Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 45 "Problem"


__ADS_3

Waktu memang tak terasa semakin bergulir dan bergulir, sisanya hanyalah memberikan sedikit memory pada semua insan di dunia. Hari ini pria yang sudah menenggak alkohol itu telah bangun, di jalan raya karena sang fajar sudah berada di ufuk timur. Bukankah waktu ini bisa di gunakan untuk berkegiatan.


Misalnya bekerja di waktu yang tepat, atau mencari ilmu yang bermanfaat jika masih menjadi seorang pelajar.


"Ha, jam berapa ini?" tanyanya pada dirinya sendiri, mengerjapkan kedua kelopak mata karena sinar cahaya mentari membuatnya silau. Sedikit mengernyitkan matanya ke arah cahaya.


Dia pun berjalan sempoyongan, berjalan ke arah rumahnya yang tak jauh dari tepi sungai. Rumah pria itu hanya berukuran sangat kecil, jika di tinggali hanya cukup untuk dua orang saja. Rumah yang terbuat dari bahan triplek dan beberapa bambu, sangat sederhana itu ia membukanya. Pintu terbuka dengan suaranya yang khas.


Krieeet...Krieeet...


Lalu bajunya melayang kemana-kemana, dan ia terkejut istrinya melemparinya semua baju kotor miliknya. Pria itu masih belum tersadar sepenuhnya, berjalan kian mendekat ke arah istrinya. Menatapnya penuh amarah, dan dia juga mengintimidasi istrinya tersebut.


Menarik pergelangan tangannya, dan agak menekan kakinya ke arah paha istrinya, agar dia tidak bisa bergerak dan menguncinya di dinding.


"Apa yang kau lakukan?, kau mau memukul diriku?" cecar istrinya dengan muka masam.


"Aku hanya ingin tanya padamu kenapa baju ini semua melayang di wajahku?" ucapnya dengan ekspresi wajahnya yang dingin.


"Agar kau tahu, aku lelah bekerja kau bisa membuang bajumu, dan belilah baju yang baru." ucap istrinya, dan menatapnya tajam.


"Lalu kau kan istriku , seharusnya kau selalu melayaniku, aku ini suamimu, dan aku bebas sesuka hatiku." ucapnya dengan ketus.


"Hem, ha..ha..ha.." tertawa terkekeh, dengan ucapan suaminya yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


"Apa yang salah?, kenapa kau tertawa?" tanya suami karena ucapannya istrinya malah cuma terkekeh.


"Dengar, sekarang jam berapa?" tanya istrinya


"Lalu, aku harus apa dengan jam ?" jawabnya.


"Hei, kau bilang kau suamiku, jika suami pasti jam segini bekerja untuk apa jika kita kau dan aku menikah?, kau hanya mabuk-mabukkan di jalanan, sehingga kau seenaknya saja lari dari tanggung jawabmu itu." ucap sarkas istrinya.


"Dasar wanita berani dengan suami sendiri!"

__ADS_1


Plaaaakkk, Plaaaak... Plaaaakkkk!!!


Tamparan demi tamparan pun melayang ke arah pipi istrinya, namun istri yang lemah itu tak bisa melawan balik kekuatan sang suami.


Alhasil kedua pipinya memerah kesakitan dan akibat dari pertengkaran itu.


"Teruskan saja, aku sudah muak denganmu!" ucap istrinya keluar dari rumah itu, dan sang suaminya itu hanya melihat punggung dari belakang, mulai menghilang.


Duaakkkk suara pintu tertutup dengan keras.


"Apa yang kulakukan?, kenapa aku semakin tidak terkendali?" tanya pria itu bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dia lakukan bisa membuat istrinya akan lari dan meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Lalu di kejarnya dengan lari secepat kilat, ia masih ingin memperbaikki masalah yang ia buat , tepat di dekat jalan ada sebuah mobil sebelum sempat mengucapkan minta maaf sang istri masuk kedalam mobil orang yang tak di kenalnya.


"Rinaa!!!" teriaknya namun ia tak di pedulikan sama sekali, suaranya yang nyaring hilang bersama angin yang terbang, dan hanya rasa kecewa di dadanya. Membuat sesak relung hatinya, semakin sakit jika ia ingat tamparan demi tamparan beberapa kali yang tak bisa di tahan olehnya, mendarat di pipi istrinya .


"Apa yang kulakukan? Haaaa.....!!!" berteriak namun tak ada seorang yang memperhatikan hanya ada deru angin, serta suara riak sungai membuat teriakkannya hanya di dengar oleh langit dan sang mentari yang muncul di ufuk timur. Mengacak-acak rambutnya itu semakin berantakan.


"Maafkaaaannnn Aku...!!!" teriak pria itu, dan itu semua sia-sia, apa yang ia perbuat hanya membuatnya semakin tertekan, merasakan rasa bersalah membelah hatinya, merusak raganya, dan juga membuatnya tak bisa lagi membendung air matanya yang menginduk sungai.


"Haaaaaa..." ucap Jimmy dan duduk dengan menghirup secangkir kopi hangat yang ia tata di mejanya, menghirup aromanya saat ini bisa membuat sedikit relaks, menyeruputnya dan merasakan rasa pahitnya di temani beberapa dokumen yang makin bertambah setiap hari.


"Hem, kenapa pekerjaanku semakin hari tak berkurang malah bertambah?" keluhnya dan menghela nafas beberapa kali.


Sekertarisnya masuk dan membawa jadwal padat merayap yang harus ia lakukan hari ini.


"Ha, kenapa aku tak ambil cuti?, melarikan diri dari kepenatan sesaat bukankah lebih baik." lirih Jimmy.


"Tidak bisa, no no no , Anda harus melakukan sesuai jadwal yang sudah saya tulis." ucap dari sekertaris Jimmy, dan ia bak seorang ibu memarahi putranya.


"Kau ini, sebenarnya aku sedikit bosan, karena setelah beberapa persidangan membuatku lelah, tidak bisakah kau memberiku kata-kata yang membuat semangat, bukan malah kau menyuruhku melakukan banyak tugas ini." keluh Jimmy kesal dengan ucapan sekertaris pribadinya itu.


"Ayolah Pak Jimmy, kau pengacara dan aku sekertaris, aku tidak pernah sama sekali, dan itu pun kau juga tahu?" ucap sekertaris Jimmy

__ADS_1


"Maksudmu, kau selalu datang tepat waktu, dan aku yang sering terlambat." ucap Jimmy


Dan sekertarisnya hanya mengangguk saja.


"Baiklah, tapi sebelum aku melakukan semua ini, bisakah kau menyelidikki kasus ini, dan cari semua yang kau tahu tentang ini ok." ucap Jimmy menyodorkan sebuah dokumen.


"Baik, ingat untuk hari ini makan siang ada di kantor, dan tak keluar, selesaikan tugas Anda."


Lalu sekertarisnya keluar, setelah memberi Jimmy pidato kelas ikan teri.


"Sialan, kenapa mulut sekertarisku itu begitu pedas?" keluh Jimmy.


Lalu dia pun membuka laptop miliknya, dan sedangkan Rena mencari beberapa laporan tentang kasus tindakan kriminal yang telah di lakukan oleh beberapa kalangan remaja.


Mereka berdua sama-sama bekerja hari ini, Jimmy fokus menatap layar laptopnya, dan Rena pun membantunya untuk meringankan tugas bosnya.


Beberapa jam berlalu, dan mata Jimmy yang lelah akibat menatap terlalu lama huruf-huruf yang berjejer rapi dan baris di layar laptopnya.


Mereka bergoyang-goyang menyebar acak di fikiran Jimmy, dia pun mengusap beberapa kali kelopak matanya.


"Haduh, aku lelah sekali rasanya ingin sehari saja bermalas-malasan." keluhnya, kakinya pun di regangkan olehnya.


Rena masuk dan membawa hasil pencapaian kasus yang di inginkan oleh Jimmy.


"Ini Pak, aku rasa memang ada yang tak beres lihatlah ini." ucap Rena menyodorkan kertas berisi dokumen yang di harapkan oleh Jimmy.


"Baiklah, Rena kau memang yang terbaik, dan tercepat, kau tahu hanya kau sekertaris yang berani padaku. Dulu aku sering memecat jika aku tak cocok." keluh Jimmy menatap Rena.


"Ini pujian, atau sindiran?" tanya Rena tanpa basa-basi.


"Ha, tentu saja kau memang begini." ucap Jimmy dan mengacungkan jari jempolnya ke arah Rena.


Wanita itu hanya membalas dengan senyum manis, dan mimik wajah yang datar. Lalu ia pergi meninggalkan bosnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2