Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Pernikahan Dinda


__ADS_3

Yudha pun menjawab. "Iya, aku akan menikahimu dan aku akan menjagamu selama kamu dalam masa terapi. Aku tahu apa yang dikhawatirkan oleh pak Dedi. Tidak mungkin beliau meninggalkan anak gadisnya bersama seorang pria yang tentunya bukan saudara atau kerabat. Aku adalah orang lain, takut menjadi fitnah. Maka dari itu, aku bersedia menikahimu untuk menunjukkan kesungguhanku jika aku benar-benar ingin membantumu, Dinda!"


"Apa harus dengan menikah? Tidak adakah cara lain?" Rupanya Dinda masih menyangkal.


Setelah apa yang dikatakan oleh Yudha. Bu Lili pun menyetujui permintaan Yudha untuk menikah dengan Dinda. Setidaknya untuk menghindari fitnah karena bagaimanapun juga Dinda tinggal sendirian.


"Ibu setuju. Dinda, apa yang dikatakan oleh Nak Yudha itu memang benar. Lebih baik kalian menikah, karena kamu sendiri tidak mau kembali pulang. Jadi, ayah dan ibu tidak bisa mengawasimu di sini terus-terusan. Bagaimana nanti dengan usaha ayah di rumah? Tidak ada yang mengurusnya. Lagipula kamu pasti sendirian di sini. Kamu hanya mengandalkan asisten rumah tangga saja? Nggak bisa begitu, Nak? Perhatian asisten rumah tangga berbeda dengan perhatian keluarga. Iya, ada baiknya jika kamu ada yang menjaga. Lagipula Nak Yudha berbesar hati akan membantumu lewat pernikahan ini. Ibu yakin Nak Yudha pasti akan menjagamu!" Terang Bu Lili.


Dinda pun menjadi bimbang. Apakah dirinya harus menikah dengan orang yang belum pernah ia lihat secara langsung, bagaimana wajahnya dan tentunya tidak ada ikatan cinta diantara mereka. Bagaimana ia bisa menjalani kehidupan sehari-hari bersama pria yang tidak dicintainya.


Kemudian Yudha pun bertanya kepada Dinda. "Bagaimana, Din? Apa kamu masih ragu? Iya aku tahu kita memang baru saja bertemu. Tapi, aku merasa ada sesuatu yang menggerakkan hatiku untuk menikahimu. Entahlah!!"


"Menikah itu bukan perkara yang mudah, Mas. Ikatan itu tidak bisa dibuat main-main. Bagaimana dengan keluargamu? Belum tentu mereka setuju dengan keputusanmu. Kamu menikahi wanita buta seperti aku hanya karena kasihan? Aku rasa itu mustahil," sahut Dinda.


"Keluarga? Aku tidak punya keluarga di sini. Aku anak rantau yang datang kesini karena kemujuran nasib. Keluargaku ada di kampung dan aku sangat yakin sekali mereka pasti setuju," ungkap Yudha.


"Kamu tinggal sendirian?" sahut Dinda.


"Iya!" Jawab Yudha tegas.


Pak Dedi pun meyakinkan Dinda untuk setuju menikah dengan Yudha. Mereka melihat niat baik Yudha itu tulus.


"Dinda, Ayah tahu kekhawatiranmu. Tapi percayalah! Nak Yudha adalah orang yang baik. Ayah sangat yakin sekali dia akan menjaga dan membahagiakanmu," ucap pak Dedi.

__ADS_1


"Tapi Dinda tidak cinta, Yah! Mas Yudha juga tidak mungkin punya perasaan itu kepada Dinda. Apa bisa pernikahan itu berjalan dengan mulus?" ucap Dinda.


Pak Dedi dan Bu Lili pun tersenyum. "Hei, kamu pikir dulu ayah dan ibu menikah karena cinta? Jawabannya tidak. Ayah dan ibu dijodohkan dan kami tidak saling mengenal sebelumnya. Bahkan, dulu ibu lihat muka ayahmu saja geli dan pingin nabok aja. Kumisnya itu loh bikin geli aja!!" sahut sang ibu yang membuat Pak Dedi merengut.


"Ya elah, Bu! Itu kumis yang bikin ayah keren dan ganteng. Ah ... Ibu aja yang nggak gaul. Coba ingat dulu ibu seperti apa? Dilihat selalu nunduk nggak pernah lihat muka ayah, ditanya diem mulu eh giliran lampu dimatikan peluk-peluk takut gelap katanya. Huhu alasan, bilang saja ibu tuh pingin dipeluk Ayah, kan? Hayo ngaku!!" sahut pak Dedi sambil menyenggol lengan istrinya.


Tentu saja Bu Lili tampak malu-malu. Sedangkan Dinda dan Yudha terlihat tersenyum malu.


"Waaahhhh romantis sekali ya Bapak dan Ibu," sahut Yudha.


"Iya, begitulah. Awalnya memang kami seperti anjing dan kucing. Tapi lama-lama kami juga terbiasa dan jadinya nempel kayak perangko. Nggak mau lepas, dan setelah dua bulan pernikahan. Kami mendapatkan kabar bahagia jika Dinda udah hadir di perut ibunya!" Jelas pak Dedi yang teringat masa-masa bahagia saat mendengar sang istri hamil anak pertama.


"Waahhh hebat ih Bapak, bisa secepat itu menghadirkan Dinda di perut Ibu. Cuma 2 bulan loh!" Puji Yudha sambil mengacungkan jempol.


"Waahhh kayaknya saya harus belajar dari pak Dedi nih. Maklum saya tidak bisa merayu hati seorang wanita. Buktinya sampai sekarang tidak ada yang mau jadi pacar saya!" seloroh Yudha sambil melirik ke arah Dinda.


"Halah gombal, nggak mungkinlah Mas Yudha nggak punya pacar. Apalagi Mas Yudha seorang aktor, pasti banyak wanita cantik dan fans-fans nya yang masih muda dan cantik. Pasti Mas Yudha sudah punya pacar!" sahut Dinda.


"Eh beneran, dibilangin aku tuh masih jomblo. Kalau aku nggak jomblo mana mungkin aku berani melamar kamu!!"


Ucapan Yudha tentunya membuat Dinda tersenyum malu-malu.


"Udah-udah, jangan bercanda lagi. Sekarang sebelum Ayah dan Ibu kembali pulang. Kamu harus memutuskannya Dinda. Jika tidak, maka mau tidak mau kamu harus pulang ikut dengan kami," seru Bu Lili.

__ADS_1


"Pulang? Tidak, Dinda tidak mau pulang dulu. Dinda tidak mau mengganggu hubungan mereka. Dinda juga tidak mau mengingatkan memori Mas Rama tentang hubungan kami. Dinda sayang sekali dengan Putri. Jika harus demikian, baiklah. Dinda bersedia untuk menikah dengan Mas Yudha. Tapi Dinda nggak bisa jamin jika Dinda akan nyaman dengan hubungan ini. Jadi, jika nanti ada sikap Dinda yang tidak disukai Mas Yudha, aku minta maaf sebelumnya!"


Yudha tersenyum dan bisa mengerti itu.


"Tidak masalah, semua itu sudah kupikirkan!!" Jawab pria itu dengan tegas.


Akhirnya, hari itu juga Pak Dedi menikahkan putri pertamanya dengan Yudha. Untuk kali ini Pak Dedi hanya menikahkan Dinda dan Yudha di bawah tangan sambil menunggu dokumen resmi keduanya untuk didaftarkan ke kantor urusan agama untuk mendapatkan surat nikah resmi.


Dengan mahar uang senilai 5 juta, dan disaksikan oleh beberapa petugas medis yang masih ada di kamar Dinda. Akhirnya, dengan sekali tarikan nafas, Yudha telah memperistri seorang gadis buta putri dari pak Dedi dan Bu Lili.


"Saaahhhh!!"


Perasaan Yudha akhirnya lega. Dirinya memang baru beberapa hari kenal dengan Dinda, pun sebaliknya. Namun, rupanya Yudha terlihat nyaman saat bersama dengan Dinda seolah dirinya mendapatkan kebahagiaan tersendiri ketika melihat wajah Dinda.


"Sekarang, kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri. Dinda, ayah dan ibu pulang. Nanti, setelah beberapa hari, ayah akan datang lagi ke sini untuk membawakan sekalian dokumen-dokumen penting untuk surat nikah kalian nanti agar kalian berdua bisa segera mendapatkan legalitas dari negara untuk pernikahan kalian," ucap pak Dedi untuk putrinya. Setelah itu pria paruh baya itu berbicara kepada Yudha yang sekarang menjadi menantunya.


"Nak Yudha! Bapak minta tolong jaga Dinda. Bapak percaya sekali denganmu!"


"Ayah tidak perlu khawatir, saya pasti akan menjaga putri kalian dengan baik, Dinda tidak akan kekurangan apapun di sini, saya akan menemaninya untuk terapi hingga sembuh. Setelah sembuh saya akan menjadikan Dinda model terkenal seperti keinginannya," ucap Yudha.


Tentu saja Dinda sangat bahagia, meskipun hatinya masih diliputi kesedihan karena kesehatannya belum pulih dengan baik. Tapi, semangat dari Yudha setidaknya membuat Dinda kembali percaya diri.


"Ya Tuhan, jika benar Mas Yudha adalah jodoh pilihanMu, hamba mohon jangan kecewakan hamba dan berikanlah rumah tangga kami kebahagiaan."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2