Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)

Pernikahan Rahasia Anak SMA 3 ( Menikahi Guru Killer)
Masih kecil


__ADS_3

Nanang tampak garuk-garuk kepalanya dan cengar-cengir. Pemuda itu penasaran dengan apa yang pernah sang guru lakukan.


"Hehehe jiwa kepo saya meronta, Pak. Habisnya pak Rama enak-enak aja nyium tuh kancuut. Saya pikir sama seperti Bapak, eh nggak tahunya bikin saya sakit kepala, Pak!" balas Nanang yang masih ingat betul bagaimana aroma celana milik sang pacar.


"Heh! Kamu kalau ngomong jangan ngawur! Nanti Ririn tahu marah loh!" sahut Rama sambil membalikkan badannya ke arah kedua gadis yang terlihat masih bingung.


"Kalian berdua ngomongin apa? Serius amat!" Putri langsung bertanya kepada sang suami.


"Oh bukan apa-apa. Lupakan!" balas Rama sembari berusaha untuk meyakinkan sang istri.


Nanang pun menghampiri sang pacar dan mengajaknya pergi agar tidak mengganggu Rama yang sedang berpacaran dengan Putri.


"Kita pindah ke sana yuk Rin! Entar kita bisa ganggu mereka kalau di sini terus," ucap Nanang sambil menggandeng tangan sang pacar. Ririn pun mengikuti perintah sang pacar dan beranjak berdiri.


"Eh kalian mau kemana?" sahut Putri kepada kedua teman.


"Kita mau duduk di sana, nggak enak sama pak Rama. Nanti nilai kita bakal dipotong. Tahu sendiri pak Rama itu tukang potong nilai!" celetuk Anang yang tidak pernah serius.


Mendengar ucapan muridnya. Rama spontan melototkan matanya kepada Nanang.


"Hehehe plis Pak, kita damai! Jangan melotot gitu dong, Pak. Saya jadi takut nih. Heran juga sama Putri, kok betah ya di rumah sama Pak Rama yang suka melotot!" ucap pemuda itu sambil bersembunyi di balik punggung Ririn.

__ADS_1


Putri tersenyum mendengar ucapan dari temannya itu. Ririn sebagai sang pacar, gadis itu pun mengatakan pendapatnya. "Pak Rama tuh garangnya ke kita aja, Yank! Tapi saat bersama Putri. Tentulah nggak akan melotot seperti itu."


Putri pun menyahuti ucapan Ririn. "Hmm berani Pak Rama melototi aku, dia nggak bakalan bisa tidur denganku di kamar! Otw tidur di luar;"


Ucapan Putri seketika semakin membuat Nanang menggoda guru dan temannya itu. Karena pasangan unik itu sudah membuat Nanang suka sekali untuk menjahili mereka berdua.


"Waahh kasihan amat pak Rama. Tidur di luar, yakin bisa bobo dengan nyenyak tanpa pelukan Putri??" sahut Nanang sambil melirik wajah sang guru yang saat itu sedang memperhatikan wajah istrinya.


"Pastinya nggak bisa dong, Yank! Nggak ada yang menghangatkan," sahut Ririn menambahkan.


"Wkwkwk anjay! Pasti matanya kayak ikan, melek terus!"


Putri pun seketika tertawa kecil mendengar ucapan kedua temannya. Sedangkan Rama hanya berekspresi datar meskipun sebenarnya ia juga ingin tertawa.


"Ho oh heran juga! Tapi Putri hebat loh bisa membuat pak Rama takluk. Cuma aku masih penasaran, apakah pak Rama juga sedingin itu saat kalian berduaan?" seru Nanang kepada Putri.


"Ya enggak lah! Kalau dingin gitu. Ya aku panasin dong!" jawab Putri spontan.


"Dipanasi di atas kompor? Anjay pak Rama hebat euy! Bisa tahan di atas kompor!" ucap Nanang yang seketika membuat Rama semakin berwajah dingin. Pria itu masih memperhatikan obrolan absurd istri dan teman-temannya.


"Ya nggak gitu Nang! Masa aku panasin suamiku di atas kompor sih! Ada-ada saja kamu!" sahut Putri.

__ADS_1


"Tahu nih, Ayank. Maksud Putri itu dipanasi dengan memakai baju seksi gitu. Pakai parfum biar wangi terus. Atau enggak dengan rayuan dan kata-kata manis. Biar Pak Rama nya tergoda gitu!" sahut Ririn menjelaskan.


Nanang pun tersenyum lebar mendengar ucapan pacarnya. "Waahh begitu ya! Nanti apa kamu bisa seperti Putri. Pakai baju seksi dan minyak wangi untuk menggodaku? Ehh udah nggak sabar untuk segera kawin!" celetuk Nanang yang memaksa Rama untuk ikut bergabung dengan obrolan murid-muridnya.


"Heh! Kalian ini ngobrolin apa sih! Kawin kawin! Jangan macam-macam ya kalian berdua. Kalian tuh masih kecil jadi nggak usah mikirin kawin!" sahut Rama kepada Nanang dan Ririn.


"Yah, Pak Rama payah nih! Pak Rama nggak lihat kita berdua udah segede ini, Pak. Kecil dari mananya? Ukuran milik Ririn aja 36B jadi nggak mungkin kecil, Pak!" seloroh Nanang yang membuat Rama dan Putri membulatkan matanya.


Ririn spontan memukul tangan pacarnya. "Ihhh Ayank! Bukan 36B kamu salah!" ucap Ririn.


"Lah, aku lihat pas di kamar mandi, ukurannya 36B kok!" sahut Nanang saat teringat dalamaan sang pacar yang tergantung di dinding kamar mandi.


"Itu cuma ukurannya saja biar nampak gede. Sebenarnya ...." Ririn tidak melanjutkan kata-katanya karena ia malu jika sang pacar tahu ukuran buah dadanya sangat kecil.


"Sebenarnya apa? Sebenarnya kecil ya? Waahh nggak bisa buat pegangan dong, mimiknya kecil njiir! Besok-besok aku bantuin ya untuk gedein. Biar aku pijitin hehehe!" Nanang terkekeh melihat wajah pacarnya yang sedang memanyunkan bibirnya.


Seketika Rama melempar wajah sang murid dengan serbet yang ada di atas meja.


"Waduh Pak! Muka saya bukan untuk dilap, kok dilempar serbet sih!" ucap Nanang sambil melihat serbet yang ada di tangannya.


"Yang perlu dilap itu otak kamu Nanang!!" balas Rama yang membuat kedua gadis itu tertawa.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2