
Pak Dedi dan Bu Lili akhirnya pulang ke kota di mana ia tinggal. Setidaknya mereka sudah lega bisa meninggalkan Dinda tanpa khawatir sendirian. Karena sudah ada Yudha yang kini akan menemani Dinda.
Sementara itu, Yudha membawa Dinda untuk tinggal di apartemen mewah miliknya. Tentunya apartemen itu adalah ia beli dari kerja kerasnya selama menjadi seorang aktor. Dinda yang berjalan dengan bantuan tongkat di tangan. Ia dibawa Yudha untuk masuk ke dalam apartemen itu.
"Ayo masuk! Ini adalah apartemen kita. Sekarang kamu tinggal bersamaku di sini!" Seru Yudha sambil meletakkan barang-barang Dinda. Seorang pelayan kemudian datang untuk membawa koper Dinda untuk diletakkan di dalam kamar mereka.
"Bawa koper Dinda di kamarku, dan ingat sekarang Dinda adalah majikan kalian juga," seru Yudha kepada pelayannya.
"Baik Tuan!" jawab pelayan itu.
"Untuk apa dibawa ke kamarmu, Mas? Memangnya kita akan tidur sekamar?" tanya Dinda.
"Ya, memangnya seperti apa? Tentu saja kita tidur sekamar. Memangnya kamu mau tidur di mana?" sahut Yudha sambil garuk-garuk kepala.
"Aku tidur di kamar lain saja. Jika tidak ada lebih baik aku tidur di sofa, nggak apa-apa kok!" seru Dinda yang tentunya membuat Yudha tertawa.
"Kok kamu malah tertawa sih, Mas!" Dinda mendengar suara cekikikan Yudha.
"Kamu itu aneh banget. Bukannya sah-sah saja jika kita tidur satu kamar, aku sekarang suamimu loh!" seru Yudha sambil berbisik di telinga Dinda.
"Aduh, kok geli ya! Jangan bisik-bisik dong, Mas!" ucap Dinda sambil menjauhkan dirinya dari Yudha.
"Geli? Baru dibisikin udah geli. Padahal belum aku apa-apain!" sahut Yudha sambil tersenyum smirk.
Dinda pun langsung pasang sikap tegas dan berkata. "Maaf, Mas. Kamu tahu kan sebenarnya aku terpaksa menikahimu karena aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku resah meninggalkan aku sendirian di kota ini. Lagipula dalam bayanganku kamu itu adalah Bang Jacob, si brengsek tukang cabul itu. Idiihhh pasti mukamu bikin aku ilfil!" ucap Dinda yang belum tahu wajah Yudha yang sebenarnya.
"Oh ya? Hmm ... kira-kira apa aku memang sejahat itu? Jika itu benar apa kamu tidak takut, Din? Lalu, kenapa kamu setuju aku nikahi jika wajahku sangat membuatmu ilfil? Apa kamu sebenarnya penasaran dengan sosok Bang Jacob?" sahut Yudha sambil duduk di atas sofa sambil merentangkan kedua tangannya. Sedangkan Dinda masih berdiri dan tidak tahu posisi Yudha sekarang.
"Emm ... kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja tidak, hanya saja sosok Bang Jacob itu sangat membuatku geram. Gonta-ganti cewek kayak teh celup. Celup sana celup sini, kalau ada di dunia nyata sosok Bang Jacob itu. Uhhh aku sumpahi dia nggak bisa berdiri, impoten, lemah syahwat dan dikebiri aja jika perlu. Sumpah gedek banget perannya. Hmm apa jangan-jangan di dunia nyata kamu juga seperti itu, Mas?" tanya Dinda sambil menautkan kedua alisnya.
Yudha pun hanya terdiam dan memperhatikan gesture tubuh Dinda yang seolah sedang mencari tempat duduk. Gadis itu tampak meraba-raba benda yang ada disekitarnya.
Ia rupanya sedang meraba bagian sofa yang juga sedang di duduki oleh Yudha. Sementara itu Dinda tidak tahu jika ada Yudha yang sedang duduk di sofa yang sama.
Sejenak, Dinda mulai merasa jika ia harus duduk di tempat yang baru saja ia raba. Perlahan pantat Dinda mulai turun dan hendak duduk. Namun, karena tak sengaja tersandung oleh karpet, Dinda pun tidak bisa mengimbangi kekuatan tubuhnya, hingga akhirnya ia pun tergelincir dan tak sengaja duduk di atas pangkuan Yudha.
"Aaaaaaaa ...."
Dengan cepat, Yudha menangkap tubuh Dinda yang jatuh tepat di atas pangkuannya.
Tentu saja keadaan itu terlihat begitu romantis. Apalagi Yudha yang menatap wajah gadis itu begitu dekat. Dinda pun merasakan sesuatu yang berhembus hangat pada wajahnya. Aroma maskulin dari tubuh Yudha sejenak membuat Dinda memejamkan matanya.
"Hmmm ... harumnya menenangkan sekali!!" pikir Dinda sembari terus menghirup aroma harum dari tubuh Yudha. Namun, rupanya apa yang dilakukan oleh Dinda. Ternyata disalah artikan oleh Yudha. Pria itu justru mencoba untuk mencium bibir Dinda karena Dinda benar-benar sudah menggodanya.
'Cup!'
Dinda membuka kedua matanya saat bibirnya terasa hangat oleh sentuhan bibir Yudha. Spontan gadis itu mendorong tubuh Yudha dan ia usap bibirnya dengan tangan.
"Kamu nyium aku, Mas?" sahut Dinda yang terlihat kesal.
"Ma-maaf tadi aku khilaf, aku nggak sengaja!" ucap Yudha sambil menenangkan Dinda.
__ADS_1
"Kamu pasti sengaja, kan? Kamu pasti cari-cari kesempatan dalam kesempitan!" seru Dinda yang masih terlihat marah.
"Iya, iya aku minta maaf. Aku janji nggak bakalan berani cium kamu lagi. Aku menyesal!" ucap Yudha.
"Oke, kali ini aku maafkan kamu. Tapi lain kali aku harap kamu bisa mengontrol dirimu. Aku memang sudah menjadi istrimu. Tapi untuk menerimamu itu masih sulit bagiku. Aku butuh waktu, sekarang aku masih fokus pada kesembuhanku. Kau tahu itu, Mas!" ungkap Dinda.
"Iya, aku mengerti. Sekali lagi aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan menyentuhmu lagi. Jika seperti itu. Aku akan tidur di kamar lain. Kamu bisa tidur di kamarku. Jika nanti kamu butuh sesuatu. Panggil aku dan aku pasti datang!" seru Yudha.
"Iya, terima kasih banyak atas pengertiannya," ucap Dinda sambil mencoba mengambil tongkatnya kembali. Namun, ia kesusahan untuk mengambilnya karena ia tidak tahu dimana letak tongkatnya terjatuh.
Dengan berjongkok, Dinda mengambil tongkat yang tergeletak di atas lantai itu. Namun, Yudha melarang Dinda untuk melakukannya. Justru Yudha yang mengambilkan tongkat itu dan ia berikan kepada sang istri.
"Ini tongkatmu!" seru Yudha sambil memberikan tongkat itu kepada Dinda.
"Terima kasih!"
"Aku antar kau ke kamar. Ayo!" tawar Yudha sembari membantu Dinda untuk pergi ke kamarnya. Namun, disaat yang bersamaan. Ada telepon masuk untuk Yudha dan benar saja itu adalah telepon dari pihak manajemen Yudha.
Spontan, Yudha berhenti dan menerima telepon itu. Dinda pun berusaha untuk pergi ke kamar itu dengan bantuan tongkat yang ada di tangannya.
"Halo!"
Sejenak, Yudha mendengarkan ucapan seseorang dibalik telepon itu. Sekilas Yudha tampak mengusap wajahnya kasar. Ia sudah menduganya jika mantan tunangannya itu pasti melakukan tindakan itu.
Setelah Yudha menutup teleponnya. Ia pun terlihat kesal. "Shiiit! Sudah kuduga. Ini pasti ulah Zora. Rupanya dia benar-benar ingin menghancurkan aku. Well, tidak apa-apa. Aku tidak takut. Kamu bisa saja menghilangkan pekerjaanku Zora. Tapi aku tidak akan pernah biarkan kamu memutus rejekiku. Aku akan tetap berusaha untuk bangkit meskipun tanpa kamu!" seru Yudha lirih.
*
*
*
"Ahhh ... hmmm wangi sekali baunya!" ucap Rama sambil melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri.
"Kamu sudah pulang, Mas!"
Putri tersenyum dan terus mengaduk masakan yang ada di depannya.
"Harum ya, Mas! Ini namanya tumis kangkung oseng tempe. Harum banget kan baunya? Kamu pasti suka!" ucap Putri sambil terus mengaduk.
"Iya, masakanmu memang harum. Tapi, aku lebih suka harum tubuhmu, Sayang!" sahut Rama sambil terus menciumi tengkuk leher Putri.
"Eh eh jangan gitu dong, Mas. Geli ahhhhh!" rintih Putri sambil menahan rasa gelinya.
"Hmm sehari nggak nyium kamu tuh seperti satu abad rasanya. Aku pingin pulang saja pas sekolah. Rasanya nggak enak kalau nggak ada kamu," ucap Rama sambil terus memeluk Putri semakin erat.
"Aduh Mas! Aku nggak bisa nafas nih! Jangan erat-erat ah!" rintih Putri sambil berusaha untuk melonggarkan pelukan Rama.
"Sayangnya aku nggak bisa lepaskan begitu saja. Aku kangen banget, Sayang!" .
"Iya, nanti aja kan bisa. Sekarang aku lagi masak, Mas! Aku juga belum mandi, bau asap nihh. Kamu nggak jijik aku masih bau asem gini!" seru Putri sambil mengusap keringatnya.
__ADS_1
"Nggak peduli kamu bau asem kek, bau wangi kek. Jika aku sudah tergila-gila, semua bau yang ada pada tubuhmu rasanya harum," ucap Rama yang terus saja menempel seperti perangko.
"Astaga Mas! Dasar lebay!"
"Bodo! Hmmmm gemas aku sama kamu, pingin aku gigit aja!" seru Rama sambil menciumi Aroma tubuh sang istri. Tak kuasa menahan rasa geli karena ulah suaminya. Putri segera mematikan kompor dan menghadapi tingkah suaminya yang selalu manja dengannya.
"Ahhh ... Mass! Masa kamu minta sekarang? Kamu belum mandi, Mas!" ucap Putri saat Rama sedang memberikan kode dengan menunjuk ke arah kamar mereka.
"Ayolah bentar saja! Udah nggak tahan nih!" seru Rama merengek meminta kepada sang istri untuk segera menuruti keinginannya.
"Huuuuhhh dasar pak Rama. Sekarang jadi guru mesumku!" sahut Putri sambil mengikuti langkah suaminya untuk pergi ke kamar.
Sesampainya di kamar Rama segera mengeksekusi istrinya dan dengan cepat semua yang melekat pada tubuh sang istri berjatuhan di atas lantai. Rama menyunggingkan senyumnya saat Putri tersenyum pada kedua bibirnya.
"Hai, Baby! Kau benar-benar sudah menggodaku, kau tersenyum padaku seolah kamu ingin aku datang. Oke, aku akan datang ahhh!"
Baru saja kepalanya yang masuk, tiba-tiba saja Rama mendengar dering telepon dari arah luar kamar. Tentunya Rama tidak mengunci pintu kamar mereka karena di rumah hanya mereka berdua saja.
Rama menghela nafasnya sedangkan Putri terlihat tersenyum kecil melihat ekspresi wajah sang suami. Dengan sangat terpaksa, Rama bangkit dengan keadaan tanpa sehelai benangpun.
Tentu saja Putri dibuat tertawa melihat tingkah suaminya yang sedang berjalan keluar kamar dalam keadaan full naked dengan keadaan kepala yang masih tegak menantang.
"Astaga, Mas. Ya ampun, kenapa diusiaku yang masih muda ini, aku harus melihat pemandangan tabu itu sih? Apalagi itu milik pak guruku. Sayangnya aku suka banget, hiiiiii aku benci dengan pikiranku, jadi ikut omes, kan? Hmm tapi emang enak sih rasanya, oh My God!" seru Putri sambil menggelengkan kepalanya.
Rama mulai mengangkat telepon itu.
"Halo!"
"Halo Nak Rama. Ini ibu, Putrinya ada? Ibu ingin berbicara dengannya,"
"Oh ibu. Putri ada, Bu! Sebentar ya, saya panggilkan dulu!"
"Oh iya, makasih sebelumnya!" .
.
"Tidak apa-apa, Bu!"
Rama segera memanggil istrinya dan memberi tahukan jika Bu Lili tengah meneleponnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Putri saat melihat kedatangan sang suami.
"Ada ibu ingin bicara sama kamu!" jawab Rama sambil berdiri di tengah-tengah pintu.
Putri pun segera beranjak pergi dan ia pun menutupi tubuhnya dengan piyama tidur tanpa pakaian dalaam apapun.
Sementara itu Rama masih menyandarkan tubuhnya pada tepi pintu sambil menunggu istrinya keluar. Putri berjalan mendekati pintu dan ia pun melewati sang suami yang sedang menatapnya dalam-dalam. Sejenak Putri berhenti dan menggoda iman sang suami dengan mengusap si belalai panjang itu dan sesekali memijitnya pelan, setelah itu Putri langsung melepaskannya begitu saja dan segera berlari ke arah telepon sambil tertawa mengejek suaminya.
"Awww ... nakal kamu, ya. Awas nanti, aku bikin ampun-ampun kamu!" rintih Rama sambil melihat kepergian istrinya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1