Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Berusaha semaksimal mungkin


__ADS_3

"Udah ah Mas, simpan lagi tuh di tas kamu. Nanti ada guru lain yang lihat gimana? Malu!" ujar Putri.


"Nggak mau. Mumpung sepi biarkan aku menciumnya terus, bikin aku kangen aja!" balas Rama dengan senyum nakalnya.


"Huuh kangen-kangen, udah ya Mas aku mau ganti baju dulu, nanti Bu Lina keburu datang, nggak enak kan beliau nunggu terlalu lama." Rupanya Putri hendak mematikan ponselnya namun Rama menolaknya.


"Eh jangan dimatikan dong, biarkan saja tetap nyala. Kalau kamu mau ganti baju, ya sudah ganti baju saja," seru Rama sambil menopang dagunya dengan tangan.


"Masa aku ganti baju live streaming sih, Mas. Nanti ada yang lihat," ucap Putri khawatir.


"Nggak ada, emang siapa yang lihat, tuh tembok di belakang!" tunjuk Rama pada dinding di belakangnya. Karena Putri percaya dengan ucapan suaminya. Ia pun menuruti permintaan sang suami untuk berganti pakaian di depannya.


"Ya sudah, aku ganti sekarang. Tapi awas jangan ngeces!" seru Putri mewanti-wanti.


"Enggak lah palingan cuma kenceng doang!" jawab Rama spontan.


"Hah! Apanya yang kenceng?" sahut Putri yang hampir saja membuka handuk yang menutupi tubuhnya.


"Udah nggak usah banyak tanya. Kalau ganti baju cepetan keburu ada guru datang!"


"Iya iya!"


Putri pun mulai melepas handuknya. Tentu saja pemandangan nan mulus itu begitu nyata di depan kamera. Rama hanya terdiam memperhatikan sang istri yang sedang telanjang bulat di depannya.


"Sempurna!" puji pria itu ketika melihat bentuk tubuh istrinya yang tak mempunyai cacat sedikitpun. Buah dada padat, pantat berisi, pinggul besar dan pinggang yang langsing. Ditambah lagi kulit putih bersih dari atas hingga bawah. Rambut panjang hitam sehitam rambut bawah. Namun, Putri selalu merapikannya dan sering mencukurnya, setidaknya tidak terlalu rimbun karena itu akan merusak keindahan lembah favorit sang suami. Tapi kali ini Putri mencukurnya habis sehingga tempat itu terlihat begitu bersih dan sangat imut.


Putri berdiri tepat menghadap kamera sehingga terlihat begitu jelas padang sabana yang terhampar nyata. Rama terlihat tenang namun si pisang tanduknya yang tidak tenang. Mendesak-desak di bawah sana seolah ingin sekali mendekap Putri.


"Tenang Boy! Sekarang masih waktunya mengajar. Sabar! Nanti pasti dapat jatah. Oh Tuhan sungguh makhluk cantik ini benar-benar menguji keimananku. Hmm tambah tembem aja, mulus. Pasti istriku baru mencukurnya!" batin Rama sambil menelan ludahnya susah-susah.


"Sayang!" seru Rama dengan mata yang tidak berkedip.

__ADS_1


"Hmm!" sahut Putri.


"Kamu habis cukuran?"


"Iya, udah bersih kan, Mas? Licin kayak si gundul punyamu," ucap Putri sambil memasang celana dalaamnya.


"Aaarrrgggghhhh kenapa waktu lama sekali berputar, masih jam sepuluh aja!" umpat Rama ketika melihat arloji di tangannya.


"Lama gimana, Mas? Emang sekarang masih jam sepuluh kok. Emangnya kamu mau kemana?" tanya Putri sambil memasang bh miliknya.


"Mau pulang!" jawabnya spontan.


"Astaga Mas, nanti juga pulang kok jika sudah waktunya pulang, sabar dong!"


Putri pun mulai memakai bajunya satu persatu di hadapan kamera.


"Nggak sabar pingin caplok kamu,"


"Ihh apaan main caplok-caplok!"


"Astaga, pak Rama setelah nikah kok makin gila ya! Senyum-senyum sendiri. Mana nggak ada siapa-siapa di ruangan ini," batin pak Imam sembari tertawa kecil.


Akhirnya, Pak Imam pun berdehem dan membuat Rama terkejut setengah mati. Rama pun panik dan memasukkan CD itu langsung ke dalam tas.


"Eh pak Imam. Maaf tadi saya tidak lihat," tutur Rama sambil berdiri dan mengangguk.


Pak Imam pun tersenyum dan duduk di kursi yang berdekatan dengan Rama.


"Pak Rama kelihatan bahagia banget hari ini. Tumbenan, apa Putri yang udah bikin Bapak seperti ini! Jangan bilang jika siswi satu itu membuat pak Rama pusing setengah mati!" ucap pak Imam menggoda Rama.


Pak Imam adalah guru yang mengajar matematika kelas 11. Mereka berdua sama-sama guru matematika. Tapi pak Imam bukanlah guru killer seperti Rama. Pak Imam cenderung memiliki sifat lucu dan suka tertawa.

__ADS_1


Rama tertawa kecil ketika pak Imam berkata demikian.


"Pak Imam bisa saja," jawab Rama dengan tersenyum malu.


Pak Imam mulai duduk di kursinya, sementara itu di seberang telepon Putri merasa jika Bu Lina sudah datang, ia pun mengakhiri video call nya dengan sang suami.


"Udah ya Mas, Bu Lina sepertinya sudah datang. Aku mau buka pintunya dulu," seru Putri ketika ia mendengar suara bel pintu berbunyi.


"Iya, sampai bertemu nanti. I love you!" sahut Rama sebelum mereka memutuskan sambungan video call mereka.


"Love you too, bye bye Mas Rama pak guru killer ku yang tampan muacchhh!"


Pak Imam mendengar suara Putri tampak ikut tersenyum kecil. Benar-benar pasangan suami istri yang saling mencintai. Padahal jika diingat saat mereka masih berstatus sebagai guru dan murid. Rama dan Putri tidak pernah akur sedikitpun. Sikap keras kepala Putri dan sikap tegas Rama seolah menjadi perang ketiga setiap hari.


Rama memasukkan ponselnya ke dalam saku dan kembali berbincang dengan Pak Imam.


"Pak Rama sangat mencintai Putri rupanya, kelihatan sekali dari wajah pak Rama yang berseri-seri setelah menikah dengan Putri. Semoga samawa ya Pak dan cepat dikaruniai momongan," ucap pak Imam yang tentunya membuat Rama tersenyum sumringah.


"Aamiin, terima kasih banyak, Pak. Kami berdua sudah berusaha semaksimal mungkin. Jika Yang Maha kuasa memberikan kami rejeki anak ya kita tidak bisa menolaknya," ungkap Rama.


Mendengar pengakuan dari Rama pak Imam pun semakin semangat untuk menggoda rekan kerjanya itu.


"Waaahhhh tidak bisa diragukan lagi pasti pak Rama berusaha setiap hari, mudah-mudahan cepat jadi, Pak. Saya selalu mendoakannya," sahut pak Imam sembari tertawa senang. Keduanya pun tertawa dan obrolan itu terlihat begitu santai dan mengasyikkan.


"Iya begitulah, Pak. Tapi, istri saya minta kembali ke sekolah dan kepala sekolah sudah menyetujuinya. Jika Putri hamil sekarang apa tidak terlalu cepat, Pak? Takutnya nanti perutnya kelihatan besar saat sekolah," seru Rama membayangkan apa yang jika Putri benar-benar hamil saat masih bersekolah.


"Kalau menurut saya sih nggak apa-apa lah Pak. Kelas 12 juga udah mau lulus. Paling kurang 4 bulan lagi mereka kelulusan," ungkap pak Imam.


"Bener juga ya, Pak. Tapi untuk saat ini saya ingin Putri fokus dulu pada sekolahnya. Jika dia hamil bisa-bisa dia kurang fokus belajar,"


"Pak Rama benar. Apalagi sebentar lagi sekolah akan mengadakan camping bersama di daerah pegunungan. Kegiatan itu diadakan bukan hanya sekedar rekreasi tapi juga bagian dari pelajaran biologi, semua siswa akan diikut sertakan. Jika Putri hamil maka dia tidak akan bisa mengikutinya karena kegiatan di sana benar-benar ekstrim," ungkap pak Imam selaku wakil kepala sekolah.

__ADS_1


Rama pun menganggukkan kepalanya dan berharap sang istri bisa mengikuti kegiatan tersebut yang akan diadakan sebulan lagi.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2