
Langkah kaki seorang wanita berhenti di depan sebuah rumah sederhana milik keluarga pak Dedi. Iya, dia adalah Dinda putri pertama pak Dedi dan Bu Lili.
"Ayah, Ibu. Aku pulang! Aku ingin memeluk kalian!" ucap Dinda lirih dengan wajah sedihnya. Perlahan ia mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam halaman rumah. Sejenak, Dinda memperhatikan sekeliling. Rupanya tidak banyak yang berubah dari rumah keluarganya saat dirinya pergi beberapa bulan yang lalu.
Dinda pun segera mengetuk pintu rumah ayahnya. Pak Dedi dan Bu Lili terkejut dengan suara ketukan pintu, mengingat hari sudah larut malam. Kepergian Dinda membutuhkan waktu sekitar empat jam dari tempat tinggal suaminya.
"Siapa, Yah?" tanya Bu Lili yang baru saja beranjak untuk beristirahat. Pak Dedi melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 11 malam.
"Biar ayah yang buka pintunya," balas pak Dedi sambil beranjak pergi ke luar. Bu Lili mengikuti kepergian suaminya di belakang.
"Hati-hati, Yah. Takutnya orang jahat, mending ngga usah dibuka!" bisik sang istri. Karena khawatir, pak Dedi pun mengambil sebuah pentungan untuk berjaga-jaga. Dengan sangat pelan dan hati-hati pak Dedi mengintip dari arah jendela untuk memastikan siapa yang tengah bertamu ke rumah mereka malam-malam.
Di saat pak Dedi dan Bu Lili mengintip Dinda dari jendela. Saat itu Dinda sedang membelakangi pintu sehingga hanya nampak seperti wanita berambut panjang yang tinggi semampai sedang berdiri di depan pintu. Bayangan Dinda terlihat sedikit seram karena pencahayaan yang minim. Apalagi saat itu Dinda memakai outfit berwarna putih dan memakai wig rambut panjang karena rambut aslinya rontok karena efek kemoterapi.
Spontan pak Dedi membulatkan matanya. Ia pun langsung menutup kelambu jendela dan berkata kepada sang istri. "A-ada setan perempuan, Bu!" ucapnya sambil gemetaran.
"Hah, setan! Mana ada setan, Yah. Ayah ini ada-ada saja!" balas Bu Lili tak percaya.
"Beneran, Bu. Di depan ada wanita rambutnya panjang bajunya putih, ihh ayah takut dia si Kuntilanak," seru pak Dedi yang semakin membuat Bu Lili semakin penasaran.
"Kuntilanak! Ihhh Ayah ini apaan sih. Seumur hidup kita tinggal di rumah ini tidak ada kuntilanak yang berani datang ke rumah. Sini, biar ibu yang buka pintunya. Ah ayah nih cemen banget!" sahut Bu Lili sambil beranjak membuka handel pintu.
"Bukannya cemen, Bu. Ayah takut diculik kuntilanak!" jawaban pak Dedi semakin membuat Bu Lili meracau.
"Diculik diculik, emangnya Kunti mana yang doyan sama Ayah. Udah tua nggak ada manis-manisnya!" sahut Bu Lili.
Di saat mereka berdua sedang ribut, tiba-tiba saja terdengar suara tangisan di balik pintu.
"Huhuhu ayah, ibu! Hiks hiks hiks!"
Seketika Bu Lili dan pak Dedi saling menatap.
"Dia nangis, Bu!" sahut pak Dedi.
"Coba dengerin deh, Yah! Kayaknya ibu nggak asing denger suara ini!" Bu Lili tampak menempelkan telinganya pada pintu dan mendengarkan dengan seksama tangisan Dinda.
Karena tak kunjung dibukakan pintu. Maka Dinda menangis dengan sedikit berteriak.
"Ayah, Ibu. Buka pintunya dong! Ayaaahhh, ibuuu!"
Seketika pak Dedi dan Bu Lili langsung terperanjat dan mereka langsung mengenali suara itu yang tak lain adalah suara Dinda.
"Dinda!!" ucap keduanya bersamaan. Bu Lili langsung membuka pintu dan melihat sang putri yang sedang menangis di depan pintu.
__ADS_1
"Astaga Dinda!!"
"Ibu!!"
Dinda langsung memeluk ibunya sambil menangis. Sementara itu pak Dedi tampak bersalah karena sudah menuduh putrinya sebagai kuntilanak.
"Dinda, astaghfirullah! Ayah pikir tadi kamu itu kuntilanak. Makanya kami lama membuka pintu. Ternyata kamu, Nak! Maafkan ayah yang sudah buruk sangka," sahut pak Dedi yang ikut memeluk putrinya.
"Dinda, kenapa kamu nangis? Di mana suamimu?" tanya Bu Lili sambil melihat sekeliling. Namun, ia tidak melihat batang hidung Yudha ada di sana.
"Iya, di mana suamimu? Kenapa kamu datang sendirian!" sambung pak Dedi yang juga heran.
"Dinda pergi dari rumah, Yah!" balas Dinda yang tentunya membuat kedua orang tuanya merasa sangat terkejut dan tidak menyangka.
Pak Dedi dan Bu Lili pun baru menyadari jika Dinda sudah bisa melihat. "Dinda, kamu sudah bisa melihat, Nak?" tanya Bu Lili sambil menangkup wajah sang anak. Dinda menganggukkan kepalanya pelan.
Antara bahagia dan sedih. Pak Dedi dan Bu Lili terharu karena putri mereka sudah bisa melihat kembali.
Dinda masuk ke dalam rumah dan tentunya ia ditanya kenapa bisa pergi sendiri tanpa sang suami. Dinda lantas mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Yudha.
Mendengar curhatan sang anak. Pak Dedi dan Bu Lili pun hanya bisa diam. Karena bagaimanapun juga mereka juga ikut menyembunyikan tentang identitas orang yang sudah menabrak putri mereka yang tak lain adalah menantunya sendiri.
"Dinda kecewa dengan Mas Yudha, Bu. Dia udah membohongi Dinda,"
"Jangan begitu, Dinda. Sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan suamimu. Ibu mengerti perasaanmu. Lagipula dia sudah bertanggung jawab, kan. Dia bahkan bersedia menikahimu hanya untuk membuatmu sembuh dan sekarang buktinya kamu sudah bisa melihat," ucap sang ibu yang berusaha untuk menenangkan sang anak.
Pak Dedi sebagai seorang ayah. Ia mendekati putrinya dan mencoba untuk menenangkan Dinda. "Dinda, ayah lihat Nak Yudha itu pria yang berbeda dari kebanyakan pria. Coba kamu pikir! Dia itu aktor terkenal yang memiliki banyak fans wanita cantik. Tiba-tiba dia mendapatkan nasib nahas dengan menabrak seorang wanita yang tidak ia kenal. Ternyata wanita itu divonis buta karena kecelakaan tersebut. Tapi, Nak Yudha bersedia bertanggung jawab atas semua yang menimpa kamu apalagi saat dia tahu bahwa kamu mengidap kanker. Kami tahunya juga dari Nak Yudha. Coba aja jika Nak Yudha tidak mengabarkan kepada kami. Pasti kami tidak akan pernah tahu bagaimana nasibmu sekarang. Orang kamu pergi nggak bilang-bilang. Jika Nak Yudha mau dia pasti malas dan bisa membayar polisi untuk bebas dan lepas dari tanggung jawab. Tapi apa yang dilakukannya, dia justru minta izin kepada ayah untuk menikahimu karena Ia ingin membayar kesalahannya padamu. Kurang apa kebaikan Nak Yudha padamu, Nak! Pikirkan baik-baik kata ayah. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Kembalilah kepada suamimu!"
Dinda terdiam mendengar nasehat sang ayah. Namun, dalam hatinya masih ada sedikit kemarahan, meskipun apa yang dikatakan oleh sang ayah memang benar.
"Ayahmu benar, Nak! Pikirkan baik-baik, sebelum datang penyesalan. Kami senang kamu datang ke rumah. Ibu juga kangen sama kamu. Tapi, kamu sekarang adalah tanggung jawab Nak Yudha. Dan kami harus mengembalikan kamu kepada suamimu. Kamu boleh tinggal beberapa hari di sini. Tapi, jika sudah waktunya kamu harus pulang ayah dan ibu akan mengantarmu ke rumah suamimu, tugas utamamu adalah melayani suamimu," ucap Bu Lili sebelum meninggalkan kamar sang putri.
Malam itu, Dinda tidak bisa tidur. Meskipun ia paksa untuk tidur nyatanya bayangan sang suami selalu lewat di matanya.
"Ihhh Mas Yudha kenapa sih. Stop gangguin aku! Aku tuh kesel sama kamu ... kenapa sih kamu harus bohong, Mas. Padahal aku udah cinta banget sama kamu. Aku kangen Mas tapi aku juga benci!" ucap Dinda sambil memukuli bantal guling nya.
Di tempat yang lain. Yudha pun sudah menyiapkan tiket untuk pergi menjemput sang istri. Meskipun ada resiko besar yang harus ia terima. Gagal kontrak dengan salah satu proyek yang akan menjadikannya sebagai bintang iklan.
Besok pagi-pagi sekali, Yudha akan segera pergi ke kampung halaman sang istri. Berbekal dari KTP sang istri yang masih tertinggal. Yudha dengan mudah mencari alamat rumah pak Dedi, ayah mertuanya.
Hal yang sama terjadi pada pria itu. Ia pun tidak bisa memejamkan matanya walau sesaat. Bayangan sang istri selalu saja menghantui pikirannya. Apalagi saat dirinya melihat bantal yang biasanya digunakan oleh sang istri saat tidur.
Yudha memeluk bantal tersebut dan merasakan jika Dinda sedang memeluknya. Belum lagi suara-suara manja Dinda yang selalu terngiang-ngiang di telinga Yudha.
__ADS_1
"Ahhhhh Mas geli hmmmpptt!!"
Tentu saja membuat Yudha semakin gila.
"Aaarrrgggghhhh, Dindaaaa! Aku ingin sekali bertemu denganmu sekarang juga. Ya Tuhan lama sekali jam berputar!"
Berkali-kali Yudha berusaha untuk menghubungi nomor sang istri. Namun, rupanya Dinda sudah membuang nomornya dan mengganti dengan nomor baru sehingga Yudha tidak mudah menghubungi dirinya lagi.
"Hhaaaa Dindaaaa!! Bagaimanapun juga kamu harus tetap bersamaku! Ini semua gara-gara Zora. Tidak akan aku biarkan Zora mengusik kehidupan kami. Lebih baik aku pergi menjauh dari wanita itu. Jika aku masih berada di sini terus. Tidak menutup kemungkinan Zora akan terus menganggu rumah tangga kami. Apa sebaiknya aku tinggal di kampung halaman istriku saja, mungkin itu lebih baik. Aku tidak peduli dengan kemewahan ini. Aku hanya ingin istriku kembali!" ucap pria itu sungguh-sungguh.
*
*
*
Tepat jam 5 pagi. Yudha berangkat ke kampung halaman sang istri. Ia berpesan kepada Bi Surti untuk merawat apartemennya itu dan jika ada yang bertanya perginya Yudha. Maka bi Surti akan mengatakan jika Yudha sudah tidak tinggal di apartemen itu lagi.
"Jadi, pak Yudha akan tinggal di kampung halaman Bu Dinda. Lalu bagaimana dengan saya, Pak?" tanya bi Surti yang terlihat bersedih.
"Bi Surti tidak perlu khawatir. Jika nanti saya sudah deal untuk meninggalkan dunia entertainment ini. Saya pasti akan menjemput bibi dan ikut tinggal bersama kami. Untuk sekarang saya mohon doanya agar saya bisa meluluhkan hati Dinda," balas Yudha yang tentunya pria itu tidak tega melihat sang asisten yang setia.
"Tentu saja, Pak. Bibi selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian. Semoga Bu Dinda bisa memaafkan Pak Yudha," ucap wanita itu penuh harap.
Akhirnya, Yudha pun segera pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan ke Surabaya. Membutuhkan perjalanan sekitar 1 jam, lebih cepat daripada perjalanan di darat.
*
*
*
Sementara itu di pagi hari yang terasa berbeda bagi Dinda. Hari itu ia sedang berdiri sambil menatap ke arah jendela. Suasana rumah yang dulu sering ia lewati bersama sang adik. Sejenak, Dinda teringat akan adiknya yang menikah dengan sang mantan pacar.
Hari ini bertepatan dengan hari Minggu, suasana pagi yang masih sangat dingin, karena jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Dinda bertanya kepada sang ibu berapa nomor adiknya. Sang ibu pun memberikan nomor Putri kepada Dinda. Lantas, Dinda segera menelepon sang adik.
Di sebuah kamar milik pasangan pengantin baru. Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang begitu nyaring. Sementara itu di atas ranjang berukuran besar itu Masih saja bergetar dan sesekali mengeluarkan suara derit ranjang yang membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merinding.
"Emmm ... Mas!!" Suara Putri yang terdengar begitu lirih.
"Hmmm apa sih, masih enak nih, Sayang!" sahut suara yang serak-serak banjir yang tak lain adalah suara Rama.
"Turun dulu! Ada telpon!" suara Putri pun terdengar terputus-putus karena gerakan maju mundur cantik.
__ADS_1
"Nanti saja angkatnya, nanggung nih dah nancap dalam!" balas Rama yang masih asik berolahraga pagi.
...BERSAMBUNG ...