Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 48 "Worth it"


__ADS_3

"Hidup ini pilihan An, ada yang merokok, ada juga yang tidak terserah mereka yang penting kitalah sendiri yang memilih pilihan kita itu." ucap Jimmy dan tersenyum.


Ana, pun tak menjawab dan menganggukkan kepalanya.


"Haaaa, aku lelah sejenak saja jangan kalian keluar, jangan di tutup tokonya An, biarkan kami duduk sementara disini." ucap Jimmy.


"Iya, aku juga penat, kau tahu seharian tak ada habisnya pekerjaanku makin bertambah, kau tahu tadi juga sempat di marahi atasanku ." keluh Alan curhat pada Jimmy sambil dia mengacak-acak rambutnya.


"Kau sama aku juga punya sekertaris sangat disiplin, jadi tidak punya pilihan lagi untuk menghadapinya, haaaa... aku lelaaaahhh!!!" teriak Jimmy.


"Apa yang kalian ucapkan ini?, aku sangatlah senang mempunyai atasan seperti Ralin, dia baik selalu memberi kami kelonggaran tidak segan-segan membantu, dan ramah." jawab Ana, pada kedua pria itu.


"Kau itu berbeda dengan kami, sudah diam saja untuk sementara ok." ucap kompak Alan dan Jimmy.


Ana terdiam mendengar ucapan mereka yang sedang kompak, lalu Alan dan Jimmy untuk sementara bisa bernafas lega bahwa duduk dengan santai untuk sementara adalah salah satu pilihan mereka berdua yang sama saat ini. Ana mengerucutkan bibirnya karena dia lah satu-satunya yang senang, tidak sama dengan para pria ini.


Lalu Ana, duduk diantara para pria yang saat ini sedang pusing memikirkan dunia mereka. Alan memikirkan semua kasus yang sedang ia tangani, dan Jimmy penat dengan sikap disiplin sekertarisnya. Ana pun pergi ke dapur membuatkan teh hijau buat mereka berdua.


Setelahnya menghidangkan di atas meja, lalu ia pun tersenyum ke arah Alan dan Jimmy.


"Tumben, hari ini kau senyum?" tanya Alan.


"Ehm, itu karena kalian sedang penat, jadi aku buatkan teh ini, minumlah adakalanya semua orang merasa seperti itu." ucap Ana dan dia duduk di dekat mereka.


"Kau benar An, aku kira hanya aku saja yang merasa penat, ternyata Alan sudah lebih dulu kesini." ucap Jimmy, dan mengambil cangkir teh itu, lalu ia mencobanya.


"Ahhh, panas sekali." keluhnya, menjulurkan lidah panjangnya.


Alan pun tersenyum miring," dasaar mana ada teh yang baru terhidang sudah dingin ayolah Pak Pengacara tampan, kau ini seperti anak kecil ..." lirih Alan, dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Oh, kau mengejekku, tapi aku benar sangat pusing hari ini." keluh Jimmy lagi dan terlihat wajahnya masih kacau, walaupun sebenarnya tak seperti itu.


"Kau masih enak, kau tahu Jim, aku tadi kena marah sampai-sampai atasanku mengancam memberi skores padaku." keluh Alan sebal.


"Bukankah lebih baik jika begitu, manfaatkan saja," usul Jimmy dan menarik sedikit alisnya keatas ala berandal tengik.


"Kau benar, kenapa aku tadi tak pasrah saja?" ucap Alan, dengan tersenyum sumringah karena ucapan Jimmy membuatnya sedikit bersemangat.


"Hei An, apakah kau tak mau cerita tentang pengalamanmu yang tak kau sukai, dan apa yang kau sukai?" tanya Jimmy penasaran .


"Ehm, Apa ya...?" ucap Ana sambil mengingat ingat apa yang ada di benaknya.


"Ehm, apa saja, kami akan mendengarkannya iya kan Alan." lirih Jimmy.


"Baiklah, hari ini aku biasa-biasa saja, tetapi aku suka bekerja di toko bunga milik Nona Ralin, selain dia baik, tak pernah memandang kami bawahannya, selalu mendukung kami semua karyawannya, walaupun gajinya hanya cukup untuk kebutuhan seha-hari saja." ucap Ana, dan tersenyum ke arah Jimmy dan Alan


"Maksudmu, kau mau bilang sesuai dengan pekerjaan kami yang sulit maka uang kami banyak, dengan kata lain karena gajimu kecil kau lebih tak beresiko penat seperti kami An." ucap Jimmy pada Ana.


"Wah, baru kali ini ckk, wanita aneh ini bisa bicara seperti ini Jim." ucap Alan dan dia pun menggeser kursi miliknya.


"Kenapa kau mendekatiku?" tanya Ana, dan ia menggelengkan kepalanya.


"Ya , itu karena kau benar sekali, sekarang ini tanganku, ramal bagaimana keberuntunganku untuk masa depan?" ucap Alan lalu ia mebuka telapak tangannya ke arah Ana.


"Apa yang kau bicarakan ?, aku tak bisa sama sekali meramal Alan semua sesuai usahamu." ucap Ana, sambil menyeruput teh hijaunya.


"Ha..ha..ha," Jimmy terbahak-bahak melihat tingkah Alan yang aneh hari ini.


"Hei, kenapa kau tertawa Jimmy?, katanya pusing tapi kenapa sekarang sudah berubah." ucap Alan dan medekat pada temannya itu.

__ADS_1


"Ckk, apakah kalian tak mau pulang?, jika iya aku akan menutup tokonya." ucap Ana, dan ia melihat para pria sedang bergumul, bercanda agar kepenatannya yang sesaat akan hilang.


Ucapan Ana, diabaikan oleh kedua pria itu, karena mungkin bukan suara Ana yang lirih.


Tapi Jimmy dan Alan memilih berpura-pura tak mendengar ucapan Ana.


Lalu gadis itu pun pergi ke ruangan lain agar para pria menghabiskan waktu senggangnya.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Malam yang kian larut ini bernuansa gelap, langit yang mulai menyelimuti Bumi, bukan hanya bintang-bintang yang menampakkan sinarnya tapi rembulan pun juga. Di satu sisi ada seorang pria seperti biasa ia membawa botol alkoholnya, dengan berjalan tertawa, dan meracau sendirian. Sambil tatapannya yang kosong, menenggak bebarapa kali lagi minuman itu. Entah sudah berapa lama dia meminumnya. Kemudian ia sudah teler duduk di bawah dekat toko yang sudah di tutup, dia menatap langit seolah akan bercerita tentang kehidupannya yang pahit.


Setelah puas ia akhirnya membuka suaranya.


"Dengarr !!!, kenapa ini tidak adil denganku!!" teriak pria itu.


"Aku sangat setia dengan istriku, apa salahku kenapa dia meninggalkan aku?" ucapnya dan ia menangis tersedu-sedu.


Namun tak ada balasan, hanya deru angin kini bertiup seolah memberi isyarat pada pria itu kalau sebaiknya ia tak pernah bertanya pada langit malam yang indah hari ini.


Munculah wanita memakai gaun yang sangat cantik, saat ini rambut panjangnya berkibar, ia sangatlah elegan, parfum yang ia pakai bukan parfum murahan, harumnya bisa tercium dari kejauhan. Semerbak membuat para lelaki itu akan mabuk kepayang jika hanya menciumi aromanya saja.


"Kenapa kau kesini lagi?" tanya pria itu dan ia menatap heran wanita yang tempo hari sudah di lihatnya, menawarinya sesuatu namun tak tahu apakah itu.


"Hem, aku sudah bilang tinggalkanlah, kau masih kembali, dan sekarang kau meracau." ucapnya.


"Apa yang kau maksud aku tidak tahu?"jawab pria itu dengan menatapnya tajam.


"Bukankah kau sudah di tinggal oleh istrimu, tapi kau tak tahu kesalahanmu." ucap wanita itu dengan tertawa,

__ADS_1


"Ha...ha...ha..ha..." terbahak-bahak, sehingga malam yang indah ini menjadi malam yang sedikit ganjil.


Bersambung...


__ADS_2