Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Teler


__ADS_3

"Kalau nggak dilepas, gimana bisa masuk?" jawab Rama yang seketika membuat Putri meringis sambil menutupi tempat itu dengan tangannya.


"Eh ini masih pagi, Mas. Kamu juga harus segera berangkat. Nanti anak-anak nungguin kamu loh. Masa pak gurunya datang terlambat!" seru Putri yang masih keukeuh menutupi tempat terlarang itu dari sang suami.


"Cuma telat setengah jam nggak apa-apa lah! Biar pernah merasakan datang telat. Selama ini aku terlalu rajin. Sekarang karena kamu udah bikin aku gemas, kamu harus bertanggung jawab, buka!" titah Rama sambil melepaskan tangan istrinya dari tempat itu.


"Jangan Mas, aku malu!" sahut Putri sambil menggelengkan kepalanya.


"Malu? Sama suamimu sendiri malu. Setiap malam aku melihatnya kamu nggak pernah malu?" sahut Rama yang sudah tidak tahan lagi.


"Ehh itu kan beda, Mas! Kalau malam kan lampunya dimatikan, gelap. Sedangkan saat ini. Matahari aja sedang menyorot ke kita. Pasti kelihatan jelas, Mas!" ucap Putri menjelaskan.


"Ya bagus dong! Aku bisa tahu dengan jelas tempat yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Pasti lebih bagus jika di siang hari!" seloroh Rama sambil tertawa kecil.


"Apaan sih kamu, Mas! Lebih bagus lebih bagus. Pokoknya kamu jangan lihat, malu!" seru Putri dengan sedikit berteriak.


"Ehh malu kenapa sih! Aku kan pingin lihat senyumnya, Sayang! Pasti sekarang dia sedang tersenyum. Mana coba lihat!" paksa Rama.


"Senyum-senyum, apanya yang senyum?" sahut Putri.


"Ya bibir kamu itu, maksudnya bibir bawah hehehe. Ah ayolah aku udah telat nih. Jangan lama-lama!" Rama terus memaksa Putri untuk menyingkirkan tangannya. Namun, Putri tetap tidak mau membukanya.


Rama menghela nafasnya dan Ia tampak kecewa dengan sikap istrinya. Akhirnya, ia pun beranjak pergi sembari berkata. "Ya sudahlah, karena kamu nggak mau. Biar aku berangkat sekarang. Hati-hati, dosa menolak permintaan suami!"


Mendengar ucapan Rama. Putri pun menjadi pikir-pikir. Apa yang dikatakan oleh Rama itu memang benar. Ia pun terpaksa mengikuti permintaan sang suami dan menahan tangan Rama untuk pergi.


"Jangan pergi, Mas!" pinta Putri dengan tatapan yang penuh harap.


"Apa lagi? Kamu sedang nggak mau ya sudah. Aku tidak akan memaksamu!" ucap Rama dengan wajah sedihnya.


Mau tidak mau, Putri harus bisa membuat sang suami tersenyum lagi. Meskipun ia sangat malu karena biasanya mereka melakukannya dalam kamar yang gelap. Akhirnya, Putri pun perlahan membuka tangannya yang menutup area inti miliknya.

__ADS_1


"Iya iya, aku minta maaf. Kamu mau ini, kan? Tapi jangan diketawain ya, Mas! Aku malu banget soalnya. Belum dicukur. Nggak bisa terlihat mulus. Nanti kamu jadi ilfil lagi lihatnya!" ucap Putri dengan suara lirih.


Rama menyunggingkan senyumnya tatkala mata lelakinya melihat sesuatu yang ditunjukkan oleh sang istri.


"Siapa bilang aku ilfil melihatnya. Bagus kok! Makin cantik aja kalau ada bulu-bulunya sedikit. Tuh kan dia senyum sama aku!" seru Rama sambil mengusap dan meraba-raba lembut tempat itu.


"Senyum? Emang kelihatan seperti itu? Ada-ada saja kamu, Mas!" sahut Putri sambil mulai menahan rasa geli yang mulai timbul karena sentuhan jari Rama.


"Ya bisa lah, dia juga mau bilang katanya dia ingin makan sesuatu!" ucap Rama sambil melepaskan resleting celananya.


"Makan sesuatu?" sahut Putri membulatkan kedua matanya.


"Dia mau makan pisang katanya!" ucap Rama sambil tersenyum nakal.


Putri mulai gugup saat Rama mulai menunjukkan karakter aslinya. Rama yang penuh gelora karena menggilai sang istri. Pria itu menarik kedua kaki Putri dan menyingkap rok yang dikenakan olehnya. Benar-benar pemandangan yang membuat Rama tak sabar ingin segera bermain di sana.


Setelah itu, Rama mulai merangkak ke atas dan membelai wajah Putri dan sesekali mencium bibirnya. Sambil menyelam minum air. Mungkin itu pepatah yang tepat bagi Rama ketika sedang menyatukan raganya dengan sang istri.


Putri tak bisa berkata apa-apa lagi. Karena dirinya sudah dikuasai penuh oleh sang suami. Keduanya menikmati kemesraan itu sebelum Rama berangkat mengajar. Pagi yang mulai siang. Tentunya di sekolah murid-murid Rama mulai tertawa senang karena guru killer mereka belum datang. Mereka berharap Rama tidak masuk sekolah dan mereka libur ulangan.


"Eh tumbenan Pak Rama belum datang ya?" ucap Ririn. Gadis yang dulu satu bangku dengan Putri.


"Semoga saja pak Rama bangun kesiangan, Guys!" sahut Wiro.


"Semoga saja! Pasti pak Rama dan Putri habis begadang semalaman bikin dede bayi!"


"Hebat ya Putri. Bisa meluluhkan hati pak Rama. Padahal Pak Rama itu nyeremin anjay! Apalagi pas lagi menghukum, pasti muka nih pucat lihat pak Rama melototkan matanya."


"Iya, namanya juga cinta. Yang keras jadi lembek, kayak pak Rama!"


"Eh ya kebalik dong. Yang lemah jadi mengeras anjay ...."

__ADS_1


"Jiahaha benar-benar!"


Spontan siswa di kelas itu riuh membicarakan Rama. Siswa siswi kelas 12 A itu tampak gembira karena sang guru killer tidak datang dan mereka bisa bebas bermain.


*


*


*


Sementara di tempat lain.


Permainan antara Rama dan Putri berdurasi sekitar sepuluh menit, hingga akhirnya Rama terkulai lemas. Rama mencengkram erat tangan sang istri seolah dirinya adalah pemilik penuh wanita itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih lima menit. Rama beranjak bangun setelah ia membuat Putri ampun-ampun. Pertarungan yang cukup singkat namun nikmat. Sofa di ruang tengah itu menjadi saksi bagaimana guru killer menaklukkan muridnya dan kini Putri tidak bisa berkata apa-apa lagi. Nafasnya naik turun, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar ketika dirinya dan Rama menciptakan sebuah kenikmatan yang hakiki.


"Aku haus, Mas!" rintih Putri sambil terlentang. Sang suami mengambilkan air minum kepada istrinya. Sebelumnya, Rama merapatkan lagi kedua kaki Putri dan meluruskannya. Setelah posisi salah satu kaki Putri berada pada sandaran sofa dan satunya lagi sejajar dengan tubuhnya.


Setelah memberikan air minum kepada Putri. Rama pamit ke kamar mandi dulu. Bagaimanapun juga mereka baru saja berhubungan badan. Rama kembali untuk membersihkan tubuhnya.


"Aku ke kamar mandi dulu, kau mau ikut mandi?" ajak Rama.


"Enggak, nanti saja. Aku mau istirahat, masih gemetar!" jawab Putri yang tentunya membuat Rama tertawa kecil.


"Makanya, jangan coba-coba godain aku!" ucap Rama sebelum dirinya pergi ke kamar mandi. Rama berjalan dengan hanya memakai kemeja saja. Sementara itu celananya sudah terlepas dari tadi dan tergeletak di atas lantai.


Benar saja, Putri dibuat tertawa ketika melihat Rama yang sedang berjalan menuju ke kamar mandi. Ia masih menggunakan kaos kaki dan kemeja yang masih terpasang sempurna. Hanya saja, bagian bawahnya sudah menggantung indah setelah berhasil menjelajahi lorong sempit yang menggigit.


"Astaga, Mas! Kok bisa teler gitu sih!" seru Putri yang tak sengaja didengar Rama. Seketika Rama membalikkan badannya dan terlihat dengan jelas milik suaminya yang panjang menggantung tampak sedang menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Apanya yang teler?" sahut Rama sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2