
"Wah, kalau boleh tahu acara apa ini Ralin?" tanya Jimmy.
"Entahlah, Papa dan Mama sedang ada acara mungkin dia memperkenalkan produk baru ." ucap Ralin, dan menatap Ana memakai baju yang biasa-biasa saja.
"An, kenapa kau tak memakai gaun?, kau mau aku pinjami?" tanya Ralin.
"Tak usah Nona, aku hanya akan menemani Anda, lalu setelah itu pulang." ucap Ana dan tersenyum hangat melihat wajah Ralin.
"Tak apa An," ujar Ralin.
"Tidak Nona, aku rasa aku hanya harus duduk di sebelah sana saja." ucap Ana singkat.
"Benarkah?"
"Tentu saja, saja saya hanya tamu biasa."
"Hem, kita kesana saja banyak tamu kau akan lelah." ajak Jimmy pada Ana.
"Hei Ralin biarkan aku melihat dari jauh saja." ucap Rian berpamitan.
"Terserah kalian." ucap Ralin melihat Ana ke arah lain, menjauhinya.
Saat ini banyak beberapa tamu undangan yang sudah datang. Beberapa di antaranya sedang berbincang dengan kedua orang tua Ralin. Ralin memberikan sambutan hangat. Untuk para tamu itu, terlihat malam kian larut.
Jimmy pun memakan makanan yang sedikit berminyak, Ana menatapnya lalu menggeleng kan kepalanya beberapa kali.
"Kenapa kau seperti itu?" tanya Jimmy.
"Kau memakan makanan itu, dan ada kadar minyaknya. Kau bilang tidak terlalu suka iya kan?" tanya Ana pada Jimmy.
__ADS_1
"Iya memang benar, aku tak terlalu suka An namun sekali-sekali tidak apa-apa." ucapnya berkilah, sambil melanjutkan makannya.
"Aku kira jika seorang bilang tak suka maka tak akan mau sama sekali." ujar Ana.
"Aku sangat jarang makan makanan yang berminyak memang, selain tak baik juga aku lebih suka makanan yang di kukus, atau di tumis," ucap Jimmy sambil melihat beberapa makanan yang ada di meja.
Banyak pilihannya, mulai dari makanan dari daerah, makanan yang biasa di hidangkan di meja makan rumahan, sampai ada makanan dari luar negeri. Semua ada mungkin karena menyesuaikan dengan lidah para tamu, orang tua Ralin menyiapkan semua itu. Agar semua bisa memilih makanan yang mereka sukai .
"Hem, Rian kenapa kau tak ikut Nona Ralin saja?" tanya Ana.
"Untuk apa?, itu kan acara keluarga Ralin, aku hanya ikutan saja." ucap Rian ke arah Ana.
Terlihat Rian pun memakai baju yang keren, kemeja bewarna cream senada dengan dasi bewarna coklat tua. Rian adalah pria tampan dengan wajah oval, kedua bola matanya itu bewarna hitam legam, sorot matanya tajam, tak itu saja tingginya kira-kira 180 cm, dan ia pria yang selalu menjaga penampilannya itu. Nampak rapi setiap saat, sedangkan Jimmy hampir sama namun, dia lebih sering jika ia bekerja. Saat Jimmy dalam keadaan santai hanya mengenakan kaos, dan celana biasa saja.
"Kau tak makan?, kulihat tadi pesanan di toko terlihat ramai." ucap Rian sedikit peduli pada Ana.
"Memang benar, sekarang kakiku agak lelah, karena aku harus hadir atas undangan Nona Ralin." ucap Ana duduk sambil meluruskan kedua kakinya.
"Hei, kenapa kalian tak kesana saja? Aku ini belum bisa berbicara dengan orang banyak, kalau kalian aku rasa sudah terbiasa kan?" tanya Ana pada mereka berdua.
"Hem, aku memang setiap hari berdebat, dan juga memberi penjelasan panjang lebar, itu semua pekerjaanku namun semuanya aku lakukan dengan perasaan senang, kadang juga ada sedikit bosan, lelah juga bukankah hidup seperti itu, seperti irama jantung kita kadang-kadang." lirih Jimmy kini tersenyum hangat pada Ana.
"Iya, karena kau pengacara maka itu adalah rutinitas harianmu." jawab Ana memandang wajah Jimmy terlihat sangat senang.
"Aku juga sudah terbiasa An, memang kalau hidup akan ada naik turun, susah sedih, dan terkadang bosan, kadang kala letih, namun kita lakukan lagi selama kita itu masih tetap berjuang di bumi ini." ucap Rian terlihat dia semangat, kedua bola matanya bersinar.
"Nikmati saja, kehidupan yang aneh ini." ucap Jimmy antara menyeringai dan tersenyum menatap Rian.
"Hem... Kalian para pria bagus sekali dalam memaparkannya oh iya terimakasih ya, atas semua penjelasannya." ucap Ana tersenyum setelahnya.
__ADS_1
"Ya begitulah, " ucap kompak para pria.
Percakapan mereka berhenti sejenak, karena adanya suatu sambutan pembukaan acara dari Papa Ralin. Dengan wajah tampanya ia mengenakan jas bermerk berdiri di depan.
Kacamata beningnya sesekali ia benahi, dia adalah pria yang begitu berwibawa, terlihat beberapa kerutan di wajahnya yang tegas itu memberi kesan bahwa banyak sekali hal yang sudah ia lalui, pasang surut kehidupan tentu membuat Papa Ralin bisa berdiri di depan dengan berbicara sopan dan lantang, dan tak jarang ia menggunakan bahasa asing. Karena Ana tak terlalu pandai dalam bahasa itu dia hanya melihatnya namun tak mengerti sama sekali arti dari bahasanya.
"Kau tahu An, apa yang di bicarakan Papanya Ralin?" tanya Jimmy.
"Entahlah, aku kira yang ia bicarakan adalah tentang sesuatu yang baik." ucap Ana tidak tahu.
Jimmy meliriknya dan tersenyum setelahnya.
🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅🔅
Disisi lainnya, kini terdengar suara lolongan hewan dari kandang . Mereka pun merintih kesakitan. Pria itu seenaknya tetap menyiksa hewan liar yang tak berdosa.
Begitu banyak kandang hewan berjajar rapi di sisi lainnya, beberapa hewan yang berada di kandang terlihat sedih. Kulitnya kemerahan juga tidak begitu terawat.
Semua hewan itu seolah meminta tolong untuk di keluarkan ingin keluar dari nasib buruk yang tidak di inginkannya itu.
Bulu hewan terlihat kusam, beberapa luka ada di sekujur tubuhnya. Namun sayangnya tidak ada yang tahu keluh kesah mereka, dan juga bahasa hewan. Mereka menatap sedih seolah hari ini para hewan akan di jadikan santapan oleh pria yang tak di ketahui namanya ini.
Pria itu dengan mata yang agak sipit, kulitnya tak begitu putih, tidak begitu hitam pula, dia mengenakan kaos bewarna biru muda agak lusuh. Pria dengan wajahnya yang ada sedikit goresannya , mungkin itu adalah salah satu luka dari masa lalunya. Dengan mengenakan celana panjang yang bewarna hitam terlihat agak lama.
Rambutnya sedikit keriting, tingginya kurang lebih 172 cm, pria itu menyeringai di tangan kanannya memegang pisau dan menyayat beberapa tubuh hewan. Layaknya beberapa daging hewan yang biasa di konsumsi oleh manusia. Sayattanya begitu rapi, setelahnya sudah menyisihkan kulit hewan itu.
Terlihat dia merebus air di dalam panci, yang berada tepat di atas kompor. Angin kencang beberapa kali bertiupan. Hingga terlihat api dalam tungku kompor bergerak ke kanan dan kekiri.Akibat angin lewat malam ini, dinginnya yang menggigit membuat suasana malam ini mencekam.
"He...he..he.. " terkekeh, dia masuk kedalam rumahnya untuk sesaat, mengambil beberapa alat untuk membuat hidangan makan malam yang terbuat dari beberapa hewan liar yang tak berdosa ini.
__ADS_1
Setelahnya ia pun melanjutkan kegiatannya yang tak normal itu.
Bersambung...