
Begitu juga dengan Putri. Ia pun tak kalah terkejutnya saat melihat kedua temannya berada di samping motornya.
"Hai, Nanang, Ririn. Kalian di sini juga!" sahut Putri dengan senang.
"Eheee iya nih. Kebetulan kita barengan," jawab Nanang.
"Akhirnya kamu masuk sekolah juga, Put! Aku senang banget. Kita bisa pergi bareng lagi dong!" ucap Ririn dengan gembira.
Spontan, Rama menoleh ke arah istrinya dan seolah ia ingin mengatakan jika Putri bukan lagi seperti dulu. Sekarang kemanapun Putri pergi harus ada izin dari sang suami.
Belum sampai Putri menjawabnya. Rama sudah terlebih dulu menjawab pertanyaan Ririn.
"Putri banyak tugas. Dia nggak bisa lagi pergi sembarangan. Jika kamu mau ketemu sama Putri. Kamu bisa datang ke rumah, pintu rumah pasti terbuka lebar untuk kalian!" ucap Rama yang seketika membuat Nanang mencolek tangan Ririn. Sedangkan Putri tampak tidak enak dengan ucapan sang suami. Ia berharap Ririn bisa mengerti posisinya sekarang yang bukan lagi seorang wanita single.
"Ehhh jangan ajak-ajak Putri lagi. Dunia dia sudah beda, Yank! sahut Nanang.
"Dunia apaan??"
"Putri sudah ada di dunia rumah tangga. Lah kita dunia gaib!" celetuk Nanang sambil cekikikan.
"Dunia gaib dunia gaib emang kita dedemit! Punya pacar satu agak-agak lain emang!" sahut Ririn dengan memutar bola matanya.
"Lah, emangnya kamu mau punya pacar berapa?" Nanang pun terkejut dengan ucapan sang pacar.
"Ahh udah deh, aku tuh tipe cewek setia ya, beda sama kamu," sahut Ririn.
"Aku? Kok aku?" Nanang tampak berpikir dengan ucapan sang pacar.
"Ya iya kamu. Tuh kemarin aku lihat kamu godain Joice si anak baru kelas 11. Hayo ngapain tuh kamu goda-goda dia. Dasar cowok nggak bisa lihat yang bening-bening!" umpat Ririn sambil mencubit pinggang Nanang.
"Hehehe iya iya, itu kan cuma ramah tamah, Yank. Namanya juga adik kelas baru ya harus baik dong. Gimana sih kamu!" Nanang berusaha untuk meyakinkan sang pacar.
__ADS_1
"Halah, alasan lama!"
Rama dan Putri melihat Nanang dan Ririn yang sedang bertengkar. Keduanya geleng-geleng kepala sambil menghela nafas panjang. Bukan hanya Rama dan Putri yang melihat mereka aneh. Pengendara lainnya pun juga ikut melihat Nanang dan Ririn yang tampak heboh sendiri.
"Astaga, mereka berdua seperti anjing dan kucing saja!" ucap Rama melihat kedua muridnya yang sedang beradu mulut di atas sepeda.
"Mereka udah biasa, Mas. Tapi ujung-ujungnya juga baikan lagi, udah pemandangan rutin setiap hari di kelas. Bahkan mereka saling menyebut nama orang tua masing-masing. Kayak mereka tuh musuhan tapi sebenarnya mereka tuh cinta. Kalau Ririn nggak masuk aja ditanyain mulu. Sama juga jika Nanang nggak masuk. Pasti tuh anak ngereog bolak-balik telepon Nanang hanya ingin tahu kabar Nanang. Lucu ya mereka?" ucap Putri.
"Dasar anak-anak. Labil memang!"
"Yeee jangan bilang gitu dong, Mas. Aku juga masih anak-anak loh. Aku juga kan murid kamu!" sahut Putri.
"Anak-anak katamu?"
"Heem, aku masih 18 tahun, kan!"
"Anak-anak kok udah pinter mainin terong!!" celetuk Rama yang seketika membuat Putri mencubit paha sang suami.
Tak berselang lama. Lampu hijau pun mulai menyala. Rama segera melajukan motornya untuk segera sampai ke sekolah tepat waktu. Sementara itu, Nanang dan Ririn juga melajukan motornya di belakang motor sang guru.
Selang sepuluh menit. Mereka tiba di depan sekolah. Putri segera turun dari motor sang suami, begitu juga dengan Ririn yang ikut turun di depan sekolah agar dirinya bisa jalan bersama Putri. Sedangkan Rama dan Nanang lanjut untuk masuk ke halaman parkir yang terletak di samping sekolah.
Di saat yang bersamaan. Datang sebuah mobil mewah yang berhenti di depan sekolah. Semuanya terpana saat melihat kedatangan mobil Joice.
Putri yang baru saja tiba di sekolah. Ia dikejutkan dengan seorang siswi baru di sekolahnya.
"Dia siapa, Rin?" tanya Putri kepada Ririn.
"Oh dia anak baru kelas 11 namanya Joice. Dia anak pak Sugondo," terang Ririn.
"Pak Sugondo anggota DPR itu?" Putri melototkan matanya saat mendengar nama pak Sugondo.
__ADS_1
"Tepat sekali. Sayangnya aku kurang suka dengan tuh cewek!" ungkap Ririn.
"Kenapa?"
"Tuh cewek sombong banget. Mentang-mentang dia anaknya pak Sugondo. Kayak dia merasa paling cantik dan paling wow di sekolah ini. Idiihhh jijay aku!" ungkap Ririn.
"Ohh masa sih! Dah lah kita masuk yuk!" ajak Putri kepada Ririn. Keduanya pun mulai masuk ke dalam sekolah. Namun, tiba-tiba saja Joice berjalan dengan sedikit berlari sehingga ia tanpa sengaja menyenggol lengan Putri..
"Awwww!!" pekik Putri saat Joice menyenggolnya cukup kuat. Spontan, Joice berhenti dan melihat ke arah Putri yang sedang mengusap-usap lengannya.
Sementara itu Ririn tidak terima jika Putri disenggol Joice tiba-tiba sehingga membuat Putri ter-seruduk sehingga sikunya terluka karena terkena goresan dinding.
"Woi! Kalau jalan lihat-lihat dong!" sahut Ririn. "Kamu nggak apa-apa, Put?" seru Ririn yang melihat siku Putri sedikit lecet.
"Eh gila ya tuh cewek. Siku ane jadi terluka ding!" ucap Putri yang melihat sedikit darah keluar dari kulitnya.
Joice pun tak perduli dengan apa yang terjadi dengan Putri. Ia pun segera membalikkan badan dan pergi meninggalkan Putri dan Ririn.
"Eh mau kabur kemana tuh cewe! Mau pergi aja nggak minta maaf," sahut Ririn yang melihat kepergian Joice.
"Udahlah biarin aja. Emang sedikit bar-bar tuh anak baru. Songong!" umpat Putri sambil melihat kepergian Joice. Ternyata oh ternyata, Putri dibuat terkejut dengan seragam sekolah yang dipakai oleh Joice.
"Eh ... tuh anak mau ke sekolah apa mau anu sih! Ketat banget bajunya. Kenapa kepala sekolah nggak melarangnya?" Putri tidak menyangka jika ada seorang siswi yang berani berpakaian ketat itu.
"Nggak usah heran. Duwit bapaknya banyak. Bisa jadi pak kepala sekolah mendapatkan kucuran rupiah dari Papa nya Joice, sehingga Joice bisa melakukan hal apapun tanpa ada yang melarangnya," terang Ririn.
"Hmmm ... bener juga sih. Kayanya para cowok kita harus dijauhkan dari cewek seperti itu. Jangan sampai mereka terlena," ucap Putri yang diyakini oleh Ririn.
"Yap, kamu benar, Put. Kita harus waspada. Tapi Pak Rama sih nggak bakalan tergoda. Dia tipe-tipe pria garang. Beda dengan Nanang. Dia ada cewek bening sedikit aja udah lupa dengan aku, aku kurang apa coba. Ngeselin nggak sih!" celetuk Ririn yang membuat Putri tertawa kecil.
BERSAMBUNG
__ADS_1