
"Nona mengapa kau dan Raja Sun kem--." tanya Jendral Fang yang tak sampai mengucapkan kalimat pertanyaan
"Panggil dia Yang Mulia Ratu. Dia adalah Ratuku." Tukas Raja Sun.
Jendral Fang terkejut mendengar perkataan Raja Sun. "Baik Raja Sun."
"Jenderal, Pasukan rahasia Jin Se sedang menuju kemari. Mereka akan menyerang Gurun Utara. Buatlah persiapan untuk melawan mereka." Saran Freya.
"Apa? Pengkhianat itu akan menyerang Istana Ayahnya sendiri? Dia benar-benar akan menjadi pemberontak. Terimakasih Yang Mulia Ratu, saya akan pergi menemui pengawal pribadi Mu dan memperketat pengamanan Raja Yu." Ucap Jendral Fang dengan memberi hormat pada Freya dan Sun.
...****************...
( Medan Perang - Wilayah Istana Gurun Utara )
Beberapa pasukan rahasia Jin Se telah sampai di depan Pintu Utama wilayah Kerajaan Gurun Utara. Hanya jarak beberapa puluhan meter dari pintu utama itu.
Beberapa pasukan penting Istana nampak sedang memperhatikan situasi dalam medan perang dari atas Gerbang Istana. Salah satu Panglima pasukan musuh lalu maju beberapa langkah mendekati Gerbang Istana.
"Katakan pada Rajamu, ia masih mempunyai waktu untuk mengembalikan Tahta itu pada pemilik yang seharusnya." Ucap seorang Panglima musuh dengan sangat lantang.
"Hahaha. Apa kalian sedang bermimpi? Pemimpinmu itu adalah seorang pengkhianat di Istana ini. Walaupun dia mempunyai darah Raja terdahulu, tapi bagaimana bisa ia menjadi pewaris Tahta Raja. Namanya telah di coret oleh Mendiang Raja dari Kartu Identitas Keluarga Istana." Sahut Panglima pasukan Yu Ning.
"Tak perlu banyak omong kau Bu Zhen. Kemarilah, mari kita buktikan, siapa diantara kita yang bisa bertahan hidup lebih lama." Ucap Panglima pasukan Jin Se.
Ia langsung memacu kudanya menuju Gerbang Istana. "Seraaaaaaang."
Ribuan prajurit tempur dibelakangnya langsung berlari menyusul Panglima mereka. Beberapa prajurit berpanah Yu Ning pun dengan lincah meluncurkan satu persatu anak panah kearah prajurit Jin Se. Riuh suara teriak semangat kedua pasukan itu yang saling bersautan.
Beralih pada kedua Panglima dari masing-masing pasukan. Mereka berduel sengit menggunakan pedang masing-masing. Satu melawan satu bertahan. Diiringi dengan teriakan semangat juang yang tak kunjung padam.
Posisi Panglima Yu Ning saat ini terdesak. Karena semakin lincahnya gerakan Panglima Jin Se yang dibantu oleh salah satu Jendral Jin Se. Dua lawan satu. Panglima Yu Ning semakin kesulitan menahan kedua serangan pedang beruntun dari lawannya itu.
__ADS_1
"Traaaang." Jatuhlah pedang Panglima Yu Ning akibat ulah nakal pedang Jendral Jin Se itu.
Kesempatan emas pun datang memihak Panglima Jin Se. Ia tersenyum mengejek pada Panglima Yu Ning. "Inilah akhir dari perjuanganmu Bu zhen. Kyaaaaa."
"Syuutt.. Traaaang." Terbelahlah pedang Panglima Jin Se itu menjadi dua bagian.
Membuat ketiga orang itu tercengang. Panglima Yu Ning pun melirik ke belakang, mencari seseorang yang telah membantunya. Reflek kedua pasukan penting Jin Se pun mengekori arah pandangan Panglima Yu Ning.
Terlihat jelas dari atas gerbang Istana itu. Seorang wanita cantik yang gagah dengan baju zirah perangnya. Melompat turun memutar dengan gaya salto yang anggun, melewati beberapa prajurit lain dibawahnya.
Tap. Pendaratan yang sempurna ia lakukan. Tepat disamping Panglima Yu Ning. Wanita itu lalu menginjak pedang Panglima Yu Ning yang tergeletak dengan gaya khususnya. Membuat pedang itu melayang terbang keatas mengarah ke depan Panglima Yu Ning.
Dengan sigap Panglima Yu Ning pun menangkap pedang itu. "Yang Mulia Ratu?"
Wanita itu pun melirik dan mengangguk pada Panglima Yu Ning. Mereka tersenyum.
"Apakah kau masih mempunyai pedang Li Jian? Bukankah salah satu diantara kita belum jelas siapa yang takkan bertahan." Ucap Panglima Yu Ning.
"Kyaaaa." Serangan pedang dari Jendral Jin Se yang langsung dihalau oleh pedang Freya.
Dari atas Gerbang Istana. Raja Sun kembali terkagum dengan aksi kekasihnya itu. Senyumnya selalu merekah melihat sang kekasih yang melakukan salto dan meliukkan tubuhnya lincah untuk menghalau pedang dari lawannya.
Semakin cepat gerakan Freya. Berputar. Menghindar .Salto dan kembali menyerang. "Jleeebb" ujung pedangnya berhasil masuk kedalam tubuh Jendral Jin Se itu.
Membuat tubuh Jendral itu ambruk , lemas dan luruh ke tanah. Panglima Jin Se yang melihat tubuh yang ambruk itu menjadi panik. Namun ia tetap kembali fokus bertarung.
Freya hanya melirik sesaat tubuh itu. Ia justru langsung mengayunkan pedangnya dengan gaya bertarung khasnya yang lincah. Membabat habis beberapa pasukan musuh di depannya.
Lagi-lagi hanya dalam hitungan menit. Puluhan tubuh gagah pasukan Jin Se pun menyusul tubuh Jendralnya luruh ke tanah.
Freya sesaat terdiam memperhatikan kedua Panglima yang sedang bertarung itu. Namun dengan cepat sebuah anak panah melesat kearahnya dari arah belakang.
__ADS_1
"Syuuuuuuuuuuuuut"
Anak panah itu melayang bebas terbang dengan cepat menuju tubuh Freya.
Membuat wajah Su'er mendadak menjadi pucat. Tangannya bergetar, ia cemas pada kekasihnya. Karena jaraknya yang cukup jauh dari Freya. Membuat hatinya semakin kacau saat melihat anak panah itu yang semakin mendekati tubuh kekasihnya. "Chang Geeeeeee."
"Pletaak" anak panah itu putus menjadi dua bagian dan jatuh terjun ke tanah akibat tendangan cepat dari Freya.
"Hah. Gadis itu benar-benar membuat jantungku seakan ingin lompat keluar. Untunglah dia baik-baik saja." Ucap Raja Sun tersenyum.
Dari tempatnya berdiri saat ini, Freya melihat salah satu prajurit Jin Se yang hendak menikam Su'er dengan sebuah pisau dari arah belakang Su'er.
Rupanya saat ini Raja Sun masih fokus memperhatikan kekasihnya dibawah sana. Prajurit itu semakin mendekati Su'er. Kini hanya berjarak satu langkah kaki saja diantara mereka.
Su'er terkejut melihat aksi Freya yang dengan cepat melepaskan anak panah kearahnya. Ia membeku saat mengetahui anak panah yang Freya lepas itu semakin mendekatinya.
"Ssyyuuuuuut Jleeebb" suara anak panah yang melesat cepat ke dada seorang prajurit.
Su'er reflek memejamkan matanya saat suara anak panah yang menancap itu terdengar jelas. Namun ia merasa heran, karena tubuhnya tak merasakan sakit sedikitpun. Ia lalu menoleh kearah samping. Dan semakin terkejutnya ia saat melihat tubuh seorang prajurit yang sudah tergeletak di lantai.
Reflek Su'er pun menatap sendu wajah sang pujaan hatinya. "Ternyata tadi ia menyelamatkan aku. Bodohnya aku yang sempat berfikir buruk terhadapnya."
Beberapa prajurit Jin Se lainnya pun datang menyerang Su'er. Su'er langsung menyambut mereka dengan tarian pedangnya. Membuat luka sayatan yang cukup dalam pada tubuh prajurit-prajurit itu.
Semakin lama Su'er semakin merasa kerepotan menghadapi prajurit-prajurit yang semakin banyak itu. Hingga sebuah goresan pedang berhasil terlukis di bahu kirinya.
Ia tahan rasa sakit itu. Dan terus berjuang untuk melumpuhkan prajurit-prajurit lainnya. Deru nafas Su'er terdengar kasar setelah ia berhasil menumbangkan semua prajurit-prajurit itu.
Begitupun Freya. Ia tersenyum manis pada kekasih nya. Namun beberapa saat kemudian, tubuh Freya ambruk luruh ke tanah.
"Chang Geeeee." Su'er yang melihat Freya pingsan langsung panik dan reflek melompat turun menghampirinya.
__ADS_1
πΉππ£π€ππππ¦ππ..........