
"Mas, kamu ngapain?" Dinda begitu takut ketika Yudha tiba-tiba mendekapnya erat tentunya melakukan hal yang lebih dalam lagi.
"Udah, kamu diam saja. Rasakan saja, entar nanti kamu juga suka," ucap Yudha.
"Aku takut, Mas!" Dinda merapatkan kedua kakinya dan ia benar-benar masih terngiang-ngiang bayangan benda berurat itu.
"Hah! Takut? Kamu takut apa?" Yudha menatap wajah sang istri yang tampak mulai berkeringat.
"Itu, emmm ... takut, takut anu!!" Dinda tampak panik harus bilang apa. Jika dirinya jujur pasti dia gagal memberikan kejutan untuk suaminya. Bahwa ia sudah bisa melihat.
"Takut apa sih! Ayo dong, Sayang! Ngapain dikempit terus, kamu nggak kasihan sama suamimu ini, dingin Yank! Mau cari yg anget-anget," ucap Yudha sambil berusaha membuka kedua paha Dinda dengan kakinya.
"Aduhhh, gimana dong! Nggak bisa nolak," batin Dinda yang tentunya dirinya tidak mungkin bisa lagi menahan kedua kakinya untuk tetap mengatup. Dengan mudah, Yudha membuka kedua paha Dinda dan pada akhirnya lagi-lagi Dinda mendesis saat sesuatu yang berurat itu sudah masuk ke dalam tubuhnya.
Tak bisa lagi dihindari. Aktivitas itu terulang kembali. Nyatanya, benda yang dilihat oleh Dinda itu tak seburuk bentuknya yang unik dan menggelitik. Ternyata sensasi rasa yang dihasilkan dari gerakan benda itu membuat Dinda lupa segalanya.
"Kenapa rasanya seenak ini? Padahal bentuknya menakutkan sekali,"
Sekarang, Dinda bukan hanya merasakannya saja. Bahkan ia bisa melihatnya secara nyata. Membuat Dinda semakin melayang-layang.
__ADS_1
Lima belas menit, pertempuran itu akhirnya berakhir. Yudha terhempas di samping Dinda dengan nafas yang tersengal-sengal. Sementara itu, Yudha tertidur lagi karena dirinya sudah terlihat puas dan lelah.
Yudha pikir Dinda tidak mungkin melihatnya secara keseluruhannya, ia pun tidur terlentang dengan tubuh yang polos. Spontan, Dinda mengernyitkan dahinya ketika benda yang sebelumnya berurat itu kini mulai mengecil bentuknya dan mulai terlihat imut.
"Ihhh lucunya, kok bisa kecil gitu! Ya ampun, baru kali ini lihat benda milik laki-laki. Ternyata nggak sejelek saat berdiri tadi. Sekarang dia bobo," batin Dinda sembari bermain-main dulu karena ia mulai gemas akan bentuknya yang lucu.
Dinda mulai menyentuh ujung kepala gundul itu. Ujung yang berwarna merah kecoklatan itu terlihat masih berdetak seolah benda itu memiliki nafas.
"Astaga, jadi benda sekecil ini bisa bikin aku klepek-klepek!"
Dinda menyentuh pucuk benda itu dan ternyata membuat Yudha kaget dan tebangan. "Aduhhh!!" pekik pria itu sambil membuka kedua matanya. Dilihatnya sang istri yang masih berada di sampingnya sambil menghadap ke arah tubuhnya. Dinda buru-buru menarik tangannya dari si gundul dan pura-pura tidak melakukan apapun.
"Aduhh pakai melek lagi. Mudah-mudahan Mas Yudha nggak tahu jika aku udah menyentuhnya," Dinda mulai panik dan ia pun berharap Yudha tidak mengetahuinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Dinda yang masih pura-pura.
"Kayak ada yang nyentuh ...." Yudha bingung apa yang sudah menyentuh si jagoan miliknya.
"Nyentuh apaan, Mas?"
__ADS_1
"Nyentuh ini, eh ... jangan-jangan kamu ya hayo ngaku!!" sahut Yudha sambil menggelitik pinggang istrinya.
"Nyentuh apaan sih Mas. Eh jangan dong geli, Mas!" pekik Dinda ketika jari-jari Yudha menggelitik manja pinggangnya.
"Kamu yang udah menyentuhnya, kan? Ngaku nggak?" desak Yudha.
"Mas, aku tuh nggak ngerti maksud kamu apa? Emangnya apa yang sudah nyentuh kamu!" Dinda masih berkelit padahal dirinya yang sudah mengerjai sang suami.
"Oh iya ya, nggak mungkin kamu juga yang nyentuh. Terus siapa dong yang nyentuh?" Yudha mulai bingung. Karena tidak mungkin istrinya bisa menyentuhnya karena Dinda tidak mungkin bisa melihat benda miliknya. Karena dalam pikirannya Dinda masih buta.
"Mungkin setan kali, Mas. Salah sendiri kamu nggak pakai baju. Mungkin setannya cewek dan gemas lihat kamu nggak pakai apapun!!" sahut Dinda.
Spontan, Yudha terkejut darimana istrinya tahu jika dirinya sedang tidak memakai apapun.
"Dari mana kamu tahu jika sekarang aku sedang telanjang bulat?" tanya Yudha yang berbisik pada telinga Dinda dengan kedua tangannya masih melingkar pada pinggang Dinda.
Dinda membulatkan matanya saat Yudha bertanya seperti itu.
"Ya tahulah, Mas. Sekarang kamu peluk aku aja udah kerasa banget kamu sedang nggak pakai apapun. Mana dia nempel banget lagi di pantat," balas Dinda ketika Yudha memeluknya dari belakang.
__ADS_1
Yudha terkekeh dan ia pun mengakuinya. "Iya, dia memang nggak bisa jauh dari kamu!" balas Yudha dengan suara berbisik.
...BERSAMBUNG ...