
Hangat, lembut dan terasa begitu mesra. Pada akhirnya bibir itu saling bersentuhan. Mengecup mesra bak menyentuh kapas yang lembut. Mata terpejam, sama-sama merasakan begitu indahnya perasaan cinta yang perlahan hadir. Mengalir indah ke seluruh aliran darah, menciptakan simfoni yang indah sehingga keduanya tidak sadar jika mereka telah terbuai suasana.
Tak terasa kecupan demi kecupan manis mulai membuat mereka nyaman. Semakin erat tangan Dinda mencengkram bahu suaminya. Sementara itu tangan Yudha berada pada tengkuk leher istrinya. Memagut agar ciuman mereka tidak terlepas.
Getaran-getaran asmara itu mulai dalam hingga Dinda tidak merasa jika dirinya sedang sedih karena penyakit dan kebutaannya.
Asmara membubuhi suasana malam itu. Entah setan apa yang merasuki keduanya. Tapi rasanya bukan setan yang menggoda mereka. Karena mereka sejatinya adalah pasangan halal.
Bahasa tubuh tidak mungkin bisa dipungkiri. Bukannya Dinda seorang wanita yang murahan. Tapi dirinya sedang bersama suaminya, tidak ada yang salah di antara mereka.
Nafas Dinda mulai terengah-engah tatkala Yudha mengecup leher jenjang itu, memberikan sebuah tanda kepemilikan di sana. Dinda memang tidak bisa melihat, semuanya terlihat gelap. Namun, hari itu ia tidak merasa gelap sama sekali. Bahkan ia merasa dunianya berwarna.
Sebagai laki-laki normal, tentu saja Yudha tidak bisa mengontrol dirinya ketika ia dihadapkan dengan sesuatu yang membuat jiwa kelelakiannya membara.
Untuk sejenak, Yudha menatap wajah Dinda yang masih terpejam sembari menggigit bibir bawahnya. Karena dirinya juga tidak ingin memaksa Dinda untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Setelah sepersekian detik, akhirnya Dinda mulai tersadar dan ia pun mulai merasa jika dirinya baru saja berciuman dengan Yudha.
"Mas Yudha, ngapain kamu peluk-peluk aku?" seru Dinda sambil mendorong dada sang suami. Spontan Yudha mundur ke belakang.
"A-aku minta maaf, Din! Aku tidak bermaksud untuk ...." Yudha tidak melanjutkan kata-katanya karena Dinda langsung menyela pembicaraannya.
"Kamu udah berani menciumku, Mas? Kok kamu tega sih Mas? Aku sudah bilang jangan sentuh aku dulu!" seru Dinda dengan kesal.
"I-iya, tadi aku nggak sengaja menciummu. Lagipula kamu juga tidak menolakku kok. Jadi, aku tidak memaksamu juga!!"
"Ihhh jahat kamu, Mas! Pergi kamu dari sini. Biarkan aku sendiri!" sahut Dinda sambil membalikkan badannya.
"Oke oke aku pergi, aku minta maaf, aduhhh ketekuk lagi!!" ucap Yudha sambil mengembalikan posisi si pisang tanduknya yang tak sengaja tertekuk.
Dinda yang mendengar itu pun penasaran dengan apa yang tertekuk. Spontan Dinda bertanya kepada Yudha yang saat itu sedang memasukkan satu tangannya ke dalam celana. Entah apa yang sedang dilakukannya.
__ADS_1
"A-aduhh nyeri beud!" rintih Yudha.
"Apanya yang ketekuk, Mas? Kamu kok kayak kesakitan?" tanya Dinda tiba-tiba. Sontak Yudha melototkan matanya ketika Dinda menghadap ke dirinya, sedangkan satu tangannya masih berada di dalam celana.
"Eh ... bukan apa-apa, ini kepalanya masih nunduk nggak mau tegak. Sekarang udah tegak kok, tapi sayang nggak bisa masuk!!" jawab Yudha yang tentunya membuat Dinda bingung apa yang dimaksud oleh suaminya itu.
"Hahhh! Kepalanya apa?? Nunduk ... tegak!!" pikir Dinda mulai macam-macam.
Setelah beberapa detik akhirnya Dinda pun mulai mengerti maksud suaminya dengan kepalanya nunduk dan ketekuk. Ia pun tampak salah tingkah nyatanya dirinya yang sudah membangunkan pisang tanduk milik Yudha sehingga Yudha merasa tidak nyaman.
"Oh ... kirain apa!" sahut Dinda yang merasa tidak bersalah.
"Memangnya apa, kamu sudah tahu?" tanya Yudha yang pada akhirnya sudah bisa menegakkan pisang tanduknya agar tidak ketekuk.
Dinda pun bingung menjawabnya. "Emm ... iya itu itu ... aduhhh udah deh, Mas! Pokonya hari ini aku tuh lagi ngambek sama kamu. Kamu tidur di luar sana!" titah Dinda.
"Kalau aku nggak mau, kamu mau apa?" seru Yudha balik bertanya.
"Hanya satu ranjang, kan? Bukan satu kamar?" ucap Yudha sambil tersenyum smirk.
"Hah!!"
"Itu artinya, aku masih boleh dong tidur di kamar ini asalkan aku tidak satu ranjang denganmu. Beres, kan? Lagipula aku tidak terbiasa tidur di luar. Apartemen ini hanya memiliki satu kamar saja. Jadi, kita tidak punya pilihan lain," ucap Yudha.
"Kamu mau tidur di kamar ini hah!!" sahut Dinda.
"Ya nggak apa-apa dong. Lagipula kamu tuh harus selalu dalam pantauan ku. Nanti jika ayah dan ibu tanya gimana hayo? Dikiranya aku nggak bisa jaga kamu," seru Yudha yang mulai berani bertindak tegas.
"Tapi Mas ...."
"Tidak ada tapi-tapian. Pokoknya kamu harus selalu ada dalam pantauanku. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Apapun yang terjadi padamu akulah orang pertama yang dipertanyakan. Jadi, aku mohon jangan pernah menjauhi aku! Aku pasti selalu ada untukmu, Din. Demi kesembuhan dan kesehatanmu juga, karena aku yakin kamu pasti sembuh!"
__ADS_1
Dinda tidak bisa berbuat apa-apa. Kali ini lagi-lagi ucapan Yudha banyak benarnya. Jika bukan Yudha yang menolongnya lalu siapa lagi?
Akhirnya, malam itu Yudha tidur di kamar bersama Dinda. Mereka tidur secara terpisah. Dinda tidur di atas ranjang, sedangkan Yudha tidur di sebuah sofa di sudut ruangan.
Dinda pun mulai merebahkan tubuhnya dan segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Yudha pun tampak sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia melihat sang istri yang sudah berbaring di atas kasur.
Mereka memang tidur terpisah. Namun, pikiran mereka masih teringat akan kejadian yang baru saja terjadi. Dinda memang sedang memejamkan matanya. Tapi, ia terlalu susah untuk melupakan ciuman itu. Hangat bibir Yudha tidak serta merta membuat Dinda tertidur. Gadis itu tampak gelisah. Balik kanan dan balik kiri. Seolah kasur itu tidak nyaman untuk dibuat tidur.
Begitu juga dengan Yudha. Ia sudah berusaha untuk memejamkan matanya erat-erat. Namun, tetap saja ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Justru bayangan ciuman itu semakin membuat pisang tanduknya tidak bisa tidur juga.
"Shiiit! Kenapa aku terngiang-ngiang selalu ciuman itu aaarrrgggghhhh!" batin Yudha yang berusaha untuk menolak perasaannya.
Yudha tidur dengan posisi miring ke kiri, itupun ia juga tak tenang, berbaring juga tak tenang, miring kanan apalagi. Justru pandangannya tertuju pada tempat tidur di mana sang istri juga sedang gelisah.
"Kenapa Dinda belum tidur juga, ya?" batin pria itu sambil terus memperhatikan Dinda yang sedang bergerak-gerak tidak nyaman.
"Woi Din! Kenapa kamu belum tidur? Pasti kamu sedang mikirin aku ya, kan?" celetuk Yudha yang tiba-tiba membuat Dinda terkejut.
"Ihhh enak aja mikirin kamu, nggak usah GR deh!" sahut Dinda sambil mengerucutkan bibirnya.
Yudha tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan dari sang istri yang terdengar begitu menggelikan telinga.
"Eh nggak usah ketawa-ketawa kamu, Mas! Tahu nggak sih, aku tuh nggak bisa tidur. Nih kasur kamu kok rasanya nggak nyaman banget sih, bikin badan cakep-cakep semua," sahut Dinda yang merasa jika Yudha sedang menertawakan dirinya.
"Kamu ternyata lucu sekali, ya! Yang bikin kamu nggak bisa tidur itu bukan karena kasur itu, tapi karena kamu masih memikirkan aku!" sahut Yudha sambil tertawa kecil.
"Dihhh bangga banget! Sepenting itukah kamu sehingga aku harus memikirkan kamu, Mas?" sahut Dinda dengan wajah kesalnya.
"Iya dong! Karena aku juga sedang memikirkan kamu!!" balas Yudha yang pada akhirnya membuat Dinda salah tingkah.
"Ihhh bodo!!" umpat Dinda.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...