Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Gemess!


__ADS_3

Perlahan Rama menundukkan kepalanya dan melihat ke arah bawah. Dilihatnya si pisang tanduk sedang lemas dan tidak berdaya. Ia pun ikut terkekeh karena bentuknya sudah tidak segagah tadi sebelum melakukan kerja keras.


"Nggak usah ditertawakan! Dia seperti ini juga gara-gara kamu!" ucap Rama sambil berlalu pergi ke kamar mandi. Putri pun hanya bisa menghela nafas dan menahan rasa tidak nyaman pada area intinya. Ia pun mengambil tisu untuk membersihkan area tersebut. Setidaknya ia mengurangi rasa tidak nyaman meski di dalam masih tersisa cairan yang tentunya sudah berenang ke dalam.


Setelah Putri membersihkan area tersebut, ia pun segera mencari celana dalaamnya yang entah berada di mana. Sang suami melepaskannya dan ia tidak tahu di mana benda tersebut Rama letakkan.


Putri beranjak berdiri dan menurunkan roknya, setelah itu ia pun segera mencari keberadaan benda lembut itu di segala arah.


"Kemana ya? Mas Rama meletakkannya di mana? Kok nggak ada!" Putri terus mencari-cari benda miliknya. Ia pun sampai mencarinya di kolong kursi, di balik lemari, di balik pintu. Namun, Putri tidak menemukannya juga.


Setelah berputar-putar di sekitar ruangan. Putri menyerah karena benda itu tidak bisa ia temukan. Ia pun garuk-garuk kepalanya dan terus menerus mencari benda miliknya yang harus ia pakai kembali.


"Ya ampun kemana sih? Mas! Kamu tahu nggak di mana celanaku?" teriak Putri yang terus sibuk mencari benda keramat itu.


Tak berselang lama, Rama sudah rapi dengan berganti baju yang baru. Karena baju yang tadi terkena sedikit cipratan air cinta mereka berdua.


Rama melihat sang istri yang sedang kebingungan kenapa sesuatu. Ia pun mendekati istrinya dan berkata. "Kamu sedang cari apa?" tanya Rama sambil menutup tas kerjanya yang berada di atas meja.


"Kamu buang celana dalaamku di mana? Aku nggak bisa menemukannya, Mas!" tanya Putri.


"Hah? Tadi aku melemparnya dan aku tidak tahu dia jatuh di mana. Mungkin di bawah kursi atau meja, nggak mungkinlah jatuhnya jauh-jauh. Pasti di sekitar ruangan ini saja!" jawab Rama sambil bersiap-siap untuk pergi mengajar.


"Iya, aku udah cari-cari, Mas. Tetap saja nggak ada. Jangan-jangan dicuri kolor ijo mungkin!" ucap Putri sambil melototkan matanya kepada Rama.


Rama terkekeh melihat wajah sang istri. "Malah ketawa lagi," sahut Putri.


"Kamu tuh aneh-aneh saja. Kolor ijo apaan, kolorku tadi nggak berwarna hijau tapi ungu kebiru-biruan. Ya sudah Mas mau pergi dulu. Nanti Mas akan coba berbicara kepada kepala sekolah biar kamu diizinkan sekolah lagi. Oh iya nanti ada Bu Lina yang akan datang ke sini. Kalau kepala sekolah menyetujui. Mulai besok kamu tidak perlu homeschooling lagi," seru Rama sambil memakai sepatunya.


Putri pun melupakan sejenak celana dalaamnya yang belum ketemu. Ia pun merapikan baju sang suami dan mengantar Rama sampai ke halaman depan.


Setelah itu, Putri mencium tangan Rama dan dibalas Rama dengan kecupan pada kening sang istri.


"Aku berangkat dulu ya! Jaga dirimu baik-baik. Kunci semua pintu. Namun, jika Bu Lina sudah datang boleh kamu bukakan pintunya, mungkin sekitar jam 10 beliau datang," seru Rama.


"Iya Mas. Kamu hati-hati!" Putri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sebelum Rama menuju ke motornya ia pun sempat memasukkan tangannya ke dalam rok Putri dan merremas pantat sang istri sembari berbisik. "Hmm gemess!!" ucapnya sambil mencium pipi Putri, setelah itu ia pergi begitu saja menuju ke motornya. Putri melongo sembari mengumpat.


"Aduhhh!!! Dasar pak Rama mesum!" Putri mengusap-usap pantatnya dengan tersenyum smirk. Rama terkekeh sambil memasang helm setelah itu ia mencium jauh istrinya.


Tentunya Putri dibuat salah tingkah dengan sikap suaminya.


Seperti biasa, Rama pergi mengajar menaiki motor kesayangannya. Ia mulai menghidupkan mesin motornya dan setelah itu ia melambaikan tangan kepada sang istri.


*


*


*

__ADS_1


Sesampainya di sekolah. Rama melihat suasana yang sudah sepi. Tentu saja jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih tiga puluh menit. Hanya seperempat jam perjalanan dari rumah menuju ke sekolah tempat ia mengajar.


Gerbang sekolah di buka oleh satpam. Rama masuk dengan mengendarai motornya. Kedatangan Rama tanpa sengaja dilihat oleh salah seorang siswa kelas 12 A.


"Woi itu bukannya pak Rama? Aduhh, kita nggak jadi jamkos nih!"


"Wo iya tuh! Kenapa pak Rama rajin mulu sih, harusnya kita bilangin Putri biar bikin Pak Rama malas untuk mengajar!"


"Wkwkwk benar tuh! Biar dielus-elus terus sama Putri!"


"Asekkk!!"


Beberapa siswa laki-laki itu tampak sedang bercanda sambil menuju ke kelasnya. Namun, di saat yang bersamaan, mereka tanpa sengaja melihat salah satu siswa perempuan sedang berjalan menuju ke kelas 11.


"Woi woi siapa itu, Guys! Gila cantik banget anjay!"


"Ini sih cewek idaman banget. Wuss bodinya cuyy!"


"Kayaknya dia anak baru. Cieee adek kelas yang semok!!"


Wiro, Paidi dan Nanang tampak gembira saat melihat seorang siswi baru kelas 11 yang baru saja datang ke sekolah mereka. Iya, dia adalah Joice, siswi baru pindahan dari luar kota. Penampilan Joice tampak berbeda dari kebanyakan siswi di sana. Joice berambut pirang dan memiliki bentuk tubuh yang sintal. Sangat terlihat jika dia membawa budaya barat ke sekolah di mana Rama mengajar.


Ketiga siswa itu mendekati Joice dan berkenalan dengan gadis itu.


"Hai, kamu anak baru ya!" ucap Wiro sambil cengar-cengir. Joice pun cuma tersenyum smirk melihat ketiga pemuda itu.


"Anjay Dede, wkwkwk!" sahut Nanang yang menertawakan Paidi memanggil Joice dengan sebutan Dede.


Joice pun menjawab ketiga kakak kelasnya. "Sorry! Aku mau mau ke kelas. Lihat muka suram seperti kalian membuat kepalaku pusing. Sorry Kakak, bye maksimal!!" Ucap Joice sambil terus berjalan melewati ketiga pemuda itu dengan wajah cuek.


Baik Wiro, Paidi dan Nanang hanya melongo dan garuk-garuk kepala. Ternyata Joice tidak merespon mereka.


"Sialan tuh cewek! Sombong amat. Dia belum tahu siapa kita!" ucap Wiro yang merupakan ketua geng mereka.


"Kayaknya tuh cewek lihat mukaku seperti lihat kotoran. Sejelek itu kah?" sahut Paidi yang memiliki tahi lalat di pipi.


Nanang seketika tertawa saat melihat Paidi dengan tahi lalat nya yang cukup besar f pipinya.


"Ya iyalah tuh cewek jijik lihat muka kamu. Orang lalat aja beol di sini!" seru Nanang sambil menunjuk ke pipi Paidi.


"Brengsek kamu!" Paidi meraba-raba pipinya sambil komat-kamit.


*


*


*

__ADS_1


Sementara itu, Rama mulai memarkirkan motornya di tempat biasanya. Setelah motornya terparkir. Rama segera pergi ke kantor untuk bertemu dengan kepala sekolah dan meminta maaf karena datang sedikit terlambat. Ia juga meminta waktu untuk membicarakan sejenak tentang permintaan istrinya untuk diizinkan bersekolah lagi.


Setelah kepala sekolah mendengarkan permohonan Rama. Kepala sekolah sejenak berpikir untuk menimbang baik dan buruknya jika Putri kembali ke sekolah. Namun, Rama terus berusaha untuk meyakinkan kepala sekolah agar bisa mengizinkan sang istri untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah.


Beruntung, setelah merayu kepala sekolah. Akhirnya Rama bisa tersenyum lega karena kepala sekolah mengizinkan Putri untuk kembali belajar di sekolah. Namun, dengan catatan mereka berdua harus terlihat seperti guru dan siswa. Diharapkan Rama dan Putri bersikap seperti bukan suami istri jika sedang berada di ranah sekolah.


"Baik Pak. Saya bisa mengerti. Terima kasih Bapak sudah mengizinkan Putri untuk kembali ke sekolah," ucap Rama.


"Sama-sama Pak Rama. Saya berharap pak Rama dan Putri bisa konsisten dan tidak membuat siswa lainnya heboh karena tentunya rahasia pernikahan kalian sudah diketahui oleh semua anak-anak di sini. Kecuali siswa baru," ujar kepala sekolah.


"Tentu saja, Pak! Saya akan pegang kata-kata saya. Kami akan bersikap seperti biasa."


"Karena hari ini kita kedatangan siswa baru, dia adalah putri pak Sugondo, kita tahu sendiri siapa itu pak Sugondo. Beliau salah satu pejabat negara. Saya khawatir jika rahasia pernikahan Pak Rama dan Putri terdengar di telinga pak Sugondo. Bisa-bisa nama sekolah kita menjadi buruk di mata masyarakat," ungkap kepala sekolah.


"Iya Pak. Saya faham!" Rama dengan tegas menjawabnya.


Setelah Rama selesai dari kantor kepala sekolah. Ia pun langsung menuju ke kelasnya yaitu kelas 12 A.


Rama berjalan seperti biasa menuju ke kelas yang juga kelas Putri. Sungguh kharisma seorang Rama terlihat begitu macho. Wanita mana yang tidak tergoda dengan penampilan Rama yang terkesan killer namun begitu kharismatik.


Tentunya, kedatangan Rama seketika membuat seorang siswi baru terpesona saat melihat ketampanan salah satu guru yang mengajar di sekolahnya. Iya, dia adalah Joice.


"Waooo so handsome! Tampan sekali oh My God! Hei siapa dia?" ucap Joice sambil senyum-senyum sendiri melihat Rama yang sedang berjalan dengan gagahnya.


Joice tertarik untuk mendekati Rama. Gadis itu pun pura-pura berjalan menuju Rama yang saat itu sedang berjalan. Rama yang notabenenya seorang pria yang cuek dan introvert. Ia tidak memperdulikan Joice yang berjalan menghampirinya. Justru Rama sibuk melihat ke arah arlojinya.


Sesampainya di depan Rama. Joice mulai bereaksi. Gadis itu berpura-pura menabrakkan diri pada lengan Rama seolah dirinya tidak sengaja.


"Awwww!!"


Spontan Rama menoleh saat Joice pura-pura terjatuh. Pria itu pun hanya melihatnya tanpa menolong Joice. Karena Rama merasa dirinya tidak menabrak gadis itu.


"Aduhh sakit!!" pekik Joice sambil pura-pura memegangi kakinya.


"Hei, yang nabrak tangannya kenapa yang sakit kakinya?" sahut Rama yang tetap berdiri tanpa menolong Joice sedikitpun.


"Sakit Pak!! Kok Bapak nggak nolongin saya sih!" ucap Joice merengek. Rama tampak menoleh ke sekeliling dan kebetulan ia melihat ketiga muridnya, Wiro, Paidi dan Nanang yang sedang masuk ke dalam kelas.


"Heh kalian bertiga! panggil Rama. Ketiga siswa itu menoleh.


"Iya Pak?" sahut ketiganya.


"Tolong kalian angkat dia dan bawa ke UKS! Bapak sudah telat masuk kelas. Tolong ya!" titah Rama. Spontan Joice pun membelalakkan matanya saat ia melihat ketiga Kakak kelasnya yang disuruh Rama untuk menolongnya.


"Sialan nih guru! Bisa-bisanya nyuruh mereka untuk nolongin aku, ihhh najis!!" batin Joice.


"Kenapa nggak Bapak aja sih yang nolong?!" protes Joice. Seketika Rama pun menjawabnya dengan tegas. "Kita bukan muhrim, mengerti!!"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2