
"Harus bisa, kamu harus bisa mengendalikan dirimu, Mas. Di sekolah, kita tidak bisa seperti suami istri. Di sana bukan tempat untuk menunjukkan hubungan kita. Ada peraturan sekolah yang harus diterapkan dan juga menjaga perasaan teman-teman, para guru juga apalagi Bu Andin," ucap Putri yang masih teringat akan guru BPnya yang sudah membeberkan rahasia pernikahan mereka berdua.
"Bu Andin sudah tidak mengajar lagi. Dia mengundurkan diri dari setelah kejadian itu," ungkap Rama.
"Oh ya? Bu Andin mengundurkan diri? Hmmm ... sebenarnya kasihan juga sih sama Bu Andin. Kayaknya cinta dia bertepuk sebelah tangan."
"Maksud kamu?"
"Iya, aku lihat Bu Andin tuh kayak naksir gitu sama kamu ciee ..." goda Putri sambil menyenggol lengan sang suami.
"Apa sih nggak lucu, udah-udah ayo berangkat!" sahut Rama sambil merangkul pundak istrinya untuk segera keluar dari rumah.
"Marah ya!" sahut Putri sambil berhenti berjalan. Spontan Rama ikut berhenti dan langsung mencium dan mellumat bibir Putri. Tentu saja Putri panik karena tidak ada persiapan untuk mengambil nafas.
"Mmmppphhttt mmmppphhttt ...."
Suara itu tertahan dari bibir Putri. Karena Rama tidak membiarkannya untuk berbicara tentang Bu Andin.
Putri memukul-mukul dada suaminya, berharap Rama akan melepaskannya. Namun, bukannya melepaskan Rama justru semakin melakukan ciuman panas itu.
Karena Putri kesulitan bernafas, ia pun spontan menendang ke arah tengah-tengah tepat mengenai pisang tanduk milik suaminya.
Rama spontan mendelik ketika telur puyuh miliknya terasa pecah. Wajahnya terlihat memerah karena menahan rasa sakit saat buah peliirnya ditendang oleh sang istri.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Putri yang tampak ketakutan saat melihat ekspresi wajah sang suami.
"Aduh aduh! Telurku mau pecah!" pekik Rama sambil mendekap pisang tanduknya. Putri pun panik setengah mati. Ia pun bingung harus melakukan apa sementara itu Rama tampak begitu kesakitan dan tampak lemah seolah mau pingsan.
"Aduh gimana dong! Aku minta maaf Sayang. Aku nggak sengaja. Habisnya kamu nggak mau lepasin aku sih, nggak bisa nafas tahu nggak. Kalau aku mati bagaimana? Mas, Mas bangun dong! Jangan mati dulu ah. Aku belum hamil anak kamu. Kita belum punya anak loh Mas! Kamu udah bosan ya bikin anak!" Putri berkata sambil meletakkan kepalanya pada dada Rama.
__ADS_1
Rama pun tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya. Spontan Putri mengangkat wajahnya dan melihat suaminya yang sedang terbahak-bahak.
"Huuuuhhh dasar! Kirain beneran, bikin jantungan aja!" seru Putri sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kalaupun beneran, memangnya apa yang kamu lakukan? Apa kamu akan meninggalkanku?" celetuk Rama sambil berjalan menuju ke arah motor.
Putri hanya terdiam dan menundukkan wajahnya. Sesampainya di tempat motor nya. Rama memberikan helm kepada sang istri. Rama tidak menunggu jawaban istrinya. Ia pun langsung tancap gas dan segera melajukan motornya ke jalan raya.
Putri yang dibonceng di belakang. Ia pun langsung memeluk suaminya erat-erat. Rama melajukan motornya pelan-pelan agar dirinya bisa mengobrol dengan sang istri. "Ada apa?" seru Rama sembari menyentuh hati Putri yang melingkar pada pinggangnya.
"Aku nggak mungkin ninggalin kamu, Mas. Apapun yang terjadi, susah senang kita akan selalu bersama," ucap Putri dengan suara lirih.
Rama pun tersenyum dan mencium tangan Putri pelan. Laju motor yang hanya 20km perjam. Membuat keduanya terlihat begitu mesra. Hingga akhirnya mereka tidak sadar jika Ririn dan Nanang berada di belakang mereka.
"Eh Yank, bukannya itu Putri dan pak Rama?" seru Nanang sambil membonceng Ririn, pacarnya.
"Mana? Eh iya ding, asik ternyata Putri udah masuk. Waah pasti kelas tambah seru kalau ada Putri, yess!" sahut Ririn bahagia.
"Ya iyalah namanya juga pengantin baru. Pasti nggak mau jauh-jauh," jawab Ririn.
"Eh Yank, kamu juga kayak Putri gitu dong! Tuh tangannya pegangan di pinggang pak Rama," sahut Nanang sambil tertawa kecil.
"Ihhh enggak ah. Nanti dimarahi Mama loh. Jangan minta aneh-aneh deh!" Ririn tampak menepuk pundak Nanang.
"Ya elah Yank. Gitu doang judes amat. Au ah aku kan juga pingin dipeluk gitu. Enak banget ya jadi mereka. Eh gimana kalau lulus sekolah kita langsung nikah. Nggak usah lama-lama. Biar bisa kayak Putri dan pak Rama tuh. Jadi pingin!!" sahut Nanang sambil senyum-senyum.
"Hah nikah? Ogah ah, masa kita harus nikah muda sih! Emang kamu udah sunat?" celetuk Ririn.
"Eh sudah dong! Mau tak spill nih!!"
__ADS_1
"Ogah, buat apa? Ih jijay," sahut Ririn sambil mencubit pinggang Nanang.
"Awwww nyubit lagi. Kamu tanya apa aku udah sunat apa belum. Ya udah daripada penasaran, entar tak lihatin."
"Ogah pasti gondrong, males! Soalnya dulu ibu kamu pernah bilang jika kamu tuh nggak mau disunat sampai kelas 1 SMA. Makanya aku tanya. Belum sunat kok minta kawin. Noh ada tuh kucing kawinin," sahut Ririn.
"Kok kucing sih, ahh tega kamu jodohin aku dengan kucing," Nanang tampak bermuka masam saat sang pacar menyodorkan kucing padanya.
"Lagian, kamu sih! Pakai minta kawin cepat aja!"
Keduanya pun saling tertawa. Pasangan Ririn dan Nanang memang pasangan kocak dan gokil. Mereka selalu terlihat saling bercanda tanpa menunjukkan jika mereka sedang berpacaran.
Tiba-tiba saja lampu merah menyala. Rama menghentikan motornya. Seperti biasa setiap di perempatan jalan lampu merah. Rama selalu mengelus-elus kaki Putri dan tanpa sadar pasangan Nanang dan Ririn juga berhenti di samping motor Rama.
"Eh buset dah! Tangan pak Rama tuh, Yank!" seru Nanang kepada sang pacar.
"Waduh, ternyata oh ternyata. Pak Rama mesum juga ya!" Ririn tidak percaya. Dibalik wajah killer Rama, ternyata pria itu luluh juga dengan Putri.
Kedua siswa Rama itu tertawa cekikikan melihat sang guru killer yang sedang mengusap-usap kaki Putri.
Bukanlah Nanang jika ia tidak berhasil menggoda guru killernya. Perlahan, Nanang lebih mendekatkan motornya di samping Rama.
Rama yang masih sibuk dan tak sadar jika Nanang sedang memperhatikannya. Ia pun masih asyik mengelus-elus kaki Putri, bahkan sesekali Rama merremas kaki sang istri dengan gemas.
Tiba-tiba saja Rama dikejutkan dengan suara Nanang. "Pagi, Pak Rama. Sekarang Pak Rama alih profesi sebagai tukang pijat, ya! Mau dong dipijat sama Bapak juga!" celetuk Nanang yang seketika membuat Rama menolah dan melepaskan tangannya dari kaki istrinya.
Putri pun juga menolah ke arah Nanang dan Ririn yang sedang tersenyum melihat mereka berdua.
"Ririn, Nanang!!" seru Rama yang tampak salah tingkah karena kedua siswanya itu memergoki dirinya mengelus-elus kaki Putri.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...