
Setelahnya mereka mengobrol dengan santai pemilik warung pun mendekati mereka dan ia berdiri di dekat Jimmy.
"Hei, kenapa aku tak pernah tahu kau kemari?, apa baru kali ini?" tanya Ibuk pemilik warung itu, menatap wajah tampan Jimmy.
"Ha..ha...ha.. , iya baru kali ini aku ingin sekali makan dengan mereka berdua, aku rasa kali ini masakanmu sangat enak." ucap Jimmy .
"Benarkah pria tampan trimakasih pujiannya." ucap ibuk pemilik warung.
"Kami mau nambah ini buk." ujar Alan.
"Kau mau lagi An?" tanya Jimmy dan melihat wajah Ana, yang terlihat datar, namun ada yang berbeda , ada sesuatu yang sedang ia fikirkan.
"Tidak, kau saja, aku sudah kenyang." ujar Ana
Dengan ekspresi datarnya setiap saat, karena hanya ialah yang seorang wanita maka Ana tak begitu banyak bicara. Sedang Alan sangat asyik menceritakan semua kegiatan seharian tadi. Jimmy mendengarnya dengan menatap wajah Alan. Setelahnya Alan berhenti entah apalah yang membuatnya berhenti bercerita.
"Heem, kenapakah kau berhenti Alan?" tanya Jimmy manatap wajah Alan yang sedikit terlihat bersemu merah, tak itu saja Alan juga terlihat bulu romanya berdiri semua.
"Maaf aku sedikit ingin buang air kecil Jim, kau mengobrol dengan Ana saja." ucap Alan segera berlari ke arah toilet, dan membuang hajat kecilnya.
"Dasar Anak itu." ucap Jimmy .
"An, dengarkan aku.." lirih Jimmy.
"Ada apa?, kalian tidak mengantuk ini kan sudah malam?" tanya Ana.
"Tidak apa An, aku rasa tidak terlalu malam, sesekali keluar seperti ini merefresh otakku kembali, besok harus berdebat dengan para jaksa, serta sekertarisku yang sangat disiplin betapa penat kehidupan ini ya kan. Kau tidak ada masalah sama sekali?" tanya Jimmy kepo pada Ana.
"Aku tidak masalah sama sekali, yang sering membuat masalah kalian para pria." ucap Ana
"Kenapa seolah-olah pria lah yang selalu saja membuat masalah di bumi ini?, bukankah kau para wanita juga sering membuat masalah." ucap Jimmy dengan entengnya.
"Ha ha ha apa yang kau maksud?, begini Jim aku rasa pria dan wanita itu juga sama selalu membuat masalah, menyelesaikan, begitu seterusnya, kenapa Alan lama sekali ya??" ucap Ana, karena Alan adalah seorang pria yang berpamitan pergi ke toilet itu dan tak kunjung datang kembali.
__ADS_1
"Hem, aku rasa ia sedang piknik di toilet, haa biarkan saja An, mungkin Alan kini melakukan meditasi." ucap Jimmy lalu tersenyum kecut.
"Meditasi?, omong kosong... Apa itu?"
"Benar Ana, pria paling suka bermeditasi di kamar mandi, kau tak pernah membaca hasil riset ya?, kalau 70% populasi penduduk pria akan paling senang healing di dalam kamar mandi." ucap Jimmy tapi ia berbohong terlihat sorot matanya jelas hanya bergurau saja tapi ia berharap bisa mengecoh Ana, dan gadis itu menatapnya namun dengan tatapan aneh.
"Apa yang membuat kalian suka?, kalian ini para pria memang sangat aneh, selalu piknik di tempat yang aneh juga." ujar Ana tidak tertarik dengan omong kosong Jimmy.
"Tidak An, terkadang aku di toilet membawa koran dan kubaca dengan santai, walaupun terkadang memang terasa lucu, tapi memang benar di kamar mandi yang terasa tenang itu menciptakan kedamaian, untuk membaca beberapa berita dan koran sangat cocok lho." ucap Jimmy menjelaskan dengan detail, lalu Ana melihatnya ingin tertawa.
"Tertawalah, jangan kau menahananya." ujar Jimmy dan melihat Ana, ingin sakit perut.
"Hem, aku rasa kau suka berbohong ya, mana ada orang bermeditasi di dalam kamar mandi omong kosong, Ckk haaa cepatlah lihat Alan, jangan-jangan dia pingsan lagi?" ucap Ana dia segera menunjuk ke arah toilet .
"Baiklah, kenapa lama sekali?" gerutu Jimmy.
Pria itu berjalan ke arah kamar mandi ternyata saat ini pintu tertutup rapat. Jimmy mengetuk pintunya beberapa kali agar Alan mendengar tanda darinya. Nihil tak suara apapun saat ini.
Namun beberapa ketukkan tak membuat Alan menjawab, dan suaranya juga tak ada sama sekali. Jimmy pun segera mendobrak pintu terlihat Alan kini pingsan dan ada bekas luka pukul, Alan terkulai lemas pingsan di bawah lantai toilet, maka bajunya basah.
Karena Alan tidak terlalu berat maka pria itu bisa menggendongnya dengan cepat.
Akhirnya Alan di sandarkan dekat kursi dan Ana, menatap wajah Alan yang pucat masih pingsan tak sadarkan diri.
"Alan, bangunlaaaah!! kenapa bisa begini?" beberapa kali Jimmy menggoyang-goyang badan Alan agar terbangun dari pingsannya.
Namun usahanya tidak membawakan hasil, maka dengan terpaksa Ana pun mengambil tindakan untuk segera membangunkan Alan.
"Apa yang akan kau lakukan An hemm?" tanya Jimmy pada Ana, melihat sedikit menggulung bajunya, dan setelahnya ia pun melepas kaos kaki Alan, menggulungnya denga rapi lalu ia menaruhnya tepat di bawah lubang hidung Alan, supaya pria itu segera sadar.
Aroma kaos kaki yang bagaikan parfum dari titisan bidadari membuat hidung terasa lega.
"Hei, kenapa kaos kaki itu kau berikan pada Alan An?" tanya Jimmy penasaran karena ia tak paham cara ampuh yang akan digunakan Ana.
__ADS_1
Beberapa detik setelahnya pun sangat ampuh kaos kaki Alan yang bau dan kotor , ternyata obat mujarab bin ajaib Alan membuka mata nya dan mengerjapkan untuk beberapa kali.
"Haaa...Siapa yang memukulku!?" teriak Alan itulah ucapan pertama kali saat ia terbangun dari pingsannya.
Dengan cepat Jimmy terjingkat menghindari Alan , karena suaranya membuat terkejut.
Setelahnya Ana membuang kaos kaki milik Alan dengan begitu saja. Ana segera pergi untuk mencuci tangannya akibat terkena kotoran kaos kaki Alan.
"An!!!, apa yang kau lakukan padaku?" tanya Alan, dengan marah nada suaranya tinggi.
"Kau pingsan, siapa yang memukulmu ?, lihat kepalamu berdarah Alan, apa ada orang yang masuk kedalam toilet?" tanya Jimmy dan ia mengusap sedikit bekas darah di kepala Alan
"Entahlah, tiba-tiba aku sudah tak sadarkan diri, apa yang dilakukan Ana padaku Jimm?"
"Dia hanya memberi nafas buatan." Jimmy berbohong pada Alan untuk menggodaanya.
"Tapi kenapa bau busuk?, kau bohong padaku ya?" ucap Alan meringis.
"Bau busuk itu pasti berasal dari kaos kakimu sendiri pria bodoh !!" gerutu Jimmy pada Alan.
Alan terlihat kacau, sudah basah bajunya dan baru sadar dari pingsannya.
"Hei, tadi ada orang tiba-tiba memukulku." ucap Alan.
"Kau melihat wajahnya ?" tanya Jimmy dia mengamati wajah Alan, kebingungan saat ini.
"Entahlah, aku sepertinya ehm,"
"Ayolah coba ingat-ingat Alan, aku ini akan membantumu untuk menghajar pelakunya." ucap Jimmy.
Ana pun berdiri di dekat para pria yang kini tengah mengobrol seru tentang pelaku yang telah memukul Alan.
"Memangnya kau di pukul dari depan atau dari belakang?" tanya Ana.
__ADS_1
"Ehm, entahlah..." lirih Alan.
Bersambung...