
Setelah Dinda siuman, dokter datang untuk memeriksa kondisi mata Dinda. Tentunya Dinda akan mengalami sedikit perubahan dari kebiasaannya sehari-hari. Karena saat ini dirinya sudah tidak bisa melihat lagi secara normal seperti dulu. Meskipun itu cuma sementara, namun cukup membuat Dinda merasa ada yang kurang nyaman.
"Bagaimana, Dok?" tanya pak Dedi.
"Bapak dan ibu tidak perlu terlalu khawatir, ini akan membutuhkan sedikit waktu untuk menyembuhkan kebutaan pasien. Kami akan melakukan terapi syaraf mata , berdoa saja supaya putri bapak dan ibu bisa segera melihat lagi seperti dulu," terang dokter.
"Terima kasih banyak, Dok! Jadi, apakah sembuh dari kanker juga berpeluang besar untuk Dinda?" sahut Bu Lili penuh harap
"Tentu saja, Bu. Kanker otak stadium 2 masih bisa berpeluang untuk sembuh. Mbak Dinda harus kuat ya! Kita semua akan berusaha untuk menyembunyikan penyakit Mbak Dinda," ucap dokter yang selalu memberikan support kepada pasiennya, meskipun tak bisa dipungkiri Dinda masih shok saat dirinya mengalami kebutaan setelah kecelakaan itu.
Setelah memeriksa Dinda. Dokter pun pamit keluar, kini tinggal pak Dedi dan Bu Lili serta Yudha yang bersama Dinda di dalam.
Sementara itu, pak Dedi memanggil Yudha yang saat itu sedang berada sedikit menjauh dari mereka. Mungkin, Yudha merasa sungkan untuk ikut berbaur dengan mereka karena bagaimanapun juga apa yang terjadi pada Dinda adalah karena dirinya.
"Nah Yudha, kenapa diam di situ saja, ayo kemarilah!" panggil pak Dedi.
"Yudha siapa, Yah?" tanya Dinda.
"Yudha adalah orang yang membawamu ke rumah sakit, Nak! Dia artis terkenal itu loh yang jadi Bang Jacob tukang culik janda-janda muda dan perawan di sinetron Ganteng-ganteng Serigala Berbulu Ketek," sahut Bu Lili yang sekertaris membuat Dinda tertawa jika teringat sinetron itu. Pasalnya pemain Bang Jacob digambarkan sebagai pria dewasa tampang pas-pasan dan gendut serta memiliki tahi lalat di keningnya.
"Astaga, jadi sekarang ada Yudha Permana pemain Bang Jacob si penjahat kelamin itu?" tanya Dinda.
"Iya, tapi dia nggak seburuk di sinetron itu, aslinya dia tampan banget, Din! Masih muda juga," sahut Bu Lili.
"Ohh ...." Dinda melenguh biasa.
"Kok cuma Oh?" sahut Bu Lili.
"Terus, Dinda musti gimana? Bilang wow gitu? Dinda aja nggak bisa lihat lagi. Ini semua gara-gara orang yang sudah nabrak Dinda, Bu! Tuh orang nggak punya mata apa? Dinda udah hati-hati banget nyebrang eh mobil itu tiba-tiba saja datang dengan kecepatan tinggi. Asli Dinda kesel banget sama tuh orang!" umpat Dinda yang seketika membuat pak Dedi dan Bu Lili saling menatap.
"Sebenarnya orang itu adalah ...." sahut pak Dedi yang mencoba menjelaskan kepada putrinya siapa yang sebenarnya sudah menabraknya. Namun, Yudha memberikan isyarat agar pak Dedi tidak mengatakannya kepada Dinda. Jika Dinda tahu pasti gadis itu sangat membenci dirinya. Ia ingin meminta maaf secara pelan-pelan kepada Dinda. Pak Dedi pun mengerti maksud Yudha. Pria itu pun mengizinkan Yudha untuk berbicara dengan sang anak.
"Siapa, Yah? Siapa orang itu?" sahut Dinda yang masih sangat penasaran.
"O-orang itu sudah ditangkap polisi. Jadi, kamu tidak perlu khawatir, dia sudah mendapatkan hukumannya," ucap sang ayah sedikit berbohong, setidaknya ia tidak membuat Dinda marah dan berpikir macam-macam.
"Syukurlah, Dinda lega. Semoga saja orang itu mendapatkan hukuman yang setimpal. Dia tidak tahu bagaimana rasanya tidak bisa melihat," ucap Dinda.
Yudha memperhatikan wajah Dinda yang polos. Untuk sejenak Yudha menatap dan tersenyum. Mungkin saja jika Dinda bisa melihat. Dia bisa menatap bola mata Dinda yang pastinya gadis itu akan semakin manis.
__ADS_1
"Hai Dinda! Kenalkan aku Yudha, biasanya aku akrab dipanggil ibu-ibu dengan Bang Jacob, tahulah!" seru Yudha.
"Oh iya, Yudha Permana itu, kan? Asli sinetronnya bikin ibu saya nggak bisa diem di depan TV. Mencak-mencak terus. Kamu pinter banget meranin karakter Bang Jacob, sebenarnya aku kurang suka sih dengan karakter yang dimainkan. Brengsek banget orangnya," ucap Dinda yang sering mengikuti sinetron Ganteng-ganteng Serigala Berbulu Ketek.
"Iya, nggak apa-apa. Itu selera. Aku sendiri juga gampang-gampang susah memerankan Bang Jacob, nggak sesuai di kehidupan nyataku," sahut Yudha.
"Oh iya memang jadi aktor itu harus totalitas. Salut sama kamu, Mas. Bisa memerankan karakter Bang Jacob yang brengsek itu. Aku berharap di dunia nyata kamu nggak sebrengsek karakter yang kamu mainkan, bertubuh gendut udah gitu mukanya asli nyebelin, mana ada tahi lalat di jidat lagi," sahut Dinda saat teringat tokoh Bang Jacob.
Yudha pun tertawa kecil mendengar ucapan dari Dinda.
"Tentu saja tidak kamu ada-ada saja, seburuk itu kah Bang Jacob di mata para wanita?" sahut Yudha yang tak berhenti tersenyum.
"Gimana nggak gedek, Bang Jacob itu udah jelek, mainin banyak cewek udah gitu PD nya selangit. By the way proud of you, tidak mudah sih mainin karakter seperti Bang Jacob, nggak semua orang bisa," sahut Dinda.
Pak Dedi dan Bu Lili tampaknya senang melihat Yudha bisa membuat Dinda tersenyum. Setidaknya ia tidak bersedih dengan kondisinya yang saat ini buta.
Pak Dedi dan Bu Lili pamit keluar mencari makanan, mereka pun pamit sebentar kepada Dinda dan Yudha.
"Nak Yudha, tolong jaga Dinda sebentar ya! Kami mau beli makanan dulu. Ini si Ibu minta beli nasi, lapar katanya," ucap pak Dedi.
"Nggak usah, Pak. Biar saya belikan. Bapak dan ibu di sini saja!" balas Yudha.
"Baiklah jika seperti itu, saya akan menjaga Dinda di sini!" jawab Yudha yang kembali duduk di kursi di dekat ranjang tidur Dinda.
Setelah pak Dedi dan Bu Lili keluar. Kini, tinggal Yudha yang berada di kamar perawatan Dinda.
"Hmm ngomong-ngomong Mas Yudha nggak ada yang nyari?" tanya Dinda.
"Nyari? Siapa yang nyari?" sahut Yudha yang terus menatap wajah Dinda.
"Ya keluarganya, dari tadi Mas Yudha di sini terus. Nggak bosan nungguin orang sakit seperti saya?" ucap Dinda.
"Bosan? Ngapain bosan? Enggak tuh, aku lebih suka di sini malah. Di rumah males suntuk. Kebetulan hari ini aku libur syuting. Jadi tidak masalah jika aku pulang sewaktu-waktu," jawab pria itu.
"Aku minta maaf jika sudah merepotkan Mas Yudha, terima kasih banyak Mas Yudha sudah mau mengantarku ke rumah sakit. Jika tidak ada Mas Yudha aku nggak tahu apa yang akan terjadi," balas Dinda. Yudha terdiam sejenak, apakah ia harus jujur jika dirinya lah yang sudah menabrak Dinda.
"Din, boleh aku bertanya?" seru Yudha.
"Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?"balas Dinda.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu dengan orang yang nabrak kamu, apa kamu akan memaafkannya?" pertanyaan itu tiba-tiba saja membuat Dinda berubah ekspresi wajahnya. Dinda terlihat kesal dan merasa marah saat Yudha menyinggung tentang penabrak itu.
"Maaf, Mas. Untuk saat ini aku tidak ingin membicarakan orang itu. Setidaknya dia sudah dihukum. Aku hanya ingin fokus pada kesembuhanku, sudah cukup lama aku memendam rasa sakit hingga akhirnya aku harus meninggalkan calon suamiku, dan sekarang dia sudah bahagia bersama adikku. Tidak apa, aku sudah ikhlas. Dia pantas mendapatkan Putri bukan wanita yang berpenyakitan sepertiku, apalagi sekarang aku buta ...."
Mendengar pengakuan dari Dinda. Yudha pun semakin simpati kepada Dinda. Dia mengorbankan cintanya dan mengikhlaskan orang yang paling dicintainya hanya tidak ingin mereka tahu bagaimana penderitaannya selama ini.
"Jangan bilang seperti itu, kamu pasti sembuh. Kamu pasti bisa melihat indahnya dunia, bisa melihat matahari terbit dan tentunya kamu pasti bisa melihat wajah Bang Jacob yang menggemaskan ini, apa kamu tidak penasaran?!"
Seketika Dinda tertawa kecil dan itu tentu saja membuat Yudha semakin betah berlama-lama dengan Dinda.
Namun tiba-tiba saja, ponsel Yudha berdering. Lagi-lagi itu adalah telepon dari Zora, sang tunangan.
Yudha mereject dan tidak ingin berbicara dengan Zora. Namun, Zora terus saja menghubungi nomor Yudha berkali-kali. Tentu saja Dinda yang hanya bisa mendengar merasa jika ada yang berusaha menghubungi Yudha.
"Kok teleponnya nggak diangkat, Mas?" tanya gadis itu.
"Emm ... tidak, bukan siapa-siapa tidak penting," balas Yudha sambil terus melihat ke layar ponsel dimana tertera nama Zora sedang memanggil.
"Angkat saja, Mas. Siapa tahu penting. Lagipula aku tidak apa-apa kok!" sahut Dinda.
Karena Zora tidak pantang menyerah. Terpaksa ia pun mengangkat telepon dari sang tunangan tersebut.
Belum sampai telepon itu menempel di telinga Yudha, suara Zora yang terdengar teriak-teriak terdengar memekakkan telinga. Yudha sedikit menjauhkan telinganya dari ponsel.
"Yudha! Kamu di mana sih? Kenapa belum pulang juga? Aku tidak suka ya kamu seperti ini, kamu pasti sengaja menghindariku. Pokoknya kamu harus pulang titik!!"
Secara tidak sengaja, Dinda mendengar suara teriakan seorang wanita dari balik telepon. Ia pun merasa tidak enak dan menyuruh Yudha untuk pulang.
"Mas Yudha pulang aja, sepertinya dicari-cari sama orang rumah tuh. Aku nggak apa-apa kok, sebentar lagi ayah dan ibu pasti kembali," ucap Dinda.
Yudha yang terlanjur tidak ingin pulang. Ia justru mematikan ponselnya agar Zora tidak menghubunginya lagi.
"Tidak, aku tidak mau pulang. Aku masih ingin di sini," ucap Yudha dengan santai.
"Ta-tapi, Mas. Apa kamu nggak bosan nungguin orang sakit sepertiku?" tanya Dinda.
"Enggak lah, sudah aku bilang aku tidak akan pernah bosan selama aku masih bisa melihat senyummu!" ucap Yudha dengan suara lembutnya. Spontan Dinda tersenyum malu tatkala Yudha berkata demikian.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1