
"Yang Mulia, tapi itu sangat berbahaya untuk keselamatanmu. Mengapa kau tidak memerintahkan Panglima Hao Du dan beberapa prajurit saja." Sahut mata-mata itu.
"Keselamatan Putri jauh lebih penting dari keselamatanku. Kau tenang saja. Aku tahu bagaimana harus menghadapi penjahat itu. Pergi temui Panglima untuk melindungi Istana selama aku belum kembali. Dan perketat penjagaan disekitar tempat tinggal Pengawal Mu." Ucap Raja Sun yang berlalu munuju ke paviliunnya.
"Jika perkataan mata-mata itu benar. Maka gadisku memang sungguh luar biasa. Bahkan aku tidak pernah melihat dia seperti itu di dunianya. Kapan dia mempelajarinya?" suara hati Raja Sun.
...****************...
"Kenapa? Apa kau takut?" Ucap Freya dengan tangan yang masih menghunuskan pedangnya pada Yu Ning.
"Ini bukan waktunya untuk bertarung Nona. Obatilah dulu pengawalku, baru setelah itu kita bisa bertarung. Bila kau menang, akan ku penuhi permintaan keduamu. Tapi bila kau kalah, maka kau harus menjadi orang ku." Sahut Raja Yu Ning.
"Hahahaa. Apa kau sangat yakin bisa menang dariku Yu Ning. Bagaimana jika kau kalah? Ku harap kau tidak mengingkari perkataanmu. Karena nyawa pengawal mu itu ada dalam tanganmu. Dan kau tenang saja, racunku tidak akan membunuhnya walaupun hari telah menjadi gelap. Jadi, mari kita selesaikan ini." Ucap Freya santai
"Heuh. Baiklah Nona. Kau tak perlu banyak bicara lagi. Mari kita buktikan saja, siapa yang bertahan sampai akhir dalam pertarungan ini." Sahut Yu Ning percaya diri.
Mereka pun memulai pertarungan itu.
"Sring.. Sring.. Sring...." Suara pertemuan pedang mereka.
...****************...
"Hiya.. Hiyaa...." Suara Raja Sun yang menunggangi kudanya.
Ia bergegas menuju Istana Yu Ning. Untuk menjemput kekasih hatinya. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkan Chang Ge, memikirkan alasan apa yang membuat Chang Ge berani menantang penjahat itu. Karena sebelumnya, ia memang pernah terluka saat bertarung dengan si Yu Ning, penjahat itu. Setelah beberapa waktu perjalanan, Raja Sun akhirnya tiba di wilayah Istana Yu Ning. Kerajaan Gurun Utara. Letaknya sekitar 50 meter dengan tempat ia menghentikan kudanya sekarang. Raja lalu menuruni kuda itu. Ia membawa kudanya kearah hutan, mengikat ikatan kuda itu di salah satu batang pohon yang cukup besar. Ia lalu fokus memperhatikan Istana Yu Ning. Saat ini Raja Sun tidak memakai pakaian agungnya sebagai Raja. Ia memakai pakaian bangsawan biasa. Raja Sun lalu terbang menaiki pohon besar. Ia memperhatikan keadaan Istana Yu Ning dari pohon itu. Saat ia rasa keadaannya aman. Ia menyusup keatap Istana itu. Ia merayap berjalan diatap. Waspada memperhatikan keadaan disekitar. Setelah lama berpindah-pindah atap, ia berhasil menemukan keberadaan kekasihnya. Matanya terfokus pada pemandangan dibawah sana. Ia melihat kekasihnya sedang bertarung dengan lelaki yang sangat ia benci selama ini, Yu Ning.
"Sring.. Sring.. Sreett." Suara pedang Freya yang berhasil melukai pundak kanan Yu Ning.
Mereka berhenti sejenak. Yu Ning melihat lukanya sekilas sambil mengeluarkan sebuah senyuman kecutnya. Dari atap sana, Raja Sun sungguh dibuat terpesona oleh bakat lain Freya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa kekasihnya mempunyai keahlian bertarung yang hebat.
__ADS_1
"Apakah belum cukup sakit?" tanya Freya mengejek pada Yu Ning.
"Ciih.. Kau wanita yang sombong Nona. Bukankah kita belum tahu siapa yang akan menang?!" sahut Raja Yu Ning.
"Heuh. Jangan sampai kau menyesal Yu Ning." Ucap Freya
Ia lalu semakin cepat menggerakkan pedangnya. Mengarahkan pedang itu dengan sangat lincah kearah Yu Ning. Seperti sebuah tarian, Freya sesekali berputar dan melakukan salto indah menggunakan pedangnya pada pertarungan itu. Membuat Raja Yu Ning sedikit kewalahan untuk menangkis serangan cepat dari Freya. Semakin lama pedang Freya semakin membuat Raja Yu Ning sangat terpojok. Karena itu membuat Raja Yu Ning semakin mundur perlahan. Raja Yu Ning sangat takjub dengan keahlian pedang Freya. Begitu pula dengan seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari atap. Ia terpana melihat sisi gagah kekasihnya.
"Trang.. Trang.. Trang.. Sreeet.. Jleebb...." Suara pedang Freya yang berhasil membuat sebuah luka sayatan yang cukup besar pada paha Yu Ning dan sebuah tusukkan yang cukup dalam pada bagian bawah perut Yu Ning.
Mereka terdiam. Yu Ning melepaskan pedangnya yang membuat pedang itu melayang bebas jatuh ke tanah. Lalu Freya menarik kembali pedangnya yang menancap pada tubuh Yu Ning itu. Dan ia menancapkan pedangnya kedalam tanah. Semua pengawal dan prajurit Yu Ning terkejut melihat Raja mereka yang sedang kesakitan. Mereka berfikir bisa saja saat ini, Freya membunuh Rajanya. Bahkan para pelayan yang melihat pertarungan itu dari kejauhan ikut merasa takut pada Freya. Semua orang yang melihat kejadian itu merasa cemas. Semua terdiam. Tak ada satupun yang berani berbicara. Mereka takut menjadi korban sasaran pedang Freya selanjutnya. Setiap pergerakan mereka tak lepas dari pengamatan Freya. Bahkan sejak tadi Freya tahu bahwa Raja Sun sedang memperhatikannya. Freya lalu mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari balik gaunnya. Ia melempar botol itu pada seorang prajurit yang letaknya cukup dekat dengannya. Prajurit itu pun dengan sigap menangkap botol kaca itu.
"Cepat berikan penawar ini pada tabib yang sedang merawat pengawal Cheng." Ucap Freya pada prajurit itu.
"Baik Nona." Ucap prajurit itu memberi tanda hormat pada Freya dan berlalu pergi menuju ruangan pengobatan pengawal Cheng.
Freya melirik Yu Ning yang semakin kesakitan.
"Hahh.. Kenapa kalian hanya diam saja. Apa kalian ingin Raja kalian mati sekarang? Cepat bawa Raja dan panggilkan tabib untuknya." Ucap Freya lantang sehingga semua orang yang ada disana dapat mendengar dengan jelas suara itu.
"Yang Mulia. Yang Muliaaa." Ucap seorang jenderal dan beberapa perdana menteri.
Mereka pun mengangkat tubuh Raja mereka dan membawanya kedalam paviliun Raja untuk segera mendapatkan pengobatan.
"Tunggu." Ucap Freya sambil melempar sebuah botol kaca kecil pada seorang perdana menteri.
Perdana Menteri itu menangkap botol yang Freya lempar.
"Berikan obat itu pada tabib yang merawat Raja." Sambung Freya.
__ADS_1
"Baik Nona. Terimakasih atas kebaikan hati anda." Ucap perdana menteri itu sambil memberikan tanda hormat pada Freya, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Freya pun berbalik menjauhi tempat itu. Ia berhenti tepat dibawah sebuah pohon. Dan diatas pohon itu, merupakan atap yang kini menjadi tempat duduk Raja Sun.
"Cepat turun dan keluarlah. Apa kau akan selamanya berada disana?" teriak Freya pada Raja Sun.
Yang diteriakkan hanya tersenyum dan sedikit merasa terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Freya mengetahui keberadaannya.
"Su'eerr." Panggil Freya lagi yang merasa gemas dengan tingkah kekasihnya.
Raja Sun tersenyum mendengarnya. Ia lalu terjun bebas melayang ke tanah. Hap. Ia mendarat dengan sempurna.
"Chang Ge!" ucap Raja Sun lalu memeluk tubuh kekasihnya.
Freya pun membalas pelukan itu.
"Aku merindukanmu sayang. Apa kau baik-baik saja?" tanya Raja Sun yang tak henti menatap wajah cantik kekasihnya.
Freya sedikit mengurai pelukan itu. Kini tangannya berpindah ke tengkuk leher Raja, bukan lagi di pinggang Sang Raja.
"Aku pun merindukanmu sayang. Aku baik-baik saja. Tapi apa yang kau lakukan diatas sana?" tanya Freya pada Sang Raja sambil kepalanya memberikan kode menunjuk keatas atap itu.
"Aku mengkhawatirkanmu sayang. Setelah mendapat kabar bahwa kau menantang Yu Ning. Aku langsung kemari untuk memastikan keadaanmu. Apa kau tahu, kau telah membuatku sangat ketakutan? Bagaimana bila tadi kau yang kalah dari Yu Ning?" celoteh Raja Sun yang mengkhawatirkan keadaan Freya.
"Tapi bukankah sekarang aku tak terluka sedikit pun sayang." Ucap Freya tersenyum lalu mengecup sekilas bibir sensual kekasihnya itu.
"Kau benar. Tapi kedepannya, jangan membuatku ketakutan seperti ini lagi!?" sahut Raja Sun sambil membelai pipi cantik Freya.
Ia lalu mengusap manja puncak kepala Freya. Menyisipkan anak rambut Freya yang berterbangan di pipinya. Lalu mengecup lembut bibir ranum itu. Begitu lama. Mereka pun semakin mempererat pelukan mereka.
__ADS_1
Bersambung........