
Sore pun tiba. Rama pun mengajak istrinya untuk pergi ke dokter. Tentu saja pasangan itu berharap Putri memang benar sedang hamil. Agar bisa menjadi kejutan untuk kedua orang tuanya yang akan pulang ke rumah. Keduanya keluar dari rumah sekitar jam setengah lima sore di suasana senja yang hangat itu.
Rama mengajak sang istri untuk pergi ke klinik dokter ahli kandungan dan kebidanan. Sepanjang perjalanan Rama selalu menggenggam tangan sang istri. Keduanya terlihat begitu mesra meskipun saat ini Putri harus selalu memakai masker. Karena bagaimanapun juga ia masih sensitif terhadap aroma tubuh sang suami.
Meskipun begitu, Putri tetap nempel bak perangko kepada sang suami seolah mereka adalah pasangan yang sedang berpacaran. Keduanya juga saling bercanda di sepanjang jalan, saling cubit saat terdengar kata-kata romantis mereka.
Meskipun keduanya mengendarai motor. Namun, kemesraan Rama dan Putri tidak berkurang begitu saja. Mereka justru terlihat semakin mesra.
Tak berselang lama, motor Rama berhenti di depan sebuah klinik dokter kandungan. Ia segera memarkirkan motornya dan mengajak sang istri untuk memeriksa kandungan.
Rama mendaftar dulu ke resepsionis. Setelahnya mereka menunggu giliran untuk dipanggil di kursi tunggu. Putri tampak menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami. Kepalanya benar-benar terasa berat dan badannya sangat tidak enak.
"Masih pusing?" tanya Rama sambil mengusap wajah istrinya.
"Hmm pusing banget, Mas! Pinginnya rebahan aja!" balas Putri dengan lemas.
"Sabar ya, Sayang!"
Di saat yang bersamaan, seorang perawat memanggil nama Putri. Rama pun tersenyum dan segera mengantar sang istri untuk masuk ke ruangan dokter.
Di dalam seorang dokter muda yang ternyata adalah teman Rama sekolah dulu. Namanya dokter Hana.
"Rama, kamu Rama, kan?" sebut sang dokter saat melihat wajah Rama yang sedang bersama seorang gadis.
Sejenak Rama mengerutkan keningnya dan melihat sang dokter yang sedang tertegun menatapnya. Selang beberapa detik, Rama pun akhirnya teringat akan wajah teman sekolahnya dulu.
"Hei! Kamu Hana, kan? Anak IPA 2?" seru Rama yang akhirnya ia tahu jika dokter kandungan itu bernama Hana.
"Iya benar, aku Hana. Apa kabar kamu ya ampun! Eh ini siapa, adek kamu?" sahut sang dokter ketika melihat Putri yang dikiranya adalah adiknya Rama. Rama tersenyum dan memperkenalkan sang istri kepada teman seangkatannya itu.
"Dia istriku," jawab Rama dengan bangganya. Sang dokter pun terkejut karena Rama ternyata sudah beristri.
__ADS_1
"Wow, ya ampun. Maaf, aku kira dia adik kamu." Dokter Hana tampak malu dan segera menyapa Putri.
"Hai, Putri. Aku Hana, jangan kaget dengan percakapan kita. Rama ini adalah teman satu sekolah dengan aku. Aku kaget saja pas kalian masuk. Rama dan kamu. Aku pikir kamu adiknya soalnya terlalu enak tuh anak dapat istri yang masih muda!" ucap sang dokter yang tentunya membuat Rama dan Putri tertawa.
"Heh, jangan salah! Gini-gini aku jago bikin hati anak SMA berdenyut-denyut!" seloroh Rama sambil melirik ke arah sang istri.
Mereka pun tertawa dan Putri tampak mencubit pinggang suaminya.
"Ya ampun, seneng lihat kamu lagi. Ternyata kamu laku juga ya, Ram! Aku pikir cowok jutek dan introvert itu nggak bakalan tertarik dengan cewek. Eh akhirnya kamu nikah juga. Nggak undang-undang aku nikahnya!" ucap dokter cantik itu.
"Justru, cowok jutek dan pendiam kayak aku malah lebih romantis dan lebih dahsyat setrumnya," celetuk Rama yang semakin membuat dokter Hana menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, sekarang katakan ada keluhan apa?" tanya dokter Hana.
"Gini loh, Han. Dari tadi pagi istriku tiba-tiba eneg nyium bau badanku. Aku ingin kamu periksa kandungannya. Mungkin saja ada kecebongku yang sudah membuatnya seperti itu,"
Baik Putri maupun dokter Hana membulatkan matanya saat mendengar ucapan Rama tentang kecebong.
Lantas, sang dokter segera memeriksa kondisi Putri dengan melakukan USG. Rama mendampingi sang istri dan melihat ke layar monitor.
Dokter Hana tersenyum dan memperlihatkan kepada Rama bahwa kantung embrio itu sudah terbentuk.
"Bagaimana, Han? Apa yang kamu lihat? Apa istriku memang hamil?" sahut Rama yang sudah tidak sabar ingin mendengar secara langsung dari dokter.
"Kau lihat itu! Ada dua kantong embrio. Tuh yang seperti balon!" Dokter Hana menunjukkan dua kantong janin yang sudah terbentuk dalam rahim Putri.
Rama yang masih bingung dan belum mengerti. Lantas, pria itu itu pun berceletuk. "Apa! Dua kantong embrio? Ta-tapi Han, perasaan selama ini aku tidak pernah pakai pengaman deh! Kok bisa ada balonnya di dalam!"
Dokter Hana dan Putri saling tertawa mendengar ucapan dari Rama. Entah pria itu sedang bercanda atau memang belum mengerti.
"Astaga pak Rama! Udahlah, mending kamu mikirin rumus pythagoras aja deh!" sahut dokter Hana.
__ADS_1
"Ya emang aku nggak terlalu faham soal gituan, Han! Kamu tuh yang dari dulu jago biologi. Makanya sekarang jadi dokter. Terus itu kantong apaan! Tapi yang jelas bukan kantong kering, kan?"
Lagi-lagi jawaban Rama membuka dua orang wanita itu tertawa. Dokter Hana pun berkata kepada Putri. "Ya ampun, Put! Apa setiap hari kamu nggak pusing menghadapi suami kayak dia?" tanya sang dokter.
"Ya begitulah, Dok! Banyak nyebelinnya sih sebenarnya!" aku Putri. Sedangkan Rama terlihat pasrah karena dighibahin oleh dua wanita.
"Oh ya! Kelihatan banget tuh! Eh kalau boleh tahu, hari pertama haid terakhir tanggal berapa?" tanya dokter Hana. Putri pun mengingat-ingat kapan dirinya terakhir datang bulan.
"Hmm ... kalau nggak salah seminggu sebelum menikah. Tepatnya tanggal 25, Dok."
"Hmmm ternyata langsung tokcer ya!" sahut dokter Hana.
"Maksud Dokter?" sahut Putri.
Dokter Hana pun berkata kepada pasangan suami istri itu.
"Selamat, Putri hamil dan sekarang usia kehamilannya sudah menginjak 5 Minggu. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah Putri mengandung bayi kembar," ucap dokter Hana.
Mendengar ucapan dari sang dokter. Rama yang awalnya suka bercanda dengan kekonyolannya. Tiba-tiba saja pria itu mendadak melankolis dan kedua matanya tampak berkaca-kaca. Lantas ia langsung memeluk sang istri dengan haru.
"Akhirnya kamu hamil, Sayang. Kamu hamil!" suara Rama terdengar serak.
"Iya, Mas. Anak kita kembar!" balas Putri yang teramat bahagia. Dokter Hana pun ikut bahagia melihat kegembiraan pasangan suami istri itu.
Tanpa sadar, Rama benar-benar menitikkan air mata. Dirinya begitu terharu dengan kebahagiaan itu. Rama menatap wajah sang istri dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Makasih Sayang! Makasih kamu sudah bersedia menerima benihku untuk tumbuh di dalam rahimmu. Tidak sia-sia aku bekerja keras setiap malam. Akhirnya kita akan mendapatkan bayi kembar. Ya Tuhan! Aku bahagia sekali!"
Dokter Hana hanya bisa tertawa mendengar ucapan Rama yang terdengar begitu sedih. Meskipun begitu entah kenapa sang dokter berusaha untuk menahan tawanya saat Rama berkata tak sia-sia bekerja keras setiap malam.
"Astaga! Dasar Rama!"
__ADS_1
...BERSAMBUNG...