Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 23 "Killed 2"


__ADS_3

"Ha...ha...ha... Kematianmu indah bukan?, sesuai keinginanmu kalau mawar putih ini adalah pengantar tidur panjangmu." ucap seseorang dan menyeringai ke arah jasad Andien.


Sang pengantin pria masih dalam perjalanan dan belum mengetahui jika pengantinnya itu sudah tak bernyawa, meninggalkannya untuk selama-lamanya.


"Ini pembunuhan, kepala Andien di masukkan kedalam bath up penuh dengan air hingga dia kekurangan oksigen, tak bisa bernafas hingga ia mati." batin Ana, dan ia mengamati sekitar siapakah pelaku pembunuhan ini sebenarnya.


James, Mama, dan Papanya Andien masih menangis karena tak bisa menerima kejadian ini, sang pengantin yang akan di antar ke altar suci, tidak bernyawa , seharusnya pernikahan yang menggembirakan itu, membuat terharu menangis bahagia untuk semua keluarganya.


Tapi yang terjadi adalah pernikahan yang di penuhi derai air mata kesedihan. Andien yang kini terbujur kaku, jasadnya yang mulai dingin dan membiru. Ana mendekat dan memegang tubuh Andien. Ralin pun meneteskan air mata lalu menatap Ana, dengan pendangan yang amat pilu, kehilangan sosok sahabatnya itu.


Beberapa menit kemudian Jimmy dan Alan beserta banyak para anggota polisi datang.


"Ada apa Ana?" tanya Jimmy dan mengamati keadaan, banyak yang menangis histeris .


"Lihatlah, kematian Andien, aku kira pelaku adalah seorang pria , dengan kekuatannya ia menyeret Andien ke arah bath up yang berisi air, setelah itu memasukkan kepalanya hingga dia tewas, karena paru-paru nya penuh terisi air, hingga oksigen tak bisa masuk." ucap Ana


"Benar sekali Ana, sebentar aku mengamati keadaan dulu." ucap Jimmy dan melangkah.


Para tamu dan keluarganya kini di singkirkan oleh para polisi, mereka di jauhkan dari mayat si korban yaitu Andien.


Jimmy mengamati tubuh Andien yang saat ini sudah terbujur kaku, lalu membuka mulutnya, melihat rambut Andien berantakkan , dan tak bekas luka ataupun lebam di tubuhnya.


Benar sekali yang di katakan oleh Ana, ada yang menyeretnya masuk ke dalam bath up, lalu menenggelamkan kepala.


"Jim, siapa kira-kira pelakunya?" tanya Alan.


"Ehm, benar yang di katakan Ana, bahwa ia seorang pria," ucap Jimmy kepada Alan.


Shanon melihat mayat Andien, dan dengan keahliannya sebagai tim forensik, mengamati dengan detail , mulai dari kaki hingga ujung rambutnya .


"Aku rasa karena tubuhnya tak ada luka atau memar, dia sepertinya tidak di seret Jimmy, tak ada kekerasan, pembunuh langsung saja mengeksekusinya." ucap dari Shanon, dengan nada begitu serius menatap mayat Andien.


"Kalau dia tidak di seret berarti dia masuk ke dalam kamar mandi ini, pelaku menenggelam kan nya karena dia kenal baik dengan Andien, dia tak curiga sama sekali." ucap Alan kepada Shanon.

__ADS_1


"Kemungkinan juga, bisa saja si pelaku tahu kebiasaan Andien akan pergi ke kamar mandi saat itu lah dia menyergapnya." jawab Shanon


Alan menganggukkan kepalanya berkali-kali sambil memengangi dagunya, seraya Alan adalah detective kelas kakap The Sharelock Holmes itu.


"Aku rasa dia diseret dari kamarnya lalu sang pelaku melakukan aksi pembunuhannya keji nya tersebut." ucap Jimmy dengan sorot mata tajamnya.


"Tapi kamarnya rapi Jim," sanggah Shanon dan menatap wajah tampan Jimmy.


"Haaaa, dia tak di seret dari kamar hanya saja, saat dia berdiri atau melakukan hal lainnya." ucap Jimmy melangkahkan kakinya dan ia berhenti tepat di atas dan menatap cermin.


"Naaaah mungkin dia berdiri disini, sambil berkaca mengamati gaunnya dan parasnya yang cantik, setelah itu pelakunya masuk lalu membunuhnya." ucap Jimmy menerangkan kepada Shanon, dan juga Alan, dan tentu saja mengamati parasnya yang tampan di depan cermin , memperagakan gerakan Andien di kala ia masih hidup.


Alan mendengarnya menarik sudut bibirnya, lalu menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Panggilah tim forensikmu !, suruh mengerja kan tugasnya dengan baik Shanon ,disini ada jejak beberapa orang dan pastikan tidak ada yang ketinggalan, di depan ada kamera cctv pastikan dan catat waktu mereka masuk dan siapa saja yang menemani Andien saat itu." ucap Jimmy dan seakan ia sudah tahu pelaku pembunuhan Andien, sorot matanya tajam ke arah seseorang.


Ana juga mengangukkan kepalanya, jika ia mengambil kesimpulan yang sama dengan Jimmy .


"Kau tahu pelakunya?" tanya Jimmy pada Ana.


"Tentu saja , tetapi dia begitu sangat mahir menyembunyikan ekspresi wajahnya agar ia tidak ketahuan." ucap Ana lirih.


"Maksudmu Pocker Face.." ucap Jimmy amat lirih.


"Tentu dia ikut menangis saat ini , tapi aku tahu yang di lakukan hanya sebuah drama." ucap Ana ,dan menatapnya dari kejauhan .


Saat ini semua anggota keluarga dari Andien masih tetap menangis , masih tepukul dan tak percaya dengan kematian Andien.


"Siapa pria pertama yang menemukan jasad Andien?" tanya Jimmy kepada Ana.


"Papanya, lihatlah dia sangatlah shock berat." ucap Ana , dan tertunduk melihat sosok ayah yang kehilangan putri kesayangannya.


Seorang pria mengenakkan baju toksedo putih , dan berjalan masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Dia bingung kenapa banyak polisi , para tim forensik , dan juga banyak para tamu yang saat ini sedang bersedih. Terutama saat ia melihat James, dan kedua orang tua Andien.


"Pa, ada apa ini?" tanya pria itu, pasti di lihat dengan penampilannya di pastikan adalah calon pengantin pria .


"Hiks...hiks...hiks..... Maafkan Papa Arseen Andien.." tangis Papa Andien pecah dan tak meneruskan perkataanya.


"Kak James, bisakah kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini ....?" tanya Arseen dengan kebingungan.


Arseen masih belum tahu kalau Andien sang pengantinnya , sudah berada di alam lainnya.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Blaaaaar.......


Ferdy tahu adiknya jatuh dari atap, langsung berlari ke arahnya. Ferda jatuh dari ketinggian sekitar 4 lantai, jika ia tak segera di bawah ke rumah sakit akan meregang nyawa.


Namun Ferdy langsung membawanya dengan cepat agar nyawa adiknya segera tertolong.


"Dokter sembuhkan adikku tolonglah...." ucap Ferdy kepada Dokter agar segera memberi pertolongan kepada adiknya.


"Tenang ya, tunggulah disana." ucap Dokter itu dengan sopan.


Beberapa jam sudah berlalu lalu Dokter pun kini keluar dan melepas penutup kepalanya, berjalan ke arah Ferdy.


"Dengar adikmu mungkin bisa bertahan, tapi tidak akan lama , karena jatuh dari ketinggian maka tulangnya banyak yang patah, tak itu saja ,otak belakangnya mengalami kerusakan dan membuat kami para Dokter menyayang kan hal ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya hanya Tuhan yang akan memberikan keputusannya." ucap dari dokter itu, dan pergi berjalan meninggalkan Ferdy.


Seketika tangis pria yang masih duduk di bangku SMA itu pecah, karena sebentar lagi ia akan kehilangan adik perempuannya.


Ferdy hanya bisa pasrah melihat kondisi dari kembarannya sedang koma , tidak sadarkan diri . Setelah mengalami hal yang amat perih dalam hidupnya , sekarang Ferdy makin sedih


Berjalan masuk mendekati tubuh adiknya, dan air matanya masih mengalir tak berhenti.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2