
"Wuush." Suamiku dengan cepat melompat terbang menangkap anak panah itu. Ia melirik kearah asal anak panah itu melesat. Lalu segera ia lepaskan anak panah itu secepat kilat.
"Jleb." Anak panah itu tepat mendarat pada bagian tengah celana penyusup itu.
Aksinya itu sontak membuat semua mata takjub nan kaget. Termasuk aku sendiri. Lalu akupun berucap dalam hati, "Astaga apa yang terjadi?"
"Wush.. Wush.. Wush.." Empat buah pisau kecil yang Su'er lemparkan itu tepat mengenai pinggiran pakaian dan celana si penyusup.
Semua teman-temanku terkejut dan bergosip ramai, melihat aksi suamiku itu. Kak Lionel pun berucap dalam hatinya, "Luar biasa. Sekali lempar, langsung tepat sasaran dan sangat cepat, pisau-pisau itu bahkan tidak mengenai tubuh target, bagaimana dia melakukannya? Apa selama ini, Queen belajar darinya?"
"Waaaw. Apa dia benar-benar manusia? Ckckck. Memang Raja yang tangguh." Seru Kak Ardhan dalam hatinya.
Su'er pun lalu menghampirinya. "Siapa kau? Beraninya ingin melukai istriku? Apa kau ingin kehilangan kepalamu itu?" ucap suamiku galak. Lalu ia membuka penutup wajah penyusup itu.
Dan nampaklah wajah penyusup itu, rupanya ia adalah Tristan. Salah satu anggota The Wings.
"Tristan?" ucapku cukup keras.
"Kau mengenalinya sayang? Apakah dia musuhmu?" ucapnya padaku.
"Ya sayang. Dia Tristan. Salah satu anggota The Wings. Tapi selama ini, aku tidak pernah menganggap mereka musuh. Mereka sendirilah yang selalu mencari gara-gara dengan kelompokku." Jawabku padanya.
"Hemm. Katakan, apakah kau satu-satunya anggota yang masih hidup?" tanya suamiku padanya.
"Hahaha. Tentu saja tidak, masih ada beberapa anggota The Wings yang masih hidup. Dan mereka pasti akan membalas perbuatan kalian. Seribu kali lipat lebih menyakitkan. Hahaha.
Bunuhlah aku sekarang. Bukankah kalian sangat ingin membunuhku? kematianku tak akan berarti apapun. Semua anggota The Wings yang tersisa, tetap akan membalas kalian. Hahahaha." Ucapnya bangga.
"Cih. Aku tak akan berbaik hati padamu. --- Membunuhmu? Hahaha. Itu merupakan harapan kecilmu saja.
Kau tahu? Aku sangat suka bermain-main. Bagaimana bila kita bermain saja Tristan? Lihatlah, ini adalah senjata rahasia terbaru buatan istriku.
Kami sudah mempunyai persediaan yang cukup banyak. Selama pengujian dalam berburu, senjata ini tak pernah meleset dari target buruan.
Namun, kami belum pernah mencoba senjata ini pada manusia. Menurutmu, bagian mana dari tubuhmu yang ingin jadi targetnya? Apakah mulutmu? Atau kepalamu? Ahh bagaimana bila kakimu saja? Dengan begitu kau tak akan bebas berjalan? Benar begitu istriku?" ucapnya pelan, namun mengandung kata-kata yang mampu membuat tubuh Tristan bergetar.
__ADS_1
"Benar sayang. Bagaimana bila dengan kedua tangannya juga? Dengan begitu dia tidak akan mudah untuk makan yang.
Aku sangat ingat, setahun yang lalu, dia dan teman-teman anggotanya dengan bahagia tertawa, menginjak telapak tangan para pedagang kaki lima itu. Anggap saja, ini adalah hadiah untukmu dari para pedagang kaki lima itu Tristan. Hehe. --- Ayo sayang, kita mulai permainannya." Sahutku padanya.
Semua teman-temanku pun ikut tegang dengan apa yang aku dan suamiku ucapkan. Entah itu benar atau tidak, namun cukup dengan mendengarkannya dan membayangkannya saja, mereka sudah susah untuk menelan saliva dan bahkan tubuh mereka pun sampai bergetar.
"Apa Rere dan suaminya itu, benar-benar akan melakukannya? Mengapa aku yang cemas melihatnya?" seru Kak Fachry dalam hatinya dengan tubuh yang bergetar dan keringat dingin yang bercucuran.
Aku dan suamiku lalu mengambil masing-masing satu dari pisau mini buatanku itu. "Woosh woosh."
"Jleb jleb." Senjata yang kami lempar itu mendarat tepat disamping kedua sikunya.
"Tristan panik. Ia lalu memejamkan matanya erat. Namun ia merasa lega saat melihat kedua senjata itu, tak mengenai tubuhnya sedikitpun.
"Aaah sayang sekali, lemparan kita tidak mengenai salah satu tubuhnya sedikit pun Yang. Ayo ayo sayang, kita coba lagi sampai mengenainya." Seruku bersemangat.
Lalu, kami kembali melempar senjata itu kearahnya. "Woosh woosh woosh woosh."
Tristan semakin panik melihat senjata yang mereka luncurkan itu. Keringat dinginnya semakin mengalir.
"Jleb jleb jleb jleb." Ke empat senjata itu, kembali mendarat sempurna.
Tristan pun ikut terkejut melihat senjata-senjata itu. "Apa ini? Bagaimana mereka melakukannya?" ucapnya lemas. Saat mengetahui bahwa senjata itu sama sekali tak mengenainya.
"Sepertinya keahlian kita sedikit berkurang sayang, bagaimana mungkin belati-belati itu tak satupun berhasil melukainya." Ucap Su'er yang sengaja merendah.
"Tidak apa-apa sayang. Kita bisa terus mencobanya. Ini!" sahutku padanya sambil memberikan sebuah busur panah yang sudah ku persiapkan sejak tadi dari dalam mobilku.
Suamiku lalu menangkap busur itu dengan senang.
"Apa yang akan mereka lakukan? Apa mereka benar-benar akan memanahnya?" seru Kak Ardhan.
"Sepertinya mereka sengaja membuat Tristan takut. Aku bisa memastikan, bidikan mereka memang sengaja untuk tidak melukainya." Sahut Kak Lionel.
Aku dan suamiku pun bersiap untuk melepaskan anak panah itu.
"Swuuush..Jleb"
__ADS_1
Tristan memejamkan matanya panik, saat melihat dua buah anak panah yang melesat cepat kearahnya. Tubuhnya bergetar hebat.
"Yaaaah, sayang sekali tidak kena. Aku akan terus mencobanya yang. Kita lihat, kali ini aku akan menggunakan tiga anak panah." Ucapku percaya diri.
"Sial, mereka pasti sengaja. Bagaimana bisa mereka melakukannya? Keahlian yang benar-benar menakjubkan. Namun sayang, mereka adalah musuhku." Seru Tristan dalam hatinya.
"Kau benar sayang. Aku pun akan mencoba untuk melepas tiga anak panah sekaligus." Sahutnya mendukungku.
"Hah! enam anak panah sekaligus. Bagaimana mereka melakukannya? Apakah hidupku akan segera berakhir?" sahutnya pilu dalam hati.
"Swuuuuuusssh." Enam buah anak panah itu berjejer melesat kearah Tristan.
"Oh tidaaak. Beberapa anak panah itu sangat cepat. Hidupki benar-benar akan berakhir. Ketua, tunggu aku." Seru Tristan lagi dalam hatinya.
"Astaga Freyaa. Bagaimana bisa dia melakukan semua ini. Mereka benar-benar membuat jantungku panik." Seru Selly.
Lagi-lagi beberapa anak panah itu sama sekali tak mengenai Tristan. Membuatnya bisa bernafas lega saat mengetahuinya.
"Sialan, bagaimana bisa keahlian mereka sebagus ini?" seru Tristan dalam hatinya.
"Apakah kau takut? Cih. Dasar sampah. Lihatlah bahkan anak panah kamipun tak sudi untuk menyentuh tubuhmu. Bagaimana ini? Sayang apa kau punya saran?" ucap suamiku memprovokasi.
"Maka akan kita coba dengan ini yang." Sahutku sambil melemparkan sebuah pistol padanya.
Semua teman-temanku yang melihat itu mendadak merinding seketika. Begitupun dengan Tristan.
Bagaimana tidak, kali ini adalah sebuah senjata api yang ingin mereka gunakan.
"Sialan. Apa yang akan kalian lakukan? Kenapa tidak langsung membunuhku saja. Br##gsek." Ucap Tristan geram dan panik.
"Ckckck. Mengapa kau begitu terburu-buru. Lihatlah penampilan kami lebih dulu Tristan. Bukankah kau sangat menyukai sebuah pertunjukan?" sahutku dengan meniup bagian ujung pistol itu dan langsung menembakan satu peluru kearahnya, tanpa melihat tubuhnya lebih dulu.
"Doorrr."
Tristan dan semua temanku benar-benar dibuat shock dengan aksiku itu.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...
__ADS_1