Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Kanker otak


__ADS_3

Setelah lampu hijau menyala, Rama kembali fokus mengendarai motornya untuk pulang ke rumah secepatnya. Bu Andin kali ini benar-benar dibuat sesak dan akhirnya ia memutuskan untuk berbelok arah.


Akhirnya, Putri tidak lagi melihat mobil sang guru BP di belakang mereka. Ia menggelengkan kepalanya dan semakin mempererat pelukannya pada sang suami. Tentu saja Rama dibuat senang bukan kepalang. Ia pun semakin mempercepat motornya untuk segera sampai di rumah.


Karena Rama terlalu tinggi mengendarai motornya, membuat Putri sedikit merinding dan protes kepada sang suami.


"Aduhhh Mas jangan cepat-cepat! Aku takut," seru Putri sambil memejamkan matanya.


"Biar cepat sampai, Sayang!" sahut Rama.


Benar saja selang beberapa menit akhirnya Rama dan Putri tiba di rumah. Putri terlihat lemas karena Rama begitu cepat berkendara, setelah itu mereka melepaskan helm masing-masing, dan masuk ke dalam rumah.


Rama merangkul pundak sang istri yang terlihat sedikit terdiam.


"Kamu kenapa?" tanya Rama.


"Nggak tahu, perasaanku kok tiba-tiba nggak enak, ya?" sahut Putri.


"Mungkin karena kamu sekarang sekolahnya di rumah, mulai besok kamu tidak akan bertemu dengan teman-temanmu, hanya bertemu dengan suamimu saja!" Ujar pria itu sambil menangkup wajah sang istri.


"Kalau aku kangen sama teman-teman, aku boleh main nggak sama mereka? Jika nggak dibolehin juga nggak apa-apa. Sekarang aku sadar aku adalah seorang istri, aku harus fokus pada suamiku," ucap Putri sambil tersenyum.


Rama menyelipkan rambut Putri di belakang telinga. "Iya, kamu memang istriku. Tapi, kamu juga masih berstatus sebagai seorang pelajar. Kamu masih berhak mendapatkan pendidikan formal dan aku tidak boleh egois asalkan kamu tahu tanggung jawabmu sebagai seorang istri dan juga seorang siswi, dan aku tidak akan membatasi pergaulanmu selama itu masih wajar. Kamu bisa membawa teman-temanmu datang ke rumah, aku tidak masalah. Tapi, jika sampai kamu keluar rumah aku wajib mengikutimu, aku tidak mau ada laki-laki lain yang coba-coba mendekatimu. Karena pasti mereka mengira kamu itu masih seorang gadis," ungkap Rama yang seketika membuat Putri tersenyum.


"Iya iya Pak Rama. Siap, saya pasti laksanakan! Memangnya masih ada cowok yang mengincar aku gitu?" tanya Putri menggoda suaminya.


"Ya ... ada lah pastinya. Pokoknya kamu tidak boleh pergi tanpa pantauan dariku, aku tidak mau ada pria lain yang mencoba mengambil istriku, aku tidak akan pernah biarkan," sahut Rama. Putri pun melingkarkan tangannya pada leher sang suami sembari berkata, "Segitunya sih! Sebegitu berartinya aku untukmu, Mas?"


"Sangat berarti, kamu adalah segalanya bagiku," balas Rama sembari mencoba mengecup bibir istrinya. Namun, Putri menutup bibir sang suami dengan telapak tangannya.


"Aku ingin tanya sama kamu, Mas! Apa yang akan kamu lakukan jika suatu hari nanti Kak Dinda pulang?"


"Kenapa kamu tanyakan itu?" sahut Rama balik bertanya.


"Ya, aku ingin tahu aja apa reaksi kamu saat bertemu lagi dengan kak Dinda."


"Ya, biasa aja lah, memangnya aku harus bagaimana, bilang wow gitu!" sahut Rama sambil menautkan kedua alisnya.


"Jika Kak Dinda minta balikan, kamu gimana?"


"Ayolah, Sayang! Pertanyaan macam apa ini? Bukankah aku sudah bilang sama kamu. Aku tidak perduli lagi dengan Dinda. Hubungan kita sudah usai dan sekarang hanya ada aku dan kamu ...!" sergah Rama yang tampak kesal jika Putri mengingatkan tentang Dinda.


"Tapi ...!"

__ADS_1


"Nggak ada tapi-tapian, jika kamu masih mempersoalkan masalah Dinda. Aku malas untuk membahasnya. Sudahlah, aku mau mandi!"


Rama terlihat merajuk. Ia pun langsung mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi. Putri terdiam dan memperhatikan suaminya yang terlihat marah hanya karena dirinya berbicara tentang Dinda, Kakaknya.


"Mas! Aku kan cuma ...!" belum selesai berbicara. Rama sudah menutup pintu kamar mandi itu. Putri menghela nafas panjang, ternyata sang suami sangat sensitif.


"Huuuuhhh gitu aja marah. Aku kan cuma tanya ya elah! Masa pakai gondok segala!" seru Putri. Setelah itu ia menyiapkan baju untuk suaminya dan ia letakkan di atas kasur, kemudian Putri duduk di atas tempat tidur, sambil menunggu sang suami keluar dari kamar mandi.


Sementara itu di dalam kamar mandi. Rama tertawa kecil saat dirinya berhasil mengerjai sang istri.


"Hari ini aku ingin melihat seberapa besar kamu mencintaiku, Putri! Aku ingin tahu bagaimana caramu untuk meluluhkan hati suamimu yang sedang marah ini, tapi bohong!!" ucap pria itu yang ternyata sedang memberikan jebakan untuk istrinya.


Setelah sepuluh menit. Akhirnya, Rama keluar dari kamar mandi, Rama melihat Putri yang sedang duduk di atas tempat tidur. Rama nampak diam dan tidak berkata apapun kepada sang istri, seolah apa yang dilakukan oleh Putri tadi adalah sebuah kesalahan besar.


Putri melihat sang suami yang sudah selesai. Alih-alih ia ingin memberi tahukan kepada sang suami jika bajunya sudah disiapkan, justru Putri mendapatkan ucapan yang kurang mengenakkan dari Rama.


"Aku tidak mau pakai baju itu. Simpan saja lagi!"


Seperti disambar petir ketika ia mendengar penolakan dari sang suami yang tidak mau memakai baju pilihannya.


"Mas Rama benar-benar marah padaku! Ya ampun, aku cuma tanya doang. Gitu aja marah," batin Putri sambil menatap sang suami yang tidak mau melihatnya sama sekali. Rama justru pergi sambil membawa baju lain yang ia ambil dari lemarinya.


Setelah itu, Rama mengganti pakaiannya di ruangan ganti. Karena tidak mendapatkan respon dari sang suami. Putri pun beranjak keluar dari kamar dan ia mencoba merayu sang suami dengan memasak makanan kesukaannya.


*


*


*


Sedangkan di tempat lain, Pak Dedi dan Bu Lili sudah tiba di sebuah rumah sakit di mana putri pertamanya sedang dirawat.


Di sana kedua orang itu bertemu dengan seorang pria yang sering mereka temui di televisi. Iya, itu adalah Yudha Permana, aktor dan juga seorang seniman yang terkenal.


"Maaf Bapak, Ibu. Perkenalkan saya Yudha Permana," seru pria bertubuh jangkung itu.


"Bukankah ini Bang Jacob, si penjahat kelamin yang meresahkan itu?" sahut Bu Lili yang kenal wajah Yudha saat memerankan tokoh Bang Jacob di sebuah film..


"Bu, nggak boleh ngomong gitu!" sahut Pak Dedi malu.


"Eh beneran Yah! Huuuuhhh Ibu geregetan lihat muka dia, udah banyak gadis yang sudah dinodainya, sekarang sok-sokan nongol di depan mata!" lagi-lagi Bu Lili masih terpengaruh oleh karakter yang diperankan oleh Yudha.


Yudha pun tersenyum dan menjelaskan jika dirinya hanya memerankan tokoh Bang Jacob. Tapi sebenarnya ia tidak seperti itu.

__ADS_1


"Tuh, Bu! Dengerin, jangan asal nuduh orang sembarangan. Ini artisnya pemeran siapa tuh Bang Jacob, haaahhh dasar ibu, gini ini kalau udah jadi korban sinetron!!" seru pak Dedi.


Bu Lili pun tampak malu-malu karena sudah terlalu menghayati karakter Bang Jacob.


"Tidak apa-apa, Pak! Saya bisa mengerti. Banyak yang seperti itu bukan cuma istri Bapak. Bahkan ada ibu-ibu lain yang mencubit bahkan menggetok kepala saya. Katanya saya ini tukang cabul dan lain-lain. Padahal itu cuma akting belaka!" ungkap Yudha.


"Terus ngomong-ngomong apakah Nak Yudha yang menghubungi kami jika putri kami Dinda kecelakaan? Di mana sekarang Dinda, kami ingin bertemu dengannya!" tanya Pak Dedi.


"Iya, saya yang menghubungi kalian berdua. Dinda masih dirawat di kamar ICU. Saya juga minta maaf sebelumnya kepada bapak dan ibu, sebenarnya Dinda seperti ini karena saya. Saya tidak sengaja menabrak Dinda karena saat itu saya sedang menelepon sambil menyetir. Jadi, saya tidak tahu jika ada Dinda yang sedang menyebrang. Saya mohon bapak dan ibu memaafkan saya!" ucap Yudha sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Apa, kamu yang sudah menabrak putri kami?" Pak Dedi tentu saja sangat terkejut.


Di saat yang bersamaan, dokter keluar dari kamar Dinda.


"Ada keluarga pasien di sini?" tanya sang dokter.


"Saya ayahnya, Dok!" sahut pak Dedi.


"Mari ikut saya, Pak! Ada sesuatu yang harus saya sampaikan!"


Dokter pun mengajak Pak Dedi dan Bu Lili untuk masuk ke ruangannya.


"Bagaimana keadaan putri kami, Dok?" tanya Bu Lili yang tampak begitu khawatir terhadap kondisi sang putri. Sang dokter menghela nafas panjang dan menunjuk hasil dari pemeriksaan kesehatan Dinda.


"Putri bapak dan ibu mengalami benturan yang cukup keras dan benturan itu mencederai syaraf penglihatannya. Jadi, pasien akan mengalami kebutaan sementara. Bukan hanya itu, kami juga menemukan pemeriksaan kesehatan tentang sebuah penyakit yang sudah menyerang putri bapak dan ibu. Pasien terdiagnosis kanker otak stadium dua!!"


"Tidak mungkin!!"


Seakan tak percaya mendengar kenyataan putri pertama mereka mengalami sebuah penyakit yang sangat mematikan itu. Karena selama ini Dinda terlihat ceria dan tidak menunjukkan gejala-gejala yang aneh.


"Sebenarnya, pasien sudah tahu jika dirinya menderita kanker otak, karena kami menemukan sebuah obat untuk sakit kepala dalam jumlah besar di dalam tas pasien," ungkap sang dokter.


"Astaga, Dinda! Kenapa dia harus menyembunyikan rahasia ini dari kita, Yah? Kenapa?" sahut Bu Iin sambil menangis di pundak suaminya.


"Mungkin, ini kenapa Dinda lari dari pernikahannya karena ia tidak ingin membuat semua orang kasihan kepadanya, apalagi membuat calon suaminya bersedih. Ia membohongi kita semua dengan alasan karena ingin menjadi model terkenal agar Nak Rama bisa melupakannya. Padahal dia ingin menyembunyikan rasa sakitnya. Ya Tuhan, Dinda!!!" ucap pak Dedi yang akhirnya faham kenapa Dinda pergi di saat hari pernikahannya.


Yudha yang tak sengaja mendengar berita itu. Pria itu menjadi terharu dan tidak tega dengan kondisi gadis yang baru saja ditabraknya. Gara-gara dia, Dinda menjadi tidak bisa melihat.


"Ini semua gara-gara aku. Gadis itu semakin menderita karena aku. Maafkan aku, Dinda. Aku akan membayarnya, aku akan membuatmu tersenyum dan melupakan rasa sakitmu!" batin pria itu sambil mengusap wajahnya.



...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2