
"Sialan. Apa yang akan kalian lakukan? Kenapa tidak langsung membunuhku saja. Br##gsek." Ucap Tristan geram dan panik.
"Ckckck. Mengapa kau begitu terburu-buru. Lihatlah penampilan kami lebih dulu Tristan. Bukankah kau sangat menyukai sebuah pertunjukan?" sahutku dengan meniup bagian ujung pistol itu dan langsung menembakan satu peluru kearahnya, tanpa melihat tubuhnya lebih dulu.
"Doorrr."
Tristan dan semua temanku benar-benar dibuat shock dengan aksiku itu. Tristan membeku, ia benar-benar putus ada dengan hidupnya.
Ia pasrah, namun ia mulai menyadari bahwa tidak ada rasa sakit sedikitpun pada tubuhnya.
Ia membuka matanya, dan cukup terkejut saat melihat salah satu anak panah yang menancap pada pakaiannya itu terbelah menjadi dua, denga sebuah peluru yang masih ada di tengah anak panah itu.
"Astaga. Bagaimana wanita ini melakukannya? Bahkan ia tak membidik sama sekali. Tapi peluru itu, tak menyentuhku sama sekali.
Pantas saja dia menjadi Ketua The Crown. Ternyata keahliannya jauh melebih Ketua. Ini benar-benar menakjubkan." Seru Tristan dalam hatinya.
Aku tersenyum kecut mendengar suara hati Tristan. "Heuh. Kau mengagumiku Tristan? Apakah aksiku tadi sangat menakjubkan?"
"Dia? --- bagaimana dia tahu?" serunya yang bingung dalam hati.
"Hahaha. Apa yang kau pikirkan Tristan? Apa kau tak ingin berkata sesuatu tentang anggota The Wings yang masih hidup Tristan?" ucapku padanya.
"Cih. Sampai matipun aku tak akan mengatakan apapun pada kalian." Sahutnya menantang.
"Hahaha. Baiklah kalo begitu." Sahutku dengan senyuman kecut dan langsung menembakkan beberapa peluru lagi kearahnya dengan cepat.
Lagi-lagi aksiku itu membuat semua teman-temanku membeku. Mereka menelan saliva berjamaah. Dan merinding ngeri melihatnya.
"Ratuku benar-benar wanita yang tangguh. Dia sangat cantik seperti itu." Seru Su'er dalam hatinya.
Aku pun tersenyum bahagia menatapnya setelah mendengar ucapannya tadi.
Sedangkan Tristan, jantungnya semakin berdegup kencang. Ia panik dan resah. Namun lagi-lagi dia terkejut, karena beberapa peluru yang aku lepaskan, tak mengenai tubuhnya sama sekali.
Dengan tubuh yang masih bergetar, ia menatapku datar. Entah apa yang ia pikirkan, karena ia tak berucap dalam hatinya.
"Lihatlah yang, bahkan kemampuan menembakku pun tak semakin baik. Beberapa peluru yang aku lepaskan, tak ada satu pun yang melukainya." Ucapku yang sengaja memasang wajah sedih.
"Cih. Jelas-jelas Queen sengaja agar tidak melukainya." Seru Kak Lionel dalam hati.
Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Lalu kembali ku perhatikan aksi suamiku pada Tristan.
"Baiklah, sekarang giliranku sayang." Sahut suamiku.
Ia lalu menutup matanya dengan kain. Dan mulai menembak kearah Tristan. Dengan berbagai posisi yang berubah setiap tembakannya. Dari berdiri, jongkok hingga berguling di tanah.
"Bagaimana dia melakukannya? Jika bukan benar-benar penembak ahli, aku khawatir beberapa peluru itu sudah mengenai tubuh Tristan." Ucap Kak Fachry kagum.
"Karena dia adalah suamiku Kak. Maka apapun yang tidak mungkin orang lain lakukan, sangat mudah baginya untuk melakukan itu." Seruku dalam hati setelah mendengar suara hati Kak Fachry.
"Cukup, hentikan semua ini. Sampai kapan kalian akan menggunakanku untuk menjadi bahan latihan kalian. Segeralah bunuh saja aku b##ngsek." Ucap Tristan kesal.
__ADS_1
Su'er hanya tersenyum sinis mendengarnya, lalu ia kembali menembakkan beberapa peluru kearahnya dengan sangat cepat.
Tristan semakin panik dan cemas. Tubuhnya bergetar hebat. Ia sudah benar-benar pasrah dengan nyawanya.
Namun ternyata, beberapa tembakan yang Su'er buat itu bertujuan untuk membuka ikatan pada kaki dan tangan Tristan.
Membuat tubuh Tristan yang lemah, seketika ambruk jatuh ke tanah.
Aku pun perlahan mendekati Tristan. Sambil membawa sebotol air mineral yang ku berikan untuknya.
"Habiskan dalam waktu 5 menit, dan pergilah dari sini secepatnya. Bila melebihi waktu itu, maka aku tidak tahu apa yang akan tejadi padamu selanjutnya." Ucapku lembut namun mampu membuat tubuh Tristan semakin bergetar.
Dengan cepat dan tanpa pikir panjang, Tristan pun menenggak air mineral dalam botol itu dan langsung menghabiskannya dalam waktu 3 menit saja.
Tristan menghirup udara dengan rakus setelah menghabiskan sebotol air mineral itu. Ia terlihat sangat lemas.
"Tidak akan ku lupakan semua penghinaan ini Freya. Aku pasti akan membalasnya." Serunya dalam hati.
"Cih. Aku tidak yakin kau bisa melakukannya. Berlatihlah seribu tahun lagi untuk membalasku." Seruku dalam hati.
"Apa kau ingin kami berubah pikiran? Mengapa kau masih disini? Kau tak ingin pergi, hm?" ucap Su'er padanya.
Seketika, Tristan pun bangkit dan berlari pergi meninggalkan halaman markasku. Dengan langkah yang gontai, dan sesekali menengok pada kami.
"Queen apa yang kau lakukan? Mengapa kau melepaskannya?" tanya Kak Lionel kecewa.
"Tunggulah sampai Tristan berjalan cukup jauh Kak, aku akan memberitahu alasannya pada kalian." Sahutku padanya.
Su'er tersenyum menatapku. Ia lalu menghampiriku dan mengusap peluh yang ada pada keningku dengan lengannya.
"Kita masuk sekarang. Akan ku tunjukkan sesuatu pada kalian." Ucapku lembut pada mereka.
Aku dan Su'er pun memimpin jalan memasuki markas Skyler.
Aku langsung menyalakan sistem layar komputer yang sangat besar itu. Yang berada tepat di tengah ruang rapat tim kami.
Dalam layar digital komputer yang lebar itu, terlihat sosok Tristan yang sedang berlari meninggalkan tempatku tadi.
Sesekali ia berhenti untuk melepas lelah. Dan kembali berlari saat kekuatannya telah terkumpul.
"Tristan? Queen, apa ini sistem terbarumu?" seru Kak Lionel.
"Ya, air itu telah ku beri ramuan khusus. Dengan meminumnya, maka ramuan itu akan menyerap pada tubuh dan tulang seseorang yang meminumnya.
Ramuan itu bisa menjadi GPS alami. Dan karena aku menambahkan beberapa racun, maka dengan mudah aku bisa mengendalikan tubuhnya.
Dengan begitu, kita akan segera tahu. Markas sisa anggota The Wings yang lain." Ucapku pada mereka.
"Dek, bagaimana kamu bisa membuat ramuan seperti itu?" tanya Kak Ardhan heran menyelidik.
"Aku mempelajarinya saat pergi dulu Kak. Gambar itu secara otomatis akan terekam dalam sistem.
Jadi aku akan melihatnya nanti, aku dan suamiku masih ada urusan. Kak Ardhan, ayo antar kami pulang." Ucapku pada mereka.
__ADS_1
"Baik Dek." Sahut Kak Ardhan lalu bergegas menghampiriku dan Su'er.
"Setelah kau kembali, aku rasa hubungan kita semakin jauh Re." Seru Kak Fachry dalam hati.
...****************...
( Taman Dekat Markas Skyler )
"Katakan, apa yang kalian tahu tentang suamiku Kak. Dan bagaimana kalian bisa mengenal Kak Lionel?" ucapku padanya menyelidik.
Kak Ardhan pun menceritakan semua yang terjadi saat dia dan Kak Fachry yang masuk ke kamarku untuk mengetahui keberadaanku dulu. Lalu menceritakan pertemuannya dengan Kak Lionel.
"Cih. Dasar penyusup!" ucapku kesal.
"Jangan menyalahkan mereka sayang. Aku sedikit mengerti tentang perasaan mereka. Bila aku jadi mereka, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama." Bela Su'er.
"Tuh kan, Adek Ipar aja bisa mengerti kita Dek. Kamu nggak tahu Dek, gimana perasaan kita selama ini, yang hampir setiap saat khawatir sama kamu." Sahut Kak Ardhan.
"Aku cuma nggak suka aja Kak, orang lain baca-baca diary aku. Hemmm, ya udahlah lupain hal itu. Cukup kalian bertiga aja ya Kak, yang tahu soal suami aku. Jangan sampai anak-anak lain tahu." Ucapku murung.
"Oke Bos Queen. Tenang aja. Hehehehe." Sahut Kak Ardhan mengeledek.
"Ih apaan sih Kak. Ngapain ikutan Kak Lio manggil aku kayak gitu. Aneh tau kalo kamu yang manggil." Seruku padanya.
"Tapi menurutku panggilan itu lebih cocok untukmu daripada memanggilmu dengan nama saja Yang.
Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau akan memasukkan beberapa peraturan Kerajaanku di duniamu ini.
Aku rasa, kita bisa memulai dengan panggilan untukmu itu sayang. Queen! Bukankah artinya Ratu? Dan aku King.
Benar, seperti itu lebih bagus. Walaupun hanya sebuah panggilan, tapi itu tidak menghilangkan citraku sebagai seorang Raja sungguhan. Bukankah begitu Kakak Ipar?" sahutnya dengan percaya diri.
Aku dan Kak Ardhan cukup terkejut mendengar ucapan suamiku itu. Namun Kak Ardhan, justru lebih membelanya.
"Ya ya ya. Benar sekali Adik Ipar. Tapi mengapa tidak Yang Mulia Raja saja Adik Ipar? itu jauh lebih bagus. Benarkan Dek? Hehe." Sahut Kak Ardhan mengompori.
"Kau benar Kakak Ipar. Dengan begitu, aku merasa ada di Istana. Tapi, sepertinya Ratuku tidak menyukai panggilan itu." Ucapnya dengan sengaja memasang wajah yang sedih.
"Cih. Lakukanlah sesuka hatimu Yang Mulia Raja." Sahutku dengan cemberut.
"Hmmm, sepertinya kau lebih berani melawanku semenjak kita tidak lagi di Istana? Kurasa kau harus dihukum agar tidak membangkang kepadaku nantinya.
Cepat kemari, biar ku cium bibirmu itu dihadapan semua orang!" ucapnya semangat lalu berlari menghampiriku.
Aku pun langsung berlari saat Su'er hampir menangkapku.
"Haha. Jangan Yang Mulia. Hahaa. Su'er lepaskan. Hahaha. Jangan membuatku malu Yang Mulia." Ucapku sambil menahan tawa, karena ulahnya yang terus menggelitik pinggangku sambil ia terus berusaha untuk mendapatkan bibirku.
"Freya sangat bahagia bersamanya. Ku harap kalian berdua akan selalu seperti ini selamanya. Dan Fachry, --- semoga dia bisa segera menemukan cinta yang lain secepatnya." Seru Kak Ardhan dalam hati.
Samar-samar ku dengar suara hati Kak Ardhan. Aku pun hanya menatapnya sekilas dengan tersenyum. Lalu kembali bermain bersama suamiku, Su'er.
๐๐ฎ๐ป๐ผ๐ช๐ถ๐ซ๐พ๐ท๐ฐ...
__ADS_1