmm, maksudmu?"
"Aku hanya ingin sering mengobrol dengan Paman, kau tahu aku hanya anak miskin dan tak punya apa-apa, tapi aku ingin Paman beri aku pelajaran, dan beberapa pendapatmu?" ucap Ferdy terdengar tulus di telinga Jimmy.
Para anak badung pun sudah lari tunggang langgang, akibat ulah Jimmy memberikan mereka hukuman.
__ADS_1
"Baiklah, Hei anak miskin kau tak boleh bilang begitu, dengar miskin hanyalah kata-kata dan selama kau tak merasa seperti itu, kau bukan anak yang miskin." ucap Jimmy pada Ferdy berusaha meyakinkan, memberi semangat.
"Ha.. Kau sok keren..." ucap Ana mendengus agak sebal.
"Tidaklah, aku kan memberi saran padanya." ucap Jimmy melirik ke arah Ana terlihat sebal
"Aish, dasar pria ini , lalu kapan kita berangkat ke rumah sakit?" tanya Ana dengan suaranya yang lembut.
"Sebelum pergi kerumah sakit bagaimana kalau kita makan?" ucap Jimmy dan menatap lekat ke arah Ana dan Ferdy.
"Baiklah." ucap Ferdy dan Ana kompak.
Karena untuk soal urusan perut pastilah itu nomer satu. Karena sejatinya semua manusia saat ia mereka lapar akan mencari namanya makanan untuk di santap. Jadi itu sudah hal yang biasa atau normal. Akhirnya Jimmy, Ana, dan Ferdy berada di sebuah restaurant, duduk lah mereka bertiga. Tak lama makanan yang ada di meja sudah di tata dengan rapi.
"Dengar kalian berdua, Ana dan Ferdy hari ini aku akan menerangkan sesuatu pada kalian?"
"Memang apa?, apakah kau mau berpidato?" tanya Ana, dan menatap beberapa menu dari makanan itu, yang saat ini terhidang di meja makan begitu menggugah selera.
"Aku tidak berpidato, ckk kau selalu berburuk sangka kepadaku, apa salahku?" ucap Jimmy
"Sudah, baiklah aku akan mulai sekarang Kau Ferdy, mana makanan yang kau pilih ?" tanya Jimmy pada Ferdy dan Ferdy mengambilnya.
"Aku ini saja Paman, aku rasa ingin makanan ini, selagi ini gratis kau yang membelikannya maka tak apa." ucap Ferdy kepada Jimmy.
Makanan gratis akan selalu di sukai semua orang karena selain murah, maka lebih hemat bukan merendahkan, tapi terkadang sesuatu ada manfaat di setiap kandungannya.
"Baiklah sekarang Ana.." ucap Jimmy dan Ana mengambil makanan yang ada di meja.
"Kau bilang kau tak suka nasi goreng." ucap Jimmy memanyunkan bibirnya, kedua alisnya mengernyit ke arah Ana, heran beberapa hari yang lalu dia bilang tak suka nasi goreng.
__ADS_1
"Bukan aku tak suka Jim, aku tak pernah beli makanan nasi goreng di luar." ucap Ana.
"Lalu kau makan yang mana?" tanya Ana sambil menelan ludah tak sabar memakan semua hidangan yang sudah ada di meja makan.
"Aku akan cerita An sekarang, jika dalam isi piring punya Ferdy itu adalah nilai Bruto maka isi piringnya berarti nilai netto, dan piringnya adalah tara." ucap Jimmy.
Ucapan itu membuat Ana dan Ferdy saat ini melayangkan pandangan pada mereka satu sama lainnya, heran atas ucapan Pengacara tampan dan maskulin ini. Apakah yang mulai di bicarakan Jimmy. Mereka berdua yang tahu adalah makanan akan selalu mengenyangkan jika sudah masuk ke dalam perut mereka .
"Kalian tak paham?" ucap Jimmy.
Ana dan ferdy kompak menelan saliva, dan juga menggelengkan kepala. Menatapnya dengan pandangan aneh.
"Haaa.. Kalian ini, baiklah kalau punya Ferdy, itu misalkan Bruto adalah 100 maka Taranya 70% dan netto nya hanya 30%, jadi yang aku maksud itu hanya mengenyangkan saja, dan boleh di makan tapi jangan sering-sering ok." ucap Jimmy dan mengelus pucuk rambut Ferdy, namun Ferdy tetap tak paham sama sekali dengan ucapan Jimmy.
"Aku tak paham aku hanya ingin makan saja, yang penting perutku kenyang karena apa?, aku jarang punya uang, jadi solusinya adalah makanan yang mengenyangkan akan selalu membuatku banyak tenaga." jawab Ferdy panjang lebar, alasannya memilih itu.
"Ha, baiklah sekarang Ana, untuk isi piringmu adalah 100, dan taranya adalah 40 % dan isi nettomu itu adalah 60%." ucap Jimmy kepada Ana dan tersenyum.
"Aku tak paham, mau makan saja kau harus berpidato Jim, kau ini ckkk..." ucap Ana dia sebal, kenapa tinggal makan harus berlama- lama bercerita panjang lebar.
"Begini, jadi bila mencari makan kalau bisa kita harus memakan makanan yang sehat itu berarti tara 10% dan netto 90% paham..." ucap Jimmy dan sangat serius.
Ternyata Ana dan Ferdy mengabaikannya langsung melahab makanan itu dengan nikmat , tanpa berdo'a mereka lupa yang sedang mentraktir belum memulai tapi mereka sudah mengunyah makanan yang terhidang di meja.
Jimmy tersenyum dengan hangat, merasa heran kenapa tak ada satupun dari mereka yang mendengar ocehannya. Padahal dia ingin memberikan pelajaran tentang nilai makanan dalam setiap hidangan yang akan mereka makan.
"Ha... Terserah kalian lah, aku mau makan karena aku sangat lapar." ucap Jimmy, dan ia berdo'a setelahnya mendekatkan piring yang berisi makanan ke hadapanya.
Menikmati makanannya dengan perlahan, ia menatap Ana dan Ferdy seperti anak kecil yang makan es krim, karena makan es krim waktu kecil adalah hal yang luar biasa namun saat kita sudah dewasa, semua itu terlihat biasa-biasa saja.
__ADS_1
Bersambung...