Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 6 "Case 2"


__ADS_3

Saat di ruang parkir Ana melirik ke kanan ke kiri, melihat banyaknya orang yang menuju pulang , mereka masing-masing masuk mobil mewah mereka.


Terlihat mobil yang mereka kendarai, mobil mewah dan sangat mahal.


Dalam mobil Ana bertanya pada Jimmy.


"Kita tadi itu , sedang menghadiri acara apa?" tanya Ana penasaran.


"Oh, itu adalah acara launching produk baru dari perusahan yang ternama, karena dalam bisnis harus banyak koneksi, maka setiap ada acara penting seperti itu maka, banyak dari kolega akan hadir semua. Yang hadir barusan adalah orang penting semua." ucap Jimmy.


"Jika tak ada orang mati, pasti kita bisa lebih lama menyelidiki orang yang aku incar." ucap Jimmy dan menyalakan mobil sport warna birunya.


"Oh iya, untuk hari ini terimakasih, dan ini untukmu gunakan saja." ucap Jimmy sambil memberikan kartu atm miliknya beserta kredit card.


"Apakah kau serius?" tanya Ana dan tanpa ekspresi.


"Serius gunakanlah, tapi ngomong-ngomong kenapa wajahmu berbeda dengan yang aku harapkan Ana." ucap Jimmy, sambil menyetir mobilnya.


"Memang kenapa?" tanya Ana polos.


"Tidaklah, terserah kau nomer pin nya akan aku kirim ke nomer ponselmu ok, aku akan mengantarmu pulang." ucap Jimmy masih tak percaya dengan ekspresi Ana.


Mobil yang mereka kendarai sekarang melaju dengan kencang.


Di depan rumah Ana, setelah berhenti Jimmy menatap layar ponselnya. Dengan fokus dan serius ia mengamati dengan seksama.


"Apakah aku boleh menginap di rumahmu?" tanya Jimmy tiba-tiba.


"Tentu saja, kenapa tidak boleh ?, tapi itupun kalau kau betah karena rumahku jauh sekali dengan kata nyaman." ucap Ana dan mulai membuka pintu mobil berhambur masuk ke dalam rumahnya.


"Aneh sekali, biasanya seorang gadis tak akan pernah membiarkan pria masuk ke rumahnya dengan mudah." gumam Jimmy lirih lalu dia mengernyitkan kedua alisnya yang tebal.


"Sudahlah, dengan begini aku tak perlu lagi mencari hotel untuk tidur di malam hari." ucap Jimmy lalu ia mengikuti Ana dari belakang .


Ana langsung masuk kedalam kamar mandi, tubuhnya yang kotor membuatnya amat risih .

__ADS_1


Jimmy hanya bisa diam mematung saat ini, karena saat ini bukanlah pemandangan yang dia harapkan sama sekali di dalam hidupnya.


Betapa tidak, kalau saat ini rumah Ana bagai perkampungan yang berantakan akibat dari tsunami, semuanya tidak pada tempatnya.


Ada sepatu yang berserakkan, baju, buku, lalu bulpoin, pensil, kertas,dan bahkan banyak dari bungkus makanan ringannya masih tercecer dimana-mana.


"Astaga, aku tahu kenapa dia dengan mudah menjawab iya..." gerutu dari Jimmy sembari melepas jasnya, dia melipat ujung tangan dari kemejanya. Lalu mengambil sapu dan mulai membersihkan rumah Ana.


Setelah semua tertata rapi berada tepat pada tempatnya ,Jimmy juga melihat westafel Ana penuh dengan piring, gelas, sendok, garpu dan mangkok yang kotor.


"Ha, baru kali ini bertemu gadis jorok seperti dia, benar-benar bukan tipeku sama sekali .."


gerutu Jimmy dan memakai celemek, namun tangannya dengan spontan mulai mencuci satu persatu hingga semuanya bersih tanpa sisa.


Lalu Ana yang sudah bersih, harum, keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Aroma shampo tercium sangat harum dan membuat Jimmy seketika terlihat canggung. Namun Ana tidak sama sekali, dia menatap ruangannya yang amat berbeda dari sebelumnya. Bersih, rapi ,tertata, dan sangat tidak nyaman baginya.


"Siapa yang suruh membersihkan semua ini?" tanya Ana, dan menatap ke arah Jimmy lalu menggosok rambutnya dengan handuk.


"Lalu, kau mau aku tidur dengan serangga, dan para kecoak serta tikus, yang akan mulai menggerogotiku jika aku tertidur pulas Ana?" gerutu Jimmy dan meneruskan kegiatannya.


"Jika kau tak suka kau boleh keluar , kau tak nyaman dengan pemandangan dari rumahku tadi?" tanya Ana sambil mendekat ke arahnya, mengeringkan rambutnya yang basah.


"Apa maksudmu?" tanya Ana, dan mengernyit


"Sudahlah, keringkan saja rambutmu sudah aku mau menyelidiki kasus tadi." ucap Jimmy dan mengeluarkan laptop miliknya.


"Ha, kenapa kau seenaknya saja menyuruhku, ini dan itu memang kau ayahku??" tanya Ana sebal, dan meruncingkan bibirnya ke arahnya.


"Haaa, sudahlah aku tak mau berdebat." ucap Jimmy dan kini menatap layar laptop miliknya


"Seharusnya kau pulang saja ke rumahmu, aku rasa kau pasti punya rumah besar dan nyaman, iya kan??" tanya Ana, namun tidak mendapat balasan dari Jimmy.


Ana melihatnya sedang fokus dan menatap layar laptop miliknya. Dia mendekatinya dan duduk tepat di sampingnya.


Dalam layar laptop milik Jimmy, ada beberapa foto yang di ambil tadi mereka amati dengan teliti. Ana memperhatikannya tanpa bersuara

__ADS_1


Untuk beberapa menit setelah mereka diam tanpa suara sama sekali. Hanya memandangi foto-foto yang Jimmy dapatkan tadi.


"Apakah ada yang aneh?" tanya Jimmy tetap melihat foto di layar laptop dengan teliti .


"Tentu saja Jim, ehm apakah ini kasus bunuh diri?, atau ini adalah pembunuhan yang sudah di samarkan sebagai kasus bunuh diri." ucap Ana, sambil melihat ekspresi Jimmy sedang fokus tanpa melihat Ana sama sekali.


"Sepertinya pembunuhan, akan tetapi sulit sekali kalau kita membuktikannya jika kita tak punya bukti sama sekali, apalagi kasus ini bukan wewenangku." ucap Jimmy, dan tetap menatap layar laptop nya.


"Haaaaaa, apakah kasus ini masih berkaitan dengan kasus yang kita selidiki??" tanya Ana.


"Mungkin, tetapi kenapa mayatnya berada di sini?" sambil menunjuk ke arah laptopnya .


"Maukah besok setelah aku pulang kerja kita menyelidikinya???" ajak dari Ana, ia menepuk pundak Jimmy beberapa kali.


"Boleh, setelah pulang dari tokomu aku akan menjemputmu." ucap Jimmy masih dengan wajah yang serius.


"Apa kau tidak sibuk?" tanya Ana dan melihat wajah Jimmy.


"Aku orang yang sibuk, namun aku tidak mau mempersulit, jika aku bosan maka aku akan mencari udara agar otakku kembali fresh." ucap Jimmy lalu ia pun menoleh ke arah Ana.


"Ha... Ha... Ha... Dasar kau pria yang aneh." gerutu Ana, tersenyum kecut, menyeringai.


"Lebih aneh kau, cobalah sedikit membersih kan ruangan ini, beri hiasan bunga atau apa lah, supaya lebih terasa hidup." ucap Jimmy.


"Ini rumahku Jim, terserah aku mau apakan." jawab Ana sewot tak mau di perintah oleh Jimmy.


"Aku serius, rumah bersih akan membuatmu tenang dan rileks." ucapnya lagi memberikan saran.


"Kenapa kau tidak tidur di rumahmu saja?, ck daripada kau seenaknya saja menyuruh tuan rumah." keluh Ana sebal dan menggelengkan kepalanya.


"Karena di rumahku tidak aman, lihatlah ini ada seorang yang menguntitku." ucap Jimmy ia memperlihatkan rekaman cctv di sekitar rumahnya.


Ana memandangi memang ada seseorang yang menguntit Jimmy, untung di rumahnya terpasang cctv bisa memantau keadaan dari kejauhan.


Orang itu memakai topi dan jaket hitam agar ia tak diketahui identitasnya, beserta masker . Jimmy sudah beberapa hari ini tidak pulang.

__ADS_1


Dia sering tidur di hotel karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin di cari tahu oleh sang penguntit itu.


Bersambung...


__ADS_2