Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Murid yang pintar


__ADS_3

Setelah berhasil membuat istrinya malu-malu. Sang sutradara tiba-tiba memanggil Yudha untuk segera melakukan pengambilan gambar. Ia pun terpaksa mengakhiri teleponnya dengan sang istri.


"Ok , Din. Aku tutup dulu ya! Sampai jumpa nanti malam. Besok aku akan mengantarmu untuk check up ke dokter!" ucap Yudha.


"Iya, Mas."


"Baiklah, kamu istirahat saja. Jika kamu butuh sesuatu kamu bisa minta sama Bi Surti. Oke, satu lagi. Jangan pergi keluar apartemen tanpa seizinku dan jangan buka pintu apartemen sampai aku pulang. Aku juga sudah menyuruh beberapa orang untuk menjaga di luar apartemen. Pokonya kamu jangan pernah buka pintu sebelum aku pulang, faham!" Yudha mewanti-wanti kepada Dinda.


"Iya, Mas. Aku tidak akan kemana-mana. Lagipula emangnya aku bisa pergi ke mana tanpa kedua mataku yang buta ini. Kamu jangan khawatir, aku tidak akan kenapa-kenapa. Nggak usah terlalu berlebihan, Mas!" jawab Dinda yang merasa apa yang dilakukan oleh Yudha terlalu berlebihan.


"Kau tahu kehidupanku dikelilingi oleh banyak media. Aku tidak mau kehadiranmu menjadi sorotan mereka. Nanti kamu akan terganggu dengan mereka. Karena kamu tahu sendiri, dunia hiburan penuh dengan gosip dan fitnah. Aku tidak mau kamu mendengar berita-berita yang tidak jelas atau gosip-gosip tentang diriku," jelas Yudha.


"Iya, Mas. Aku bisa mengerti dan maafkan aku jika aku tidak bisa sempurna menjadi istrimu. Demi menjaga nama baikmu aku akan menyembunyikan siapa diriku dari media. Karena aku juga tidak ingin kehidupan pribadimu menjadi bahan gosip apalagi jika mereka tahu kamu mempunyai istri buta sepertiku. Pasti mereka akan menjadikanmu sebagai bahan berita karena aku tahu popularitas Yudha Permana sangat terkenal. Aku tahu diri kok Mas. Kamu tidak usah khawatir!" ungkap Dinda.


"Bukan begitu, Din. Untuk saat ini ada sesuatu yang belum bisa aku jelaskan padamu. Aku sangat peduli terhadap keselamatanmu. Aku tidak mau orang lain menyakitimu karena kamu adalah tanggung jawabku. Aku sudah berjanji kepada kedua orang tuamu untuk menjagamu!" ucap Yudha sambil menyiapkan dirinya untuk setiap melakukan pengambilan gambar.


"Menjagaku? Hmm aku rasa yang ini bohong. Kamu tidak menjagaku, Mas!" sahut Dinda.


"Kok begitu? Bagaimana bisa?!" sahut Yudha sambil tercengang.


"Iya ... kalaupun kamu menjagaku. Pasti keperawananku masih utuh!" balas Dinda dengan suara pelan.


Sontak, Yudha tertawa kecil. Hingga semua kru dan berada di sekitarnya tampak aneh dengan sikap Yudha. Apalagi sang asisten pribadi yang belum diberi tahu oleh Yudha jika dirinya sudah menikah dengan seorang gadis.


"Loh aku kan tidak memaksamu untuk memberikannya? Kamu sendiri yang menawarkannya padaku. Ya ... daripada mubazir kan sayang!!" ucap Yudha sambil memberikan kode kepada kru untuk berbicara sebentar lagi dengan istrinya.


"Hmmm kamu memang tidak memaksaku. Tapi kamu sangat mengharapkannya, bukan?" ledek Dinda.


"Hehehe iya lah! Bukannya semalam kamu juga sangat suka sampai nggak mau dilepas, hayo ngaku!" seloroh Yudha.


Lagi-lagi Dinda dibuat tersipu malu dan ia pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Ihhh apa sih, Mas. Kamu juga sih. Udah ah aku malu!" sahut Dinda sambil senyum-senyum sendiri.


"Oke oke, aku kerja dulu ya. Tunggu aku pulang. Nanti kita bisa melakukannya lagi. Rasanya semalam masih kurang. Greget rasanya pingin aku gigit saja!"


Dinda lagi-lagi dibuat salah tingkah dan membayangkan apa jadinya jika ia digigit lagi oleh suaminya.

__ADS_1


Setelah berbicara puas dengan sang istri. Yudha segera melakukan shooting sinetron Ganteng-ganteng Serigala Berbulu Ketek.


*


*


*


Di waktu yang sama. Rama yang saat itu sedang sarapan berdua dengan Putri. Ia melihat sang istri yang sedikit murung. Putri makan sambil melamun, seolah dirinya sedang merindukan sesuatu.


"Kamu kenapa melamun? Apa ada kesulitan selama home schooling? Aku rasa kamu lebih konsentrasi jika belajar di rumah," ucap Rama.


"Aku kangen sama teman-teman, Mas. Udah beberapa hari sejak aku harus home schooling. Aku jadi jarang pernah ketemu sama mereka. Rasanya sepi banget belajar tanpa mereka. Maaf mungkin aku terlalu lebay. Aku juga sadar siapa aku sekarang, aku bukan gadis seperti mereka lagi. Sekarang aku tahu tugasku yaitu menjadi istrimu," ucap Putri sambil melanjutkan sarapannya.


Rama melihat istrinya yang sedang berbicara. Ada rasa kesedihan memang. Mungkin karena usia Putri masih terbilang remaja sehingga wanita seusia dirinya masih have fun bersama teman-teman sebayanya.


Tiba-tiba saja terucap dari bibir Rama sebuah pertanyaan yang membuat Putri dibuat tidak percaya.


"Kau ingin sekolah lagi?" tawar Rama sambil menatap wajah sang istri.


"Hah, apa Mas? Sekolah lagi?" jawab Putri seketika.


"Maksud kamu aku bisa sekolah lagi bersama teman-teman?" sahut Putri tak percaya akan kata-kata sang suami.


"Iya benar. Jika kamu bersedia, aku akan mengizinkanmu untuk kembali ke sekolah. Karena yang aku lihat kamu masih sangat merindukan teman-temanmu. Jadi, sebagai seorang suami aku juga tidak mau egois. Kamu bisa kembali ke sekolah!"


Seketika wajah kesedihan Putri berubah menjadi senyum bahagia. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Rama yang saat itu duduk di kursi sambil menikmati sarapannya.


Putri segera duduk di atas pangkuan sang suami sembari menciumi pipinya berkali-kali.


"Muacchhh! Makasih banget, Mas. Jadi aku bisa kembali ke sekolah?" tanya Putri sekali lagi. Rama pun menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun, aku bahagia banget sumpah. Kamu baik banget sih, Mas. Makasih Sayang!" ucap Putri yang begitu bahagia.


"Hmm ... iya. Kira-kira hadiah apa yang harus aku dapatkan setelah aku berhasil merayu kepala sekolah?" tanya Rama dengan senyum smirk.


"Hadiah? Hmm itu sih gampang! Aku bikin kamu merem melek sepanjang malam. Kamu mau gaya apapun aku turuti." Putri berkata dengan suara manjanya.

__ADS_1


"Serius? Gaya apapun?" sahut Rama dengan sumringah.


"Iya tentu saja. Gaya apapun!! Mau gaya tokek nemplok di dinding atau kodok digendong!" Putri berkata sembari mengusap wajah sang suami. Keduanya pun saling tertawa membayangkan gaya seperti apa itu.


Pada akhirnya Rama mendaratkan ciumannya pada bibir sang istri, untuk sejenak mereka menikmati ciuman pagi untuk memulai aktivitas. Biarpun ciuman itu terlihat biasa tapi bagi Rama ciuman dari sang istri selalu membuatnya gerah. Apalagi Putri yang selalu bergerak-gerak manja di atas pangkuannya.


Setelah dirasa cukup. Putri segera bangkit dari pangkuan Rama. Sontak Rama melongo karena tiba-tiba saja sang istri pergi di saat dirinya sedang spaneng dengan sesuatu yang terasa mulai mengganjal.


"Aduhhh!" pekik Rama ketika dirinya berusaha untuk menenangkan si pisang tanduk yang tak sengaja bangun.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Putri bingung.


"Kamu sih!" sahut Rama sambil membenarkan posisi duduknya.


"Aku? Emangnya aku ngapain? Cuma nyium doang!" sahut Putri sambil melanjutkan sarapannya.


"Ya kamu pakai duduk di sini segala! Jadi bangun, kan!"


"Bangun?? Ohhh ... ya ampun aku kira apaan. Dihhh dasar kamunya aja yang mesum!" sahut Putri yang tidak peduli dengan rintihan suaminya.


"Enak saja dibilang mesum. Aku ini sebenarnya sopan dan pria yang dingin. Berhubung sekarang terpengaruh sama murid kamu. Ah ... prediket guru killer ku jadi hancur. Reputasi guru dingin dan introvert hilang sudah, payah!" ucap Rama yang membuat Putri tertawa.


"Tapi aku kan murid yang pintar, Mas!"


"Pintar? Pintar ngeles dan nggak ngerjain PR maksudnya!" sahut Rama.


"Iya, aku memang tidak pintar di pelajaran matematika, tapi aku pintar bikin kamu mengerang keenakan. Bukan begitu, Mas!" seru Putri dengan memainkan kakinya ke arah tengah-tengah celana Rama. Rama melihat ke bawah, kaki sang istri yang sedang menggelitik di bawah sana. Rama pun menangkap kaki indah itu dengan menatap Putri begitu dalam.


Putri tersenyum menggoda sambil duduk santai di kursinya. Spontan Rama beranjak dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Putri.


"Ada apa, Mas? Kamu mau berangkat sekarang?" tanya Putri sambil mendongak menatap wajah sang suami yang masih diam. Rama tidak menjawabnya. Ia justru mengangkat tubuh Putri dan membawanya ke atas sofa.


"Mas, kamu nggak berangkat ke sekolah. Sudah hampir jam tujuh, Mas!" pekik Putri ketika suaminya menatapnya penuh nafsu.


"Aku akan pergi ke sekolah. Tapi setelah mengerjakan tugas negara yang lebih penting!" sahut Rama sambil melepaskan kain penutup berbentuk segitiga itu.


"Mas! Kok dilepas?" pekik Putri saat melihat Rama melemparkan benda lembut itu ke segala arah. Hingga tanpa sadar benda segitiga berbahan Lace itu tepat masuk ke dalam tas kerja Rama.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2