
"Hai."
"Boleh Nona, maaf aku terpana melihat warna kedua bola mata anda saat ini." ucap Ana, dan ia menyodorkan satu buket bunga yang sudah ia tata.
"Terimakasih, apa Ralin tak kemari?"
"Aku rasa, Nona Ralin sedang sibuk hari ini." ucap Ana.
"Sayang sekali, aku mau berbincang dengan Ralin aku rindu."
"Anda temannya?"
"Tentu, aku sangat mengenalnya bahkan, aku dulu sering tidur di rumah Ralin, dia anak yang baik , kau beruntung mendapat bos seperti dirinya." ucap perempuan itu.
"Ehm, kenalkan namaku Jenny." ucapnya.
"Iya Nona Jenny, apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Ana.
"Tak ada Ana, hanya saja kalau boleh aku mau secangkir teh tanpa gula, serta ada camilan di kulkasmu?" tanya Jenny.
"Baiklah,"
Ana bergegas menyeduh air hangat menata dan memasukkan beberapa daun teh, lalu ia pun menuangkan air yang sudah mendidih ke dalam cangkir. Aroma teh hijau tanpa gula itu tercium ke semua sudut ruangan.
Menghidangkan untuk Jenny, perempuan itu duduk dengan sopan, menaruh kacamata di meja dan ia melihat mengamati sekelilingnya
"Oh ya Ana, terimakasih tehnya. Aku suka teh tanpa gula jadi rendah kalori." ucap Jenny, ia melihat wajah Ana yang polos.
Ana hanya diam merapikan beberapa bunga yang ada di sekitarnya. Jenny pun membuka suaranya mendekat pada Ana.
"An, kau mau aku make over, biar kau terlihat menjadi wanita elegan. Bagaimana kau mau?" tanya Jenny, terlihat bibir Jenny ranum seksi menggunakan lipstik matte bewarna pink agak keunguan.
"Oh, aku tidak terlalu suka berdandan Nona. Maaf ya.." ucap Ana memelas.
"Kau ini, sekali-sekali seorang wanita anggun biasa meluangkan waktunya untuk menikmati hidupnya." ucap Jenny.
"Tapi aku tak terlalu suka." kilah Ana.
"Sebenarnya, suka atau tak suka biasanya akan segera terbiasa. Rawat tubuh dengan baik tak berlebihan, malah kita akan makin terlihat berkelas cantik, dan elegan." ucap Jenny.
Lalu tak berselang lama Jenny mendapatkan panggilan dari seseorang. Jenny kini terburu- buru lalu pergi meninggalkan toko bunganya.
Setelah berpamitan dengan Ana. Lalu entah tanpa mendung dan tak ada petir. Hujan kini mengguyur dengan bebasnya, terlihat air itu jatuh turun dengan rapi menghujam seperti ribuan jarum yang turun dari atas langit.
__ADS_1
Ana menatapnya dari balik kaca jendela dan sambil mengamati hujan yang begitu indah.
Pria tampan bernama Jimmy sudah berdiri tepat di sampingnya. Sekarang di arloji milik Jimmy waktu menunjukkan pukul 13.00 wib.
"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Jimmy.
"Aku hanya melihat hujan, seperti jarum yang jatuh menghujam dari atas langit." ucap Ana.
"Hem, aku mengingat hutangku padamu An." ucap Jimmy pada Ana.
"Oh, itu tak usah di pikirkan." kilah Ana.
"Lihatlah hujan itu sama dengan memberi hutang kepada bumi saat ini, sebelum di proses ke atas langit lagi bukankah sama dengan hutang, aku belum membayarnya."
"Apakah menurutmu hutang tak boleh?" tanya Jimmy.
"Entahlah," jawab Ana acak, dan ia merapikan bunga yang ada di meja.
"Aku sudah menyelesaikan tugas kantorku, aku akan membayar hutang padamu. Jika bumi tak langsung mengembalikan air yang di beri langit, itu sama saja masih berhutang, dan setelah aku tau bukankah akan imbang jika hutang di bayar secara tepat, dan juga berkala, imbang atau balance. Agar langit mendapatkan kadar kelembaban udara yang pas iya kan." ucap Jimmy.
"Hei, aku tak bersekolah tinggi jadi aku tak terlalu tahu tentang apa yang kau bicarakan." ucap Ana,
"Maksudku hutang juga sarana komunikasi, selama tepat juga balance tak akan ada satu masalah pun iya kan." ucap Jimmy.
"Lha begitu donk, begitu juga lebih bagus. Oh, iya Ana, tak usah kau berfikir macam-macam."
"Apa yang kau maksud?"
"Jika berhutang kalau yang membayar harus tepat waktu, dan disiplin maka tak akan ada masalah sama sekali."
"Dari tadi kau selalu membahas itu Jim, lihat arlojimu jam berapa?"
"Dengarkan aku dulu."
"Baiklah, Apa?"
"Kalau balance , antara bumi dan langit akan tetap berkesinambungan, langit yang kadar udaranya serta kelembabannya pas, pasti bumi pun tak akan ada masalah." ucap Jimmy
Ana amat bingung dengan ucapan Jimmy, membuatnya pusing tujuh keliling, kenapa hanya membahas hujan saja, jadi melantur kemana-kemana.
Ana menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menatap dengan pandangan aneh.
"Aku sama sekali tak paham Jim, aku ini tidak sama sepertimu, yang mengenyam pelajaran lama, sampai menjadi seorang pengacara."
__ADS_1
"Tak masalah, makanya kau mau berteman denganku."
"Baiklah."
Beberapa menit berlalu mereka berdua kini berada tepat di depan pintu gerbang sekolah Ferdy. Jimmy sangat gagah seperti biasa dia memakai baju kantor, dengan jasnya bewarna Navy, dan kemeja putih serta dasinya senada dengan paduan jas yang ia kenakan.
Bertambah maskulin, dan Ana hanya duduk di sampingnya. Beberapa menit kemudian pria yang ia tunggu tak kunjung datang .
Namun Ferdy tak segera keluar karena Arkan, menyeretnya membawa ke sebuah ruangan kosong.
"Dengar payah, kenapa sekarang kau semakin berani padaku ?" tanya Arkan sambil menatap wajah Ferdy.
"Ha... Sudahlah Arkan, usai usahamu yang selalu merundungku. Kau tahu Ferda saat ini masih belum sadar atas karena ulah kalian."
"Salah sendiri kau sangat lemah,"
"Lalu kau mau apa?, apakah aku harus pindah sekolahan agar kau puas ??" tanya Ferdy.
"Tidak, aku akan menghajarmu." ucap Arkan.
"Hei, bocah ingusan." pekik Jimmy dan ia berkacak pinggang di samping mereka.
"Dengar, aku lihat para anak sekarang itu tak punya tata krama ya, sekarang aku pasti akan memberimu pelajaran tata krama agar kau itu paham jika bertemu, mulutmu tak seenaknya sendiri." ujar Jimmy.
"Hei, dasar Pak Tua, ikut campur saja masalah orang lain pergi sana, kalau tidak kami pasti akan mengeroyokmu."
"Apa..?"
Lalu Jimmy pun mengambil sapu ,dia mulai memukul beberapa siswa yang nakal dan bandel itu, tidak itu saja juga bisa menghindar serangan beberapa siswa .
Setelah beberapa menit pergulatan terjadi maka, mereka kalah, dan Jimmy memberi hukuman push up 50 kali. Dengan nafasnya yang tersengal-sengal mereka babak belur.
Ferdy pun menganggumi sosok pengacara yang bernama Jimmy.
"Wah kereen sekali baru kali ini, ada pria yang superhero sepertimu."
"Apa , superhero gadungan?" ucap lirih Ana mencibirkan bibirkan dan melirik Jimmy.
Pria itu hanya tersenyum akan pujian yang di layangkan Ferdy untuknya.
"Jika kau berhutang pada seseorang segera lunasi , dan jika memberi hutang jangan kau memberatkannya."
Bersambung...
__ADS_1