
Di saat Rama berbahagia karena dugaan sang istri yang sedang hamil. Hal romantis lainnya terjadi pada pasangan Yudha dan Dinda.
"Udah cepetan masuk! Katanya pingin pipis," Dinda mendorong tubuh suaminya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi. Astro Yudha berada di dalam. Dinda pun menunggunya di luar.
Pada akhirnya Yudha bisa buang air kecil setelah cukup lama ia menahan buang air dari subuh. Di dalam kamar mandi rupanya Yudha tergoda untuk mandi karena air dari kamar mandi tersebut terasa sejuk dan menyegarkan.
Dari dalam Yudha berteriak kepada istrinya. "Din, kamu tunggu di situ dulu ya. Mas mau mandi sebentar. Airnya seger banget, Din!"
"Ya ampun, ditungguin lama malah mandi. Ya udah cepetan jangan lama-lama, aku udah lapar, Mas. Belum sarapan!" sahut Dinda dari luar.
"Iya!" sahut Yudha. Pria itu pun mandi dengan senang. Suasana pedesaan yang asri membuat air terasa sejuk. Di saat Dinda menunggu suaminya sambil duduk di bawah pohon. Tiba-tiba saja Yudha berteriak kepada Dinda.
"Din, tolong bisa ambilkan handuk, nggak!" seru Yudha sambil mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.
Dinda terkejut saat kepala suaminya menyembul tiba-tiba. "Iya bentar!" jawabnya sembari beranjak pergi. Ia pun segera mengambil handuk ke dalam rumah. Sementara itu Yudha masih di dalam kamar mandi sambil menunggu sang istri datang.
Setelah itu beberapa menit. Dinda akhirnya datang dengan membawa sebuah handuk untuk suaminya. Ia pun berkata di depan pintu. "Ini handuknya, Mas!"
Mendengar suara sang istri yang sudah berada di luar. Yudha pun memiliki sebuah rencana untuk menggoda istrinya. Ia pun berpura-pura digigit serangga sehingga Yudha tampak kesakitan.
"Awwwwww aduhhh!"
Mendengar suara Yudha yang sedang kesakitan. Dinda pun langsung mengetuk pintu. "Kamu kenapa, Mas. Mas!!" seru Dinda yang tampak panik.
"Ada serangga menggigitku. Aduhhh rasanya panas, Din!" rintih Yudha dengan aktingnya yang sudah tidak diragukan lagi. Ia adalah seorang aktor, akan sangat mudah baginya untuk berakting seperti itu.
"Serangga menggigitmu! Ya udah usir serangganya, Mas! Gitu aja pakai teriak segala!" ucap Dinda yang masih terlihat cuek.
"Iya tapi masalahnya, serangganya gigit di tempat terlarang, Din! Tolong bantuin aku, Din! Rasanya perih dan panas arrrggghh!"
Dinda membulatkan matanya dan Ia pun panik sekaligus gengsi. Karena dirinya masih marahan dengan sang suami. Namun, ia tidak tega mendengar rintihan suaminya dari dalam.
"Aduhhh, panas Din!"
Tak tega mendengar rintihan suaminya. Dinda pun terpaksa masuk ke dalam kamar mandi dan melihat keadaan suaminya.
Saat itu Yudha sedang mendekap bagian terlarang miliknya dengan tangan. Sambil berekspresi kesakitan. Dinda langsung menghampiri suaminya dan melihat kondisi tempat yang sudah digigit serangga.
Dengan sedikit salah tingkah. Dinda memberanikan diri untuk mendekati suaminya yang masih menutupi burung hantunya.
"Coba aku lihat! Aku akan memeriksanya!" seru Dinda dengan perasaan yang dag dig dug. Yudha pun tersenyum smirk dan perlahan membuka kedua telapak tangannya.
Perlahan, Dinda mulai melihat sebuah pemandangan yang teramat menggiurkan yang belum dilihatnya seumur hidup. Nafas Dinda mulai sesak ketika ia melihat benda itu tiba-tiba berdiri seolah ingin berkenalan dengan dirinya.
__ADS_1
"Oh My God! Ternyata seperti itu bentuknya! Ahhhhh ya ampun, besar dan panjang!" batin Dinda yang mulai kemana-mana.
"Ma-mana yang gatal?" Dinda memberanikan diri menyentuh benda panjang itu dengan tubuh yang mulai gemetaran. Yudha pun diam dan memperhatikan wajah istrinya yang terlihat salah tingkah.
"Ada di situ, Din! Coba periksa lebih teliti. Kamu pasti akan menemukannya!" ucap Yudha sambil terus berdiri memperhatikan sang istri yang sedang memeriksa pisang tanduknya.
Setelah Dinda memeriksa seluruh keliling benda panjang bulat itu. Nyatanya ia tidak menemukan apapun di sana. Dinda pun kembali menjauhkan dirinya dari sang suami yang saat itu masih dalam keadaan full naked.
"Tidak ada yang serius dan aku tidak melihat ada gigitan serangga di sana. Pasti kamu sedang mengerjaiku kan, Mas!" ucap Dinda menebak.
Yudha tidak menjawabnya karena nyatanya Yudha memang sengaja memancing istrinya agar mau masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
Dinda pun memberikan handuk itu kepada Yudha setelahnya ia segera pergi. Namun, tidak semudah itu Dinda bisa pergi. Dengan cepat Yudha menyiram tubuh Dinda dengan air sehingga membuat pakaian yang dikenakan oleh Dinda menjadi basah.
Sontak Dinda membalikkan badannya ke arah sang suami dan ia pun terlihat kesal. "Mas, apa-apaan sih kamu! Lihat nih, jadi basah, kan!" ucapnya sambil melihat bajunya yang sudah basah.
Dengan santainya Yudha pun menjawab. "Ya udah, kamu mandi aja sekalian!"
"Hah! Mandi di sini sama kamu! Ogah!" sahut Dinda sambil memalingkan wajahnya.
"Daripada kamu basah gitu."
"Ya ini gara-gara kamu juga. Main basahin bajuku aja!"
"Mas Yudha hentikan!" teriak Dinda sambil berjalan ke arah Yudha yang masih menyiraminya tubuhnya dengan air.
Dinda tampak mengehentikan aksi sang suami dengan menahan tangan Yudha agar berhenti menyiraminya. Namun, Yudha berusaha untuk menahan sendiri tangan sang istri sehingga memaksa Dinda berada begitu dekat dengan suaminya. Bahkan tubuh mereka saling menempel satu dengan yang lainnya.
Keduanya saling menatap dan Dinda merasa ada getaran-getaran halus yang mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Seolah getaran itu membakar jiwanya yang sedang bergelora.
Yudha mengusap wajah istrinya yang saat itu sedang basah oleh air. Entah kenapa Dinda tidak bisa menolaknya. Ada kerinduan yang tersimpan dari balik tatapan matanya.
"Kamu basah, Sayang! Sebaiknya lepaskan bajumu dan ... mandilah! Aku yang akan memandikanmu!" ucap Yudha dengan suara paraunya.
"Apa, kamu yang memandikan aku. Tidak usah, aku bisa mandi sendiri. Tidak usah cari-cari kesempatan untuk mendekatiku, Mas!" jawab Dinda menolak.
"Oh ya! Bisakah kau menolakku. Aku rasa kamu tidak akan pernah bisa ....!"
Suara Yudha berhenti sampai di situ. Karena nyatanya Yudha sedang sibuk melepaskan pakaian istrinya satu persatu.
"Jangan, Mas!" rintih Dinda sambil berusaha untuk menahan tangan Yudha yang sedang melepaskan pakaiannya. Karena tak ingin Dinda berkata macam-macam. Yudha pun membungkam bibir istrinya dengan sebuah ciuman mesra.
"Mmmppphhttt!"
__ADS_1
Luluh sudah apa yang Dinda tolak. Kedua tangannya kini berada pada pundak sang suami dengan membiarkan Yudha untuk melepaskan pakaiannya tanpa terkecuali.
"Aku tahu jika kamu sangat merindukanku, Sayang!"
"Ahhhhh, Mas!"
TiiiiiiiĆiiitttttttttttttt
Sementara itu di luar. Pak Dedi dan Bu Lili menunggu kedatangan anak dan menantunya yang tak kunjung kembali dari kamar mandi. Bu Lili pun bertanya kepada sang suami.
"Yah, coba lihat Dinda dan Nak Yudha. Dari tadi mereka nggak balik-balik juga. Dari kita sarapan sampai selesai mereka nggak balik-balik. Mungkin mereka sedang bertengkar lagi, ibu jadi khawatir!"
Mendengar ucapan dari sang istri, pak Dedi pun segera memeriksa belakang rumah di mana kamar mandi mereka berada di sana.
"Biar ayah yang periksa. Ibu tunggu di sini!" sahut pak Dedi sembari pergi ke belakang rumah.
"Iya, Yah!" Balas Bu Lili sambil merapikan gelas dan piring ke dapur.
Pak Dedi berjalan menuju ke arah kamar mandi. Dari kejauhan pria itu melihat dua sandal jepit yang masih berada di depan pintu kamar mandi. Itu artinya anak dan menantunya masih berada di dalam. Tentu saja pak Dedi tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Apalagi terdengar teriakan kecil Dinda yang samar terdengar.
"Syukurlah kalau mereka sudah akur. Alhamdulillah, calon cucuku otw jadi!" ucap pak Dedi penuh syukur sambil kembali masuk ke dalam rumah.
Bu Lili melihat suaminya yang tampak senyum-senyum sendiri. Tentu saja wanita itu curiga.
"Gimana, Yah? Sudah melihat mereka? Mereka kenapa belum kembali juga?" tanya Bu Lili penasaran.
"Bu, sudah biarkan mereka. Mereka tidak akan bertengkar. Dinda dan menantu kita sedang sibuk membuatkan cucu untuk kita!"
Rupanya jawaban pak Dedi tentu saja membuat Bu Lili ikut senang.
"Hah, ayah serius! Alhamdulillah. Ibu ikut senang, akhirnya mereka bisa akur lagi,"
"Iya, Bu."
Keduanya sangat bahagia Dinda dan suaminya bersatu lagi. Hingga akhirnya terdengar suara pintu diketuk. Pak Dedi pun segera membuka pintu depan.
Alangkah baiknya saat pak Dedi melihat beberapa tetangga datang ke rumah mereka.
"Ada apa ini bapak-bapak dan ibu-ibu datang ke rumah saya?" tanya pak Dedi bingung.
"Maaf, Pak. Kami baru saja mendapatkan laporan dari warga jika ada laki-laki asing sedang bertamu ke rumah pak Dedi dan warga curiga jika pria itu adalah pacar Mbak Dinda. Kami tidak mau kampung kita ini dicemari oleh pergaulan bebas yang dibawa oleh Mbak Dinda ke kampung kita ini. Jadi, kami minta supaya pria itu diusir dari tempat ini!" ucap ketua RT yang sudah dipengaruhi oleh Bu Rojak dan Bu Mail.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1