Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Terhimpit


__ADS_3

"Oh iya,Yah! Tertusuk jarum. Ini Putri sedang menjahit kancing baju yang lepas. Nggak sengaja jari Putri tertusuk jarum. Mana jarumnya tumpul dan besar lagi ...!" sahut Putri sambil memejamkan matanya.


"Ya ampun Put. Lagian juga kenapa kamu pakai jarum yang tumpul, yang tajam apa nggak punya?" sahut Pak Dedi yang menyangka jika jarum yang dimaksud oleh putrinya itu benar-benar digunakan untuk menjahit kancing baju.


"Oooh ... iya, Yah. Tapi Putri suka yang tumpul," balas Putri.


"Astaga kamu itu ada-ada saja. Di mana-mana jarum tumpul itu nggak akan bisa menusuk kain. Susah untuk memasang kancing baju," sahut pak Dedi.


"Bisa kok, Yah! Malah dalem banget nusuknya!" sambung Putri dengan ekspresi wajah meringis. Rama yang melihat istrinya kesusahan untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya. Ia pun mengalah sejenak dan Rama memutuskan untuk turun dulu dari tubuh istrinya.


"Aku ambil air minum dulu. Kamu bicara saja sama ayah. Aku tidak akan mengganggu kalian!" Rama berdiri dan menutupi area terlarangnya dengan sebuah handuk.


Putri pun menganggukkan kepalanya dan menutup kembali kedua kakinya yang baru saja terbuka. Setelahnya ia melanjutkan kembali perbandingannya dengan sang ayah.


"Oh iya, Ayah kenapa nelpon Putri?"


"Ada berita yang harus kamu ketahui, Put!"


"Berita? Berita apa, Yah?" tanya Putri serius.


"Kakakmu Dinda sudah ditemukan!!"


Mendengar ucapan dari sang ayah. Putri pun sontak terkejut dan sangat tidak menyangka. Antara bahagia dan tidak percaya.


"Benarkah itu, Yah? Kak Dinda ditemukan? Syukurlah, Putri ikut bahagia!!" sahut Putri yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Lalu, dimana sekarang Kak Dinda?" tanya Putri antusias.


"Kakakmu ada di rumah sakit!!"

__ADS_1


"Apa??"


Kemudian pak Dedi menceritakan semuanya kepada Putri kenapa sang kakak pergi meninggalkan hari pernikahannya dengan Rama.


Putri mendengarkan secara seksama penjelasan Pak Dedi. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Seolah dirinya begitu bersedih dengan apa yang disampaikan oleh sang ayah.


Di saat yang bersamaan, Rama mulai masuk ke kamar dan melihat Putri yang sedang mengusap air matanya.


"Iya, Yah. Putri mengerti. Daahhh!"


Kata terakhir sebelum Putri menutup telepon dari sang ayah. Rama mendekati istrinya sambil menawarkan air minum. Tapi Putri menolaknya.


"Kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Rama sambil duduk di samping Putri.


Putri menatap wajah sang suami dan berkata. "Kak Dinda sudah ditemukan."


Mendengar pengakuan dari sang istri, Rama pun tampak biasa dan tidak terkejut sama sekali.


"Mas!"


"Hmmm!!"


"Kak Dinda terkena kanker otak stadium dua," seru Putri yang tentunya membuat Rama sangat terkejut.


"Apa? Dinda terkena kanker otak. Ta-tapi bagaimana bisa?" jawab Rama yang sudah pasti dia sangat terkejut. Pasalnya selama ini Dinda tidak pernah mengeluhkan sesuatu.


"Dia sengaja pergi dari rumah karena dia tidak ingin membuat kamu dan semuanya bersedih. Kak Dinda sengaja menyembunyikan penyakitnya agar kita tidak mengasihaninya. Dia tidak ingin kamu mendapatkan istri yang sakit-sakitan seperti dia. Itulah kenapa kak Dinda meninggalkan hari pernikahannya. Jika seperti ini, aku merasa sangat bersalah, Mas!" ungkap Putri sembari menangis sesenggukan.


Untuk sejenak Rama memang berfikir. Ternyata selama ini Dinda menyembunyikan sesuatu yang besar kepadanya. Andai saja dulu Dinda bicara jujur dan apa adanya, mungkin Rama tidak akan pernah mempermasalahkan tentang penyakit yang menyerang Dinda. Tapi, kini semuanya sudah terjadi. Bagaimanapun juga dirinya sudah mencintai Putri dan ia sudah berkomitmen untuk terus bersama Putri.

__ADS_1


"Apa kamu akan meninggalkanku, Mas? Dan kamu akan kembali pada Kak Dinda? Kak Dinda membutuhkan orang-orang terdekatnya untuk kesembuhannya, dan kamu adalah orang yang paling dekat dengan kak Dinda," tanya Putri sambil menatap kedua bola mata suaminya.


Rama menangkup wajah istrinya yang sudah sangat basah oleh air mata itu. "Dengarkan aku! Bagiku, pernikahan kita adalah sesuatu yang sangat sakral. Aku menikahimu di depan kedua orang tuamu. Aku menyebut namamu untuk ku jadikan sebagai istri dan pendamping hidupku. Sekarang, aku tidak mencintai Dinda lagi. Bagiku dia adalah masa lalu dan kamu adalah masa depanku. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika aku sampai meninggalkan mu. Maka aku adalah orang yang paling bodoh yang sudah menyia-nyiakan cinta seorang wanita yang sudah menyerahkan hidupnya, menyerahkan masa mudanya untukku. Bagiku, apa yang kamu lakukan adalah sesuatu yang sulit diterima bagi wanita seusia kamu. Di mana kamu masih suka bermain bersama teman-temanmu. Di saat kamu masih suka nongkrong bersama. Tapi, kamu merelakan waktumu itu untuk menemaniku, hanya untuk suamimu!"


Panjang lebar Rama menjelaskannya. Akhirnya Putri mengerti dan seketika memeluk sang suami.


"Aku takut saja jika kamu beneran ninggalin aku, Mas! Dan aku takut jika Kak Dinda membenciku karena aku sudah berani mengambil hatimu," ucap Putri dengan air mata yang masih menetes dari sudut matanya.


"Aku tidak mungkin meninggalkanmu, karena aku sudah terlanjur nyaman denganmu, Putri. Kita akan membina rumah tangga ini bersama. Apapun yang terjadi kita tidak akan berpisah!" sahut Rama sembari mengusap air mata sang istri.


"Bener??"


"Tentu saja, Sayang! Sekarang kamu tidak usah menangis lagi. Jika Dinda pulang, aku akan meminta maaf kepadanya tentang rasa ini yang sudah hilang. Sekarang, aku sudah mencintai adiknya yang bawel ini. Muridku yang super cerewet. Nggak pernah mengerjakan tugas, selalu membuatku naik darah!" seru Rama sambil mencubit hidung sang istri.


Putri pun sedikit kesakitan saat Rama mencubit hidungnya. "Emmm ... sakit, Mas!" pekik Putri sambil mengusap-usap hidungnya.


Rama terkekeh, dengan cepat ia menindih tubuh sang istri dan melanjutkan sesuatu yang tertunda tadi.


"Ahhhhh ... Mas! Kamu berat banget, aku terhimpit!" rintih Putri saat tubuh Rama membuat dirinya susah untuk bergerak.


"Terhimpit?! Bukannya kamu suka menghimpit?" sahut Rama sembari bersiap melesatkan sesuatu yang sudah tegak kembali.


"Enggak kok, aku nggak suka menghimpit!" protes Putri.


"Lalu ini ... ahhhhh ... bukankah ini yang selalu kamu lakukan. Kamu menghimpit suamimu sendiri, hmmm!" ucap Rama dengan suara berbisik manja disertai dengan sedikit desaahan yang membuat Putri seketika ikut memejamkan matanya.


"Hmmm ... iya, kalau ini sangat berbeda rasanya, Mas. Teruskan Mas, jangan berhenti lagi! Lebih cepat lagi ...."


Sesuai permintaan sang istri. Rama pun mempercepat tempo gerakan sehingga keduanya mulai terbuai dengan suasana romantis itu.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2