
Sementara itu di tempat lain. Dinda yang saat ini sudah bisa melihat. Ia pun akhirnya bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan mudah, meskipun ia masih berpura-pura buta di depan sang suami. Setidaknya Dinda bisa melihat kebiasaan sang suami setiap hari tanpa Yudha ketahui.
Pagi ini seperti biasa Yudha akan pergi untuk syuting. Sang asisten sudah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Dinda duduk di samping suaminya dan Yudha juga yang menyuapi Dinda.
Tentu saja, kini Dinda bisa melihat dengan jelas wajah suaminya sendiri. Di hadapannya tampak seorang pria dengan tampang yang rupawan. Pantas saja Yudha memiliki banyak penggemar wanita, tak terkecuali ibunya juga mengidolakan Yudha.
"Ya Tuhan, ternyata suamiku tampan juga. Nggak nyesel aku mau nikah sama dia. Udah gitu penyayang banget orangnya. Punya suami seperti ini pingin aku kekepin aja terus di rumah. Nggak boleh ketemu sama cewek lain. Pasti bakal banyak yang ngelirik. Perasaan Mas Yudha saat di tipi nggak secakep ini deh! Kok aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, dia lebih cakep dari di tipi-tipi. Nggak nyesel aku kasih keperawananku sama dia." Batin Dinda saat menatap wajah suaminya kelihatan begitu tampan pagi ini.
"Kamu makan yang banyak, ya! Hari ini mungkin aku pulang sedikit telat. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Tidak apa-apa, kan?" ucap Yudha sambil terus menyuapi istrinya.
"Kamu pulang telat? Tapi jangan malam-malam, Mas. Aku takut bobo sendirian!" ucap Dinda yang mulai manja.
"Tumben kamu bicara seperti itu? Biasanya kamu berani tidur sendirian meskipun aku pulang telat," sahut Yudha heran. Dinda pun salah tingkah dan dirinya tidak boleh menunjukkan jika matanya sudah bisa melihat.
"Iya, aku takut aja, Mas! Aku pingin tidur ditemani kamu terus," ucap Dinda sambil tersenyum malu-malu. Mendengar ucapan dari sang istri, Yudha pun menangkup wajah sang istri sehingga bola mata mereka saling bertemu. Tatapan mata Yudha langsung tertuju pada kedua manik mata Dinda yang berwarna coklat.
"O my God! Mas Yudha menatapku begitu dalam. Sumpah! Aku nggak kuat dia menatapku seperti ini terus!" Dinda mulai berbicara pada dirinya sendiri. Tentu saja Yudha tidak bisa mendengar istrinya membatin. Ia pun lalu berkata. "Kamu jangan khawatir, aku tidak akan lama. Mungkin jam sepuluh malam aku sudah pulang. Lagipula aku tidak suka terlalu lama di luar. Karena aku juga ingin selalu berduaan denganmu. Menghabiskan waktu bersama seharian!" ucap Yudha dengan bangganya.
"Kenapa aku merasa jika Dinda sedang menatapku tajam, seperti dia sedang tidak buta," pikir Yudha.
Lantas, Dinda pun berpura mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, agar Yudha tidak curiga. "Iya, Mas. Aku akan menunggumu pulang," ucap Dinda sambil tersenyum.
Mereka pun melanjutkan sarapan pagi mereka. Yudha masih menyuapi istrinya meskipun Dinda bisa makan sendiri.
"Ya ampun Mas Yudha, kamu bukan hanya tampan tapi kamu juga sangat baik. Beruntung sekali aku bisa menikah denganmu. Kehilangan Mas Rama tidak akan membuatku menyesal. Pasti Putri sudah membahagiakan Mas Rama. Aku juga tidak sabar ingin segera bertemu dengan mereka. Apa aku ajak Mas Yudha untuk bertemu dengan mereka, ya! Tapi Mas Yudha kan sangat padat jadwalnya, mana mungkin dia mau menemaniku untuk bertemu dengan Putri. Aku udah kangen banget sama adikku!" gumam Dinda sambil bengong. Rupanya ekspresi wajah Dinda tak sengaja diperhatikan oleh sang suami.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Sayang! Apa yang kamu pikirkan?"
Seketika Dinda terkejut dan menjawab. "Oh tidak apa-apa, Mas. Aku hanya kepikiran adikku, Putri. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Aku sangat rindu sekali," ucap Dinda dengan nada sedih.
Yudha melihat wajah kerinduan yang teramat dalam pada sang istri. Karena ia tahu jika istrinya saat ini jauh dari keluarganya.
"Kamu ingin bertemu dengan adikmu?" pertanyaan itu tiba-tiba saja membuat Dinda terkejut.
"Maksud kamu, Mas? Tentu saja aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi ya sepertinya nggak mungkin aku bisa pulang. Kamu tahu sendiri kondisiku seperti ini," ucap Dinda.
"Bagaimana jika Minggu depan kita pulang ke kampung halamanmu? Aku juga ingin bertemu dengan keluarga besarmu di sana!" ucap Yudha sambil makan. Tiba-tiba saja Dinda memeluk dirinya. Tentu saja Yudha sangat terkejut bagaimana bisa sang istri tiba-tiba memeluknya.
"Makasih banyak, Mas. Beneran kamu mau ikut ke kampung halamanku? Tapi bukannya kamu masih sibuk shooting, Mas?" ucap Dinda sambil memeluk suaminya.
"Ya, bisa aja dong, Mas. Dari suara kamu aku aja aku sudah tahu kamu berada di mana," ucap Dinda sambil melepaskan pelukannya. Namun Yudha tidak melepaskan begitu saja pelukannya terhadap sang istri.
"Emm benarkah? Waaahhhh ternyata insting kamu kuat, ya! Itu tandanya kamu sangat mencintaiku," seru Yudha sambil melingkar tangannya pada pinggang sang istri.
"Mas, jangan gini ah. Malu dilihat Bi Surti," seru Dinda. "Memangnya kenapa harus malu? Kamu kan sudah menjadi istriku, aku bebas melakukan apa saja kepadamu. Oh ya, besok lusa aku akan mengajakmu pergi ke acara ulang tahun salah satu aktor seniorku," seru Yudha.
"Acara ulang tahun? Apa kamu nggak malu mengajakku ke sana, Mas?"
"Malu? Untuk apa aku malu. Aku tidak akan malu-malu lagi untuk menunjukkanmu kepada dunia jika kamu adalah wanita pilihan Yudha," balas Yudha.
"Tapi aku buta, Mas. Apa mereka tidak akan mencibirku nanti? Aku takut jika membuatmu malu, Mas."
__ADS_1
"Mencibirmu? Siapa yang berani mencibirmu? Aku tidak peduli kamu buta atau tidak. Aku akan tetap mencintaimu dan aku tidak akan pernah malu, aku juga tidak peduli apa kata mereka. karena mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya kamu. Aku tetap bangga memiliki wanita sepertimu, Dinda!"
Yudha mengecup bibir sang istri. Untuk sejenak keromantisan mereka membuat Bi Surti tersenyum malu. Karena baru kali ini ia begitu bahagia melihat majikannya benar-benar bahagia.
"Ya Tuhan, hamba mohon jangan pisahkan mereka. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi, mudah-mudahan secepatnya mereka segera mempunyai momongan dan semoga saja Nona Zora tidak mengganggu Pak Yudha lagi!" batin Bi Surti penuh harap.
Setelah ciuman itu terlepas. Dinda segera mengingatkan jika sang suami harus segera berangkat shooting.
"Jangan diteruskan, Mas. Kamu harus segera berangkat. Nanti Eko nyariin kamu loh!" seru Dinda.
Yudha pun menuruti perintah sang istri. Setelah mereka sarapan. Yudha pamit kepada istrinya. "Aku pergi dulu, kamu di rumah baik-baik ya! Jika kamu perlu sesuatu, kamu bisa meneleponku, oke!"
"Iya, Mas."
Lantas, Yudha mengecup kening istrinya sebelum berangkat. Setelah itu Yudha segera pergi dengan mobil mewahnya menuju ke tempat shooting.
Setelah kepergian Yudha, Dinda dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang tiba-tiba datang mencari dirinya. Baru saja Dinda masuk ke dalam apartemen. Seseorang tampaknya sedang mengetuk pintu. Bi Surti segera membukakan pintu.
Pintu itu mulai terbuka. Bi Surti dibuat terkejut saat melihat wajah seseorang yang sedang berdiri di tengah pintu.
"Anda!! Sedang apa Nona ke sini?" tanya Bi Surti sambil menahan seorang tamu yang tak lain adalah Zora, mantan kekasih Yudha.
"Aku hanya ingin bertemu dengan wanita yang bernama Dinda. Katakan di mana wanita itu?" seru Zora sambil memaksa masuk ke dalam apartemen.
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1