Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Bertemu Nanang dan Ririn


__ADS_3

Setelah mengetahui jika sang istri tengah mengandung. Tentu saja Rama sangat bahagia sekali. Mereka keluar dari ruangan dokter dengan mesra. Rama tak luput menggenggam tangan sang istri seolah dirinya tidak ingin berpisah dengan Putri dan bayinya.


Rupanya, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka berdua. Iya, seorang gadis tengah melihat Rama dan Putri keluar dari ruangan dokter kandungan. Meskipun saat ini Putri tengah memakai masker dan tidak mengetahui wajahnya secara langsung. Nyatanya gadis itu masih bisa mengenali Putri dari gestur tubuhnya.


"Bukannya itu pak Rama dan gadis itu mirip sekali dengan kak Putri? Ngapain mereka dari dokter kandungan? Ohh my God! Nggak nggak, itu nggak mungkin. Masa iya kak Putri hamil? Terus, siapa ayahnya? Apa mungkin pak Rama ayahnya? Ta-tapi ini benar-benar nggak mungkin!!" pikir Joice yang sangat yakin jika Rama sedang bersama Putri.


Joice, siswi baru di sekolah Putri. Gadis itu tanpa sengaja melihat kehadiran Rama dan Putri yang baru saja keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan. Apa yang mereka lakukan jika bukan untuk memeriksakan kandungan. Apalagi keduanya terlihat berjalan mesra.


Joice mengambil handphone miliknya dan mengambil gambar Rama yang sedang bersama Putri. Joice terlihat begitu kesal melihat kenyataan bahwa Rama sedang bersama Putri.


"Sialan! Semoga saja dugaanku salah! Aku nggak rela jika pak Rama dekat dengan kak Putri. Pokoknya aku harus minta bantuan papa untuk mendapatkan pak Rama." Joice terlihat menyipitkan matanya saat melihat kepergian Rama dan Putri.


Hingga akhirnya tiba-tiba seorang wanita sedang menepuk pundak gadis itu.


"Joice! Kamu ngapain di sini! Ayo masuk, dokter sudah menunggu kita!" ajak wanita merupakan ibu dari Joice, Nyonya Sugondo.


"Iya, Ma!" Gadis itu langsung membalikkan badannya dengan perasaan benar-benar marah. Lantas, ia segera masuk ke ruangan dokter ditemani oleh sang mama. Joice menemani sang mama untuk check up rutin. Selain itu Joice juga mengikuti terapi untuk kista yang dideritanya. Gadis itu diam-diam mengidap kista sejak dirinya masih kelas 11 SMA. Dikhawatirkan kista itu menjalar ke seluruh tubuhnya karena penyakit yang Joice derita cukup parah.


Selama pemeriksaan, Joice selalu memikirkan sang guru dan kakak kelasnya. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Rama dan Putri di klinik dokter Hana.


"Kamu kenapa, Joice! Mama perhatikan dari tadi kamu seperti memikirkan sesuatu?" tanya sang mama.


"Nggak apa-apa, Ma. Hanya saja tadi Joice nggak sengaja melihat pak Rama keluar dari ruangan ini." ucap Joice.


"Pak Rama siapa?" tanya sang mama.


"Pak Rama guru aku di sekolah, Ma." jawaban Joice seketika membuat dokter Hana terkejut.


"Pak Rama gurunya Mbak Joice?" sahut dokter Hana.


"Iya, Dokter!"


"Ohh, iya memang baru saja Rama datang ke ruangan ini," ungkap dokter Hana.


"Oh ya Dokter, pak Rama dan gadis itu sedang periksa apa ya, Dok? Soalnya saya curiga jika gadis yang sedang bersama pak Rama itu adalah kakak kelas saya," ucap Joice yang tentunya membuat dokter Hana harus berhati-hati untuk berbicara. Karena ia tahu jika Rama masih menyembunyikan pernikahannya dengan sang istri sampai Putri lulus sekolah nanti.


"Oh iya. Tadi Rama bersama adiknya, iya adiknya. Saya rasa itu hal yang biasa jika seorang kakak mengantarkan adiknya untuk periksa rutin," ucap dokter Hana yang tidak bisa mengatakan kepada Joice tentang kehamilan Putri.


"Adik? Pak Rama punya adik?" sahut Joice yang baru tahu jika sang guru memiliki adik perempuan.


"Emmm iya, adik! Ya sudah, kita lanjutkan pemeriksaan berikutnya." Dokter Hana mengalihkan pembicaraan mereka agar Joice tidak bertanya macam-macam lagi tentang Rama. Karena bagaimanapun juga dokter Hana ingin menjaga rahasia tentang kondisi pasiennya meskipun Joice mengenal mereka.


Joice pun terdiam dan tidak bertanya lagi. Namun tetap saja gadis itu masih penasaran dengan apa yang baru saja dilihatnya. Karena ia sangat yakin jika Rama sedang bersama Putri.

__ADS_1


*


*


*


Sepulangnya dari dokter. Rama menyempatkan untuk mengajak istrinya membeli makanan yang Putri inginkan. Mengingat Putri sering mual dan muntah sehingga Rama khawatir dengan kondisi bayinya yang masih kecil.


"Ngapain kita ke sini, Mas?" tanya Putri saat Rama mengentikan motornya di depan sebuah kedai makanan angkringan.


"Mas lihat kamu belum makan apapun dari tadi. Mungkin kamu tertarik dengan makanan yang ada di sini. Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, Sayang! Aku ingin kalian berdua sehat," ucap Rama sambil membawa sang istri untuk makan di tempat itu sekaligus mereka berdua kencan di hari Minggu yang cerah itu.


Putri pun mengikuti perintah sang suami. Lantas, mereka berdua duduk di atas tikar yang sudah disediakan sebagai lesehan. Mereka sudah memesan makanan yang sudah disediakan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berdua beristirahat di atas tikar.


"Ahhhhh kita istirahat di sini dulu! Kamu suka tempat ini?" tanya Rama saat melihat Putri yang terlihat suka dengan suasana di tempat itu.


"Suka, Mas! Di sini tempatnya adem dan banyak pasangan muda-mudi yang sedang ngedate. Jadi merasa kayak pacaran saja!" ucap Putri sambil menunjuk ke arah beberapa remaja yang sedang berpacaran.


Rama tersenyum dan berkata kepada sang istri. "Memang kita sedang pacaran, kan? Tepatnya pacaran setelah nikah. Lebih indah dan tentunya lebih romantis. Aku juga nggak sungkan-sungkan pegang-pegang kamu, cium kamu sepuasnya dan peluk kamu sesuka hati. Kalau pingin ya tinggal bawa pulang aja!" sahut Rama dengan santainya.


Mendengar jawaban dari sang suami. Putri mengambil tisu dan ia bulatkan. Lantas, ia melempar wajah suaminya dengan tisu sehingga membuat Rama terkejut.


"Eh kok dilempar sih!"


"Emangnya aku ngomong apa? Siapa juga yang ngomong mesum?" Rama tampak merasa tak berdosa.


"Au ah, ngomong sama kamu bikin capek!"


Melihat ekspresi sang istri yang menggemaskan. Rama spontan mencium pipi Putri dengan tiba-tiba. Sehingga membuat gadis itu terkejut dan menepuk lengan suaminya.


"Ihh kamu tuh suka banget sih ngagetin aku, Mas!"


Putri dan Rama terlihat saling bercanda. Rama pun tampak merundukkan tubuhnya sampai akhirnya kepala Rama berada di atas pangkuan sang istri. Putri mencubit hidung suaminya dan mereka terlihat semakin mesra. Hingga akhirnya mereka tiba-tiba mendengar suara seseorang yang sedang berbicara kepada mereka.


"Cie cie! Pak Rama dan Putri sedang pacaran nih ye!!"


Spontan Putri menghentikan pukulannya dan menoleh ke belakang.


"Nanang, Ririn! Ngapain kalian di sini?" sahut Putri saat melihat kedua temannya yang juga berada di tempat itu. Spontan, Putri mengangkat kepala sang suami dan ia terlihat malu saat kedua temannya memergoki mereka bermesraan.


Sementara itu di sisi lain. Rama merasa kepalanya pusing karena gerakan cepat sang istri yang mengangkat kepalanya sedikit berputar-putar.


"Aduhhh kepalaku!" pekik Rama sambil memijit kepalanya. Sontak kedua muridnya, Nanang dan Ririn tertawa kecil melihat ekspresi sang guru. Rama yang terbiasa bersikap dingin mendadak hari itu sang guru terlihat kasihan.

__ADS_1


"Heh! Ngapain kalian ketawa? Kalian mau nilai kalian bapak kurangi!" ancam Rama dengan matanya yang melotot.


"Ampun, Pak! Jangan dong, Pak! Gitu aja main potong main potong! Bapak pusing ya?" sahut Nanang yang tak kehabisan ide untuk mengerjai sang guru.


"Hmmm sudah tahu nanya!" jawab Rama cepat.


"Waduh! Kayaknya Pak Rama musti cepat-cepat mendapatkan penawarnya tuh! Biar nggak pusing lagi!" ucap Nanang.


"Sok tahu kamu! Memangnya kamu tahu apa obatnya?" sahut Rama yang masih menunjukkan wajah garangnya.


Lantas, Nanang pun memberanikan diri untuk membisikkan sesuatu pada sang guru. Karena ia tidak ingin cewek-cewek tahu apa yang akan dikatakannya kepada Rama.


"Saya tahu obatnya, Pak."


"Apa?"


"Bapak sudah menghirup aroma harum celana Putri belum, Pak?"


"Hah!!" sontak Rama membulatkan matanya saat Nanang berkata demikian. Lantas, Rama mengajak Nanang untuk membalikkan badannya agar Ririn dan istrinya tidak bisa mendengar obrolan mereka.


"Heh! Jangan bicarakan itu di depan istriku!" Rama berkata sembari berbisik lirih. Sedangkan Ririn dan Putri tampak saling memandang bingung apa yang sedang dibahas oleh kedua pria itu.


"Memangnya kenapa, Pak?"


"Aku malu!"


"Ya elah, Pak. Sama bini sendiri malu."


"Hahh udah-udah! Ngapain juga kamu ingetin bapak tentang itu,"


"Habisnya pak Rama kayak seneng banget menghirupnya. Seperti Pak Rama sedang menghirup angin sorga! Padahal saya nyium punya si Ririn kok bau apek ya, Pak!" sahut Nanang sambil cekikikan. Rama pun melototkan matanya saat Nanang berkata demikian.


"Heh maksud kamu apa mencium punya Ririn? Jangan-jangan kamu dan Ririn sudah ...!"


"Enggak pak! Saya dan Ririn nggak pernah ngapa-ngapain kok, suer deh!" ucap Nanang yang berani bersumpah.


"Terus, bagaimana bisa kamu tahu aromanya itu?"


"Hehehe saya nggak sengaja pas main ke rumah Ririn. Saya melihat ada celana Ririn yang masih tertinggal di kamar mandi, Pak. Iseng saya ambil tuh celana penasaran bagaimana aromanya. Karena pak Rama kelihatan bahagia sekali pas nyium punya Putri. Eh nggak tahunya pak baunya ya ampun, apek setengah mati bikin saya sesak dada. Pas saya keluar dari kamar mandi. Si Ririn bilang mau ambil celananya yang tertinggal. Katanya sudah tiga hari nggak dicuci, Pak! Astogehh!!" ucapan Nanang seketika membuat wajah garang Rama berubah menjadi tawa.


"Lagian ngapain kamu iseng nyium celananya Ririn. Dasar murid sableng!" ucap Rama sambil tertawa.


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2