
Dinda melototkan matanya. "Lawan main apa maksudmu? Tidak usah berpikiran macam-macam. Aku tidak mau tidur denganmu!" ucap Dinda dengan tegas.
Yudha pun menaikkan kedua alisnya. "Hah! Kamu tidak mau tidur denganku? Why Sayang! Bukankah kita udah baikan?" sahut Yudha protes.
"Baikan? Aku cuma pura-pura di depan ayah dan ibu. Sebenarnya aku masih kesal sama kamu, Mas!" ucap Dinda yang tidak mau menatap wajah suaminya. Yudha tersenyum dan tidak percaya dengan ucapan sang istri. Karena ia sangat yakin sekali jika Dinda sudah memaafkannya. Karena bahasa tubuh tidak bisa dibohongi.
"Benarkah kamu masih marah padaku?"
"Iya benar!" jawab Dinda dengan ketus.
"Tapi aku kan sudah minta maaf. Masa kamu tidak mau memaafkanku?" seru Yudha sambil menangkup wajah sang istri. Spontan Dinda berusaha untuk melepaskan tangan Yudha dari wajahnya. Namun, tidak semudah itu Dinda bisa melakukannya karena Yudha tidak akan membiarkan istrinya berpaling untuk melihatnya.
"Ihhh lepaskan, Mas! Aku tuh beneran marah sama kamu. Nggak percaya amat sih!" sahut Dinda yang pada akhirnya terpaksa ia menatap bola mata suaminya yang sangat indah. Mereka berdua saling bertatapan. Begitu dalam tatapan bola mata keduanya. Tentu saja Dinda merasa begitu gugup dan takut ia tidak akan bisa melanjutkan pranknya kepada sang suami.
"Ya Tuhan! Tatapan mata Mas Yudha benar-benar membius. Dalam banget OMG. Berasa ingin sekali menatapnya lama-lama. Eh tapi ingat Dinda. Kamu tidak boleh terbuai dulu. Paling tidak kerjai suamimu dulu sebelum kamu merasa puas!" Dinda tampak bermonolog sendiri.
"Coba kamu lihat kedua mataku!"
"Aku sudah melihatnya! Memangnya apa yang aku dapatkan setelah melihat bola matamu? Aku rasa tidak ada yang istimewa." Dinda masih saja bersikap dingin.
"Apa kamu melihat kebohongan di mataku? Aku benar-benar sangat menyesal, Din. Aku mohon maafkanlah aku! Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membohongimu. Semua itu kulakukan untuk menolongmu. Iya, meskipun awalnya aku hanya berpikir untuk menebus kesalahanku padamu karena aku sudah membuatmu buta. Tapi, seiring berjalannya waktu aku mulai terpesona dengan dirimu dan akhirnya kita saling jatuh cinta. Apa kamu tidak mengingat masa-masa itu? Saat kita bersama dulu. Aku sangat merindukanmu, Sayang! Aku mohon kembalilah padaku!"
Serasa Dinda ingin sekali tertawa mendengar ucapan dari sang suami. Namun, dirinya harus bisa menahan karena saat ini ia masih dalam mode pura-pura marah.
"Nggak usah merayu aku deh, Mas. Aku tuh masih kesel kamu." Dinda berkata sembari masuk ke dalam kamar. Tentu saja Yudha terus mengikuti kemana istrinya pergi. Apalagi pak Dedi menyuruh Dinda untuk mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.
Dinda spontan membalikkan badannya dan melihat sang suami yang berada di belakangnya. "Kamu ngapain ikut masuk, Mas?" seru Dinda dengan ketus.
"Loh, bukannya tadi ayah bilang aku disuruh masuk ke kamar kamu. kamarku adalah kamarku juga, kan?" ucap Yudha sambil menatap wajah istrinya yang kian cantik. Karena tentunya Dinda sudah bisa merawat dirinya sendiri karena ia sudah bisa melihat dengan normal.
__ADS_1
"Emm ... iya, tapi jangan harap kamu bisa tidur seranjang denganku," ucap Dinda sambil berusaha menyembunyikan tatapan matanya.
"Kenapa?"
"Iya ... karena aku tidak mau saja. Dan tolong jangan paksa aku untuk menjawab pertanyaanmu lagi!" Dinda kembali membalikkan badannya dan membelakangi Yudha.
Demi tidak ingin membuat sang istri kian marah. Yudha pun menuruti permintaan sang istri. "Baiklah, tidak mengapa aku tidak bisa tidur denganmu. Asalkan aku masih bisa melihatmu setiap hari, itu sudah lebih dari cukup!"
Mendengar jawaban Yudha. Sekilas Dinda menaikkan ujung bibirnya karena ia merasa ingin sekali tertawa karena ia sedang mengerjai sang suami..
"Bagus, itu artinya kamu harus tidur di lantai bawah dan aku tidur di atas tempat tidur, bagaimana? Jika kamu keberatan aku tidak masalah kamu bisa pergi dari kamar ini. kamu bisa tidur di luar!" ucap Dinda sambil menunjuk ke arah lantai tempat tidurnya.
Yudha tidak keberatan. Meskipun ia harus tidur di tempat yang tidak seperti biasanya, empuk dan nyaman. Demi mendapatkan maaf dari sang istri Yudha rela melakukannya.
Pria itu segera memasukkan barang-barangnya ke dalam kamar Dinda. Sedangkan Dinda hanya melihat suaminya yang sedang sibuk sendiri. Di saat yang bersamaan, datang Bu Lili untuk segera mengajak mereka sarapan. Namun, Bu Lili mendapati pemandangan yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Dinda, Yudha. Ayo kita sarapan. Loh, kok suamimu nggak dibantu toh, Din? Bantuin tuh untuk menyimpan pakaiannya. Ini malah diam saja!" ucap Bu Lili ketika sang menantu membereskan sendiri pakaiannya.
"Din, dibantu dong Nak Yudha. Malah bengong. Suamimu itu capek habis perjalanan jauh. Mbok ya dibantu pijitin kek, atau nggak diambilin sarapan biar kuat lagi. Gimana sih, ibu ambilkan makanan kalian ke sini. Jadi, temani suamimu sarapan!" seru Bu Lili sambil beranjak untuk mengambil makanan untuk anak dan menantunya.
"Tidak usah, Bu. Terima kasih banyak ibu sudah sangat repot. Nanti biar saya ambil sendiri," sahut Yudha dengan sopan. Karena bagaimanapun juga ia tidak ingin membuat ibu mertuanya repot dengan kehadirannya di rumah mereka.
"Sudah, tidak apa-apa. Lagipula Nak Yudha sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kamu juga anak ibu. Jadi, tidak usah menolak. Kalian di sini saja, ibu akan mengambil makanan." Bu Lili langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk anak dan menantunya.
Sementara itu Dinda masih masa bodo dan terlihat sedikit menjauh dari Yudha. Tiba-tiba saja Yudha merasa ingin buang air kecil. Ia pun bertanya kepada istrinya di mana kamar mandi mereka.
"Din! Kamar mandinya di mana? Mas mau pipis sebentar!"
"Kamar mandi di sini cuma satu dan ada di belakang. Tuh, kamu bisa pergi sendiri ke belakang!" ucap Dinda sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang terletak di luar rumah.
__ADS_1
Yudha melihat arah telunjuk sang istri. "Bisa antarkan aku sebentar!" seru Yudha sambil memegangi celananya.
"Ya ampun, Mas. Ini tuh udah pagi. Nggak bakalan ada setan, mau pipis aja minta dianterin. Manja amat sih!" sahut Dinda.
"Namanya juga baru pertama kali ke rumah kamu. Aku masih belum enak sama ayah dan ibu. Ayolah, Din! Keburu ngompol di sini loh, mau?"
"Ihhh jorok banget sih, Mas. Iya iya aku anterin!"
Dengan wajah yang masih cemberut. Dinda mengajak Yudha untuk pergi ke kamar mandi di belakang rumah.
"Loh! Kalian mau kemana?" sahut Bu Lili saat mengantarkan makanan ke kamar Dinda.
"Ke kamar mandi, Bu. Mas Yudha minta pipis!" jawab Dinda. Bu Lili pun mempersilakan menantunya untuk ke kamar mandi bersama sang putri.
Akhirnya mereka berdua pergi ke kamar mandi yang berdesain sederhana. Tidak seperti kamar mandi mewah seperti di apartemen Yudha. Tidak ada bak mandi atau shower.
"Tuh kamar mandinya. Cepetan kalau mau pipis, aku tunggu di sini!" ucap Dinda sambil menunjuk ke arah kamar mandi sederhana itu. Yudha tersenyum smirk sembari menatap wajah istrinya.
"Kamu nggak ikut masuk?" tawar Yudha dengan senyum nakalnya.
"Apa sih, Mas. Enggak!"
"Yakin! Biasanya kamu suka loh ke kamar mandi bareng sama aku!" ucap Yudha mengingatkan nostalgia mereka.
"Iya itu dulu sebelum aku bisa melihat. Sekarang kan beda!" ucap Dinda yang masih tetap terlihat ketus.
"Ya beda dong, Din. Dulu kamu cuma bisa memegangnya tapi sekarang bukan hanya memegangnya, tapi kamu juga bisa melihatnya. Apa kamu tidak penasaran ingin melihatnya, cakep loh Din! Udah bersih kok."
Seketika Dinda mulai panik ketika Yudha mengatakan hal tentunya menggoda imannya.
__ADS_1
"Aduhhh Mas Yudha. Kenapa iming-iming aku sih! Aku kan juga penasaran segede apa punya kamu, kok rasanya selalu enak ya huuuhh!"
...BERSAMBUNG ...