
Waktu yang tepat untuk Wiro dan kawan-kawan untuk bertukar jawaban, disaat Rama masih sibuk menikmati harum tubuh sang istri. Seolah bayangan Putri terlihat jelas di matanya.
"Woi lihat jawaban nomor 2 dong!"
"Cepat-cepat tulis sebelum pak Rama sadar, anjay!"
"Wo iya tuh, pak Rama sedang mimpiin Putri anjrit! Aje gile si Putri beneran da ah udah bikin pak Rama ter-Putri-Putri,"
"Guru killer akhirnya ada pawangnya, Guys. Coba setiap hari gini kan enak bisa contekan terus!"
"Ssssttt jangan bicara Mulu dodol! Bau jigong mulutmu pea!"
"Eh busyet judes amat, haaahhh noh harum, kan! Udah pakai odol satu wadah nih!"
"Astaga! Bau jengkol anjrit. Minggir-minggir!"
"Eh eh jangan desak-desakan woi, nggak bisa nafas nih, gila!"
"Ehh eh jangan himpit badanku dong, anjay bau keringat anjrit! Makan bangkai ya, bau banget keteknya,"
"Eh eh mules anjay!"
Di saat mereka sibuk mencontek. Tiba-tiba saja salah satu dari mereka membuang gas sembarangan dan membuat semuanya bubar.
Tiba-tiba saja bau gas itu mulai menyebar ke seluruh ruangan kelas. Membuat semuanya bubar ingin muntah.
"Eh bau apaan nih!" seru Nanang sambil mengipasi hidungnya.
"Eh sialan siapa nih yang kentut? Gila bau bangkai!" sahut Paidi juga ikut menutup hidungnya.
"Pasti Wiro nih?" sahut Ririn menunjuk Wiro.
"Enak aja, bukan. Pitnah klean!" sahut Wiro tak terima.
"Siapa dong, anjrit baunya cuuuuuukkkk!" sambung Nanang yang seolah mau muntah.
Para siswa itu menjadi gempar karena bau kentut dari salah seorang diantara mereka. Tentu saja suara berisik murid-murid Rama seketika membuat Rama tersadar. Ia membuka matanya dan melihat murid-muridnya tidak duduk di bangku masing-masing.
Spontan Rama berdiri dan mengeluarkan suara khasnya yang hampir sama dengan suara gledek yang membuat telinga murid-muridnya tuli.
"Siapa yang suruh kalian berdiri!"
Suara itu tiba-tiba membuat para siswa terdiam dan langsung duduk di bangku masing-masing.
"Gawat-gawat macannya kebangunan, Guys!"
"Kamu sih berisik mulu!"
"Bukan aku aja. Noh anak-anak lain juga berisik!"
__ADS_1
"Gara-gara si tukang kentut nih! Sialan, siapa sih yang sebenarnya kentut?"
"Mene keketehek!"
Rama berjalan menuju ke depan kelas dengan masih menggenggam benda keramat itu. Ia pun memarahi para siswanya yang sudah berani melanggar aturan saat ulangan.
"Berani sekali kalian mencontek! Kalian tahu apa hukumannya jika ada siswa yang mencontek? Bapak tidak segan-segan akan menghukum kalian dengan berdiri di bawah tiang bendera," terang Rama dengan wajah super killer.
Semuanya terdiam dan menundukkan wajahnya. Rama melihat murid-muridnya tampak sedang menutupi hidung mereka karena mereka masih mencium aroma gas dari salah satu temannya.
"Eh kenapa tuh hidung pakai ditutup segala?" tanya Rama sambil menunjuk ke arah Wiro yang begitu rapat menutupi hidungnya.
"Bau, Pak!" ucapnya yang diiringi anggukan teman-temannya.
"Bau? Bau apaan?" tanya Rama penasaran.
"Ada yang kentut, Pak!" sahut Paidi sambil memperhatikan teman-temannya.
Sejenak, Rama mengerutkan keningnya dan memperhatikan semua ekspresi murid-muridnya. Sejurus kemudian ia menemukan salah satu muridnya yang bernama Bimo sedang menahan sesuatu sehingga membuat wajahnya memerah dan berkeringat.
Rama pun memanggil Bimo dan bertanya. "Bimo! Kamu kenapa? Kamu sakit?"
Spontan Bimo tersenyum paksa dan menggelengkan kepalanya. "Ti-tidak Pak!" jawabnya gugup.
"Terus? Kenapa kamu seperti itu?" Rama curiga jika Bimo sedang menahan sesuatu. Pasalnya ia adalah salah satu siswanya yang berbadan gemuk diantara muridnya yang lain.
Benar saja, ternyata Bimo sedang menahan ingin buang air besar karena dirinya terlalu banyak makan sambal.
"Aduh aduh saya permisi, Pak! Perut saya sakit banget aduh duh duh!!"
'Preeeettttttt'
Suara klakson pantat Bimo terdengar begitu nyaring dan membuat semua teman-temannya menutup hidung secara bersamaan.
"Wuuuuhhh dasar Bimo. Ternyata kamu biang keroknya, anjrit! Bau banget!" sahut Wiro sambil menutup hidungnya karena aroma khas itu sungguh membuat seluruh kelas gempar.
Namun, tidak demikian dengan Rama. Ia justru tetap santai dengan menghirup aroma dari benda yang ia genggam. Yakni benda milik istrinya.
Tentu saja murid-murid Rama saling menatap dan melihat keanehan pada guru mereka.
"Eh Pak Rama kok nggak bau ya? Padahal baunya tajam banget tuh kentut si Bimo," bisik Wiro pada teman-temannya.
"Nggak tahu tuh! Mungkin pak Rama pilek kali!"
"Atau mungkin hidungnya ketutup upil kali yak!" sahut Paidi yang seketika membuat teman-temannya tertawa.
"Sialan! Dasar Paidi pea!" celetuk Nanang.
"Iye kan! Coba kalian pikir. Kita hampir mampus mencium bau bangkai. Eh Pak Rama tetap slay kayak nggak nyium apa-apa. Tapi jika dilihat-lihat. Kayaknya dari tadi Pak Rama nyium tangannya deh! Kayak ada sesuatu yang digenggamnya!" ujar Paidi.
__ADS_1
"Mungkin pak Rama sedang menggenggam harapan, Guys!" seloroh Nanang.
"Bukan itu dodol! Ya elah!" sahut Wiro sambil memukul lengan Nanang.
"Lah apa dong? Masa iya pak Rama nge-drugh? Ya nggak mungkinlah. Tapi jika dilihat-lihat dari ekspresi wajahnya emang pak Rama tuh sedang sakau!" imbuh Paidi.
"Kayaknya sih!"
Suasana dalam kelas yang seharusnya serius berubah menjadi suasana ghibah. Iya, mereka sedang mengghibah guru mereka sendiri.
Karena penasaran, Wiro memberanikan diri untuk bertanya kepada sang guru.
"Maaf pak saya mau tanya?" sahut pemuda berbadan jangkung itu.
"Iya, Wiro! Ada apa?" balas Rama sambil menjauhkan tangannya dari wajahnya tapi masih menggenggam benda itu dengan erat.
"Maaf Pak, bukannya kami ikut campur. Kami cuma bertanya, apa pak Rama sedang mengonsumsi narkoba?" celetuk Wiro yang membuat teman-temannya menahan tawa.
"Hah, apa? Aku sedang mengonsumsi narkoba? Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu?" seru Rama balik bertanya.
"Soalnya, kami lihat dari tadi pak Rama mencium tangan mulu, kayak ada sesuatu di tangannya. Pasti itu ganja ya, Pak?" lagi-lagi Wiro membuat teman-temannya makin cekikikan.
"Gila si Wiro dasar sableng! Berani sekali dia tanya pak Rama soal ganja. Minta disunat tuh bocah!" bisik Padi pada Nanang.
"Tapi benar juga sih kata Wiro. Aku juga penasaran kenapa Pak Rama bisa seperti itu sekarang. Heran saja!" balas Nanang.
Rama pun menjawab pertanyaan Wiro dengan tetap elegan dan terkesan cuek.
"Sudah, cuma itu pertanyaannya?" tanya Rama dengan serius.
"Hehehe iya, Pak!" jawab Wiro sambil cengar-cengir.
Rama pun langsung memasukkan benda itu ke dalam kantong celana miliknya agar siswa-siswanya tidak curiga.
"Bapak tidak memegang apa-apa, kalian bisa lihat, kan? Lagipula apa hubungannya bapak dengan narkoba dan itu ganja. Bagaimana bisa kalian berpikir seperti itu. Tadi, Bapak cuma mengusapkan sedikit parfum pada telapak tangan dan bapak suka dengan wanginya. Jadi, kalian tidak usah berpikiran macam-macam. Sebaiknya pikirkan saja ulangan kalian!" jelas Rama sambil berjalan menuju ke kursinya.
Namun, tidak disangka tidak dinyana. Benda itu terjatuh dari dalam saku celana Rama. Rama memasukkan benda itu tidak terlalu dalam sehingga kain lembut berwarna putih itu tak sengaja menyembul dan terjatuh di atas lantai.
Spontan murid-murid Rama tertawa cekikikan melihat benda milik Putri yang terjatuh di atas lantai. Rama yang merasa benda itu terjatuh. Ia pun segera mengambilnya dan langsung menggenggamnya.
Tentu saja pemandangan itu membuat para siswa terutama Wiro tampak antusias untuk menggoda guru killer mereka.
"Cie cie ketahuan nih ye! Ohh ternyata jenis narkobanya pak Rama itu adalah CD nya Putri. Mantap Pak!" seloroh Wiro yang sedang Rama seketika mengusap wajahnya kasar.
"Waaahhhh pasti sedap banget ya, Pak! Besok aku tiru ah! Semvak ayang aku bawa kemana-mana ah. Biar nge-fly!" sahut Nanang.
Ririn teman sebangku Putri mendengar ucapan Nanang tampak memukul lengan pemuda itu.
"Ihhh apaan sih! Dasar gila!" sahut gadis itu yang merupakan pacar Nanang.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...