Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Sukses menanam benih


__ADS_3

"Pokoknya aku nggak mau kamu dekat-dekat! Huekk!!"


Putri pun tidak bisa menahan lagi rasa mual yang terasa menyiksa itu. Sementara itu tentunya Rama sangat panik. Dirinya ingin sekali membantu istrinya tapi Putri tidak mau didekati. Akhirnya, Rama mondar-mandir di depan pintu kamar mandi sambil menunggu istrinya keluar.


Setelah dirasa perutnya sudah tidak mual lagi. Putri pun segera mencuci muka dan tampak memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Kenapa perutku tiba-tiba mual. Apa mungkin aku masuk angin. Tapi kenapa pas dekat sama Mas Rama kok perutku tambah mual ya, aneh!" pikir Putri sambil beranjak untuk keluar dari kamar mandi.


Sementara itu, Rama masih berada di luar pintu. Tak berselang lama, Putri pun membuka pintu dan melihat sang suami yang tampak begitu khawatir.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" seru Rama yang langsung mendapatkan penolakan dari Putri.


"No no! Jangan mendekat, Mas!" Putri tampak melambaikan tangan kepada Rama agar suaminya berhenti.


"Ta-tapi kenapa, Sayang?" sahut Rama yang bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba.


"Nggak tahu, Mas. Pokoknya aku nggak mau kamu dekat-dekat lagi. Bau badan kamu bikin aku pusing!" ucap Putri sambil menutupi hidungnya dengan tangan.


Seketika Rama mencium bau badannya sendiri dan ia merasa tidak ada bau aneh bahkan dirinya masih merasa wangi karena mereka baru saja mandi bersama.


"Aku nggak bau loh, Sayang! Kok kamu tiba-tiba kek gini sih!"


"Aku juga nggak tahu, Mas!" sahut Putri yang juga bingung.


"Apa kita perlu periksa ke dokter THT? Barangkali ada gangguan pada hidungmu!" sahut Rama menduga.


"Masa aku terkena THT sih, Mas. Nggak mungkinlah, aku masih bisa mencium aroma masakan kok atau aroma apapun. Tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa pusing pas mencium bau badan kamu. Maafin aku, Mas. Beneran aku nggak bohong!" ucap Putri yang pastinya dirinya juga bingung.


"Kalau kamu gini terus, gimana dengan aku, Sayang? Kamu tega menjauhi suamimu sendiri. Aku kan pingin nempel terus sama kamu." Rama pun tidak terima jika Istrinya harus seperti itu.


"Ya gimana dong, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa. Kok jadi kamu yang marah!" sahut Putri yang akhirnya ia pun terlihat sedih. Rama pun bingung dan tidak tahu harus berkata apa.


Ia pun mencoba untuk menenangkan sang istri agar tidak marah kepadanya. "Aku minta maaf, Sayang!! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu!"

__ADS_1


Entah kenapa pagi itu Putri terlihat lebih sensitif dari biasanya. Apalagi perasaan ingin mual muntah ketika berada di dekat sang suami. Putri pun merajuk dan pergi ke kamarnya.


"Ahhhhh udahlah! Aku mau ke kamar aja. Bete! Kamu nggak ngerti juga!"


Putri segera berlari ke kamarnya dan menutup pintu kamar tesebut dengan sedikit keras. Rama pun memanggil sang istri agar tidak pergi dari hadapannya.


"Put! Putri tunggu, Sayang! Buka pintunya dong! Maafin Mas! Mas nggak bermaksud ngomong gitu, Sayang. Put, ayolah Put. Kalau kamu marah Mas yang merana!" seru Rama sambil mengetuk pintu kamar mereka.


Putri pun tidak menjawab ucapan Rama. Ia justru mengunci pintu kamar dan membiarkan suaminya di luar. Putri tampak merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan ia merasa tubuhnya sangat berbeda seperti biasanya.


"Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku merasa perutku sangat mual. Padahal aku tidak pernah telat makan. Udah gitu mencium bau badan suami kok aku jadi nggak suka sih! Padahal setiap malam aku selalu tidur dalam dekapannya," Putri bergumam dalam hatinya, bingung apa yang terjadi dengan dirinya.


Sementara itu di luar. Tiba-tiba saja mendengar suara dering telepon dan memaksa Rama untuk mengangkatnya. Sejenak Rama menjauhi pintu tersebut dan dirinya segera mengangkat telepon yang rupanya itu adalah dari kedua orang tuanya.


"Ya halo!" Sapa Rama terlebih dahulu.


"Halo, Ram. Ini Ibu,"


"Ibu dan ayah baik-baik saja. Besok kami akan pulang karena keadaan nenekmu sudah membaik. Oh ya bagaimana keadaan kalian berdua? Ibu berharap kamu dan istrimu bisa berdamai dan nggak bertengkar terus," ucap Bu Iin.


"Syukurlah jika ibu segera pulang. Soalnya Rama sedang bingung, Bu!"


"Ada apa, Nak? Kalian berdua baik-baik saja, kan! Ibu berharap kamu tidak macam-macam dengan Putri. Dia itu istrimu, Ram. Dan kamu harus terima jika Dinda bukan jodohmu," ucap Bu Iin yang masih belum tahu bagaimana keadaan anak dan menantunya sekarang. Ia masih beranggapan jika mereka masih bertengkar dan Rama masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya.


Satu bulan lebih, sejak kepergian Bu Iin dan pak Bambang. Mereka masih mengira bahwa putra mereka belum berdamai dengan takdir.


"Bukan begitu, Bu. Ada masalah lain yang membuat Rama pusing!" sahut Rama yang hari ini Ia dipusingkan dengan sikap istrinya yang tiba-tiba aneh.


"Ada apa, Ram? Apa Putri membuat masalah di rumah? Ya kamu harus sabar dong, Nak. Namanya juga masih remaja. Kamu harus bisa ngemong dia,"


"Astaga, Bu. Bukan itu juga!" Rama masih mengelak sangkaan sang ibu.


"Terus apa?" Bu Iin pun ikut bingung. Karena yang ia ketahui jika putra dan menantunya selalu bertengkar.

__ADS_1


"Tadi, nggak tahu kenapa Putri tiba-tiba mual, Bu. Dan dia nggak mau dekat sama Rama. Katanya kalau mencium bau badan Rama. Dia pasti pusing dan merasa mual. Kira-kira Putri sakit apa ya, Bu? Rama bingung."


Mendengar pengakuan putranya dari telepon. Bu Iin pun mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi pada menantunya.


"Putri mual dan muntah?"


"Iya, Bu. Dan sekarang dia nggak mau Rama dekati. Aneh kan, Bu!"


"Mungkin saja istrimu sedang masuk angin. Eh kamu jangan bikin mantu ibu sakit loh ya! Awas saja kamu!"


"Ya nggak mungkinlah, Bu. Ngapain juga Rama membuat dia sakit, Rama cuma heran saja, Bu. Kemarin-kemarin dia nggak seperti itu tapi pagi ini tiba-tiba dia muntah,"


Mendengar ucapan dari anaknya. Seketika Bu Iin terkejut dan melototkan matanya. Apa jangan-jangan dugaannya benar tentang apa yang terjadi kepada sang menantu. Namun, tidak mungkin jika itu akan terjadi kepada menantunya mengingat Rama dan Putri seperti anjing dan kucing yang selalu saja bertengkar dan ribut.


"Hmm kalau ibu menduga sih jika Putri itu sedang hamil, karena dia tiba-tiba pusing dan mual, apalagi saat mencium bau badan kamu. Dari pengalaman ibu sih itu yang dinamakan morning sickness bagi ibu-ibu yang sedang hamil muda. Ah tapi nggak mungkinlah Putri hamil. Orang kalian berdua bertengkar melulu!"


Spontan, Rama terkejut dan melongo ketika sang ibu berkata demikian.


"Hamil? Ibu yakin seperti itu?"


"Ya, ibu sih cuma menebak saja. Tapi ya nggak mungkinlah. Emangnya kamu bisa menghamili Putri?" sahut Bu Iin yang masih belum percaya jika Putri hamil. Karena saat mereka tinggalkan, Rama dan Putri tidak pernah akrab dan selalu berselisih.


"Putri hamil! Yess!" Rama pun dengan bahagianya berkata seperti itu sehingga membuat Bu Iin mengerutkan keningnya.


"Heh Ram! Kamu kenapa?" tanya Bu Iin penasaran.


"Rama bahagia sekali, Bu. Jika itu memang benar, maka ibu akan segera punya cucu!"


"Hah! Ibu akan memiliki cucu? Yang bener kamu, Ram? Tapi bagaimana bisa! Hooh ya ampun ternyata kepergian ibu dan ayah memberikan dampak positif ya! Akhirnya kalian berdua akur juga di atas tempat tidur. Gitu kok dari dulu pakai acara nolak segala. Dasar!" Bu Iin pun sangat bersyukur jika anak dan menantunya bisa berdamai dan akhirnya menjalankan tugas dan kewajiban mereka.


Rama tertawa mendengar ucapan ibunya yang sedang menyindirnya. Karena kenyataannya memang ia tidak pernah absen untuk membajak sawah di rahim sang istri. Jika itu memang benar Putri sedang hamil, itu artinya Rama sukses menanam benih yang setiap hari ia tabur dan ia semaikan.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2