
"Hehehe seadanya sabun, Pak. Tapi jangan bilang-bilang Ririn ya, Pak? Saya malu!!" bisik Nanang dengan wajahnya yang merah merona.
"Ngapain Bapak bilang ke Ririn. Yang ada Bapak yang malu. Mana pakai sabun colek lagi, aduh nih anak! Untung saja kulitmu nggak melepuh!" Rama tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan kesomplakan muridnya yang unik itu.
"Iya sih, Pak! Perih banget sumpah! Aduhhh lecet! Untung cuma sedikit, setelah itu saya kapok main gituan dah!" ucap Nanang. Rama pun akhirnya tertawa kecil mendengar pengakuan dari muridnya itu.
"Nanang Nanang! Ada-ada saja kamu ini!"
"Jangan diketawain dong, Pak. Namanya juga pingin. Pak Rama pernah mengalami hal yang sama kan seperti saya hehehe. Tapi sekarang Pak Rama udah enak ada Putri. Udah ada yang ngangetin. Lah saya! Harus nikah dulu sama Ririn!" ucap Nanang sambil garuk-garuk kepalanya.
"Huss! Jangan bicarakan itu lagi! Sekolah dulu yang pinter. Kuliah, terus kerja biar bisa buat biaya nikah. Nikah itu nggak semudah yang diucapkan. Apalagi kamu membawa anak perawan orang. Kamu harus bertanggung jawab jangan mikirin urusan ranjang saja!"
Nanang tampak mendengarkan nasihat dari sang guru. "I-iya, Pak." Nanang manggut-manggut mendengar ceramah dari guru killer nya.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Ririn melihat wajah Putri yang pucat. Tentu saja gadis itu sangat khawatir dengan keadaan sang teman yang tidak seperti biasanya.
"Ya ampun, Put. Kamu pucat sekali loh, kamu sakit ya?" tanya Ririn sambil melihat kondisi Putri yang seolah sedang kurang darah.
"Enggak, aku nggak sakit kok!"
"Nggak sakit kok pucat gitu. Ditambah pakai muntah-muntah lagi. Kayak orang hamil aja! Eh atau jangan-jangan kamu ... kamu hamil ya, Put??" sahut Ririn menebak.
"Ssssttt! Jangan keras-keras!" sahut Putri sambil menyuruh Ririn untuk diam.
Ririn pun terlihat senang saat tahu jika sahabatnya itu sedang mengandung. "Jadi beneran! Kamu sedang hamil?"
Terpaksa Putri pun mengaku jika dirinya memang sedang hamil. Tapi Putri berharap Ririn bisa merahasiakan kehamilannya dari teman-temannya di sekolah.
"Ya ampun, Put! Selamat ya, aku ikut senang dengarnya. Pasti pak Rama senang banget dengar kamu hamil. Aku janji nggak bakalan bilang ke teman-teman. Pokonya kamu harus jaga kandungan kamu ya!"
"Hmmm terima kasih banyak, Rin. Tapi badanku rasanya sakit semua. Perutku sering mual apalagi bau badan suami aku. Ya ampun rasanya aku mau pingsan!" ucap Putri.
__ADS_1
Ririn pun terkejut ketika Putri berkata demikian. "Hah! Kok bisa gitu? Masa bau badan suami sendiri eneg sih!" ucap Ririn heran.
"Aku sendiri juga tidak tahu, Rin! Kata dokter ini tuh karena aku sedang hamil muda. Efek morning sickness, dan katanya ini berlangsung selama beberapa bulan ke depan," terang Putri sambil mencuci wajahnya dengan air.
Kondisi sang sahabat yang sedang hamil, membuat Ririn menjadi kasihan dan tidak tega melihat Putri yang terlihat lemas dan pucat.
"What? Jadi selama beberapa bulan itu kamu harus mengalami hal seperti ini?" sahut Ririn dengan melototkan matanya. Putri pun menganggukkan kepalanya dan beranjak untuk keluar dari kamar mandi.
Ririn terus menemani Putri. Ia pun semakin penasaran dengan apa yang dirasakan oleh wanita yang sedang hamil muda.
"Eh Put! Ngomong-ngomong hamil itu enak nggak sih? Kata orang rasanya sangat nikmat. Bener nggak tuh?" tanya Ririn sambil ngintil di belakangnya Putri.
"Nggak enak! Jangan coba-coba! Badan pegel semua," sahut Putri.
"Duhh nggak enak ya! Jadi takut sendiri kalau Nanang menghamili aku." Ririn tampak menekuk mukanya dan mulai parno. Keduanya berjalan menuju meja semula. Putri sudah terlihat membaik meskipun ia masih sedikit lemas. Setidaknya perutnya sudah tidak mual lagi.
Tak berselang lama, kedua gadis itu tiba di meja makan. Rama melihat istrinya datang bersama Ririn.
Ririn duduk di samping pacarnya. Mereka berdua saling berbisik seolah sedang membicarakan sesuatu.
"Yank! Aku punya kabar bagus!" bisik Ririn.
"Kabar apa? Kamu menang arisan?" balas Nanang sambil mendekatkan telinganya pada wajah Ririn dengan menutup mulutnya yang sedang berbisik dengan sang pacar.
"Bukanlah! Emangnya aku ibu-ibu suka ikut arisan!"
"Terus apa dong?" Nanang masih penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Ririn. Sementara itu, Rama dan Putri sibuk makan makanan yang ada di hadapan mereka. Rama benar-benar tidak ingin membuat istrinya bad mood lagi dengan mencium aroma tubuhnya. Ia pun cuma bisa melihat sang istri dari jarak yang cukup jauh.
"Eh tahu nggak sih. Putri sedang hamil! Ya ampun aku ikut senang dengarnya!" ungkap Ririn yang sebenarnya sudah diketahui oleh Nanang.
"Iya, aku sudah tahu." balas Nanang dengan santai.
__ADS_1
"Eh kamu sudah tahu? Kayak dukun aja. Apa pak Rama yang bilang ke kamu?"
"Bukanlah! Aku mengira-ngira sendiri dan ternyata benar, si Putri sedang tekdung! Eh Ayang, aku sudah nggak sabar ingin segera menikahi kamu dan kamu hamil anak kita. Pasti seru!" ucap Nanang sambil membayangkan bagaimana jika dirinya menikah dengan Ririn dan punya anak.
Spontan Ririn menepuk paha Nanang dan berkata. "Ehhh kita kuliah dulu dan kerja. Kamu pikir nikah itu gampang! Iya si Putri, pak Rama udah jadi guru PNS. Gaji jelas udah gitu mapan. Lah kamu, belum apa-apa sudah ngebet kawin." balas Ririn.
"Iya sih kata pak Rama juga gitu! Tapi aku bingung mau kerja apa setelah kuliah. Maunya aku kerja sambil kuliah tapi bingung juga mau kerja apaan!" ucap Nanang. .
"Kerja apa saja asalkan halal. Lah kamu bisanya apa?" sahut Ririn sambil makan.
Sejenak Nanang menatap ke arah langit sambil berpikir. "Hmm kerja apa ya? Eh iya ding aku tahu harus kerja apa," ucap Nanang tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Sedangkan Rama dan Putri tanpa sengaja mendengar obrolan pasangan muda-mudi itu yang sedang membicarakan masa depan mereka.
"Apa?" tanya Ririn antusias.
"Tukang cukur rambut!" jawaban Nanang langsung membuat Ririn membuka mulutnya.
"Haaa tukang cukur rambut? Nggak ada kerjaan yang lain?" tanya Ririn.
"Nggak ada Yank! Aku cuma punya keahlian cukur rambut. Kamu tahu sendiri bapakku tukang cukur rambut keliling. Jadi aku banyak sedikitnya tahu lah bagaimana mencukur rambut yang bagus. Bahkan, aku juga bisa mencukur rambut kamu. Jadi, nanti rambut kamu akan selalu rapi dan tidak terlalu lebat! Aku tidak suka yang terlalu lebat. Nanti bisa dijadikan tempat persembunyian sarang kutu!" ucapan somplak Nanang terdengar oleh Rama dan Putri.
Putri tampak menahan rasa ingin tertawanya mendengar ucapan dari temannya yang gokil itu. Sedangkan Ririn terlihat cengar-cengir sambil menepuk pundak sang pacar karena malu Rama dan Putri tidak sengaja mendengarkan obrolan mereka.
"Eh Ayank! Ngomongnya jangan gitu lah! Malu didengar oleh mereka!" seru Ririn yang seketika membuat Nanang menatap wajah sang guru dan Putri yang ada di depannya.
"Hehehe Pak Rama! Kenapa lihatin saya seperti itu? Mau dicukur juga? Biar nggak lebat dan jadi sarang kutu?" seru pemuda itu sambil tersenyum malu-malu.
"Memangnya kamu bisa mencukur rambut yang mana?" sahut Rama.
"Hehehe rambut mana saja, Pak. Rambut ketek juga bisa!" jawab Nanang sambil terkekeh.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1