
( Istana Duyung )
Saat itu Nenek mengikuti ayah ke Gurun Pasir untuk membahas tentang keamanan dan pertahanan perang di Dinasti Yan. Dahulu dunia tak sedamai ini nak. Hanya Gurun dan Padang Rumputlah tempat teraman pada saat itu."
"Freya, Su'er berkata kau mendengar tentang Dewi Bunga dari Yu Ning? Apa yang sebenarnya telah terjadi sayang?" tanya Nenek Raja penasaran.
"Semua berawal dari sebuah kecelakaan yang terjadi di duniaku Nek." Ucap Freya lalu menceritakan semua kisahnya pada Nenek dan Kakek Raja Sun.
"Jadi Shiba telah menemuimu didalam mimpimu? Shiba putriku. Hiks.. hiks.. Ibu sangat merindukanmu Shiba." Ucap Nenek Raja Sun lirih.
"Benar Nek. Ibu juga menitipkan sesuatu untukku. Beliau berpesan agar aku menunjukkan benda ini padamu, maka kau akan menjelaskan kegunaan dari benda ini." Ucap Freya lalu memberikan sebuah kotak balok kecil pada Nenek Raja.
"Mengapa kau tak membukanya Freya?" ucap Nenek Raja.
"Aku tidak berani Nek. Ibu tidak berpesan bahwa aku boleh membukanya." Ucap Freya polos.
"Ini adalah Binyeo Phoenix milik Ibumu Su'er. Binyeo ini merupakan warisan turun temurun dari keluarga Kakekmu. Binyeo ini harus diwariskan pada anak gadis atau gadis yang akan menikah dengan keturunan selanjutnya. Dan gadis itu harus memakai Binyeo ini dihari pernikahannya. Binyeo ini saling berhubungan dengan Seruling Naga milik Kakekmu. Binyeo ini juga mempunyai beberapa kelebihan. Kau akan mengetahuinya saat sudah memakainya Freya." Penjelasan Nenek Raja sambil menunjukkan Binyeo itu pada Freya dan Su'er.
"Waaah warisan yang sangat cantik." Ucap Freya kagum pada Binyeo itu.
"Apakah Binyeo itu harus Chang Ge pakai selamanya?" tanya Su'er yang juga memperhatikan Binyeo itu.
Nenek Raja tersenyum mendengar pertanyaan cucunya. "Saat menjalankan ritual pernikahan, pengantin lelakilah yang harus memakaikannya. Dan akan lebih baik bila Binyeo ini terus dipakai kecuali saat kau mandi, kau bisa melepasnya."
"Baiklah Nek. Aku mengerti. Dan ada suatu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada Nenek. Ini tentang Yu Ning." Ucap Freya.
"Yu Ning. Penjahat itu! Kau sebelumnya berkata bahwa penjahat itu sebenarnya adalah orang yang baik. Memangnya apa yang sudah dilakukan penjahat itu sehingga kau bisa berkata seperti itu Freya?" ucap Nenek Raja penasaran.
"Yu Ning sebenarnya adalah adik kandung Ayah Su'er Nek." Sahut Freya.
__ADS_1
Perkataan Yu Ning membuat Kakek dan Nenek Raja itu sangat terkejut. Sang Nenek hampir tidak mempercayai perkataan Freya, "Tidak. Bagaimana mungkin dia adalah adik Chuo Bi. Itu pasti tidak benar Freya."
Freya lalu memberikan dua buah kertas yang berisi identitas asli Yu Ning kepada Nenek Raja dari balik gaunnya.
Seketika Nenek Raja terkejut membaca isi kertas-kertas itu. "Ashile Yu Ning"
...****************...
( Taman Bunga Apung - Istana Duyung )
Freya duduk disebuah gazebo yang berada ditengah air. Istana Duyung milik Nenek Raja itu sangat indah nan megah. Sebagian besar ruangannya merupakan kolam air, namun . Dan di dalamnya terdapat banyak bangunan yang mengambang diatas permukaan air. Termasuk gazebo di sebuah kebun bunga yang saat ini Freya duduki.
Tempat itu sangat indah dan seakan mengambang diatas air. Jalanan penghubung antara bangunan satu dengan bangunan lainnya pun terlihat begitu indah. Diseluruh pinggirannya terdapat pagar emas berukir yang dipenuhi dengan beberapa tumbuhan jalar yang berbunga indah dengan berbagai macam jenis dan warna.
Sedangkan bagian atas jalan itu terdapat lorong bunga yang terbentuk dari beberapa tiang melengkung yang dihiasi dengan berbagai macam bunga warna putih. Dibagian atas setiap tiang itu terdapat lentera putih dengan lampu putih didalamnya. Tempat itu terlihat sangat indah. Tempat itu merupakan keindahan hasil dari perpaduan seni dunia modern dan dunia istana.
"Tempat yang sangat indah." Ucap Freya kagum.
Ia sedikit melirik wajah kekasihnya itu, "Aku sedang menikmati pemandangan ini sayang. Tempat ini dipenuhi banyak bunga yang cantik, sangat indah dan nyaman."
"Tapi hanya kau yang paling cantik dari bunga-bunga itu sayang." Ucap Su'er lembut lalu mencium bagian samping kepala Freya.
Su'er menggoyang-goyangkan sedikit badan mereka lalu berkata pada kekasihnya, "Chang Ge aku sangat penasaran, apakah rumah dan apartemen yang kita punya di duniamu yang ada dalam mimpi itu, akan benar-benar ada dalam dunia nyata? Apa aku bisa kembali ke duniamu itu dalam dunia yang nyata?"
Freya tersenyum mendengar pertanyaan kekasihnya, "Aku juga penasaran Su'er. Banyak orang yang ku tinggal disana. Saat kita kembali ke duniaku nanti, aku pasti akan mengenalkanmu pada teman-temanku. Mereka semua baik, sudah seperti keluarga bagiku. Apalagi kak Fachry, dia benar-benar sangat baik."
"Fachry? Siapa dia? Dan memang kau mempunyai berapa teman? Mengapa saat kita bertemu dalam mimpi di duniamu aku tidak pernah bertemu mereka?" ucap Raja Sun penasaran.
Dengan senyuman indah Freya menjawab pertanyaan kekasihnya, "Kak Fachry sudah seperti kakakku sendiri. Dan Ibu pernah berkata bahwa yang menyebabkan hanya kita berdua saja yang ada dalam mimpi kita itu karena jiwa kita sudah terikat sejak bayi Su'er. Jadi akan sulit untuk mengajak orang lain agar masuk kedalam mimpi kita."
__ADS_1
Su'er lalu mengurai tubuhnya dari pelukan Freya. Ia menuntun kekasihnya untuk duduk disebuah kursi emas panjang yang penuh dengan ukiran bunga. Ia pun berkata pada Freya, "Aku pernah berfikir Chang Ge, bila saat itu Yu Ning tidak mencintai ibuku. Apakah kita akan tetap bertemu?"
Kepala Freya bersandar pada dada Su'er. Dan ia pun menjawab pertanyaan Kekasihnya, "Kau benar. Aku pun penasaran. Jika itu terjadi, apa mungkin aku akan tetap masuk ke duniamu ini Su'er. Mungkin kita pun tak saling tahu dan tak saling mengenal."
Su'er lalu memeluk tubuh gadis itu. Membelai lembut kepala sang kekasih. Mereka lalu saling mengurai pelukan. Saling menatap. Cukup lama. Perlahan wajah mereka saling mendekat. Sampai kedua bibir itu saling menyapa lembut. Dan saling berpelukan.
...****************...
( Kamar Freya - Dunia Modern )
"Gue nggak nemuin petunjuk apapun Ry." Ucap Ardhan.
"Hmmm, cari kemana lagi ya?!" sahut Fachry yang juga tidak menemukan petunjuk yang mereka cari.
Fachry kembali melihat frame besar yang berisi foto Freya bersama teman-teman The Crownnya. Pandangannya fokus pada nama club di foto itu. Ia lalu sedikit mengenali tempat itu. "Itu bukannya di--."
"Dimana Ry?" potong Ardhan penasaran.
"Gue lupa, tapi gue kayak pernah ke tempat itu bareng Freya. Cuma saat itu belum ada plang nama The Crown. Dimana ya, udah lama banget soalnya. Gue nggak terlalu inget." Ucap Fachry masih mencoba mengingat lokasi dalam foto itu.
"Kalo gitu kita coba liat di foto The Crown yang lain aja Di. Tapi nggak ada foto lain lagi selain yang diframe itu. Kalo dalam buku banyaknya lukisan dia sama Raja Sun itu." Sahut Ardhan bingung.
Tiba-tiba Ardhan ingat dengan suatu benda, "Oh iya, HP Ry. Semua foto pasti ada di HP Freya. Tapi dimana dia simpen HPnya ya? Saat kecelakaan juga dia nggak bawa HP. Coba Ry lo miscall nomer Freya!" Ucap Ardhan yang mulai bersemangat.
"Oke bentar." Fachry lalu menghubungi nomer Freya. "Tuuut.. tuuut.. tuuut.. tuuut.. tuuut.."
Ardhan mendengar getaran dan alunan nada pada ponsel itu, "Itu suara HP Freya Ry."
Mereka lalu mencari sumber suara dari lagu Bring Me To Life - Evanescence itu. Mereka memutar tombol panggilan berkali-kali sampai menemukan keberadaan ponsel itu yang ada disalah satu celah ranjang Freya. Ardhan memasukkan beberapa jarinya untuk memeriksa celah yang bersuara itu. Ketemu. Ia merasakan bagian ponsel itu dengan sudut jarinya. Ia pun langsung menarik ponsel itu. Dan berhasil mendapatkannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Yah tapi pake sandi Ry." Ucap Ardhan bingung.
Bersambung........