
"Yudha! Aku sedang bicara sama kamu! Aku tidak terima dengan semua ini. Aku tidak mau putus!" teriak Zora sembari terus mengikuti Yudha pergi. Sedangkan Yudha tetap tidak menghiraukan Zora.
Yudha yang merasa terganggu meminta kepada asistennya untuk menghalangi Zora untuk mengikutinya.
Sang asisten yang bernama Eko, menghalangi Zora untuk tidak menganggu Bosnya.
"Maaf ya Mbak Zora! Sepertinya Mas Yudha nggak bisa diganggu. Dia sedang sibuk, lebih baik Mbak Zora tunggu saja di sana sampai syuting Mas Yudha selesai," ucap Eko sambil menghentikan langkah gadis itu.
"Heh! Siapa kamu berani sekali menyuruh-nyuruh aku!" bentak Zora dengan melototkan matanya.
"Eh iya saya tahu siapa Mbak Zora. Tapi, Mas Yudha nya kan nggak mau bicara sama Mbak, kok maksa sih! Lagipula Mas Yudha itu sedang kerja. Jangan diganggu dulu, bicara nanti saja kan bisa, Mbiakk!!" seru Eko dengan tegas. Pria yang berpenampilan unik itu mulai kesal dengan sikap keras kepala Zora.
Zora tidak menjawabnya. Karena kesal tidak dipedulikan oleh Yudha. Akhirnya, ia pergi meninggalkan lokasi syuting tersebut.
"Aku tidak akan biarkan kamu tinggalin aku, Yud! Nggak bisa!" ucap Zora sambil masuk ke dalam mobilnya.
Sementara itu, Yudha melihat kepergian Zora dengan mobilnya. Akhirnya ia bisa bernafas dengan lega karena Zora sudah pergi dari lokasi syutingnya.
"Syukurlah, akhirnya dia pergi juga. Bikin nggak mood aja!" seru Yudha sambil duduk di kursi dan sedang di-make up. Kemudian sang asisten datang menghampiri Yudha dan berkata. "Udah pergi si Zora nya. Kayaknya dia kesel banget deh! Eh kamu ada masalah sama dia?" tanya Eko, sang asisten rasa sahabat.
"Kita bubar!" sahut Yudha dengan santai.
"Wow bubar? Kamu yakin, Bro? Kesempatan di depan mata bakal hilang begitu saja loh. Kamu sia-siakan kesempatan untuk menjadi super star! Papanya Zora itu orang penting, Bro! Banyak yang ingin berkesempatan untuk menjadi pacar Zora. Kamunya malah pergi, gimana sih!" seru Eko menyayangkan.
"Ya nggak gimana-gimana. Akunya yang malas. Lebih baik jadi artis biasa saja daripada harus jadi budak wanita itu. Ogah!" sahut Yudha.
__ADS_1
"What! Budak?!" seru Eko saking terkejutnya.
"Sudahlah, aku tidak mau membicarakan dia lagi. Tolong ambilkan aku handphone!" titah Yudha kepada asistennya itu.
Eko segera mengambilkan ponsel Yudha. Setelah itu memberikan nya kepada Yudha. Lima menit sebelum ia melakukan shooting Yudha ingin menghubungi Dinda di apartemennya.
Yudha segera menghubungi nomor apartemennya untuk berbicara dengan sang istri. Kebetulan saat itu Bi Surti yang mengangkat teleponnya.
"Halo!" sapa Bi Surti.
"Bi Surti, bagaimana keadaan Dinda? Apa dia sudah bangun?" tanya Yudha.
"Sudah, Pak. Bu Dinda sudah bangun dan sekarang sudah mandi. Udah cantik, eh pinter banget Pak Yudha cari istri. Cantik banget Bu Dinda nya!" seru Bi Surti dengan bahagia.
"Emm ... awalnya kesakitan, Pak. Bibi bantu tuntun dia sampai ke kamar mandi. Kasihan sekali sebenarnya saya. Bu Dinda tampak menahan betul rasa sakitnya. Kayanya pak Yudha terlalu bersemangat. Jadi Bu Dinda seperti itu!" ungkap Bi Surti sambil tersenyum malu-malu.
Yudha terkekeh mendengar ucapan Bi Surti. Memang benar, semalam dirinya memang sangat bergairah. Mungkin lebih dari dua kali ia naik-naik ke puncak gunung sehingga membuatnya sedikit kelelahan.
"Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja, kan? Apa Dinda masih merasa kesakitan?" tanya Yudha yang masih khawatir.
"Jangan khawatir, Pak. Sepertinya Bu Dinda butuh waktu untuk menenangkan diri setelah pengalaman pertama bersama pak Yudha!" ucap Bi Surti dalam telepon.
"Syukurlah! Sekarang, tolong berikan telepon ini padanya! Aku ingin bicara!" titah Yudha.
"Baiklah, Pak!" Bi Surti datang menghampiri Dinda dan memberikan telepon itu kepadanya.
__ADS_1
"Ada telepon dari Pak Yudha, Bu!"
"Mas Yudha??" seketika Dinda terkejut dan terlihat salah tingkah. Ia pun berusaha untuk bersikap tenang saat berbicara kepada sang suami.
Dinda mulai mendekatkan telepon itu pada telinga. Kemudian dengan suaranya yang lembut. Dinda mulai berbicara kepada sang suami.
"Halo, Mas!" sapa Dinda.
"Hai, selamat pagi Nyonya Yudha!" ucap Yudha sambil menggoda sang istri.
"Ada apa, Mas? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Dinda mengira-ngira.
"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar suara istriku pagi ini. Maaf, tadi pagi aku tidak pamitan sama kamu. Aku lihat kamu masih terlelap. Jadi, aku tidak mau mengganggumu. Karena kamu terlihat begitu kelelahan!" ucap Yudha sambil senyum-senyum.
"Emm ... iya Mas. Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena aku tidak bisa menyiapkan keperluanmu sebelum berangkat kerja!" balas Dinda.
"Nggak usah minta maaf. Aku tidak pernah memintamu untuk menyiapkan segala keperluan ku. Kamu harus banyak istirahat!" ucap Yudha yang masih betah menggoda istrinya.
"Tapi itu kewajibanku, Mas!" sahut Dinda.
"Kewajibanmu? Hmm kewajibanmu cuma satu yaitu temani aku tidur setiap hari. Itu saja, aku tidak minta yang aneh-aneh. Temani aku selalu, Sayang!"
Seketika Dinda tersipu malu saat mendengar ucapan Suaminya.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1