Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Menu daging-dagingan


__ADS_3

"Oh itu hehehe iya sih kita belinya barengan, aku jarang pakai yang itu makanya masih kelihatan bagus. Ya kemarin aja aku terpaksa pakai soalnya udah kehabisan celana dalaam. Jadi terpaksa pakai yang lama," ungkap Putri.


"Loh, kok bisa kehabisan celana dalaam, emangnya kamu makan?" seloroh Ririn sambil tertawa kecil.


"Yeee nggak lah, celanaku banyak yang rusak," tutur Putri sambil berbisik.


"Rusak kenapa? Pasti bahannya nggak awet, ya?"


"Bukan,"


"Terus!!" Ririn semakin penasaran.


"Disobek sama suamiku. Dia nggak suka kalau aku tidur dengan memakai celana dalaam. Jadi gitu deh banyak yang rusak. Ribet katanya kalau mau ... ya gitu lah pokonya," tegas Putri yang semakin membuat Ririn pusing setengah mati.


"Ribet? Pak Rama benar-benar ya, dia udah tergila-gila banget sama kamu, Put. Kelihatannya aja kayak pria yang cuek, dingin dan nggak peduli. Eh ternyata doyan juga, ya!" sahut Ririn sembari cekikikan dengan Putri. Pemandangan itu spontan mencuri perhatian Rama yang sedang menerangkan pelajaran.


"Heh! Kalian berdua tidak mendengarkan pelajaran Bapak?"


Seketika Putri dan Ririn menoleh ke arah Rama yang terlihat dingin. Rama menatap keduanya secara bergantian.


"Maaf, Pak!" ucap Putri sambil menundukkan wajahnya.


"Maaf maaf, enak banget minta maaf. Sekarang buka buku pelajaran kalian. Pagi-pagi sudah ngerumpi. Mau jadi apa kalian!" ucap Rama dengan ekspresi layaknya guru killer.


"Ya mau jadi orang lah, Pak. Tapi beneran kami nggak ngerumpi, Pak." seru Putri berusaha menegaskan.


"Saya nggak butuh penjelasanmu. Sekarang kumpulkan PR kalian dan kamu Putri. Karena hari ini kamu baru masuk lagi. Maka kamu harus mencatat materi yang tertinggal, dan yang lainnya cepat kumpulkan tugas kalian setelah itu kita Bapak akan memberikan tugas lagi," seru Rama dengan tegas tanpa peduli jika Putri adalah istrinya.


Melihat sang guru yang bersikap tegas terhadap Putri. Geng Wiro, Paidi dan Nanang justru menggoda guru mereka.


"Waaahhhh jangan galak-galak Pak sama istri. Nanti dicemberutin loh sama Putri. Putri galak, Pak!" seru Wiro.


Tak berhenti di situ, Paidi pun menyahuti. "Beneran, Pak. Cewek itu gampang kesal. Kayak Mami saya kalau sedang marahan sama Papi. Pasti malamnya suruh tidur di luar, kasihan pak ulernya kedinginan!"

__ADS_1


Semua siswa cewek tampak cekikikan ketika mendengar ucapan Paidi yang absurd.


"Cieee papi dan mami. Bukannya di rumah manggilnya emak sama bapak, sok-sokan pakai mami papi jiahaha, ngomong-ngomong uler apaan tuh yang kedinginan!" celetuk Nanang.


Seketika seluruh kelas riuh gara-gara ketiga cowok somplak itu. Begitu juga dengan Putri dan Ririn yang ikut tertawa kecil.


"Cukup cukup! Kalian ini malah bercanda. Kalian tahu kalau Bapak ini tidak suka bercanda, haa!" tegas Rama yang seketika membuat semua siswanya terdiam.


"Eh kamu sih. Pak Rama marah, kan!"


"Kok aku yang disalahin. Kalian juga kok!"


"Pengantin baru sensitif beud. Jangan senggol lagi!"


Ketiga pemuda itu saling berbisik. Rama pun melihat ketiganya dengan tatapan yang tajam.


"Sekali lagi Bapak dengar kalian bercanda di jam pelajaran saya. Silakan keluar dari kelas, saya tidak mengajarkan siswa yang tidak serius belajar. Apa kalian mau nilainya saya kurangi?" gertak Rama yang cukup membuat Putri ikut ketakutan.


"Waduh suami marah beneran ding, takut juga!"


Di saat Rama selesai memberikan materi baru. Ia kembali duduk di kursinya sambil memperhatikan siswanya mencatat. Matanya tertuju kepada Putri yang saat itu sedang sibuk mencatat materi yang kemarin belum ia catat.


Di saat yang bersamaan. Putri pun tanpa sengaja melihat ke arah sang suami yang sedang memperhatikan dirinya. Spontan Putri memalingkan wajahnya sambil tersenyum karena dirinya begitu malu saat Rama menatapnya dalam-dalam.


"Anjrit! Malah lihatin aku lagi. Malunya ya ampun! Eh aku udah cantik belum ya!" batin Putri sambil merapikan rambutnya. Setelah itu ia pun membalas tatapan mata sang suami dengan memberinya sebuah ciuman jauh. Putri memonyongkan bibirnya ke arah Rama.


"Muacchhh!"


Seketika Rama tertawa kecil dan seolah menangkap ciuman jauh yang diberikan oleh sang istri. Keduanya tampak curi-curi pandang saat semuanya sedang sibuk mencatat.


Sampai akhirnya di jam istirahat. Semua siswa keluar dari kelas. Tak terkecuali Putri yang kini ia bisa berkumpul dan bercanda lagi dengan teman-temannya. Putri pergi ke kantin bersama Ririn. Di saat mereka berdua menuju ke kantin. Mereka melihat Joice yang sedang dikerubuti oleh siswa cowok.


"Eh itu kan murid kelas 11 yang nabrak aku tadi nggak sih!" seru Putri ketika melihat Joice yang diikuti oleh banyak cowok di belakangnya.

__ADS_1


"Hmmm ... iya, waaahhhh dia jadi selebritis dadakan nih!" sahut Ririn dengan tatapan sinisnya. Di saat yang bersamaan, Rama lewat di depan Joice. Tentu saja Joice tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekati Rama.


"Selamat siang, Pak Rama!" ucap Joice sambil senyum-senyum.


"Siang!" jawab Rama singkat.


"Emmm Pak Rama boleh saya bertanya sesuatu kepada Bapak!" ucap Joice.


"Silakan, tapi pertanyaannya jangan banyak-banyak. Saya sedang sibuk!" jawaban Rama yang tak acuh tak membuat Joice gentar untuk terus mendekatinya.


"Enggak kok, Pak. Saya cuma mau tanya, emm makanan favorit pak Rama apa kalau saya boleh tahu?" tanya Joice dengan sorot mata yang teramat kagum dengan sosok Rama.


"Daging!" jawab Rama apa adanya dan sangat-sangat singkat.


"Daging? Daging apa, Pak?" Joice mengerutkan keningnya karena ia membutuhkan jawaban yang jelas.


"Ya daging segala daging-dagingan," jawaban Rama mulai tak bersahabat. Tapi tetap tidak meruntuhkan niat Joice untuk mendekati Rama.


"Segala daging-dagingan? Daging kan banyak jenisnya, Pak. Mulai dari daging sapi, ayam, ikan terus daging ....!" belum sempat Joice menyelesaikan perkataannya. Rama spontan memotong pembicaraannya.


"Daging manusia, puas?" sahut Rama yang membuat Joice membelalakkan matanya. Sementara itu Putri dan Ririn yang berada di seberang sana. Tampak tertawa cekikikan mendengar jawaban absurd Rama kepada Joice.


"Kok daging manusia sih, Pak?" sahut Joice.


"Lah kamu ngapain tanya-tanya aku suka daging apa? Kamu tugasnya belajar bukan sensus guru di sekolah!" celetuk Rama.


"Maksud saya kan cuma ingin tahu pak Rama itu suka makanan apa. Nanti Joice mau bawain untuk Pak Rama spesial," seru Joice dengan senangnya.


"Tidak usah repot-repot. Nanti kalau aku tidak suka bagaimana? Kamu capek-capek bawain tapi aku nggak makan, sayang kan jadinya!"


"Makanya itu saya tanya dulu sama Bapak. Bapak sukanya makan apa, biar saya nggak salah bawain makanan, tadi katanya pak Rama suka dengan daging-dagingan," ucap Joice yang sedang mengambil perhatian dari guru killer itu.


"Hmm ... sebelumnya terima kasih banyak kamu sudah berbaik hati ingin membawakan saya makanan. Percuma saja kamu bawakan bapak menu daging-dagingan. Karena bapak hanya suka dengan satu jenis daging dan itu hanya ada di rumah, saya selalu memakannya setiap malam."

__ADS_1


Seketika Putri yang mendengar itu tampak menepuk jidatnya sendiri. Sedangkan Ririn masih bingung dengan garuk-garuk kepalanya sambil menyenggol lengan Putri dan berkata. "Menu apa yang dimaksud pak Rama? Ngapain dia suka makan daging malam-malam, Put? Nggak takut kolesterol, kah?"


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2