Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Pengakuan Bi Surti


__ADS_3

Sementara di tempat lain pada malam yang sama. Dinda merelakan dirinya untuk menjadi milik sang suami. Ia sudah siap lahir batin untuk menyerahkan mahkota yang selama ini ia jaga hanya untuk suaminya. Malam yang semakin larut. Semakin erat mereka untuk saling memeluk.


Teruntai kata di setiap hela nafas Dinda, ia hanya menyebut nama suaminya. Di setiap rasa yang mulai mendominasi jiwa mereka. Hanya perasaan cinta mampu menguasai jiwa.


Jari jemari lentik Dinda mencengkram erat punggung sang suami. Menjadikan sebuah rasa pelampiasan saat rasa yang bercampur dengan perih itu menghantam raga Dinda. Kali pertama dalam hidupnya. Ia merasakan jutaan gairah yang belum pernah ia alami.


Deburan ombak di laut. Mungkin tidak sebanding dengan debaran jantung keduanya. Memacu asmara untuk bersama mencapai puncak bahagia. Untuk sejenak, Yudha menghentikan gerakan yang pada akhirnya membuat Dinda mengeluarkan air matanya. Yudha menatap wajah sang istri dan mengusap buliran bening itu tatkala dirinya sudah merobohkan benteng keperawanan sang istri.


Terdengar suara lembut berbisik di telinga Dinda. "Apa aku menyakitimu? Jika iya, kau bisa memukulku atau mencakarku, sayangnya tapi aku tidak bisa menghentikannya, tidak bisa ...." bisikin itu terdengar begitu lirih dengan nafas terputus-putus.


"Aku rasa, sakitnya hanya di awal, sekarang aku merasakan sensasi yang berbeda. Don't stop, Honey!!"


Mendengar jawaban dari sang istri. Yudha pun tersenyum kemudian menciumi seluruh wajah istrinya, dari kening, pucuk hidung, kedua pipi Dinda dan terakhir berlabuh pada bibir mungil itu.


Mengecupnya pelan hingga akhirnya kecupan itu berubah menjadi ciuman yang panas diiringi gerakan lembut dan santai sehingga Dinda sama sekali tidak merasakan kesakitan apapun.


Yang terdengar hanyalah desaahan nafas keduanya. Mereka cukup tenang dan tidak terlalu menggebu-gebu. Karena mereka melakukannya dengan perasaan penuh kasih sayang dan berharap pernikahan itu abadi sampai akhir nanti.


Setelah beberapa menit. Pada akhirnya Yudha berhasil mentransfer jutaan sel calon bayi pada rahim sang istri. Jutaan sel itu berenang sampai ke dalam dan mencari sel telur yang sudah siap untuk dibuahi. Entah pertemuan kedua sel itu akan menjadikan mereka sebagai orang tua atau tidak. Hanya yang maha Kuasa yang tahu.


Yudha terhempas di samping Dinda. Keduanya berpelukan hingga akhirnya sama-sama terlelap.


Jika pagi ini Rama dan Putri berbahagia karena hubungan mereka semakin mesra. Hal yang sama terjadi pada pasangan Dinda dan Yudha. Dinda pun terjaga dari tidurnya. Ia merasakan tubuhnya pegal-pegal dan sangat berat.

__ADS_1


Dinda meraba-raba tempat tidur suaminya. Namun, ia tidak menemukan keberadaan Yudha. "Mas Yudha kemana, ya?" tanya Dinda dalam hati. Karena tak ada sang suami di samping. Ia pun beranjak pergi.


Dinda hendak ingin pergi ke kamar mandi. Ia pun berusaha untuk menggerakkan kakinya untuk turun dari tempat tidur. Namun, ia sedikit merasa kesakitan pada pangkal pahanya. Mungkin karena Dinda baru pertama melakukan hubungan suami istri. Sehingga ia merasakan tidak nyaman dan terasa ada sesuatu yang mengganjal.


"Awwww ... sssshhh!" Dinda mendesis saat satu kakinya mulai menyentuh lantai. Hingga akhirnya seorang wanita datang menghampiri Dinda dan langsung membantu Dinda untuk turun dari tempat tidur.


"Hati-hati, Bu! Mari saya bantu!" seru Bi Surti sembari membantu Dinda untuk berdiri. Dinda pun terkejut bukan main, pasalnya ia sedang tidak memaksa apapun, tubuhnya polosnya hanya ditutupi oleh selimut yang nyatanya selimut itu terjatuh dari tubuhnya.


"Si-siapa?" sahut Dinda, antara terkejut dan malu.


"Saya Bi Surti. Sekarang saya yang akan membantu Bu Dinda sampai pak Yudha pulang. Bu Dinda pasti masih nyeri. Itu lumrah, Bu. Nanti juga akan sembuh sendiri!" ucap wanita itu dengan ramah.


"Em maksud Bi Surti apa? Darimana Bi Surti tahu jika saya merasakan nyeri??" sahut Dinda yang bingung dengan ucapan Bi Surti.


"Bibi sudah tahu dari Pak Yudha tentang hubungan kalian. Bibi ikut senang akhirnya pak Yudha memiliki pendamping hidup. Daripada harus sama Nona Zora itu, saya sangat tidak suka. Dia wanita yang sangat judes dan angkuh!" Ungkap Bi Surti sambil memapah tubuh Dinda ke kamar mandi dan menutupinya dengan piyama.


"Zora? Zora siapa Bi?" tanya Dinda penasaran.


"Nona Zora itu anak seorang produser yang menaungi manajemen pak Yudha. Mereka sempat dekat tapi Bibi nggak terlalu mengikuti berita mereka. Karena Bibi berharap Pak Yudha tidak jadi menikah dengan Nona Zora dan syukurlah doa saya dikabulkan. Pak Yudha akhirnya menikahi Bu Dinda. Asli, Bu Dinda lebih cantik dari Non Zora, jauh!" seru Bi Surti membandingkan keduanya.


"Oh ... itu artinya ada seorang wanita sebelum kehadiranku?" tanya Dinda.


"Saya juga tidak bisa bohong, Bu. Iya memang ada. Tahu sendiri pak Yudha itu menjadi incaran banyak wanita. Pak Yudha juga sering mendapatkan hadiah dari wanita-wanita pengagumnya. Tapi, setahu saya pak Yudha itu nggak terlalu tertarik dengan mereka. Banyak juga artis-artis lawan main pak Yudha yang menyatakan cinta. Tapi, seperti yang saya bilang, pak Yudha itu hanya menganggapnya sebagai teman. Saya herannya entah kenapa dengan Bu Dinda, pak Yudha sangat suka seolah Bu Dinda berhasil menggaet hati pak Yudha yang selalu dingin dan wanita manapun," ungkap Bi Surti sejujurnya.

__ADS_1


"Ohhh seperti itu!" jawab Dinda sambil tersipu malu.


Kemudian ia pun diantar oleh Bi Surti untuk segera mandi. Bi Surti dengan telaten memandikan Dinda dan wanita itu sangat senang jika Yudha mendapatkan istri seperti Dinda.


*


*


*


Sementara itu di tempat lain. Yudha yang sudah berada di lokasi syuting ia langsung disambut oleh seorang wanita yang sangat menunggu kehadirannya.


Iya, wanita itu adalah Zora. Anak seorang produser terkenal. Ia juga yang membesarkan nama Yudha hingga akhirnya ia dikenal di kancah perfilman. Wanita itu menyempatkan waktu untuk datang ke lokasi syuting Yudha demi untuk merayu Yudha agar mau kembali kepadanya.


"Yudha, aku ingin bicara!" seru Zora dengan sedikit memaksa.


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Semuanya sudah berakhir, jangan ganggu aku!" sahut Yudha dengan sikap dinginnya. Pria itu pun langsung pergi meninggalkan Zora tanpa memperdulikan Zora yang sedang merengek kepadanya.


"Maaf aku harus syuting! Sebaiknya kamu pulang saja!" titah Yudha sambil menepis tangan Zora dan tetap beranjak pergi.


"Yudha, tunggu Yudha!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2