Perfect Killer

Perfect Killer
BAB 3 "Party"


__ADS_3

Di sebuah ballroom kini banyak tamu undang an yang hadir, mereka semua itu mengenakan dresscode bewarna putih. Semua para tamu undangan sangat antusias. Dengan pakaian yang mewah, glamour, dan bertabur semua kemerlap dunia, contohnya seperti salah satu tamu undangan kali ini, dia adalah seorang pengusaha dia memakai jas amat mahal dan juga mewah.Tentunya memakai baju branded, sang istri tak ketinggalan dia terlihat anggun, cantik, elegan dengan balutan busana yang ia pakai itu tentu di buat oleh desainer terkenal.


Memakai riasan tebal bak seorang artis yang akan berperan dalam sebuah film. Semuanya hampir sama, karena ini adalah sebuah pesta perjamuan para tamu penting, maka semua harus sempurna. Banyak para tamu terlihat sangat memukau. Setelah masuk kedalam ruangan ini maka alunan biola sang musisi terdengar lamat-lamat memenuhinya.


Alunan gesekkan itu terdengar amat sedih. Ana serta pria itu sekarang berdiri tepat di dalam ruangan ini. Mereka berdua pun ikut berpesta.


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Flash back


"Kenapa kau memaksaku?" jawab Ana ketus.


"Aku ingin kau membantuku, pertanyaannya adalah apa kau bersedia atau tidak?, jawab " tanya pria itu dengan mengernyitkan kedua alis dan nampak serius.


"Aku saja tidak tahu namamu, aku juga tak mengenalmu." jawab Ana.


"Namaku adalah Jimmy, kau boleh panggil aku Jim saja, aku adalah pengacara." ucap pria yang mengaku bernama Jimmy.


"Lalu , setelah kau perkenalkan dirimu itu, aku tetap curiga padamu, kenapa kau bisa tahu namaku?" telisik Ana.


"Panjang ceritanya, nanti perlahan aku akan menceritakannya padamu, untuk kali ini aku mohon kau membantuku, temani aku di pesta besok, karena aku harus terlihat mempunyai pasangan." ucap Jimmy serius.


"Aku tidak mau, kenapa harus aku?, banyak sekali wanita, kau bisa mengajak yang lain." jawab Ana dingin.


"Kau tak mau menyelidiki kasus kematian dari orang tuamu??" ucap Jimmy.


Ana hanya diam memandang Jimmy, dia pun berfikir kenapa bisa pria yang berada di depan ini mengetahui perihal kematian dari kedua orang tuanya.


"Pasti kau mencurigaiku, tapi wajar, terserah kau, aku hanya butuh bantuanmu, karena jika aku mempunyai pasangan maka di pesta itu aku tak akan di kejar-kejar banyak para gadis, dan aku mau kau yang ikut denganku, lagipula kita berdua mempunyai misi yang sama kan." ucap Jimmy dengan narsisnya.


"Jangan lama-lama berfikir, kau hanya perlu berdiri di dekatku senyum, dan aku berikan ini hafalkan tamu undangan setidaknya kau tahu sedikit tentang mereka agar kau lebih luwes dan tidak kaku, saat kau mengobrol." ucap dari Jimmy dan memberikan tablet yang tertera nama semua para tamu undangan.


"A...ku..." terbata-bata.

__ADS_1


"Ayolah, aku akan membayarmu, aku tahu kau butuh uang kan, dan kebutuhanmu tidak akan tercukupi dengan hanya menjual bunga ini."


"Baiklah, aku mau, tapi hanya untuk kali ini."


🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅


Dalam pesta Ana begitu anggun, wajahnya yang berbentuk oval, serta hidungnya yang lancip dan mancung, terlihat wajahnya tirus, serta rambut Ana di gerai, dia mengenakan anting bunga mawar putih, di padu padankan dengan kalung berlian sama berliontin mawar putih juga. Baju anak nampak elegan sekali, make up yang ia gunakan natural dan tidak berlebihan sama sekali, sehingga membuat wajah Ana makin cantik.


Beberapa tamu undangan sempat meliriknya, kecantikan Ana bagaikan seorang dewi yang turun dari langit. Tak di pungkiri sama sekali dengan wajahnya itu Ana seperti putri salju yang cantik menawan. Hadir di sebuah pesta yang semua tamu undangannya sama sekali tidak ia kenal. Karena semalaman dia sudah berusaha dengan keras untuk menghafalkan semua nama tamu undangan, maka ia sedikit banyak tahu tentang mereka yang saat ini hadir berdiri , mengobrol dengan santainya.


"Jim, kenapa acaranya begitu mewah?" tanya Ana, namun dengan suara lirih.


"Bersabarlah, apakah kau tidak terbiasa?" tanya Jim, sambil memegang wine di tangan kanan nya.


"Aku, tidak pernah memakai gaun seperti ini, dan juga lihatlah sepatu high heels ini, aku sangat tak nyaman sekali." gerutu Ana, sambil menunduk melihat sepatunya.


"Ayolah Ana, kau bisa menyelidiki kasus yang selama ini belum terpecahkan, hari ini kau itu terlihat anggun, cobalah sedikit membiasakan dirimu." ucap Jimmy dengan tersenyum, lalu ia pun menenggak wine di tangannya.


Tiba-tiba datanglah seorang wanita dengan polesan make up tebal, dan lipstik bewarna merah. Dia amat cantik, bajunya juga sangat seksi, dengan banyak bagian terbuka, badan dari wanita itu ramping, tinggi sekitar 170 cm.


"Jim, siapakah gadis ini?" tanyanya sambil melirik Ana.


"Dia tunanganku." jawab Jim dengan renyah.


"Sial, apa-apaan ini." umpat Ana dalam hati.


"Benarkah, aku baru tahu kalau kau sudah bertunangan Jim, apakah kau berbohong lagi padaku?" ucap wanita itu dengan ketus, dan ia memukul dada Jimmy.


"Benar, aku mencintai gadis ini." ucap Jimmy lalu ia mendekat pada Ana, dan menatapnya dengan tatapan hangat.


"Iya kan Ana." ucap Jimmy memastikan.


"Tentu, aku sangat mencintaimu." jawab Ana sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Dasar pecundang, siapa yang menyukaimu?" batin Ana mengumpat Jimmy.


"Pria aneh, kenapa aku di bawa ke pesta yang membuat aku tidak nyaman?" batin Ana.


"Ha, seleramu buruk, lihatlah dia sama sekali tak terlihat seperti tipe mu, apakah sekarang kau menurunkan level wanita idamanmu?" gadis itu pun mendekati Ana, dia menatap tajam, lalu ia menyeringai.


"Ayolah, Helen kau boleh bergabung dengan teman-temanmu, jangan mengganggunya." ucap Jimmy lalu melingkarkan lengannya ke pinggang Ana.


"Haaaa, terserah kau dasar pria pecundang." ucap Helen sambil meninggalkan mereka berdua.


Ana pun berjalan menjauh juga karena dia mulai risih akan perbuatan Jimmy terhadap dirinya.


Jimmy pun mengikuti Ana dari belakang.


Saat ini mereka berdua berada di balkon dan tak orang lain selain mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Ana.


"Apa maksudmu?" ucap Jimmy berpura-pura tidak tahu.


"Aku hanya menemanimu, bukan menjadi seorang tunanganmu." ucap Ana marah .


"Berakting saja, anggap kita seorang pemain film, apakah tak mau?" tanya Jimmy dengan ringannya.


"Dasaaar kau ini !!!" ucap Ana marah.


Saat akan memukul Jimmy, Ana di kejutkan dengan lampu yang tiba-tiba padam.


Semua tidak terlihat dan gelap gulita, hanya dalam kurun 5 detik saja, namun saat lampu menyala ternyata ada teriakkan dari ruangan.


"Arghhhh, ada Maaaaaa..yaaat!!!!!" teriakan begitu keras sehingga banyak tamu yang hadir, tertuju pada suara teriakkan itu.


Mereka semua berkerumun untuk melihatnya, ternyata memang ada seorang pria mati, di dekat tempat makanan berada, dia sepertinya bunuh diri dan melilitkan senar biola di leher sehingga banyak darah terciprat di lantai .

__ADS_1


Bersambung...


"Buku adalah mercusuar yang berdiri di tepi samudra waktu yang luas." Anonym.


__ADS_2