
Yudha terkekeh. Sejujurnya dirinya juga tidak bisa memejamkan matanya. Apalagi malam ini adalah malam pertama dirinya tidur ditemani oleh seorang wanita.
"Sialan! Kenapa aku tidak bisa juga memejamkan mata? Padahal ini udah lewat tengah malam. Mana subuh harus berangkat syuting lagi. Aduh bisa-bisa badan nggak fit!" pikir Yudha sambil meletakkan lengannya di atas kepala.
"Kalau besok aku tinggal syuting, siapa dong yang jagain Dinda? Eh ada Bi Surti di rumah. Mungkin Bi Surti bisa jagain Dinda sebentar sebelum aku pulang," sambung Yudha sembari berusaha untuk memejamkan matanya.
Sama halnya dengan Dinda. Gadis itu justru semakin susah untuk terlelap karena dalam kamar itu mereka sedang berdua. Dia takut jika Yudha mendekatinya dan menciumnya lagi.
"Nih mata kenapa juga nggak bisa merem, dipaksa juga tetep aja melek!" batin Dinda yang terus menerus berusaha untuk memejamkan matanya.
Akhirnya, karena gabut dan tidak bisa tidur. Yudha terpaksa mencari hiburan dengan melihat konten video di YouTube. Setidaknya itu bisa melupakan tentang dirinya yang saat itu tidak bisa melupakan adegan yang terlalu romantis baginya. Adegan ciuman yang biasanya ia lakukan secara pura-pura. Tapi, kali ini ia tidak melakukannya dengan pura-pura. Yudha melakukannya dari hati.
Yudha mulai membuka layar ponselnya dan segera melihat video menarik dan berita terkini dunia.
Untuk sekilas, Yudha melihat sinetron yang dibintanginya itu masuk ke dalam video viral. Ia pun cekikikan saat melihat aktingnya sendiri sebagai Bang Jacob.
Suara ketawa Yudha mengundang Dinda untuk penasaran. Gadis itu tampak mendengarkan dengan seksama suara Yudha yang terdengar begitu senang.
"Mas, bisa dikecilin nggak sih suaranya? Aku mau tidur nih. Berisik!!" seru Dinda kesal.
"Iya iya maaf, aku geli aja lihat aktingku sendiri. Ya Tuhan, jadi selama ini aku seperti itu. Bang Jacob yang menghabiskan banyak cewek? Astaga, si tukang pemerkosa, tukang perebut bini orang. Padahal aku nggak punya pengalaman memperkosa loh kok bisa seperti itu, ya!" balas Yudha sambil berpikir dalam-dalam.
"Ya elah, emangnya nunggu kamu memperkosa beneran baru berakting? Itu namanya kamu udah profesional. Belum pernah melakukannya tapi kamu dituntut harus bisa beradegan seperti itu. Ya bagus dong! Itu artinya kamu sudah berhasil memerankan Bang Jacob!" jelas Dinda.
"Hmm kamu benar juga, hehehe. Sebenarnya aku tuh tipe-tipe cowok pemalu jika didekati cewek. Jadi, aku tuh gimana ya, kayak nggak enak gitu kalau sampai menyentuh seorang cewek. Ya ... aku ini kan termasuk aktor yang jauh dari kata wanita ...."
"Preett lah! Nggak percaya!!" sahut Dinda dengan ekspresi mengejek.
"Dihhh nggak percaya, dibilangin juga!" balas Yudha sambil terus men-scroll video YouTube yang ia lihat.
Akhirnya, Yudha mendapatkan sebuah video yang cukup membuatnya tertarik, ia pun langsung tersenyum saat melihat judul video tersebut.
"Ahh ini nih, wajib dibesarkan volumenya biar Dinda dengar!!" batin Yudha sambil mengklik video yang berjudul 'Kewajiban Utama Suami dan Istri'.
__ADS_1
Video itu mulai diputar oleh Yudha dan tak lupa ia pun membesarkan volume ponselnya. Untuk sejenak, Dinda merasa terganggu dengan suara dari video yang seperti diputar oleh Yudha.
"Mas, kamu nggak denger permintaanku? Plis kecilkan suara videonya, aku mau tidur!!" seru Dinda.
"Ehh ini tausiyah dari ustadz tentang kewajiban suami istri. Cocok nih untuk pasangan baru seperti kita. Biar kita tidak salah langkah, dengarkan saja!!" jawab Yudha dengan santai.
"Hah, kewajiban suami dan istri? Kenapa sih Mas Yudha harus lihat video itu?" batin Dinda.
Tentu saja suara dari seorang ustadz sedang berceramah di video itu sangat membuat Dinda gugup dan salah tingkah. Pasalnya dalam video itu Dinda yang merupakan seorang istri wajib memberikan nafkah batin untuk suaminya. Jika tidak, maka dirinya akan dilaknat malaikat sampai menjelang subuh dan sangat berdosa seorang istri menolak permintaan sang suami untuk berjima'.
Begitu juga dengan Yudha, pria itu pun mendengarkan dengan baik ceramah dalam video itu. Diantara pria yang paling baik adalah pria yang bisa menghargai istrinya dan bertanggung jawab atas istrinya lahir dan batin.
Baik Yudha maupun Dinda terlihat mendengarkan dengan serius. Ada sedikit rasa deg-degan ketika ia mendengarkan jika seorang istri harus bisa merayu suaminya. Bahkan, Allah memberikan pahala yang besar bagi seorang istri yang meminta duluan daripada suaminya. Allah akan memberikan kemuliaan dan surga untuk istri-istri seperti itu.
"Aduhhh minta duluan? Gimana ceritanya? Bagaimana ngomongnya jika minta duluan, ihhh geregetan sih. Tapi, itu semua adalah pahala dan surga. Ya Tuhan, apakah aku harus seperti itu?" batin Dinda yang mulai salah tingkah. Ia merremas pucuk selimut itu hingga lusuh dan sesekali ia menggigit ujung selimut itu membayangkan bagaimana jadinya jika ia dan Yudha melakukannya.
Yudha melirik ke arah sang istri. Dilihatnya Dinda sedang mendengarkan tausiyah itu. Yudha pun tersenyum senang. Setidaknya tausiyah itu membantunya untuk lebih dekat dengan Dinda.
"Kok dimatikan? Udah selesai ya, Mas?" tanya Dinda yang tiba-tiba ia tidak mendengar lagi suara ustadz ceramah.
"Sudah, sebaiknya sekarang kamu tidur. Udah malam, besok subuh aku harus kerja. Nanti ada Bi Surti yang akan menjagamu. Jika ada butuh sesuatu kamu bisa minta tolong sama Bi Surti, dan jangan lupa untuk menghubungi aku jika kamu ada apa-apa," ucap Yudha sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Dinda pun mengiyakan ucapan Yudha. Kemudian ia pun tak lantas tidur. Entah, mungkin video tausyiah itu membuat Dinda mendapatkan hidayah. Tiba-tiba saja ia menawarkan Yudha untuk tidur di sampingnya.
"Mas!"
"Hmm ... ada apa?" tanya Yudha yang saat itu baru saja memejamkan matanya.
"Ka-kamu nggak mau ti-tidur di sampingku, Mas?" pinta Dinda memberanikan dirinya. Jantung Dinda mulai berdegup kencang. Ia benar-benar ingin sekali mendapatkan pahala dari sang Kuasa sebagai bentuk rasa baktinya kepada sang suami. Meskipun ia sebenarnya masih belum siap untuk tidur satu ranjang bersama Yudha.
Tentu saja tawaran Dinda membuat Yudha terkejut bukan main. Akhirnya video itu berhasil membuat Dinda berubah pikiran.
"Syukurlah, akhirnya istriku mendapatkan hidayah!!" batin Yudha dengan senang. Namun, ia pun masih berpura-pura tidak tahu dan masih bersikap seolah-olah ia masih tidak ingin mengganggu istrinya.
__ADS_1
"Emm ... tidak usah, bukankah kamu memintaku untuk menjauhimu? Jadi, aku juga akan berpikir seribu kali untuk tidur di sampingmu, karena aku takut!!" sahut Yudha yang masih berada di atas sofa.
"Takut? Emangnya kenapa kamu takut?" tanya Dinda tiba-tiba.
"Iya, aku takut aja jika aku tidak bisa mengendalikan diriku," seru Yudha.
"Memangnya kamu mau ngamuk? Sampai-sampai kamu tidak bisa mengendalikan diri?" Dinda pun tertawa kecil.
"Iya, bukan aku yang ngamuk tapi yang lainnya ...." Yudha tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tapi yang lainnya apa?" tanya Dinda penasaran.
"Nggak ah, nanti kamu nangis dan marah lagi!" ucap Yudha.
"Aku nangis? Kenapa bisa begitu? Oke, jika kamu tidak mau tidur di sini ya sudah, yang penting aku sudah menawarkannya, itu terserah kamu!" ucap Dinda yang kemudian Ia pun kembali tidur.
Yudha pun beranjak bangun dan tidak mungkin ia melewatkan kesempatan ini. Pelan-pelan, Yudha berjalan mengendap-endap menuju ke tempat tidur di mana Dinda sedang berbaring.
Ia pun mulai beranjak naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut yang sama dengan selimut istrinya.
"Semoga saja Dinda tidak marah. Karena aku lihat Dinda mulai welcome padaku. Setidaknya dia akan merasa lebih nyaman berada bersamaku," batin Yudha sambil mendekati istrinya.
Sontak Dinda merasakan ada gerakan di belakangnya. Ia pun mulai panik dan Ia berteriak. "Awww siapa itu?"
"Sssttt! Sudah diam! Ini aku suamimu!" ucap Yudha yang tiba-tiba melingkarkan tangannya pada pinggang Dinda.
"Mas Yudha! Kamu kok ada di sini?" sahut Dinda terkejut.
"Loh tadi katanya kamu menawarkan aku tidur di sini? Sekarang aku sudah ada di sini kamu tanya lagi?" sahut Yudha sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Emmm ... iya sih! Ta-tapi ... kira-kira kamu bisa menahan diri nggak?" pertanyaan Dinda seketika membuat Yudha tertawa kecil. Ia pun mendekati telinga Dinda dan berbisik. "Jika tidak bisa, kamu mau apa?"
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1