Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Hamil??


__ADS_3

Sementara itu di sisi lain. Setelah Rama menutup telepon dari sang ibu. Ia pun segera ingin menemui istrinya yang saat ini sedang berada di dalam kamar. Putri terlihat kesal karena ia merasa jika suaminya tidak percaya bahwa ia sangat enek saat mencium aroma tubuh sang suami.


Perlahan, Rama membuka pintu kamar dan melihat sang istri yang sedang duduk di atas tempat tidur. Rama tersenyum kala Putri menatap kedatangannya.


Rama mulai berjalan ke arah sang istri yang saat itu sudah bersiap menutup hidungnya. Rama yang sudah tahu, ia pun duduk sedikit menjauh dari posisi istrinya.


Putri masih diam sambil menutup mulutnya yang sekarang sangat sensitif terhadap aroma tubuh suami.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih mual?" tanya Rama yang sebenarnya ia ingin sekali memeluk istrinya. Putri menggelengkan kepalanya.


"Mas minta maaf jika tadi sudah membuatmu marah. Nanti sore Mas ajak kamu ke dokter, ya! Mas akan periksakan kamu," ucap Rama sambil meraih kaki Putri yang duduk dengan selonjoran. Rama mengelusnya dengan lembut sambil memijitnya.


"Kamu ingin makan sesuatu? Nanti Mas ambilin!" tawar Rama yang mulai memanjakan istrinya.


"Aku nggak mau apa-apa," jawab Putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Tadi, ada ibu telepon. Besok ayah dan ibu pulang, jika kamu sakit nanti dikiranya aku nggak bisa jagain kamu, Mas ambilkan makan ya!" kata Rama sambil terus memijit bagian kaki istrinya hingga ke atas.


"Ibu telepon, syukurlah mereka akan pulang. Tapi aku memang nggak enak makan, Mas. Aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba aku seperti ini. Padahal besok ada ujian olahraga. Badan lemes gini mana bisa lari jauh!" ucap Putri yang langsung mendapat larangan dari suaminya.


"Nggak boleh! Kamu tidak boleh ikut ujian olahraga dulu. Kamu harus istirahat, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu, biar nanti aku yang akan memintakan izin kepada guru olahraga," sahut Rama dengan serius.

__ADS_1


"Tapi, Mas. Jika aku tidak ikut ujian. Gimana dengan nilai kelulusanku nanti!"


"Itu urusan gampang, saat ini kamu harus benar-benar istirahat. Aku tidak ingin kamu dan bayi kita kenapa-kenapa ...."


Seketika Putri melototkan matanya saat Rama berkata demikian. "Maksud kamu apa, Mas? Bayi! Bayi siapa maksud kamu!!" sahut Putri dengan ekspresi terkejut.


Rama pun tidak bisa menahan rasa ingin segera memberitahukan kepada sang istri tentang dugaannya jika sang istri sedang hamil.


Rama yang sedang memijit kaki istrinya. Tiba-tiba saja pria itu mengusap sesuatu dari sudut pandang. Cairan bening yang tiba-tiba luluh dari pelupuk matanya. Putri melihat itu merasa ada sesuatu yang aneh dengan sang suami.


"Kamu kenapa, Mas? Kamu nangis!!" seru Putri saat melihat mata suaminya yang memerah. Rama menatap wajah sang istri sambil menahan betapa bahagianya ia jika istrinya benar-benar hamil.


"Kok malah lihatnya gitu sih! Kamu kenapa, Mas? Apa ucapanku sudah menyinggung hatimu? Aku minta maaf, aku nggak bermaksud ngomong gitu, Mas. Beneran aku nggak ada niat untuk menjauhi kamu. Aku emang mual banget pas nyium bau badan kamu!" ucap Putri yang khawatir jika sikapnya sudah membuat Rama kecewa.


"Tadi aku ngomong ke ibu tentang apa yang terjadi padamu. Ibu bilang bahwa kamu sedang ... hamil!"


"Hamil??" Putri membulatkan matanya antara tercengang dan tidak tidak percaya.


"Iya, kamu hamil, Sayang! Makanya nanti sore aku mau periksakan kamu ke dokter supaya kita lebih yakin jika kamu memang benar sedang hamil," ucap Rama dengan wajah bahagianya. Putri pun tidak kalah bahagia mendengar jika dirinya diduga hamil. Ia sendiri juga merasa belum mendapatkan haid sama sekali sejak dirinya menikah.


Putri mengusap perutnya dengan rona wajah bahagia. "Aku hamil! Aku hamil anak kamu, Mas! Kok bisa secepat ini aku hamil. Padahal kita menikah baru satu bulan kan, Mas!" ucap Putri yang begitu bahagia sambil terus mengusap-usap perutnya.

__ADS_1


"Iya, kita nikah emang udah satu bulanan. Tapi, setiap hari aku kan rajin membajak sawah dan menyemai benih. Makanya cepat tumbuh tuh kecebong!" sahut Rama sambil tersenyum smirk.


Putri pun tersenyum malu karena memang dirinya dan Rama tidak pernah absen untuk bekerja di sawah sehingga benih-benih yang ditanam oleh Rama cepat tumbuh dalam tanah yang masih rawan dan belum tersentuh oleh pria manapun.


"Hmm ... iya itu kan kamu juga yang selalu nempel terus, mentang-mentang ayah dan ibu nggak ada di rumah. Kamu selalu bikin aku nggak pernah pakai celana dalaam. Gimana mau pakai, baru dipake udah dilepas lagi," ucap Putri yang mengingat momen-momen romantis mereka berdua.


"Ya nggak apa-apa dong! Pahala besar kan jika bikin suami bahagia. Toh nggak ada yang bisa lihat kita ngapain aja di rumah. Kamunya juga suka kok! Minta nambah pula!" ledek Rama yang spontan membuat Putri melempar bantal ke arah wajah sang suami.


Buuugghh


"Eh kok dilempar sih. Wajah suamimu jadi jelek loh, mau!" pekik Rama ketika rambutnya berantakan terkena lemparan bantal sang istri.


"Bodo, mending jelek daripada ganteng tapi dideketin banyak cewek. Tuh si Joice naksir kamu tuh! Kayaknya dia beneran suka sama kamu, Mas. Aku takut aja kamu jadi tertarik sama dia, secara jika benar aku hamil, pasti badan aku jadi melar dan jelek dan kamu jadi bosan lihatnya," kata Putri yang terlihat khawatir.


Rama pun tertawa mendengar ucapan dari sang istri. "Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu! Nggak mungkinlah aku tertarik sama Joice. Nggak usah berpikiran yang macam-macam. Aku bukan tipe yang mudah bosan. Biarpun badanmu berubah karena sedang hamil, aku tidak peduli. Lagipula yang membuat kamu seperti itu kan aku juga. Asalkan kamu dan bayi kita sehat. Anak kita akan menjadi kebahagiaan kita berdua. Anakku yang lahir dari rahim istriku," Rama berkata sembari mendekati perut istrinya dan menciumnya dengan lembut.


Putri pun tersenyum dan mengusap kepala sang suami.


"Makasih banyak, Mas. Kamu udah ngertiin aku. Kamu emang suami yang sangat pengertian. Ngomong-ngomong jangan sampai anak-anak tahu jika aku sedang hamil. Jika mereka tahu bisa-bisa aku nggak enak sama kepala sekolah, Mas. Nama baik kamu juga pasti diikut-ikutkan. Apalagi ada bapaknya Joice, pak Sugondo. Jika mereka tahu aku sedang hamil. Maka semuanya bisa gawat meskipun kita sudah menikah. Nama baik sekolah kita akan jadi taruhan," ucap Putri khawatir.


"Ya, aku tahu itu. Tapi kamu tidak usah terlalu khawatir. Aku akan bicara dengan kepala sekolah. Lagipula sebentar lagi kamu akan ujian Nasional. Jadi, perut kamu tidak akan sampai kelihatan besar saat akhir sekolah. Masih 4 bulan lagi kamu kelulusan. Masih aman lah untuk menyembunyikan perut kamu, hmmmn gemes!" balas Rama sembari menciumi perut istrinya dan membuka baju atasan Putri sehingga nampaklah perut Putri yang putih bersih.

__ADS_1


"Ihhh geli, Mas. Jangan gitu dong!" pekik Putri ketika ujung bibir sang suami tengah mengecup perutnya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2