Permaisuri Modern

Permaisuri Modern
BAB 44_Penjaga Kebun Bunga Dewi


__ADS_3

( Gurun Pasir )


"Roaaaarrr rooaaaaarr." Suara raungan hewan yang terdengar jelas di telingaku. "Apa kau mendengarnya Su'er?"


"Ya, aku mendengar suara itu. Itu seperti suara binatang yang cukup buas. Cepatlah habiskan makananmu, kita harus segera meninggalkan tempat ini." Ucap Su'er yang mulai merasa panik karena suara hewan itu semakin mendekat.


Kami pun pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan perlahan menyusuri Gurun yang sangat luas. Namun, kami masih belum menemukan adanya Gurun Pasir Putih yang Nenek Su'er maksud.


"Dimana ya ini? Apa kita salah jalan? Bukankah Nenek berkata bahwa Gurun Putih itu berada ditepi Gurun besar ini. Tapi sejak tadi kita belum juga menemukan ujung Gurun ini Su'er. Bukankah kita hampir seharian berjalan?" ucapku bingung pada Su'er.


"Aku pun tidak tahu dimana kita saat ini Freya. Mungkin kita harus berjalan beberapa meter lagi. Ayo naiklah ke punggungku. Aku akan menggendongmu. Kau pasti lelah. Kau baru saja pulih. Jangan sampai terluka lagi." Ucap Su'er yang sangat perhatian padaku.


"Ah aku sangat berat sayang. Kita jalan bersama saja ya. Aku tidak apa-apa." Sahutku lembut pada Su'er.


Namun Su'er malah menggendongku ala bridal style. Diiringi dengan senyumannya yang sangat manis. Ia berjalan membawa tubuhku. Membelah Gurun yang luas itu.


"Rooaaaarrrr." Seekor naga terbang tiba-tiba mendarat di depan kami.


Naga itu hendak menyemburkan api kearah kami. Namun dengan sigap Su'er membawaku terbang menghindari semburan naga itu.


Aku terkejut saat Su'er membawa tubuhku terbang bagaikan burung. "Kau bisa terbang Su'er? Mengapa aku tak pernah tahu sebelumnya?"


Su'er tersenyum simpul mendengar pertanyaanku, "Di duniaku ini, hal seperti itu sudah sangat biasa Freya. Hewan itu pasti penjaga tempat ini. Kita harus berhati-hati sayang."


Su'er pun mendarat turun perlahan. Aku tiba-tiba teringat dengan beberapa keahlian baruku di dunia ini. Lalu ku pejamkan mataku.


Aku sangat terkejut melihat tempat yang ada dalam mata ajaibku itu. Ku bandingkan tempat itu saat aku membuka mata. Tempat itu seketika berubah.


Rupanya sejak tadi kami telah sampai di wilayah Gurun Pasir Putih. Namun karena sebuah kekuatan ilusi. Tempat yang kami cari selama ini nampak tak terlihat dengan penglihatan mata biasa.


"Ada kekuatan ilusi yang menutupi pandangan kita Su'er. Kita sebenarnya sudah sampai di Gurun Pasir Putih. Mungkin sudah sampai sejak tadi. Namun karena kekuatan ilusi itu, tempat yang kita cari tak bisa kita lihat." Ucapku pada Su'er.


"Beraninya mereka kemari menggangguku. Cih. Dua orang manusia ini pasti mencari Kebun Bunga Dewi. Hahaha. Tidak akan semudah itu." Ucap naga terbang itu yang terdengar jelas olehku.


"Oh jadi kau ditugaskan oleh Dewi Bunga untuk menjaga Kebun Bunga Misterius itu?" sahutku pada Naga itu.

__ADS_1


"Bagaimana bisa manusia itu mengerti perkataanku?" ucap Naga itu lagi.


"Freya, kau mengerti perkataan Naga itu?" tanya Su'er yang penasaran padaku.


"Ceritanya panjang Su'er. Akan ku ceritakan nanti. Lebih baik kita pikirkan cara untuk menaklukkan Naga itu." Ucapku pada Su'er.


Naga itu tiba-tiba menyemburkan api pada kami. Dengan sigap Su'er membawaku terbang menghindari serangan api Naga itu.


"Dalam mimpiku saat menyelamatkan Kak Lionel waktu itu, bukankah tubuhku reflek bisa terbang seperti Su'er? Apakah dalam keadaan nyata juga aku bisa terbang?" seruku dalam hati penasaran.


Aku pun nekat, dan menjatuhkan tubuhku kebawah. Namun, "Gawat. Ternyata dalam keadaan nyata aku tidak bisa terbang."


"Grepp." Dengan sigap Su'er menangkap tubuhku yang melayang bebas.


"Terimakasih." Ucapku pada Su'er dengan senyuman yang sangat manis.


Su'er hanya tersenyum manis. Ia membawaku melayang turun dan mendarat dengan sempurna.


Tanpa sengaja Naga itu melihat kearah gantungan kunci Freya. Gantungan unik yang berbentuk awan dan bunga edelweis yang terlihat Indah. Bentuk itu adalah simbol dari Dewi Bunga.


"Heii wanita, darimana kau mendapatkan gantungan kunci itu?" tanya Naga itu menyelidik.


"Gantungan ini pemberian dari Ratu Duyung Cao Xi Yue. Ada apa? Kau tertarik dengan gantungan ini?" ucapku yang penasaran dengan pertanyaan sang Naga.


Su'er hanya memperhatikan Freya yang sedang berbicara dengan Naga terbang itu. Sesekali ia melirik Freya. Namun sesaat kemudian ia melirik kearah Naga itu.


"Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau bisa mengenali Ratu Duyung Cao?" tanya Naga itu lagi.


"Aku Freya, calon cucu menantunya. Dan di sampingku ini adalah cucunya. Pria ini kekasihku. Ia Raja Ashile Sun dari Dinasti Tang. Apa kau tahu tentang kami?" ucapku semakin penasaran dengan sang Naga.


"Pria itu cucu Ratu Duyung Cao? Ia sudah dewasa sekarang. Aku pernah melihatnya sekali saat mengantar Ratu Duyung Cao. Namun saat itu, ia masih seorang bayi. Maaf atas ketidaktahuanku Nona. Ada perlu apa kau datang kemari?" ucap Naga itu tiba-tiba lembut padaku setelah mengetahui identitas di belakang kami.


"Kami membutuhkan Bunga Kristal milik Dewi Bunga. Apakah aku bisa meminta Bunga Kristal itu?" ucapku pada sang Naga yang tak sungkan lagi.


"Bunga itu ada di dalam Kebun Bunga Dewi. Dewi menyembunyikan Kebun Bunga itu agar tidak di manfaatkan oleh manusia-manusia yang mempunyai niat jahat. Karena pada dasarnya Kebun Bunga itu sengaja Dewi ciptakan untuk Ratu Duyung Cao. Dan kalian adalah keluarga Ratu Duyung Cao. Maka Kebun Bunga itu dapat dengan bebas kalian masuki. Ikutlah denganku untuk memasuki Kebun Bunga itu." Ucap Naga itu semakin menghormati kami.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Su'er penasaran.


"Naga itu akan membawa kita untuk memasuki Kebun Bunga. Akan ku jelaskan nanti alasannya. Ayo kita ikuti Naga itu." Ucapku pada Su'er yang sangat penasaran.


Naga itu pun menyemburkan api biru dari dalam mulutnya ke udara. Seketika, gurun pasir biasa tempat yang mereka pijak itu berubah menjadi hamparan Gurun Pasir Putih yang sangat luas.


Aku dan Su'er cukup terkejut dengan perubahan tempat itu. Saat ini kami benar-benar berada ditengah-tengah Gurun Pasir Putih yang selama ini kami cari.


Tempat itu benar-benar unik dan indah. Benar-benar seperti yang diceritakan oleh Nenek Cao.


"Naiklah ke punggungku Yang Mulia." Ucap Naga itu semakin sopan.


"Yang Mulia? Mengapa kau memanggilku seperti itu? Aku bukan seorang Ratu." Sahutku pada Naga itu.


"Tapi kau adalah Ratuku sayang. Ratuku yang sangat cantik. Melebihi cantiknya semua wanita di dunia ini. Hehehe. Apakah Naga itu memanggilmu Yang Mulia?" Sahut Su'er padaku tiba-tiba.


"Su'er berhentilah bermain-main. Kita akan segera memasuki Kebun Bunga itu." Ucapku yang cukup gemas dengan tingkah Su'er.


"Karena Kau adalah calon Ratu Yang Mulia. Itu sama saja bagiku. Mari Yang Mulia." Ucap Naga itu kembali.


Aku dan Su'er pun menaiki punggung Naga itu. Kami berdua dibawa terbang oleh sang Naga. Melayang bebas diatas hamparan pasir putih itu.


Naga itu berhenti di depan sebuah batu kristal yang cukup besar dan bersinar. Kami pun turun dari punggung sang Naga. Lalu sang Naga menyemburkan api birunya kearah batu kristal itu.


Seketika batu kristal itu berubah menjadi sebuah batu pedang kristal yang melayang. Berwarna biru transparan seperti kaca. Sangat memukau.


"Ambillah pedang itu Yang Mulia." Ucap Naga itu lagi.


"Aku atau kekasihku yang harus mengambilnya?" tanyaku penasaran pada sang Naga. Aku hanya tak mau membuat kesalahan.


"Kaulah yang mengambilnya Yang Mulia. Karena kau yang memiliki gantungan kunci Dewi." Sahut Naga itu padaku.


"Baiklah. Aku akan mengambilnya." Ucapku pada sang Naga.


Aku pun melangkah perlahan kearah batu kristal berbentuk pedang itu. Ku ulurkan tangan kananku untuk memegang pegangan batu pedang itu.

__ADS_1


Sesuatu pun terjadi padaku saat batu pedang itu berhasil ku pegang.


๐“‘๐“ฎ๐“ป๐“ผ๐“ช๐“ถ๐“ซ๐“พ๐“ท๐“ฐ..........


__ADS_2